
Beberapa hari kemudian, setelah cukup merenungkan diri Ameli bertukar surat dengan Rubia, disurat itu ia menyampaikan permintaan maaf karena menyebabkan masalah untuk Rubia dan ia mengatakan berniat menerima perjodohannya dengan Jasson Verano dengan lapang dada.
Rubia yang tidak menyalahkannnya atas apa yang telah terjadi kepadanya dan Kaisar merasa menyesal karena tak bisa membantu Amelie terlepas dari perjodohan yang tak diinginkannya itu, kemudian Rubia menyarankan agar Ameli dan keluarganya menyebarkan sebuah rumor yang mengatakan bahwa dirinya sedang sakit keras sehingga akan lebih mudah untuknya mengulur waktu selama yang diperlukan.
Setelah merundingkannya dengan keluarganya akhirnya Amelie dengan keluarganya sepakat untuk menyebarkan sebuah rumor tentangnya yang tiba tiba mengalami sakit keras,sejak saat itu Amelie dan Rubia sering bertukar surat dan siapa sangka mereka berdua lumayan cocok satu sama lain, mungkin karena keduanya yang sama sama tak cukup pandai bersosialisasi.
Mendengar kabar yang telah tersebar luas di kalangan para bangsawan tentang kesehatan putri Marquess membuat Duke Verano merasa curiga mereka telah sengaja merencanakannya demi menghindari perintah Kaisar. Duke menjadi sangat murka, ia pun segera mencari cara agar orang orang tahu bahwa keluarga Marquess telah menipu masyarakat.
Duke kembali mendatangi Kaisar untuk meminta bantuan, ia pun berhasil dengan mudah mengirimkan seorang pendeta penyembuh dari kuil setelah mendapat persetujuan dari Kaisar yang sedang terbaring lemah.
.
Seorang pria memakai cadar dan berpakaian serba hitam menghentikan kereta kuda yang dinaiki oleh pendeta penyembuh yang diutus Kaisar untuk ke kediaman Marquess, pria itu menakut nakuti pendeta itu dengan mengancam akan membunuhnya jika ia tak mengikuti kemauannya, karena sangat ketakutan akan kehilangan nyawanya akhirnya pendeta itu menuruti semua keinginan pria itu, pendeta itu pun menyampaikan kepada Duke Verano bahwa Putri marquess benar benar sakit keras dan penyembuhannya akan memakan waktu bertahun tahun.Meskipun tak terima dan tetap merasa curiga,tetapi Duke tak bisa berbuat apa apa dengan situasinya saat ini.Kali ini Rubia selangkah lebih didepan dari Duke Verano.
Ferderick kembali ke kamar Rubia melewati jendela setelah selesai melakukan tugas rahasia yang Rubia minta, meskipun hubungan mereka tengah sangat canggung karena Rubia yang tiba tiba berteriak padanya dan meluapkan kekesalan padanya tempo hari, tapi Ferderick tetap berusaha bekerja disamping Rubia tanpa menunjukkan perasaannya seolah olah tak ada apapun yang terjadi.Hanya Rubia seorang yang terlihat sedikit tak nyaman.
"Kerja bagus Fer"pujinya dengan canggung.Ferderick pun hanya mengangguk.
Tok tok tok, seseorang mengetuk kamar Rubia, Rubia pun membuka pintu dan keluar.
"Ada apa Luna?"
"Yang Mulia, baru saja kepala dayang Yang Mulia Ratu menyampaikan pesan,anda diminta menemui Baginda Ratu di kediamannya" ucap Luna, salah satu dayang yang melayani Rubia, dia gadis muda yang seumuran dengan Rubia.
"Benarkah?" Rubia tampak tak percaya, selama hidupnya baru kali ini Ratu mencarinya, apa lagi kali ini? Rubia merasakan firasat yang tak baik.
Rubia keluar dari kediamannya bersama Ferderick, matanya berkeliling di depan pintu istananya entah apa yang membuat Kaisar berubah pikiran, tapi para penjaganya sudah meninggalkan pintu istana Rubia, itu menandakan bahwa masa hukuman yang harus dijalani Rubia telah usai.
"Yang Mulia, setelah ini bagaimana jika anda berlatih pedang bersama saya?" ucap Ferderick yang tampak ragu ragu.
"Ide bagus, tunggulah kekalahanmu Fer" jawabnya dengan tatapan yang tetap lurus kedepan.
Ferderick tersenyum tipis "Mohon izin Yang Mulia, saya tidak akan mengalah"
Rubia pun tersenyum "Aku menyukai kepercayaan dirimu"
__ADS_1
Rubia terhenti di depan pintu kediaman Ratu yang dijaga oleh dua orang penjaga bersenjata, entah sejak kapan ia sudah tak menginjakkan kakinya di istana tempat ibunya berada, bahkan Rubia tidak ingat sama sekali apakah ia pernah masuk atau tidak kedalam istana yang jauh lebih megah daripada tempat tinggalnya itu.
Ia masuk ke dalam sana, rupanya Ratu telah duduk menunggunya sembari menikmati teh dengan sangat anggun.
"Salam Yang Mulia Ratu, anda memanggil saya?" ucapnya dengan raut wajah yang datar.
Ratu menoleh ke arahnya, kemudian meletakkan cangkir yang dipegangnya "Kau sudah datang? Duduklah"
Rubia pun duduk di hadapan Ratu "Mengapa anda memanggil saya?"
"Besok aku akan mengadakan pesta teh rutin di taman rumah kaca milikku, aku harap kau bergabung denganku, aku akan memperkenalkanmu dengan para nyonya bangsawan yang akan mendukungmu dan memperkuat kekuatanmu setelah kau naik takhta nanti"
"Baik,terimakasih karena anda sudah perhatian dengan saya"
Ratu tersenyum "Jangan menilainya secara berlebihan,pada akhirnya aku melakukan ini demi diriku sendiri"
"Saya mengerti" seharusnya tak perlu ditegaskan pun ia sudah memahami maksudnya.
"Kau boleh kembali ke tempatmu"
"Ahh.. kudengar kau sudah membuat Kaisar kesakitan selama beberapa hari ini?"
Pada akhirnya rumornya menjadi seperti itu.
Rubia hanya terdiam tak ingin menanggapi ucapan Ratu.
Ratu melirik ke wajah Rubia kemudian bangun dari duduknya "Aku tak menyalahkanmu, kerja bagus Putriku, aku akan lebih bangga denganmu jika kau membunuh Ayahmu yang tak berguna itu" bisiknya ditelinga Rubia.
Rubia pun tak goyah, namun rasanya ia menjadi sangat jengkel, bukan karena ia ingin membela kaisar, tapi karena ucapan seperti itu rasanya sangat tidak layak dikatakan oleh seorang ibu kepada putrinya sendiri.
.
Rubia dan Ferderick berhadapan sembari saling menodongkan pedang di hadapan masing masing, trang trang trang, mereka mulai beradu kekuatan dan saling menyerang, raut wajah Rubia seakan ingin menghabisi lawannya, sedangkan Ferderick bertindak dengan hati hati karena takut melukai Rubia.
Tiba tiba Rubia menghentikan serangannya di saat nafasnya mulai terengah engah "Mari hentikan ini Fer, aku takut aku bisa saja benar benar melukaimu" Rubia merasa harus menghentikannya sebelum pikirannya kembali dikuasai oleh iblis seperti yang sudah sudah.
__ADS_1
"Apa anda lupa kalau saya seorang Swordmaster Yang Mulia?" ferderick hanya mencoba menghiburnya yang terlihat buruk setelah keluar dari istana ratu.
"Kau juga tak benar benar menyerangku" ternyata rubia tahu.
"Baiklah, mari kita istirahat terlebih dahulu" ucap Ferderick sembari berjalan mengambil kantung air minum dan memberikannya kepada Rubia yang telah berkeringat,padahal cuaca masih sangat dingin.
Gluk gluk, Rubia menghabiskan air minum yang diterimanya, mereka duduk bersebelahan di kursi kayu di pinggir tempat latihan pedang "apa yang para ksatria lakukan? mengapa sangat sepi?" ia melihat sekelilingnya,kemudian menaruh wadah air minum di sebelahnya duduk.
"Di jam ini biasanya para ksatria sedang berpatroli di sekitar istana dan beberapa kelompok berpatroli di jalan besar pusat perkotaan tempat bermunculannya para penjahat yang mengganggu rakyat"
"Kau tidak merasa iri dengan mereka?"
"Mengapa saya harus iri?"
"Bukankah tidak menyenangkan berdiam diri saja di istana Putri Mahkota dan seharian hanya melihat wajahku?"
"Saya senang melihat wajah anda" bahkan Ferderick tak sadar apa yang baru saja ia katakan.
Krik krik krik, tiba tiba suasana menjadi sunyi, mereka berdua saling memandang, Ferderick telah menyadari ucapannya yang ambigu itu, wajahnya terlihat memerah dan kebingungan.
"Pfffttttt..' Rubia segera menutup mulutnya dengan tangan.
"Kenapa anda tertawa?"
"Wajahmu lucu"
Ferderick menatap wajah Rubia yang tersenyum, ia pun menjadi ingin ikut tersenyum tapi ia menyembunyikan senyumannya dengan mengalihkan wajahnya ke arah lain.
Di belakang mereka terlihat Axel berdiri dalam diam melihat Rubia yang tampak sangat akrab dan dekat dengan pengawal pribadinya itu, ia pun memang telah beberapa kali mendengar rumor yang beredar diantara para ksatria mengenai kedekatan hubungan mereka berdua yang mengarah ke hubungan asmara.
.
.
Bersambung.
__ADS_1