
Rubia dan Ferderick berdiri di tengah tengah jalan setelah berlari cukup jauh, mata mereka masih mengitari sekitar lingkungan tempat mereka berada saat ini, suasana sangat gelap, kini mereka sedang berada di pinggir hutan.
"Kemana Guru pergi Fer?"
"Saya tak melihat lagi setelah sampai ditempat ini" mata mereka berdua masih terus mengitari sekitar. "Haruskah kita kembali saja Baginda?"
"Baiklah" Mereka mulai berjalan, namun langkah mereka terhenti lagi karena mendengar suara erangan dari arah pintu hutan.
Bruuukkkkkk... Rubia dan Ferderick segera mencari ke arah sumber suara, sampai ia melihat seseorang terbujur telentang di tanah yang terlihat karena sinar bulan samar samar yang menerangi malam itu.Itu adalah tubuh dan gaya berpakaian seseorang yang ia kenal.
"Guru" Rubia berlari menghampirinya, ia berjongkok dan memeriksa keadaan Gurunya. terlihat darah yang keluar dari mulutnya hingga membasahi baju bagian dada. Rubia mengecek denyut nadi di pergelangan tangan Vallan, itu terasa samar, namun sebelum ia mengetahui lebih jelas tangan Vallan menepis tangan Rubia.
"Anda pikir aku sudah mati?" ucapnya setelah membuka mata, ia pun duduk.
"Anda baik baik saja Guru? Apa yang terjadi?" Rubia masih terlihat kaget.
"Aku lalai dan lengah sampai anak itu bisa menyerangku, hah hah" ia masih mengatur nafasnya yang belum teratur. Lalu ia mengusap darah di mulutnya dengan tangan.
"Kita harus kembali terlebih dahulu Guru, Fer bisakah kau menggendong Guru?"
"Tentu saja jika anda mengingnkan, saya akan menahannya meskipun Tuan Penyihir Agung terlihat sangat berat"
Vallan bangun lalu Rubia dan Ferderick mengikuti "Dasar bocah sialan.. hahahaha kalian tak perlu repot repot, aku tidak selemah itu sampai bocah itu harus menggendongku" pak tua itu masih sempat tertawa keras, seketika Vallan mengaktifkan sihir teleportasi, dalam sekejap mereka telah berpindah ke dalam kastel menara sihir.
Vallan berjalan perlahan sembari memegangi dadanya, ia masuk ke ruang kerjanya "Masuklah kalian"
"Baik" mereka bertiga duduk berhadapan, Vallan menyandarkan kepalanya di sofa, tubuhnya masih terlihat tak nyaman.
"Anda baik baik saja Guru?"
__ADS_1
"Anda tak perlu khawatir, aku bisa memulihkan diri dengan kekuatan yang kumiliki dengan cepat" Vallan mulai memejamkan mata dan menyembuhkan dirinya sendiri dengan kekuatan sihir, dalam sekejap rona wajahnya terlihat lebih baik.Namun sebenarnya tubuhnya tetap membutuhkan waktu sampai sihir hitam ditubuhnya benar benar dihilangkan.
"Syukurlah"
"Apa yang sedang kalian lakukan disana?" ucapnya setelah merasa lebih baik.
"Kami melihat Guru mengejar seseorang jadi kami mengikuti anda"
"Padahal hampir saja aku menangkapnya, bisa bisanya malah aku yang diserang olehnya, dia adalah penyihir kegelapan yang menyerang anda di aula istana"
"Ahh, apa anda kebetulan mengenal orang itu?"
"Ya, aku mengenalnya,namanya May dulu dia adalah salah satu muridku sama seperti Merge, Maria, dan Riche, setelah aku mengeluarkannya karena dia memiliki sifat yang buruk dan berbuat jahat kepada teman temannya aku mengusirnya meskipun dia memiliki bakat yang cukup langka, tapi entah apa yang terjadi padanya setelah itu, kini dia sudah menguasai sihir gelap tingkat tinggi, awalnya aku hanya menduga duga, tapi ternyata benar anak itu, seharusnya dulu aku mengurungnya dan bukan malah membiarkannya pergi begitu saja" pertama kalinya Rubia melihat wajah gurunya yang terlihat merasa bersalah, seakan ia yang merasa bertanggung jawab atas ulah May, Rubia pikir Gurunya adalah orang yang selalu percaya diri dan kuat tanpa perasaan, namun sekarang beliau terlihat rapuh layaknya manusia biasa yang bisa berubah kapanpun karena perasaannya. Ia paham, pasti dalam hati kecil Gurunya ada perasaan sayang yang masih tertinggal untuk muridnya itu.
Ferderick melirik wajah Rubia yang tampak iba menatap Gurunya "Ini bukan salah anda Tuan, jangan membuat saya mengasihani anda dengan menunjukkan ekspresi seperti itu" celetuk Ferderick.
"Ferderick" Rubia menggeleng setelah menendang kakinya.
"Tentu saja, anda sudah banyak melukai hati Baginda saat itu dengan ucapan anda, padahal Baginda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berlatih sampai tenaganya terkuras habis tapi anda sama sekali tak menunjukkan belas kasihan sama sekali" ocehnya.
"Hahaha, baiklah, apa kau akan berhenti mendendam setelah aku meminta maaf kepada Baginda sekarang juga?"
"Itu.." Ferderick melirik ke wajah Rubia dengan ragu ragu.
"Sudah sudah, Ferderick hanya bercanda Guru, jangan diambil hati" ucap Rubia menengahi. "Guru, bagaimana persiapan untuk mencari anggota menara sihir baru?" Rubia segera mengalihkan topik pembicaraan.
"Itu rencananya kami akan melakukan pemeriksahaan orang orang yang memiliki bakat sihir terlebih dahulu setelah kerajaan Vlair mengirimkan bola kristal pengukur kekuatan sihir dalam tubuh,kami sudah memesannya secara langsung kepada Pangeran Robero saat itu tak lama lagi akan sampai, lalu kami sudah membuka pendaftaran terlebih dahulu orang orang yang sekiranya memiliki bakat sihir bawaan, tentu saja tidak akan ada pemaksaan sama sekali, tapi tidak ada orang yang mendaftar sampai hari ini, apa mungkin diantara banyaknya penduduk kekaisaran tidak ada yang tertarik menjadi seorang Penyihir istana?"
"Bagaimana jika anda menyertakan hak istimewa seorang penyihir?"
__ADS_1
"Hak istimewa berupa apa maksud anda?"
"Semacam fasilitas tempat tinggal, gaji dan keuntungan lain yang akan didapat jika mereka berhasil menjadi Penyihir"
"Mengapa sebelumnya aku tak terfikirkan hal itu?"
"Tentu saja uang adalah nomor satu untuk semua orang kan?Dan juga cantumkan hal penting ini, semua rakyat kekaisaran boleh mendaftar terlepas dari seorang bangsawan atau rakyat biasa"
"Anda benar Baginda, saya akan menambahkan poin yang anda bicarakan" Vallan tersenyum tipis seraya kepalanya mengangguk angguk.
"Jadi bagaimana dengan menangkap penyihir hitam itu?" tanya Ferderick membuat senyuman Vallan kembali buyar.
"Jangan kawatir, mulai sekarang aku akan mengesampingkan perasaan pribadi dan hanya fokus menangkap seorang penjahat, aku akan menanamkan dalam otakku bahwa anak itu tidak lebih dari sekedar penjahat" mata Vallan seketika berubah menjadi berapi api, sepertinya ia telah membulatkan tekadnya untuk menangkapnya hidup ataupun mati.
"Tetap saja anda harus mengutamakan keselamatan anda" ucap Rubia.
"Apa anda pikir kekuatan anak itu lebih tinggi dari saya Baginda? Asal anda tahu saya terluka bukan karena kekuatan saya lebih rendah darinya tapi---" ia terhenti.
"Saya mengerti Guru, saya hanya minta anda lebih berhati hati"
Vallan tersenyum tipis, tangannya menghadap ke kepala Rubia, ia mengeluarkan sihir dari tangannya "Baiklah Baginda, karena kemungkinan penyihir hitam itu akan terus mengganggu anda sebelum tertangkap maka saya harus merapalkan sihir perlindungan kepada anda agar anda tidak berubah sewaktu waktu karena terkena sihir hitam, tapi ini hanya sebuah alat perlindungan dari sihir hitam, sihir ini tidak bisa menghalangi gejala kutukan yang sewaktu waktu bisa kambuh"
"Saya mengerti Guru, terimakasih, kami harus pergi sekarang"
"Baiklah"
.
.
__ADS_1
Bersambung.