Queen Sword

Queen Sword
Eps 86 Pemberontakan


__ADS_3

Usai mengantarkan mendiang ayahnya ke peristirahatan terakhir Axel berdiam diri di kamarnya sendirian, bahkan ia sama sekali tak memperdulikan Rubia dan orang orang yang datang untuk mengucapkan belasungkawa pada saat itu.


Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu kamarnya kemudian Axel membukanya.


"Anda masih disini Baginda Kaisar?" ucapnya dengan raut wajah dingin.


"Aku baru saja mau pulang setelah menemuimu dan Duchess, kau baik baik saja?" wajah rubia tampak menghawatirkannya. Ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh dahi Axel karena wajahnya terlihat sangat pucat, namun Axel segera menepis tangan Rubia membuat Rubia kaget sekaligus tertohok.


"Anda tak perlu khawatir, dan juga apa yang anda lakukan? Bukankah anda tak suka melakukan kontak fisik dengan saya?"


"Ahh, aku hanya ingin memeriksa suhu tubuhmu"


"Saya baik baik saja, maaf tapi saat ini saya ingin sendiri Baginda"


"Baiklah, kalau begitu aku permisi" Axel mengangguk lalu menutup kembali pintunya sebelum Rubia berbalik badan.


Rubia pun kembali ke istana, saat itu hari sudah sangat larut, ia duduk di balkon kamarnya setelah berganti pakaian tidur, seperti biasa ia duduk sembari memandangi bulan yang terlihat samar karena tertutup awan hitam.


"Uhuuukkk" lagi lagi ia batuk darah, dadanya terasa sangat sakit di saat seperti itu, ia segera menyeka mulutnya dengan sapu tangan.


Rubia merasa amat bimbang, karena pada akhirnya rencananya tak berjalan sesuai keinginannya karena Axel yang terlihat sangat ingin menolak permintaannya dan masih sangat terpukul karena kepergian Ayahnya, padahal kondisi kesehatannya semakin menurun dari hari ke hari.


Rubia kembali masuk ke kamarnya, berbaring di atas tempat tidur lalu menarik selimutnya, perlahan ia mulai memejamkan matanya.


Tak lama terdengar suara kegaduhan dari kamarnya, kemudian seseorang mengetuk pintu kamar Rubia Tok tok tok. Rubia segera bangun lalu membuka pintunya. Tampak seorang penjaga terlihat gemetar menatap ke arah Rubia.


"Ada apa?" tanya Rubia dengan santai.


"Baginda, istana diserang" uacapnya panik.


"Apah? Apa itu Duke Verano?" ia kaget namun tidak itu bukan hal yang mustahil.

__ADS_1


"Benar Baginda, Pasukan Duke telah mengepung Istana, dia membawa seorang penyihir, para ksatria dilumpuhkannya dengan mudah oleh penyihir itu"


"Aku mengerti, dimana Dame Tarina Wilis?"


"Pengawal pribadi anda berada disamping Duke Baginda"


Deg, Tangan Rubia mengepal kencang, ternyata selama ini ia telah keliru menilai tentang Tarina.


"Aku mengerti, perketatlah keamanan Istana Permaisuri, beritahu komandan Pasukan Ksatria"


"Baik Baginda"


Rubia melangkah keluar kamar setelah mengambil pedangnya, ia berjalan dengan langkah tegap dan cepat. Kondisi istana telah porak poranda akibat serangan seorang penyihir yang tak kenal ampun, para pengawal dan pekerja istana telah banyak dihabisi dalam sekejap, amarah Rubia semakin memuncak ketika ia melihat beberapa dayang ptibadinya telah tewas dengan mengenaskan di tangan prajurit Duke yang telah sampai ke kediamannya, Rubia segera berlari menuju tempat Duke berada, seketika langkahnya terhenti, rupanya Duke verano dan pasukannya tengah menuju ke kediamannya, mereka telah bersiap membunuh Rubia saat itu juga.


Wajah Duke tampak tersenyum menyeringai menatap wajah Rubia yang dipenuhi amarah, apalagi dengan penampilan Rubia yang hanya mengenakan pakaian tidurnya, itu menandakan betapa mulusnya rencananya.


Rubia menatap ke arah Dame Tarina Wilis yang berada di belakang Duke, tiga tahun ia menghabiskan waktu dengan seorang penghianat, Tarina terus membuang wajah tak berani menatap ke wajah Rubia.


"Bagaimana kejutannya keponakanku? Apa kau menyukainya? Ahh ngomong ngomong selamat ulang tahun keponakanku, meskipun sedikit terlambat tapi kuharap kau menikmati hadiah dariku ini" ucapnya dengan merentangkan kedua tangan dengan bangga.


"Mengapa kau sangat terburu buru?"


"Tutup mulutmu!"


Para prajurit yang masih tersisa pun segera melindungi di sisi Rubia, kini lorong istana menjadi tempat berlangsungnya pertumpahan darah.


"Dimana si Swordmaster yang selalu melindungimu itu apa dia sudah meninggalkanmu? Dan juga Tunanganmu yang berharga mengapa tak berlari menghampirimu?"


Rubia yang semakin kesal segera mengangkat pedang ke arah Duke Verano.


Trang trang trang, kedua sisi prajurit saling melawan sedangkan Rubia menghunuskan pedangnya kepada Duke Verano, mereka berdua beradu pedang dengan sengit.Suara riuh benturan senjata dan teriakan orang orang terdengar sangat keras di telinga Rubia.

__ADS_1


Pranggggg.. Rubia berhasil membuat Duke menjatuhkan pedangnya, saat Rubia hendak mengayunkan pedangnya dan nyaris memenggal leher Duke tiba tiba Penyihir bernama Atala menyerangnya dari belakang, Rubia berbalik badan lalu menyerang Atala dengan kekuatan sihirnya, ia mengabaikan mulutnya yang mengeluarkan darah akibat serangan Atala yang cukup kuat.


Blarrr.. Kekuatan seperti cahaya kilatan terus beradu antara Rubia dan Atala, Penyihir itu gencar menyerang Rubia yang mulai melemah.


"Uhuuukkk" lagi lagi Rubia muntah darah karena terlalu memaksakan kekutan fisik dan sihirnya, ia mengusap mulutnya dengan telapak tangan lalu segera menepis serangan sihir dari Atala. Duke pun masih mencari celah menyerang Rubia dengan Pedangnya namun Rubia terus menerus menepisnya dengan kekuatan sihir dari satu tangannya.


"Menyerahlah kau, kau takkan bisa mengalahkanku" ucap Atala dengan wajah tersenyum santai melihat Rubia yang mulai kewalahan.


"Diam kau" jawab Rubia tegas.


"Menyerahlah keponakanku, jika kau menyerah maka aku akan memberikanmu kematian yang tidak menyakitkan" ucap Duke disela sela serangannya "Lihatlah para ksatriamu itu, sebagai Kaisar yang bijak tidak seharusnya kau membiarkan mereka terluka karena melindungimu"


Rubia mulai melihat sekelilingnya para ksatrianya telah banyak yang tergeletak di lantai dengan luka parah, darah telah membanjiri seisi lorong panjang itu.


Ketika Rubia mulai lengah penyihir menyerang jantungnya dengan kekuatan yang sangat besar, lalu Duke berhasil menggores lengan Rubia, darahnya mulai menetes, lukanya ternyata lumayan dalam.


Perlahan tubuh Rubia semakin tak bertenaga, tubuhnya mulai terhuyung, lalu tiba tiba Vallan dan pasukan penyihir tiba di tempat dengan menggunakan teleportasi, Vallan berhasil menangkap tubuh Rubia sebelum terjatuh tepat waktu "Maaf, kami datang terlambat Baginda" sesalnya begitu melihat keadaan Rubia yang telah terluka cukup parah.


Atala dan Vallan segera bersikap waspada, di saat itu juga Ferderick datang bersama pasukan dari keluarga Count. Ferderick melihat Rubia yang bersandar di salah satu penyihir, sedangkan para penyihir lainnya menyerang Duke verano dan Atala.Ferderick dan pasukannya segera membantu pasukan istana memberantas para pemberontak.


Karena semakin tersudut oleh berbagai pihak Atala dan Duke verano terus berjalan keluar dari istana sembari terus mengeluarkan kekuatan serangan.


"Sedikit lagi Atala, kita akan menang sedikit lagi, bertahanlah dan keluarkan kekuatanmu" ucap Duke yang berada di samping Atala yang sedang sibuk menghalau serangan penyihir agung dan pasukannya yang berjumlah sepuluh orang penyihir.


"Mereka membuatku kewalahan, kita harus mundur Duke, tidak ada waktu lagi"


"Tidak bisa Atala, aku sudah mempertaruhkan semua yang kumiliki untuk hari ini bagaimana bisa kau menyuruhku mundur" jawabnya kesal.


"Mundur atau mati Duke?" tatapan mata Atala semakin tajam, kemudian tanpa persetujuan Duke ia menarik tangan Duke dan membuatnya berteleportasi.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2