Queen Sword

Queen Sword
Eps 57 Berlututlah


__ADS_3

"Selamat malam Baginda, apa yang anda lakukan di dalam taman yang gelap ini berdua saja dengan pengawal anda yang tampan itu?" ucap Jasson Verano menyeringai.


"Apa sekarang kau sedang menginterogasiku?"


"Tidak, saya hanya bercanda, tolong jangan tersinggung kakak, mana mungkin kau melakukan hal memalukan dengan pengawal anda yang rendahan ini sementara tunangan kakak sangat luar biasa mulai dari penampilan dan status keluarga" wajah Ferderick mengernyit menatap Jasson.


Rubia melangkah mendekat "Bisakah kau menjaga lidahmu? Atau haruskah aku membakarnya dengan ini?" Rubia mengangkat tangannya dan mengeluarkan kekuatan sihirnya ditelapak tangan, seketika wajah Jasson memucat, mentalnya langsung menciut.


"Maaf saya harus pergi Baginda" ia mulai berusaha kabur.


"Tunggu!" baru selangkah ia melangkah lalu terhenti.


"Ada apa Baginda?" dahinya berkeringat karena tegang menatap tangan Rubia yang masih terlihat cahaya pekat kebiruan yang masih menyala.


"Minta maaflah kepada pengawalku karena kau telah merendahkan harga dirinya!"


"Tapi statusku dia?"


"Ada apa dengan statusmu?"


"Tidak" Jasson segera berjalan ke hadapan Ferderick, "Maafkan aku sir, candaanku sudah berlebihan"


"Bagaimana Fer, apa kau akan memaafkannya?"


"Sudahlah Baginda anda tak perlu memperpanjang masalah ini" ucap Ferderick acuh.


"Bagaimana ini Jasson, Ferderick sepertinya sangat kesal padamu, apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan maaf darinya?"


Jasson mulai mengepalkan tangannya, ia menunduk dihadapan Ferderick "Tolong maafkan aku sir ferderick"


Ferderick yang mulai risih segera menghindar "Baiklah, saya sudah memaafkan anda"


"Terimakasih"


Rubia mendekat ke hadapan Jasson yang masih berlutut "Bagus adikku, itu baru sikap yang terpuji" Rubia mengelus rambut pirangnya, kemudian berbisik ditelinga Jasson "Kau kan yang menyebarkan rumor tentang hubunganku dengan pengawalku? Apa kau kira aku tidak tahu?" Jasson semakin pucat, tubuhnya gemetar takut, ia tetap tertunduk sementara Rubia dan Ferderick meninggalkannya.

__ADS_1


Baru beberapa langkah Rubia kembali terhenti karena mendengar tepukan tangan dari seseorang yang muncul dari kegelapan dalam taman, wajahnya meringis senang ketika bertatapan dengan Rubia "Amelie,sejak kapan kau disini?" tanya Rubia tersentak.Jasson langsung bangun ketika mendengar nama Amelie, rahangnya mengeras karena gadis yang diinginkannya melihat seseorang menginjak injak harga dirinya, ia pergi diam diam dari sana.


"Saya baru saja berputar putar Yang Mulia" jawab Amelie seraya tersenyum.


"Kau sendirian? Kau pasti kesepian kan, seharusnya kau mendatangiku"


"Mana mungkin saya berani menjadi pusat perhatian Yang Mulia dan anda sudah tahu tentang reputasi saya yang kurang bagus kan?"


"Mulai sekarang kau harus terlihat baik dimata orang orang pergaulan kelas atas untuk memperbaiki citramu, tahanlah jika kau harus bersikap seperti orang orang itu, cepat atau lambat kau akan mendapatkan keuntungan dari para bangsawan, apa kau mengerti?"


"Ya, baiklah akan saya pikirkan terlebih dahulu"


"Mari kita kembali ke aula pesta" Amelie mengangguk.


Belum sampai di aula pesta, Merge dan Maria mencarinya karena utusan dari Keaisaran Vlair ingin membicarakan tentang sesuatu, Rubia yang tak enak hati meninggalkan Amelie seorang diri meminta Axel untuk menemaninya, meskipun sedikit keberatan Axel tetap menyetujui keinginan Rubia, setelah Rubia pergi Axel mengajak Amelie ke ruangan istirahat pribadinya.


Mereka berdua duduk berhadapan sembari menikmati minuman dan camilan, Amelie menatap wajah Axel lekat lekat sementara Axel sibuk dengan pikirannya sendiri,wajahnya terlihat lebih muram. Entah mengapa tiba tiba Amelie merasa iba dengan pria dihadapannya itu.


"Ngomong ngomong, apa anda berada di sekitar taman tadi?"


"Ahh, soalnya tadi saya lihat seseorang yang memiliki postur tubuh seperti anda berdiri sedikit lama ditaman bunga, jadi bukan anda yaa, maaf" ia menjadi tak enak hati.


"Tak perlu minta maaf, apa ada yang anda dengar disana?"


"Sayaa--"


"Sudahlah, tolong jangan katakan pada siapapun jika ada yang anda dengar disana"


"Ya, Baiklah" ia melirik wajah Axel dengan hati hati.


"Kenapa melihat saya dengan wajah seperti itu? Apa anda mengasihani saya?"


"Mana mungkin, siapa yang akan mengasihani pria menyebalkan seperti anda" ia buru buru menjawab.


"Ya, anda lebih cocok bersikap seperti itu" ia tersenyum tipis.

__ADS_1


"Anda tidak marah saya mengatakan anda menyebalkan?"


"Tidak, karena hanya anda yang mengatakan hal hal buruk pada saya, orang lain selalu menyanjung nyanjung dengan segudang pujian didepan saya sampai saya merasa bosan, apalagi hari ini setelah Yang Mulia Putri resmi menjadi Kaisar, mereka pikir sayalah orang terdekat Yang Mulia jadi mereka terus berusaha terlihat baik didepan saya, saya lelah dengan hal hal seperti ini" ia tersenyum kecut.


"Anda mau mendengar nasehat saya?" ucapnya seraya tersenyum, ia ingin mencoba menghibur pria yang sedang tampak murung itu.


"Katakanlah"


"Lakukan saja hal hal yang membuat anda bahagia"


"Pemikiran anda sangat simpel ya, apa anda menyukai hidupmu yang bebas itu?"


Amelie berfikir sejenak "Entahlah, ada senang ada tidak, tapi saya merasa nyaman" ia kembali tersenyum dengan ceria.


Rasanya hari ini Axel telah mendapat energi yang positif dari Amelie, didepannya Axel merasa menjadi dirinya sendiri. Setiap hari ia harus memperlihatkan sikap yang ramah dan sopan kepada semua orang karena keluarga mereka yang memang telah memiliki citra seperti itu, sampai sampai ia tak menyadari apa keinginannya dan apa yang disukainya, sejak kecil ia hanya diarahkan untuk menjadi layak mendampingi Rubia yang seorang calon Kaisar masa depan, maka dari itu ia mencintai Rubia, ia hanya berusaha mengukuti alur kehidupannya dengan lurus.Namun kini ia merasa lelah dan tak nyaman dengan banyak hal.


"Terimakasih" ucap Axel dengan tatapan mata yang lembut. Krauk krauk, Amelie tersenyum, ia sibuk menikmati camilan manis dihadapannya.


.


Jasson pulang kekediaman Duke dengan wajah yang amat kesal, ia masuk ke ruang kerja Ayahnya, ia melihat ayahnya yang sedang duduk di kursi kerjanya. Ia membanting pintu dan duduk dihadapan Duke.


"Aku sangat kesal Ayah, Rubia benar benar sombong dan angkuh, apa ayah tahu apa yang dilakukannya kepadaku tadi? dia membuatku berlutut dihadapan pengawalnya dan dipaksa meminta maaf, aku dibuat kehilangan harga diriku di depan Amelie ayah, bunuh Rubia sekarang juga!" celotehnya dengan menghentak hentakan kakinya. Ia melirik ke wajah Ayahnya yang hanya diam tak memperhatikan keluhannya "Apa ayah mendengarku? kenapa ayah diam saja, apa ayah juga meremehkanku seperti Rubia!!!" teriaknya dengan keras.


Duke melirik ke wajahnya, lalu menghampirinya, ditelinga Duke terdengar bisikan yang berlangsung terus menerus "Bunuh dia, bunuh siapapun yang menghalangi dan mengganggumu, bunuh bunuh!" Duke mendekat ke hadapan Jasson dengan tatapan yang mengerikan, ia mencengkeram leher putranya sendiri.


"Apa yang ayah lakukan? apa ayah mau membunuhku?" lehernya semakin tercekik "Arrgggghhh" ia menahan tangan Duke, kemudian Duke melemparkannya ke arah pintu, Jasson sangat ketakutan, ia melarikan diri dari ruangan itu dan mengunci diri di kamarnya.


"Haahh hahhh apa itu tadi apa ayah kerasukan?" gumamnya seraya terduduk dengan gemetar.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2