Queen Sword

Queen Sword
Eps 85 Mari menikah


__ADS_3

Axel berjalan masuk ke dalam istana Kaisar, ia mendekati Rubia yang saat itu tengah duduk di ruang tamu sembari menikmati teh seorang diri.


"Salam Baginda" ucap Axel serayaenunduk begitu tiba di hadapan Rubia.


"Ya, duduklah dengan nyaman Axel" ucapnya setelah menaruh kembali cangkir teh di atas meja.


"Apa yang ingin anda bicarakan Baginda?" Axel mengambil cangkir teh dihadapannya lalu menyeruputnya perlahan.


"Ayo menikah"


"Pfdtr uhuuukkk" Axel yang kaget tiba tiba tersedak air teh yang masih panas wajahnya tampak sangat merah.


Rubia mengulurkan sapu tangan padanya "Kau baik baik saja?"


Axel mengambil sapu tangan kemudian menyeka mulutnya "Maaf Baginda, saya terlalu kaget sampai bersikap tak sopan di depan anda"


"Tidak masalah, jadi bagaimana kalau satu minggu dari sekarang?"


Axel tampak ternganga "Mengapa sangat mendadak?"


"Mau cepat atau lambat tetap saja kita harus menikah kan? Tidak ada salahnya mempercepatnya bukan begitu?"


"Apa anda melakukan ini karena desakan para bangsawan saat rapat? Jika benar maka saya keberatan jika anda terpaksa melakukan pernikahan ini"


"Apa maksudmu? Aku hanya berfikir ini sudah saatnya kita menikah"


"Apa anda yakin?" Axel menatap wajah Rubia dengan hati hati.


"Tentu"


"Baiklah, saya akan mengikuti keinginan anda" ia mulai tersenyum.


"Tapi, ada satu hal yang harus kita berdua sepakati terlebih dahulu"


"Kesepakatan apa itu?"


"Setelah menikah aku tak ingin memiliki keturunan, jadi aku tak ingin melakukan kontak fisik berlebihan"

__ADS_1


Deg, Axel tertegun mendengarnya, ia kira dengan menikah dengannya semata mata karena menginginkan ahli waris takhta, tapi apa yang baru saja di dengarnya?


Wajah Axel mengernyit "Apa maksud anda Baginda? Apa anda sebegitu bencinya melakukan kontak fisik dengan saya? Jadi untuk apa kita menikah?"


"Jangan salah paham, kau tahu aku sudah lama menderita karena kutukan kan? Aku tahu kau sudah tahu meskipun kau tak pernah bertanya, itu karena aku tak bisa membiarkan keturunanku merasakan penderitaan yang sama denganku karena kutukan ini, ku harap kau mengerti"


"Jadi untuk apa kita menikah?"


"Aku berharap kau yang akan memegang takhta saat aku tak mampu lagi bertahan"


Raut wajah Axel semakin mengeras "Apa anda pikir saya akan menerimanya dengan senang hati?"


"Apa maksudmu kau menolaknya?"


"Hahh, ternyata anda menganggap saya serendah itu ya, saya benar benar tak menyangka anda berfikir seperti itu, anda pikir selama ini saya bertahan dengan segala cara penolakan anda karena apa?"


"Jangan salah paham, aku melakukan itu karena kau memang pantas mendapatkan posisi itu dengan kemampuanmu, penolakan? Itu tidak benar Axel jangan salah sangka aku hanya berfikir baru sekarang saatnya"


"Jadi anda meminta menikah agar anda bisa menyerahkan takhta kepada saya? tapi bukan itu yang saya harapkan Baginda" wajah Axel tampak sangat kecewa.


"Apa maumu agar kau menyetujui keinginanku?"


Axel pergi begitu saja dengan amarah yang meledak ledak meskipun ia telah berusaha menahannya sekuat tenaga di depan Rubia, namun tatapan matanya itu tak bisa berbohong, sorot mata yang dipenuhi dengan amarah dan kekecewaan.


"Kenapa juga dia sangat marah? Aku benar benar tak mengerti" Rubia bangun lalu berjalan ke kamarnya.


.


Axel kembali ke kediaman Duke Harington dengan menaiki kereta kudanya, ia termenung di sepanjang jalan memikirkan tentang apa yang baru saja ia dengar, seharusnya ia merasa senang karena setelah sekian lama penantiannya akhirnya ajakan menikah darinya benar benar terucap, tapi baginya sia sia saja menikah jika hanya untuk mewarisi takhta istrinya sendiri, bukan itu yang diinginkannya, ia hanya ingin menjadi pendampingnya tidak kurang dan tidak lebih, apa katanya? Tak menginginkan kontak fisik? Perkataan itu benar benar telah melukai harga diri seorang Axel Harington.


Tiba tiba kusir menghentikan jalannya kereta kuda.


"Tuan, kita tidak bisa lewat karena ada kereta kuda yang sedang bermasalah di depan" ucap kusir dari tempat duduknya.


Kemudian Axel keluar dari kereta kuda, disana ia melihat sebuah kereta kuda yang rodanya hampir lepas dari engsel, disampingnya berdiri seorang Lady yang ia kenal bersama dengan dayangnya dengan raut wajah yang panik.


Kusir menghampiri Axel "Tuan, haruskah kita mengambil jalan lain tapi itu akan memakan lebih banyak waktu"

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar ya" Axel berjalan menghampiri pemilik kereta kuda yang sedang bermasalah.


"Nona Amelie, apa anda membutuhkan tumpangan?"


"Tuan Axel, bisakah anda memberikan saya tumpangan?"


"Tentu, mari ikut ke kereta kuda saya"


"Terimakasih Tuan" Amelie dan dayangnya mengikuti Axel masuk ke dalam kereta kuda.


Suasana di dalam kereta kuda tampak hening, mereka duduk berhadapan namun Amelie melihat raut wajah Axel yang sedang tak enak itu sehingga ia merasa segan untuk memulai obrolan, Amelie hanya diam dengan beberapa kali melirik wajah Axel diam diam.


"Anda baik baik saja Tuan?" akhirnya ia memberanikan diri bertanya.


Axel meliriknya "Apa aku terlihat tak baik baik saja?" suaranya tampak dingin, artinya suasana hatinya saat ini benar benar sangat buruk dan tak ingin diganggu.


"Tidak" Amelie segera menutup mulutnya rapat rapat.


Setelah beberapa saat akhirnya kereta kuda sampai di depan gerbang kediaman Marquess, Axel turun terlebih dahulu lalu ia membantu Amelie turun dari sana.


"Terimakasih banyak Tuan Axel untuk tumpangannya"


"Ya" Axel segera kembali masuk ke dalam kereta kudanya, kereta pun berjalan dengan cepat.Sampailah di kediaman Duke Harington.


Axel turun lalu ia berjalan masuk memasuki mansion mewah itu, suasana kediaman terasa teramat sepi, lalu ia terhenti, seorang pendeta penyembuh keluarga Duke keluar dari kamar orang tuanya, Pendeta itu terhenti di hadapan Axel dengan kepala tertunduk, perasaannya mulai tak enak.


Axel segera berlari ke kamar orang tuanya, ia membuka pintu lalu menemukan Ibunya yang sedang diam termangu menangis tanpa suara di hadapan suaminya yang terbaring dengan wajah sangat pucat.


Axel segera menghampiri dan memeluk ibunya erat erat, seketika tangisan ibunya membuncah, menangis meraung raung di dalam pelukan putranya.


"Padahal keinginan terakhir ayahmu adalah melihatmu menikah dengan Baginda Kaisar" gumamnya seraya terisak.


"Maafkan aku ibu, maafkan aku" Axel pun tak kuasa lagi membendung air matanya, rasanya dalam sekejap ia telah jatuh terperosok kedalam jurang keputusasaan yang teramat dalam. Tak lama Kakak dan kakak iparnya pun membuka kamar itu, semua orang menangis, suara tangisan begitu terasa menggema di telinga Axel saat itu.


Dalam sekejap berita tentang berpulangnya Duke Harington mulai terdengar sampai penjuru kota.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2