Queen Sword

Queen Sword
Eps 61 Kejadian Nahas Tujuh Tahun Lalu


__ADS_3

Bebera hari kemudian.


Tok tok tok, Ferderick mengetuk pintu ruang kerja Kaisar, ia membuka pintu dan berjalan masuk, ia melihat meja Kerja Kaisar yang dipenuhi oleh beberapa tumpukan dokumen, Rubia dan Irena tampak sedang sangat serius di meja kerjanya masing masing hingga tak mendengar ketukan pintu dan suara langkah kaki Ferderick.


"Baginda" ucapnya seraya melangkah mendekat, akhirnya Rubia menoleh kearahnya.


"Ya? Sejak kapan kau berada disana?" jawabnya seraya melirik sekilas ke arah Ferderick sembari tetap fokus membaca selembaran ditangannya.


"Saya baru saja menerima surat dari Tuan Stev untuk anda" Rubia meletakkan selembaran ditangannya kemudian bangun dan mendekati Ferderick yang masih berada di dekat pintu.


Rubia mengambil surat itu dari tangan Ferderick, kemudian ia duduk di kursi tamu lalu membuka surat itu.


Rubia tersenyum tipis "Bagus juga pekerjaan mereka" gumamnya setelah selesai membaca surat.


Rubia menoleh ke arah Irena "Irene, kau boleh beristirahat ini sudah larut, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok"


"Baik Baginda" Iren pun pergi setelah membereskan meja kerjanya.


"Baginda, mengapa anda terus bekerja hingga larut malam beberapa hari ini?" tanya Ferderick.


"Banyak sekali yang harus kuurus, akhir akhir ini juga aku kesulitan tidur, lebih baik aku mengalihkan pikiranku ke pekerjaan, bukankah itu lebih bermanfaat?" Rubia menyandarkan punggungnya dikursi seraya melakukan peregangan kepala ringan.


"Apa itu karena gejala kutukan?"


Rubia sejenak terdiam, lagi lagi ia memancing pemikiran Ferderick ke arah itu "Bukan, kau tak perlu memikirkan masalah itu, aku bisa mengurusnya sendiri" Rubia membuang wajahnya ke arah lain.


"Baginda--"


"Cukup Fer, aku tahu apa yang ingin kau katakan, aku tak mau dengar!"

__ADS_1


"Baginda.."


"Fer, aku memiliki berita bagus untukmu, apa kau mau dengar?" ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


"Silahkan katakan" Ferderick hanya bisa pasrah, selama beberapa hari ini Rubia terus mengalihkan pembicaraan dan tak ingin membahas permasalahan terkait kutukan bagaimanapun ia berusaha membujuk dan meyakinkan bahwa dirinya akan baik baik saja.


"Penipu yang membawa kabur semua uang bisnis orang tuamu tujuh tahun yang lalu, aku menemukannya" ia memulai pembicaraan dengan serius.


Ferderick kaget "Apa anda serius?"


"Tentu saja, tapi ada satu masalah"


"Secepat ini anda menemukannya? Mengapa dari dulu dia tak bisa ditemukan? Apa masalahnya?"


"Dia bisa lolos dan tak bisa ditemukan karena seseorang sengaja menutupi jejaknya,tapi karena seseorang menyelidiki kasus itu kembali hingga membuat pelakunya membunuh si penipu, kasus Count Stewart ternyata tak sesederhana kelihatannya, seseorang telah merencanakan kejatuhan keluargamu"


"Jangan salah paham, aku tak memberitahumu karena pasti kau sangat sensitif dengan masalah ini, aku yakin kau bisa hilang kendali sebelum semuanya terkuak, aku melakukan penyelidikan jauh sebelum aku naik Takhta, aku hanya meminta beberapa bantuan Guide informasi profesional dan baru sekarang mereka benar benar bisa memecahkan masalah ini"


"Saya mengerti Baginda, Jadi apa yang anda temukan?"


"Kau kenal seseorang bernama Baron Khaman kan?"


"Tentu saja, orang itu yang menjual saya dan adik saya ke penjara budak"


"Orang itu sekarang sedang dalam pelarian, seseorang ingin membunuhnya dengan menghilangkan bukti yang memungkinkan.Jadi begini, aku membuat kesimpulan ini dari banyaknya informasi yang datang padaku hingga kini, awalnya seseorang merasa dengki dengan bisnis serikat dagang Count yang semakin berkembang dan perlahan merajai perdagangan dikekaisaran, Count juga sangat aktif berdonasi kepada rakyat miskin dan panti asuhan, sehingga membuat namanya dikenal luas sebagai orang kaya yang dermawan, tanah kekuasaannya sangat subur sehingga para rakyat menjadi sangat makmur, wilayahnya terus berkembang pesat, hingga seorang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya merasa terancam akan kesuksesannya dimata rakyat, orang itu terus dibanding bandingkan dengan Count,reputasinya semakin hancur karena dia adalah orang yang arogan dan kasar, hingga lama kelamaan orang itu merasa tak tahan lagi dengan reputasi yang dimiliki count yang membuatnya semakin terlihat tercela dimata orang orang,lalu ia merencanakan kejahatan untuk menjatuhkan keluarga Count,orang itu bekerja sama dengan Baron Khaman yang terkenal akan keserakahannya dengan dijanjikan harta dan tanah milik keluarga Count, Baron bekerja sama dengan seorang penipu, namun sayangnya penipu itu benar benar kabur sendirian membawa uang hasil curiannya yang berlimpah seorang diri, sedangkan Baron meminta kompensasi yang telah dijanjikan oleh orang itu namun orang itu mengingkari janjinya, karena pada akhirnya kediaman dan wilayah Count disita oleh pihak istana karena terbukti hutang hutang count memang dipalsukan oleh penipu yang tak diketahui keberadaannya itu"


"Jadi? Baron yang tak mendapatkan apapun akhirnya menjual saya dan adik saya untuk mendapatkan uang?" tanyanya denga raut wajah yang terlihat pedih.


Rubia mengangguk "Benar" ia menoleh ke wajah Ferderick yang semakin gelap, kedua tangannya mengepal.

__ADS_1


"Jadi, untuk menghindari permasalahan yang semakin melebar seseorang membuat Count dan Countess seolah olah terkena kecelakaan kereta kuda"


Raut wajah Ferderick semakin muram, matanya sangat merah, ternyata ia baru tahu bahwa orang tuanya mengalami penderitaan yang bertubi tubi hanya karena mereka terlalu baik, nasip keluarganya hancur karena kedengkian dan keserakahan seseorang.


"Siapa orang itu Baginda? Orang yang membunuh orang tua saya?" ucapnya dengan suara yang bergetar, dengan kedua tangan yang mengepal semakin erat.


"Grand Duke Mark Lewis"


Ferderick langsung melangkah ke arah pintu, tapi Rubia memegangi tangannya "Apa yang akan kau lakukan?" Rubia bangun dari duduknya dan meraih tangan Ferderick satu lagi.


"Saya harus membunuhnya, orang itu! Tolong jangan halangi saya Baginda, saya harus membalas perbuatannya" ucapnya dengan penuh penekanan.Ia mengalihkan pandangannya dari Rubia yang ingin menghalanginya.


"Maaf Fer, aku harus menghalangimu"


"Tolong lepaskan tangan saya Baginda!" ucapnya, suaranya semakin bergetar, sepertinya kini amarahnya sedang berada dipuncaknya dan kini darahnya sedang mendidih.


"Tidak, dengarkan aku dulu" Rubia menariknya hingga tubuh Ferderick kembali menghadapnya. "Aku tahu kau sangat ingin membunuhnya,tapi kau tidak bisa menjadi pembunuh untuk menghukum seorang pembunuh,kau dan adikmu akan terkena masalah karena tak memiliki bukti yang cukup dan menyerang Perdana Menteri secara sepihak, ada cara yang lebih pasti untuk menghukumnya, bisakah kau mempercayakannya padaku?" Bujuknya.


"Tapi Baginda--"


Ferderick masih bersikeras ingin menghampiri dan menghajar orang itu, namun Rubia kembali menarik tangannya, Ferderick yang biasanya terlihat sangat kuat dan tampak tak memiliki perasaan kini terlihat sangat lemah dan rapuh hingga Rubia tak kuasa ingin memeluknya, menenangkan dan menghibur dirinya yang saat ini terlihat sangat kacau, Ferderick pun tak kuasa menahan kesedihannya,perasaan kesedihan yang sekian lama ia tahan akhirnya membuncah menyeruak seketika, seolah ia kembali menjadi Ferderick yang masih berusia sepuluh tahun, air matanya tak bisa meredakan amarah dan kesedihannya, ia menyandarkan kepalanya di bahu Rubia, memeluk erat erat tubuhnya yang jauh lebih kecil darinya namun sekaligus terlihat jauh lebih tangguh hingga ia ingin terus bersandar padanya.


"Inilah yang aku khawatirkan, maafkan aku karena memberitahukan kenyataan yang sangat pahit ini" Tangan Rubia menepuk nepuk punggung Ferderick dengan lembut. Ferderick semakin sedih, ia menangis tanpa bersuara, tapi Rubia mengetahui air mata yang saat ini ingin disembunyikannya itu.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2