Queen Sword

Queen Sword
Eps 100 Menjadi cerita masa lalu


__ADS_3

Keesokan harinya Permaisuri mencari Rubia pagi pagi sekali, saat Rubia baru saja bangun tidur ia mendapat laporan bahwa Ibunya sudah menunggunya, setelah itu Rubia segera bersiap, Rubia keluar dari kamarnya lalu berjalan ke ruang tamu di istananya, ia menghampiri Ibunya yang terlihat kuyu dan resah.


"Ada apa anda mencari saya pagi pagi begini?" ucap Rubia setelah mereka duduk berhadapan.


permaisuri tampak ragu ragu "Bisakah kau meringankan hukuman paman dan keponakanmu?"


"Hahhh??" Rubia tak habis pikir, padahal pamannya itu telah melakukan hal hal jahat kepadanya, tapi kenapa sekarang dia malah meminta keringanan? Tetap saja Rubia berfikir harus mengerti dengan sebuah hubungan darah "Katakan alasannya"


"Adikku berbuat sejauh ini karena aku yang melibatkannya dengan orang Istana, dia berbuat seperti itu karena kesalahanku"


"Apa Duke yang meminta anda meringankan hukuman?"


"Bukan"


"Dia tidak menginginkan hidupnya lagi, untuk apa anda ingin aku memberikan keringanan hukuman, orang seperti Duke bukannya lebih baik mati daripada harus hidup menanggung malu dan sengsara?" Permaisuri terdiam sejenak, memang benar begitulah keinginan adiknya, Rubia mengetahui sifatnya dengan tepat "Pemenggalannya sudah direncanakan siang ini begitu matahari telah sampai di atas kepala"


"Tolonglah, untuk kali ini saja aku minta tolong sebagai Ibumu, sekali ini saja kumohon Rubia"


"Maaf, Bukannya aku tak mau tapi penjahat tetap harus mendapatkan hukuman yang sepadan dengan apa kejahatannya, aku tak bisa memilih milih hukuman berdasarkan sebuah hubungan darah" setelah itu Rubia bangun.


"Biarkan Jasson hidup, dia hanya anak malang yang terseret oleh ambisi ayahnya, bukankah kau sendiri yang paling tahu bagaimana rasanya terseret arus orang tuamu sendiri?"

__ADS_1


Rubia kembali duduk, ia menyilangkan kedua tangannya di atas dada, tatapannya semakin dingin "Memangnya kenapa jika terseret arus orang tua sendiri? Apa anda sadar apa yang sedang anda katakan sekarang? Apa anda benar benar tahu bagaimana rasanya terseret oleh arus yang dibuat oleh orang tua sendiri? Penolakan? Ambisi? pemuas dahaga ekspektasi?" tiba tiba saja ia menjadi sangat murka.


"Maafkan aku" ucapnya lirih seraya terus menunduk.


"Maaf untuk apa? Setidaknya seseorang minta maaf jika memang sudah menyadari kesalahannya, jadi apa kesalahan anda? Atau anda minta maaf agar semata mata aku meringankan hukuman mereka?"


"Tidak, sudah lama aku menyadari kesalahanku, tapi aku tak berani sekedar meminta maaf padamu, aku malu karena terlalu banyak melakukan kesalahan kepadamu, aku takut kau tak akan memaafkanku dan malah semakin menganggap aku musuhmu" ucapnya dengan mata yang berkaca kaca. "Setelah ini aku akan menuruti apapun keinginanmu, aku akan keluar dari istana jika kau menginginkannya, aku benar benar ingin berusaha sekali saja  menjadi Ibu yang baik untukmu, tapi aku takut kau akan salah sangka dan mengira aku hanya ingin terlihat baik dimatamu karena kau sudah menjadi Kaisar yang hebat"


Rubia terdiam tak bisa berkata kata, ia tak tahu harus merespon ucapan Ibunya dengan bagaimana, "Aku harus pergi sekarang karena sebentar lagi aku akan segera melihat penjahat yang sudah seharusnya dimusnahkan" Rubia bangun, kali ini ia tak lagi menoleh ke belakang tempat Ibunya berada.


Rubia takut perasaannya kembali goyah oleh ucapan penyesalan dan raut wajah sedih yang baru saja dilihatnya, mengapa baru sekarang? Karena sekarang ia tak bisa mudah mempercayai ucapannya yang meminta maaf dan berkata sudah menyadari kesalahannya, ia tak tahu mana kebenaran yang dikatakan oleh Ibunya yang selama ini ia kenal.


Semua orang pun menyaksikan sesi detik detik terakhir hidup Duke, Crattttt.. darahnya mulai menetes dan tubuhnya terjatuh. "Selamat jalan paman, kuharap kau melanjutkan hukumanmu di alam sana" gumam Rubia.


Permaisuri yang ikut menyaksikan menjerit histeris begitu kepala Duke terpisah dari tubuhnya, dia menangis dengan sangat histeris sampai membuat semua orang melihat ke arahnya, Rubia yang merasa tak sanggup lagi mendengar suara teriakan Ibunya segera beranjak pergi dari tempat itu.


Sejak saat itu Permaisuri semakin menunjukkan sikap yang lebih baik, diam diam dia rutin mengirimkan biaya hidup untuk kepnakannya yang hidup seorang diri itu, tentu saja Rubia mengetahuinya tapi ia tak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Ibunya, dia hanya menganggap Ibunya sedang melakukan perbuatan baik kepada seorang anak yang hidup sebatang kara.


Awalnya Permaisuri meminta izin untuk hidup bersama dengan Jasson namun Rubia tak mengizinkannya demi alasan reputasinya yang akan tercemar jika permaisuri terkesan diusir oleh putrinya sendiri, padahal Rubia yang paling tahu bahwa Ibunya tak akan bisa bertahan dengan kemiskinan mengingat selam dia lahir dia selalu hidup di dalam kemewahan.


Semuanya telah berlalu dan menjadi sebuah masa lalu..

__ADS_1


5 tahun kemudian.


Rubia bersama dengan para penyihir masih disibukkan dengan memburu para penyihir hitam, rupanya diluar sana masih banyak para penyihir hitam yang menyembunyikan dirinya, Rubia bersama penyihir agung sepakat untuk memberantas kekuatan jahat yang berbahaya bagi kelangsungan dunia.


Setelah melakukan misinya Rubia kembali ke istana, Steve dari Bayangan Hitam sudah menunggu kedatangannya dengan tak sabar.


"Salam Baginda Kaisar"


"Ya, anda boleh duduk kembali Tuan Steve" ucap Rubia sembari membuka penutup kepalanya (saat melakukan tugas penyihir Rubia selalu mengenakan jubah hitam khas penyihir) "Apa yang membuat anda menemui saya Tuan, apa ada informasi mendesak yang anda temukan?"


"Benar Baginda, ini sesuatu yang sangat mendesak bagi kelangsungan masa depan kekaisaran" Steve tersenyum tipis lalu mengeluarkan sebuah surat dengan amplop polos dari sakunya lalu meletakannya di hadapan Rubia. "Silahkan dibaca Baginda"


Rubia pun membuka amplop ditangannya, seketika ia terdiam, ia melirik Steve sembari berfikir apa sekarang Steve sedang mengajaknya bercanda? Mana mungkin kan. Tulisan surat itu berbunyi "Bisakah anda datang pada saya?saya sangat merindukan anda Baginda" Hanya itu, seketika ia teringat tulisan siapa dan siapa satu satunya orang yang bisa mengatakan hal seperti itu kepadanya.


Seketika Rubia bangun lalu langsung menghilang dari pandangan Steve, dia langsung berteleportasi sampai membuat Steve kebingungan, kemudian Steve tersenyum dengan lebarnya setelah mengamati reaksi Rubia. "Benar sudah kuduga, Baginda yang paling tahu siapa yang akan menulis seperti itu" gumam Steve, dia membusungkan dadanya merasa bangga kepada dirinya sendiri karena telah berhasil menyelesaikan misi demi kelangsungan masa depan Kekaisaran.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2