Queen Sword

Queen Sword
Eps 13 Kesepakatan


__ADS_3

Malam keesokan harinya, Ferderick melompati pagar istana belakang, para penjaga tampak lengah sehingga mempermudahnya menyusup masuk kedalam istana,karena memang itu sudah diatur oleh seseorang yang mempekerjakannya, ia bergerak dengan sangat cepat dan berhasil masuk melalui jendela yang tak terkunci, perlahan Ferderick melompat melewati jendela, ia menatap sosok seseorang wanita yang tidur menghadap kearah berlawanan dengannya, wanita itu adalah target yang harus ia bunuh kali ini, bukan sembarang wanita dia adalah seorang Putri Mahkota kerajaan ini yaitu Rubia El Grosjean yang telah dikenal memiliki paras yang rupawan dan reputasi yang membanggakan berkat kemenangan perang kali ini.


Sesaat Ferderick terdiam, keraguan membuat kakinya terasa berat untuk mendekati wanita itu, tapi ia kembali menguatkan tekadnya, ia harus melakukan itu demi keselamatan saudara saudaranya, Ferderick mengeluarkan pedangnya,ia mulai melangkah mendekat dengan mengarahkan pedangnya kedepan, sampailah ia dihadapan Putri Rubia, ia mulai mengangkat pedangnya diatas tubuh Putri, ia berniat membunuh Putri dalam sekali serang seperti yang biasa ia lakukan agar Putri tak merasa sakit, Ferderick mengayunkan pedangnya namun Putri Rubia membuka mata dan menghindar, alhasil pedangnya mengenai tempat tidur dan merobeknya.


Putri Rubia bangun dan telah memegang pedang di tangannya, itu karena Putri Rubia selalu meletakkan pedang disampingnya karena kejadian itu tak hanya sekali dua kali dialaminya.Putri sama sekali tak terlihat terkejut. Mereka pun saling menyerang didalam ruangan itu sehingga barang diruangan itu berjatuhan, meskipun suara kegaduhan terdengar jelas tapi anehnya tak ada siapapun yang menghampiri masuk.


Ferderick mulai mengerti mengapa harus dirinya yang melakukan tugas, itu karena Putri Rubia bukanlah lawan yang mudah, gerakan Putri sangat gesit dan terus mengimbangi serangan Ferderick. Ferderick yang terlalu banyak berfikir dan kurang fokus akhirnya menjatuhkan pedangnya ke lantai setelah cukup lama terus menyerang, mereka berdiri berhadapan di samping tirai putih yang beterbangan tertiup angin.


Putri Rubia mengarahkan pedangnya di leher Ferderick sehingga pedang itu sedikit menggores kulitnya, Putri menatapnya dengan tatapan tajam "Mengapa kau ragu ragu? Dengan kekuatan itu seharusnya kau bisa membunuhku dengan mudah" ucapnya dengan tatapan angkuh.


Ferderick tak menyangka Putri Rubia menyadari tentang dirinya, karena kecerobohannya sepertinya ia akan benar benar terbunuh kali ini, tapi ia tak menyesalinya sama sekali, ia telah bersiap untuk dibunuh oleh Putri.


"Yah, aku tahu karena semua pria yang berhadapan denganku selalu seperti dirimu, ragu ragu karena terpana dengan wajah cantik ini, dan berkat itu aku lebih mudah menebas leher para pria yang selalu mengagumi wajah wanita cantik" Rubia terus menatap Ferderick yang hanya terdiam. tapi masalahnya bukan itu yang membuat Ferderick bertindak dengan ragu ragu, tapi ia tak bisa mengatakannya dalam situasinya kini.


"Apakah Pamanku yang mengirimmu? Hebat juga dia bisa menemukan seorang Swordmaster seperti dirimu, sayang sekali bahkan ahli pedang pun tak bisa membunuhku" Ferderick tertohok karena Putri tahu siapa yang menyuruhnya dan mengetahui kekuatannya hanya dengan sekali lihat.Itu benar benar terlihat bagaimana putri melatih kekuatan fisik dan insting tajamnya.


"Bunuh saya" hanya itulah yang bisa ferderick katakan disituasinya.


"Apa kau serius? Jika kau mati lalu bagaimana dengan adikmu?"


Ferderick kembali terkejut, bagaimana seorang Putri Mahkota mengetahui tentang dirinya.


"Kau terlihat bingung jadi akan ku beri tahu, ini bukan pertemuan pertama kita, apa kau tak ingat?"


Ferderick mulai mengingat ingat, ia menatap wajah Rubia dengan seksama, mata biru laut yang dingin itu memang bukan pertama kalinya ia melihatnya.Dan ia teringat tentang apel merah, ternyata Putri adalah seorang Bangsawan angkuh yang saat itu diseret olehnya.


"Sepertinya kau sudah ingat, aku akan memberimu dua pilihan, mati atau hidup untukku!"


"Bukankah akan lebih baik bagi anda jika membunuh saya sekarang juga?"


"Entahlah, kupikir tak buruk juga memberimu kesempatan hidup dan aku yakin orang sepertimu tak akan bisa dikendalikan oleh orang seperti Pamanku, aku yakin dia mengancammu dengan sesuatu yang berharga untukmu"

__ADS_1


"Mengapa anda seyakin itu"


"Siapa memangnya yang bisa mengancam nyawa seorang swordmaster,kau bisa menghabisi siapapun asal kau mau, apa aku salah?"


"Apa anda ingin memanfaatkan saya?"


"Tentu saja"


"Apa yang bisa anda berikan untuk saya jika saya melakukan itu?"


"Apa kau meremehkanku karena aku belum memiliki kekuasaan?"


"Saya hanya sedang menakar harga dari nyawa saya sendiri"


Rubia tersenyum tipis "Apakah tidak cukup dengan imbalan membiarkanmu hidup?"


"Apa anda pikir itu saja cukup dengan saya hidup untuk anda?"


"Kembalikan kehormatan keluarga Count Steward beserta wilayahnya yang disita oleh pihak istana"


Rubia terkejut ternyata pria didepannya adalah keluarga bangsawan berstatus Count yang hancur dan keberadaannya sering dipertanyakan.


"Jadi begitu, aku bisa melakukan itu setelah aku naik takhta bukan? Apa selama itu kau bisa menunggu dengan bekerja dibawahku?"


"Tentu saja"


"Apa kau mempercayaiku?"


"Tentu tidak"


"Lantas?"

__ADS_1


"Jika anda mengingkari janji maka saat itu juga saya akan membunuh anda tanpa ragu ragu"


"Aku mengerti,tapi bukankah kau tak bisa meremkanku dengan apa yang baru saja terjadi?" Ferderick tertegun. "aku pun akan melakukan hal yang sama jika kau menghianatiku, aku memiliki kelemahanmu" Rubia tersenyum smirk. Ia berjalan mendekati lemarinya dan mengambil sesuatu dari sana lalu kembali ke hadapan Ferderick.


Ia menyodorkan sebuah cincin dengan permata kecil berwarna biru "Pakailah, datanglah padaku saat permata itu bersinar,itu tandanya aku memanggilmu" Ferderick mengambil dan memasang di jarinya, Rubia pun telah memakai cincin yang sama. Ferderick menatap cincin yang bersinar itu.


"Jangan hilang karena itu sangat mahal dan langka, jika sudah mengerti pergilah" Ferderick mengangguk ia pergi mendekati jendela.


"Tunggu" Rubia menghentikan langkahnya, Ferderick kembali menoleh kearahnya.


"Siapa namamu Count muda Steward?"


Deg. telah sangat lama ia tak pernah mendengar panggilan itu dan itu membuatnya sangat canggung sekaligus terharu karena mengingatkannya dengan kehidupan masa kecilnya yang damai dan bahagia "Panggil saya Ferderick"


"Baiklah, aku akan memanggilmu Fer"


"Saya mengerti" Ferderick kaget karena Rubia telah berjalan mendekatinya.Rubia telah memegang sebuah sapu tangan berwarna maroon ditangannya,ia membuka penutup kepalanya lalu ia mengikatkan sapu tangan itu di leher Ferderick yang terkena goresan pedangnya. Ferderick menatapnya dengan penuh pertanyaan dibenaknya dengan apa yang sedang dilakukan oleh wanita didepannya.


"Pedangku sangat tajam rupanya sampai menembus jubahmu, sudah selesai pergilah" setelah selesai mengikat Rubia kembali menutup kepalanya, setelah itu Ferderick pergi melewati jendela.


Rubia menutup jendelanya, kemudian Dame Fiona masuk dan menghampirinya, ternyata sebelum Ferderick masuk mereka telah menyadari pergerakannya dan Rubia menyuruh Fiona untuk bersembunyi dan tak menampakkan diri sebelum Rubia memanggilnya.


"Anda baik baik saja Yang Mulia?"


Rubia berbalik badan "Seperti yang kau lihat"


"Apa tidak apa apa kita membiarkannya pergi begitu saja Yang Mulia, dia terlihat berbahaya" wajah Fiona terlihat khawatir.


"Yah, kita lihat saja bagaimana dia akan bertindak kedepannya, kirim seseorang untuk mengawasinya"


"Baik Yang Mulia"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2