
Rubia yang baru saja tiba di kamar Ferderick terus menatap diam diam seseorang yang sangat ia rindukan dari pojok ruangan,saat itu Ferderick tengah duduk di kursi roda yang terbuat dari kayu berwarna gold menatap keluar jendela, Rubia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, apa jangan jangan ini mimpi lagi seperti sebelumnya?.Meskipun mimpi ia tak peduli.
Perlahan Rubia melangkahkan kakinya menghampiri Ferderick, tuk tuk tuk, suara langkah kakinya terdengar oleh Ferderick, Ferderick pun menoleh kebelakang, wajahnya seketika langsung tersenyum begitu melihat Rubia yang ada di hadapannya. "Anda sudah datang Baginda?" ucapnya.
Rubia menghampirinya, kemudian ia berjongkok dihadapan Ferderick, menatap wajahnya dengan seksama "Apa lagi lagi aku bermimpi Fer?" ia membelai wajah Ferderick dengan hati hati.
Tangan Ferderick menggenggam tangannya yang berada di pipinya "Rasakanlah Baginda, ini bukan mimpi, saya sudah bangun, maaf karena membuat anda menunggu saya selama ini"
Setelah menyadari yang ada dihadapannya adalah kenyataan Rubia segera memeluk Ferderick dengan erat "Dasar bodoh, siapa yang menyuruhmu melakukan hal berbahaya tanpa seizinku!! Dasar bocah bodoh yang sangat lancang!! Aku benar benar tak akan memaafkanmu jika kau mengulangi hal seperti itu lagi!!" ucapnya seraya terisak.
Ferderick menepuk punggunya pelan "Maafkan saya Baginda, bagi saya melenyapkan kutukan anda adalah hal yang utama dihidup saya, hidup saya tidak akan berarti jika membiarkan anda terus menderita, saya tidak bisa seperti itu, maafkan saya tindakan saya sudah membuat anda sangat menderita,tapi meski hidup kembali puluhan kali saya akan tetap mengambil pilihan yang sama, tolong jangan menangis Baginda" Tangisan Rubia malah menjadi semakin keras sehingga menimbulkan perhatian orang orang Bayangan Hitam yang berada di rumah Count. Mereka mengintip dari sela sela pintu yang terbuka, Ferderick menatap mereka dengan tajam kemudian menyuruh mereka diam dan enyah dengan bahasa isyarat.
Setelah beberapa saat akhirnya Rubia merasa cukup tenang, ia melihat bahu Ferderick yang basah terkena air matanya, ia pun melepaskan pelukannya "Ahh, maaf aku membasahi kemejamu, benar benar memalukan, Kaisar kekaisaran ini menangis meraung raung dalam pelukan seorang pria, maaf lagi lagi aku melupakan martabatku ehemm"
Ferderick tersenyum seraya mengusap pipi Rubia yang masih basah "Tidak apa apa Baginda, anda bisa bersikap lebih manusiawi di hadapan saya"
"Benarkah? Bagaimana jika nanti aku merengek padamu?"
"Lakukan saja sesuai keinginan anda Baginda, saya akan menerima semuanya dengan hati yang lapang"
"Ciihh, kau jadi semakin pintar berbicara, padahal selama lebih dari lima tahun kau hanya tidur"
"Apa anda pikir saya hanya tidur?"
"Tentu saja"
"Mata saya tertutup dan saya hanya berbaring dalam diam tapi saya sadar, semuanya saya mengetahui semuanya, terimakasih karena setiap hari anda datang sehingga saya tidak merasa kesepian, Bangunlah Baginda seorang Kaisar tak boleh berlutut di hadapan saya seperti ini" Tangannya membangunkan tubuh Rubia.
Rubia pun duduk di atas pinggiran tempat tidur, mereka duduk berhadapan "Aku tahu kau memang tak sepenuhnya tidur, itulah sebabnya aku terus menemuimu, karena kau sudah bangun apa hal yang sangat ingin kau lakukan?"
"Apa anda akan mengabulkannya?"
"Tentu saja"
__ADS_1
"Emmm.. saya ingin menghabiskan waktu seharian dengan anda, tapi itu mustahil kan? Anda pasti sangat sibuk"
"Bukan masalah, ayo habiskan waktu seharian, berdua saja" Rubia pun tersenyum. Sedangkan wajah Ferderick memerah. "Apa kakimu baik baik saja? Kau duduk di kursi roda"
"Ini karena tubuh saya sangat kaku, saya akan kembali membiasakan diri menggerakkan tubuh saya perlahan, anda tak perlu kawatir"
"Baiklah" Rubia bangun, ia berjalan ke arah lemari pakaian di ruangan sebelah yang menyambung dengan kamar.
"Anda mau kemana?"
"Mengambilkan Kemeja baru, bajumu basah karenaku"
"Anda tak perlu melakukan itu Baginda, saya bisa panggil pelayan"
Rubia pun tak menghiraukan ucapan Ferderick, ia kembali dengan kemeja putih di tangannya, ia kembali duduk kemudian tangannya mulai membuka satu persatu kancing baju Ferderick "Baginda, apa yang anda lakukan?" ucapnya seraya mengalihkan pandangannya, wajahnya sangat merah.
"Memangnya kau pikir apa yang sedang aku lakukan?" jawabnya seraya tersenyum tipis melirik wajah Ferderick yang malu malu.
Setelah Rubia membuka tiga kancing tangan Ferderick menangkap dan menghentikan tangan Rubia "Tidak usah Baginda, saya bisa melakukannya sendiri"
"Tangan saya tidak kaku Baginda"
Wajah Rubia mendekat ke wajah Ferderick "Apa kau malu? Atau kau mulai memikirkan pikiran kotor?" godanya.
Ferderick pun terkejut, wajahnya semakin panas "Saya tidak memikirkan hal kotor" ucapnya dengan tegas menyangkal pikirannya sendiri.
"Baguslah, jadi diam saja kalau begitu" Ferderick pun akhirnya pasrah membiarkan Rubia membuka bajunya, sekarang ia benar benar sudah bertelanjang dada.Meski tidur selama lebih dari lima tahun tapi tubuhnya tak banyak berubah, masih kekar dan terlihat bugar.
Tiba tiba Kaisan masuk kedalam kamar ketika Rubia tengah menatap tubuh Ferderick yang bertelanjang dada, ia sangat terkejut melihat pemandangan dihadapannya, Rubia menatapnya yang membeku di depan pintu "Kau datang kai, ada apa?" ucap Rubia dengan santai, sedangkan Ferderick menutupi sebagian wajahnya karena sepertinya mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Kai.
"Anu Baginda" ucapnya dengan ragu ragu.
"Katakanlah, kenapa kau seperti itu?"
__ADS_1
"Kak Ferderick baru saja siuman, tubuhnya masih sulit digerakkan" ia berucap dengan hati hati seraya tangannya menggaruk garuk pipinya karena merasa sangat canggung.
"Aku tahu, jadi?" Rubia mulai tak sabar menantikan ucapan Kai.
"Jadi, tolong bersabar jika anda ingin melakukan hal----"
"Jangan diteruskan Kai!!" teriak Ferderick menghentikan ucapan Kai selanjutnya dengan gugup, Kai pun segera menutup mulutnya dengan tangan, sedangkan Rubia melirik ke arah Ferderick dan Kaisan secara bergantian dengan aneh.
"PPfffttttt, hehehehe, aku tahu maksudmu, aku tak akan melakukan hal yang membahayakan tubuh kakakmu, apa kau pikir aku sangat tidak sabaran? Pffttt, aku sedang menggantikan bajunya karena basah, hahaha, lucu sekali" Rubia sengaja menggoda keduanya, hingga membuat keduanya memerah dan tak bisa berkata kata.
"Apa? Kenapa kau datang kemari?" ucap Ferderick dengan galak.
"Semua orang sudah menunggu untuk makan malam bersama jika Baginda Kaisar tidak keberatan maukah anda bergabung?"
"Tentu saja, kebetulan aku sangat lapar setelah mengeluarkan banyak energi, ehemm" godanya lagi.
"Baginda.." lirih Ferderick "Kami akan keluar, kau bisa keluar dulu.
"Baiklah"
Rubia pun melanjutkan membantu Ferderick berpakaian "Baginda, dengan siapa anda bergaul sejauh ini?"
"Kenapa kau bertanya?"
"Anda jadi sedikit nakal"
"Pffftttt.. nakal? Kau mengatai seorang Kaisar nakal? Apa kau ingin dihukum?" bisiknya di telinga Ferderick.
"Saya sudah lancang Baginda, tolong hukum saya"
Rubia pun mengecup kedua pipi Ferderick "Ini hukumannya, ayo kita keluar" wajah Ferderick semakin memerah, Rubia benar benar sudah menggodanya habis habisan, sementara itu Rubia mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan dengan santai, seolah hal seperti itu bukan apa apa baginya.
.
__ADS_1
.
Bersambung.