Queen Sword

Queen Sword
Eps 9 Punggung Adikku


__ADS_3

Malam hari butiran salju terus turun perlahan dari langit yang gelap, Ferderick berdiri di depan gerbang belakang asrama akademi tempat adiknya menimba ilmu, ia memakai jubah hitam yang menutupi wajahnya.


Duk duk duk, langkah kaki yang semakin mendekat menghampiri Ferderick dari belakangnya.


"Kak"


Ferderick berbalik badan ketika suara yang familier itu memanggilnya, namun begitu berbalik badan mata Ferderick terperanjat melihat wajah tampan adiknya yang tersenyum tapi memiliki bekas luka kebiruan di sudut bibirnya.


"Bagaimana keadaanmu kak?" wajah yang tersenyum hangat itu tetap tampak ceria seperti biasanya.


"Aku baik baik saja, apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa seseorang memukulmu? siapa itu?" disaat seperti inilah Ferderick akan banyak bicara. Wajahnya penuh dengan kekawatiran tentang hidup seperti apa yang telah dijalani adiknya di dalam akademi yang adalah tempat impian para pemuda menimba ilmu sebagai bekal hidup dimasa depan.


"Bukan apa apa, aku jatuh dan bibirku terbentur hehe, jangan terlalu khawatir aku sudah dewasa" ucapnya sembari meringis.


"Sembuhkanlah dengan kekuatanmu"


"Kakak bilang aku harus merahasiakannya, jika ingin merahasiakannya maka aku tak akan menggunakannya jika tak terdesak, ini hanyalah luka kecil, disini banyak pasang mata yang akan mengawasi"


"Begitukah? Bilang padaku jika seseorang menyakitimu, kau mengerti?"


"Tentu, apa kakak sudah makan?" kaisan berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Sudah, kau sudah?"


"Sudah, bagaimana kabar Tuan Stev dan Nyonya Ilona?"


"Mereka baik, datanglah saat liburan kau pasti merindukan mereka"


"Baiklah, sudah waktunya jam malam masuk asrama, aku harus kembali kak"


"Baiklah"


"Berhati hatilah kak"


"Iya"


Ferderick terus melihat punggung adiknya yang semakin menjauh, tersisa satu tahun lagi sebelum Kaisan menyelesaikan pendidikannya di akademi, tapi selama ini yang Ferderick lihat anak itu tak terlihat bahagia dan bebas, meskipun ia selalu memasang senyuman di depan Ferderick, sekarang dia semakin dewasa, ia tak lagi merengek kepada kakaknya dengan permasalahan yang dihadapinya, Kaisan sering kali menyembunyikan kesulitannya untuk dirinya sendiri, seperti saat ini,jelas jelas Ferderick melihat luka di sudut bibirnya karena pukulan seseorang tapi anak itu berbohong dan malah menutupinya.


Meskipun status sosial di akademi dirahasiakan agar pendidikan ditempat itu tetap setara dan hanya berpatokan dengan kemampuan setiap siswa, tapi sering kali terjadi penyalahgunaan kekuasan oleh orang orang dari kalangan keluarga terhormat dalam membeda bedakan siswanya.

__ADS_1


Kaisan beberapa kali mendapatkan kekerasan dari temannya yang iri dengan nilai akademiknya yang lebih unggul dari putra seorang penguasa wilayah, bukannya menindaklanjuti siswa yang melakukan kekerasan tapi kepala akademi bersikap seolah olah tak pernah melihat kejadian itu karena orang tua siswa itu telah memberinya imbalan yang besar sebagai upah tutup mulut untuknya, apalagi ia jelas mengetahui Kaisan adalah seorang putra bangsawan yang telah bangkrut dan kehilangan wilayah kekuasaannya, tak ada alasan bagi kepala akademi yang telah dibutakan oleh koin emas yang berlimpah untuk menolak kesempatan seperti itu.


Apa yang bisa Kaisan lakukan? Bisa saja ia mengatakan kepada kakaknya tentang kekerasan yang telah dialaminya, namun ia tak ingin melakukan itu, sebab ia jelas tahu apa yang akan dilakukan Ferderick kepada orang orang itu.Ia berfikir ia hanya perlu bertahan sebentar lagi ditempat itu dan mengembalikan kehormatan keluarganya, dan membebaskan kakaknya dari belenggu sebagai seorang pembunuh bayaran.Apa itu mungkin?


Berbanding terbalik dengan Ferderick yang unggul di ilmu pedang dan kekuatan fisik ,Kaisan lebih unggul di bidang yang hanya memerlukan kecerdasan otaknya.Kaisan bermimpi bisa bekerja sebagai pegawai administrasi di istana Kekaisaran.


Disaat saat pikiran Ferderick tengah kalut seperti saat ini melakukan pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran adalah pilihan yang sangat bagus, selain mendapatkan banyak uang dia akan melampiaskan kemarahannya kepada para bangsawan kotor yang selalu menginjak injak rakyat biasa dengan kekuasaannya.


Ia mulai naik ke atap rumah mewah milik salah satu bangsawan, dengan mudah ia menyusup ke dalam kamar, kamar yang ia gunakan untuk menyelingkuhi istrinya, dengan sekali ayunan pedang tanpa suara Ferderick berhasil menyelesaikan pekerjaannya,Saat pagi tiba wanita selingkuhan disampingnya yang akan menemukan pria itu berlumuran darah.


Benar.. yang mengirim pembunuh adalah istrinya sendiri yang berarti adalah nyonya rumah itu, yang telah bertahun tahun diselingkuhi secara terang terangan.


*************************


Keesokan harinya dipagi hari yang dingin, Rubia terbangun dari tidur pulasnya karena merasakan sentuhan seseorang, Rubia membuka matanya dan mendapati seseorang memeluknya di bawah tempat tidur.


"Apa yang kau lakukan Lydia?"


Lydia tersenyum "Selamat pagi Yang Mulia, maaf karena saya membangunkan anda, bagaimana bisa anda langsung tidur dan tak menunggu saya menemui anda begitu sampai disini?"


"Maafkan aku Lydia, aku sangat lelah"


"Memangnya ada apa?"


"Calon tunangan anda, Sir Axel Harington telah menunggu anda sejak satu jam yang lalu"


"Apa yang diinginkan pria itu? Mengganggu saja"


"Anda harus bersiap dan menemuinya"


"Apa boleh buat"


"Yang Mulia?"


"Apa?"


"Saya senang karena anda sudah mau banyak bicara dan menjawab setiap saya bertanya"


"Apakah itu sesuatu yang patut kau syukuri?"

__ADS_1


"Tentu saja" Lydia tersenyum.


Itu Karena Rubia perlahan lahan harus membiasakan diri berkomunikasi dengan orang lain,ia harus mulai membiasakan diri perlahan, dia bukan lagi seorang anak kecil yang tak bisa menyembunyikan perasaan pribadinya, tapi tetap saja dia akan sedikit bicara dengan orang yang tak disukainya.


Rubia bersiap sebelum menemui Axel Harington, bersiap dengan sangaaattt santai agar pria itu bosan dan tak sabar kemudian pergi meninggalkan tempat duduknya, itulah harapan Rubia, ia sungguh ingin terlihat semenyebalkan mungkin dihadapan anak itu. Karena Rubia belum bisa melupakan bagaimana anak kecil waktu itu mempermalukan dirinya dihadapan pelatihnya dan Kaisar, Rubia sama sekali tak membaca puluhan surat yang dikirimkan oleh anak itu,entah saat rubia berada di istana atau di medan perang, surat surat yang ditulisnya langusung dimasukannya kedalam perapian.


Rubia membuka pintu kamarnya setelah memakai baju yang nyaman untuknya berlatih pedang,ia mengikat kuda rambut panjangnya. Pengawal pribadinya yaitu Dame Fiona Martin yang seorang ksatria wanita berusia dua puluh tujuh tahun berambut hitam bermata ungu itu menyambutnya di depan pintu, Dame Fiona dan Lydia saling menatap lalu menggeleng karena Rubia memakai pakaian yang tak cocok untuk pertemuan dengan calon tunangannya.


Rubia menatap tajam Dame Fiona "Apa ada yang ingin kau katakan?"


"Tidak ada Yang Mulia"


Rubia berjalan dengan santai menuju ruang pertemuannya yang tak jauh dari kamarnya, setelah sampai dihadapanya, Axel memberinya salam dengan mengecup punggung tangannya, Rubia tak bisa menolak karena itu adalah salam yang wajar bagi seseorang ksatria kepada seorang Lady atau Putri bangsawan.


Rubia duduk dan Fiona berdiri di belakangnya "Apa yang kau inginkan?" ucapnya dingin.


"Sepertinya anda sibuk,Saya tidak akan menyita waktu anda yang berharga terlalu lama, jadi saya akan langsung ke intinya, saya ingin minta maaf Yang Mulia atas apa yang telah saya lakukan dimasa lalu sehingga membuat anda selama ini menghindari saya dan mengabaikan saya" ucap Axel dengan cepat.


"Apa kau akan berhenti menggangguku setelah aku memaafkanmu?"


"Apaa???" Axel sama sekali tak mengira jawaban seperti itu yang akan diterimanya. Sementara Rubia terus menatapnya menantikan jawaban darinya dengan sungguh sungguh.


"Saya akan melakukan itu asal anda memaafkan saya" ucapnya hati hati.


"Baiklah, aku sudah memaafkanmu" Rubia menyodorkan tangannya, tapi Axel malam tak mengerti apa yang diinginkan olehnya."Berjabat tangan, maka kita sudah berbaikan" ucapnya lagi.


"Ba baiklah" mereka pun berbaikan.


"Kalau begitu aku permisi, aku harus berlatih pedang" Rubia bangun dari duduknya.


"Apa anda mau berlatih dengan saya Yang Mulia Putri?" Axel ikut berdiri.


"Itu namanya mengganggu, kita kan baru saja bersepakat" ucapnya tegaas.


"Ahh.. jadi maksudnya yang seperti inii.." gumamnya pelan. Sementara Axel bergumam Rubia telah pergi jauh meninggalkannya.


"Mengapa aku merasa ditipu?" gumamnya lagi melihat Rubia yang telah menjauh.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2