
Setelah melepaskan tangan Amelie Axel langsung menyapa Rubia yang ada dihadapannya "Salam Yang Mulia" ucapnya seraya menunduk.
"Ya" Mata Rubia tertuju kepada Amelie yang terjatuh ditanah, Rubia menundukkan tubuhnya mengulurkan tangan kepada Amelie.
Mereka berdua saling memandang dengan tersenyum "Salam Yang Mulia" ucap Amelie.
Amelie menatap Axel yang tak sengaja menjatuhkannya dengan sinis "Apa?" tanya Axel menatap Amelie balik.
"Kalian berdua saling mengenal?" tanya Rubia setelah melihat interaksi keduanya.
"Kami mengenal saat tak sengaja berpapasan dijalan Yang Mulia" ucap Axel.Amelie kembali melirik pria yang berbohong tanpa berkedip itu.
"Ah, mari lanjutkan pembicaraan di taman, Axel juga Ferderick ikutlah dengan kami"
"Baik"
Udara yang sejuk dengan angin semilir, mereka duduk di tengah taman yang dipenuhi oleh hamparan bunga bunga berwarna warni yang telah mekar,cuaca yang sangat cocok untuk bersantai, para pelayan menyajikan teh yang harum dan bermacam macam camilan ringan yang memenuhi meja bulat itu.
Rubia melirik Ferderick yang berdiri dibelakangnya "Apa yang kamu lakukan Fer?"
"Saya sedang mengawal anda Yang Mulia, jika saya mengganggu saya akan segera pergi" ucapnya.
"Pergi kemana? Aku memintamu ikut bergabung dengan kami"
"Tapi Yang Mulia" ia masih ragu ragu karena statusnya yang adalah seorang pengawal, ia melihat ke sekitarnya, ia takut jika ia akan merugikan reputasi Rubia yang sebentar lagi akan menjadi Kaisar.
"Ini perintah, bukankah kalian berdua tak keberatan lady dan Axel?"
Amelie menjawab dengan senang hati "Tentu saja, bergabunglah dengan kami Sir Fer" Sedangkan Axel memasang raut yang datar, ia tak menolak tak juga menerimanya.
"Baiklah" Ferderick duduk dengan canggung.
"Kau harus membiasakan diri bergaul dengan para Bangsawan, karena sebentar lagi aset dan statusmu sebagai Count muda akan dikembalikan sesuai janjiku" ucap Rubia kepada Ferderick, Ferderick pun hanya mengangguk.
Mata Axel terperanjat "Count?" Axel bertanya tanya.
"Ya, apa kau belum tahu kalau Ferderick adalah putra pertama mendiang Count Steward? Ahh tentu saja tidak ada yang tahu, lebih baik kita rahasiakan dahulu sampai aku berhasil mengurusnya" Orang orang didepannya sepakat mengangguk.Wajah Axel tersenyum, ia tak menyangka bahwa sebentar lagi Ferderick akan segera meninggalkan Rubia.
"Yang Mulia, anda memanggil kedua orang ini dengan nama panggilan, mengapa anda tak memanggil saya nama depan saja?" ucap Amelie seraya mengedip ngedipkan mata.
"Tentu jika kau menginginkannya, alangkah lebih baiknya juga bila kalian semua memanggilku Rubia tanpa embel embel Yang Mulia"
"Yang Mulia, bukankah itu tak mungkin, anda ingin kami dihukum karena dituduh merendahkan Kaisar masa depan?" jawab Amelie protes, yang disetujui dengan anggukan oleh kedua pria disamping mereka.
Rubia tersenyum tipis "Amel maaf karena aku tak bisa menepati janji kita yang ditulis disurat waktu itu, sayang sekali kan"
"Tidak apa apa Yang Mulia, ini saja saya sudah sangat gembira"
"Syukurlah, datanglah ke upacara penobatan dua hari lagi"
__ADS_1
"Tapi Yang Mulia,bukankah saya harus menyembunyikan tubuh bugar saya ini?" bisiknya mendekat pada Rubia.
"Kau tak perlu khawatir, aku akan membatalkan rencana pernikahanmu yang tak memberikan keuntungan apapun kepada kekaisaran itu"
"Benarkah Yang Mulia?" ucapnya senang.
"Tentu"
"Wah, ini berita besar yang Mulia, terimakasih Yang Mulia"
Mereka mengobrol santai seraya sesekali menyeruput teh dan memakan camilan manis itu, suasana sangat hangat dan bersahabat seperti cuaca yang semakin menghangat dari hari ke hari.
.
Malam harinya Rubia dan Ferderick keluar istana diam diam, mereka memakai jubah hitam yang menutupi kepala lalu keluar dari jendela kamar Rubia seperti biasa, kemudian mengendarai kuda yang telah terlebih dulu disiapkan.
Mereka berhenti di depan Guide Bayangan Hitam, Ferderick tak menyangka saat jadwal dan kesibukan Rubia yang padat ia menepati janjinya untuk mengunjungi keluarganya meskipun ia tak banyak berharap karena banyak hal yang terjadi berturut turut.
Ferderick masuk terlebih dahulu kemudian Rubia mengikuti dibelakangnya, Ferderick membuka penutup kepalanya sehingga pekerja disana langsung mengenali dan menyambutnya dengan ceria, Rubia melangkahkan kaki perlahan seraya matanya mengitari ruangan sejak ia melewati pintu masuk.
"Dimana Nyonya ilona, Tuan Stev dan Tuan Joseph?" Tanya Ferderick kepada temannya yang menyambut.
"Tuan Stev dan Nyonya ilona dibelakang lalu Tuan Joseph sedang pergi keluar"
"Bisakah kau memanggilkan mereka?Seseorang ingin bertemu dengan mereka" ucap Ferderick berbisik seraya matanya melirik Rubia.
"Ah panggil saja, kami akan menunggu di kedai minum"
"Baiklah" pria itu bergegas pergi.
Ferderick menghampiri Rubia yang masih melihat lihat tempat itu "Yang Mulia, mari kita tunggu disana" Ferderick menunjuk ke ruangan tengah didepan mereka yang lebih privasi, Rubia mengangguk dan mengikutinya.
Tak lama ilona dan Stev datang menghampiri mereka, mereka duduk dihadapan Rubia dan Ferderick, "Ferderick, katanya ada seseorang yang ingin bertemu dengan kami? Apa dia mau membuat permintaan kusus?" tanyanya berbisik, bahkan Rubia bisa mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan oleh ilona.
"Tuan Nyonya, beliau adalah Yang Mulia Putri" ucap Ferderick hati hati.
Mereka berdua segera bangun dan memberikan penghormatan "Halo saya Rubia, anda berdua silahkan duduk kembali" ucapnya dengan raut wajah datar.
Ilona sesekali melirik wajah Rubia dari sela sela jubahnya, putri benar benar cantik, tapi mengapa dia telihat menyeramkan, bukannya usianya masih muda? begitu pikir ilona dalam hati.
"Senang bertemu dengan anda Yang Mulia, saya tak menyangka anda akan benar benar datang kemari, jika Ferderick mengatakannya lebih awal kami pasti akan menyambut kedatangan anda dengan lebih layak, maaf kan kami Yang mulia"
"Tidak, jangan berkata begitu, justru saya yang minta maaf karena sudah datang tanpa kabar"
"Tidak apa apa Yang Mulia" ucap Stev tersenyum dengan hangat.
"Yang Mulia, saya ingin mengucapkan terimakasih karena saat itu anda menyelamatkan kami semua dari tuduhan palsu dan hampir dipenggal"
"Itu tugas saya, anda tak perlu terlalu terbebani"
__ADS_1
ilona tersenyum "Terimakasih Yang Mulia"
Rubia menatap ilona dan Stev secara bergantian "Nyonya dan Tuan, saya ada permintaan" Ferderick mulai mendengarkan dengan seksama disamping Rubia.
"Katakan Yang Mulia"
"Bukankah tempat ini adalah Guide informasi?"
Mereka berdua mengangguk "Benar"
"Bisakah kalian cari tahu tentang penyihir kegelapan dan informasi yang berkaitan dengan si penyihir serta orang orang yang terlibat?"
"Mungkin itu akan memakan waktu Yang Mulia, karena keberadaan penyihir hitam sangat ditentang di kekaisaran, jadi tempat persembunyian mereka akan sulit dicari"
"Ya, kalian bisa melakukan dengan perlahan, Fer" Rubia menoleh ke arah Ferderick, lalu Ferderick menaruh sekantung besar koin emas di hadapan Stev, mata ilona terperanjat melihat kantung besar itu dan membayangkan isi didalamnya yang pastinya amat bersinar, ia menelan ludahnya dengan keras lalu menutup mulutnya.
"Baik Yang Mulia, anda tak perlu membayar kami, ini adalah bentuk terimakasih kami" Stev mendorong kembali kantung itu ke hadapan Ferderick.
"Tuan, ini tugas yang berbahaya, terimalah uang mukanya terlebih dahulu, apa anda takut saya kekurangan uang?"
Mereka berdua buru buru menggeleng "Mana mungkin kami berani"
"Bagus, saya hanya minta satu hal"
"Apa itu?"
"Jangan pedulikan apapun jika kalian merasa nyawa kalian dalam bahaya,pastikan kalian aman, apa kalian mengerti?" ucap Rubia dengan wajah yang benar benar serius.Mereka pun mengangguk. "Satu lagi, berikan aku informasi apapun terkait Duke Verano atau bangsawan bangsawan kelas atas yang bekerja di istana beserta keluarganya"
"Tentu Yang mulia"
"Ada satu lagi" mereka mulai mendengarkan dengan seksama. "Bisakah kalian merenovasi tempat ini agar lebih terlihat seperti Guide informasi dan bukan Markas prajurit bayaran?" Mereka terdiam tak bisa berkata kata "Aku akan menyokong biayanya secara pribadi"
"Tentu saja kami sangat berterimakasih Yang Mulia"
"Baiklah saya harus kembali ke istana sekarang" Rubia bangun dan mereka semua mengikuti.
"Baik Yang Mulia, serahkan tugas anda pada kami"
"Baik, saya percaya dengan kalian" Rubia tersenyum tipis kemudian mereka pergi.
Ilona dan Stev melihat rumah mereka dari halaman depan, setelah mengantarkan kepergian Rubia "apa ini benar benar buruk istriku?" gumam Stev menatapi rumahnya yang terbuat dari kayu dan terlihat usang.
"Tentu, ini sangat buruk, lebih buruk dari rumah penyihir hitam" ucap ilona seraya berjalan masuk meninggalkan Stev yang baru saja menyadari tempat tinggal mereka yang telah amat usang dan ketinggalan jaman.
.
.
Bersambung.
__ADS_1