
Semakin lama perasaan keduanya semakin membuncah, Ferderick segera tersadar akan hal yang harus ia lakukan, meskipun berat namun saat ini ia tak lagi memiliki penyesalan, perlahan kedua tangannya yang merengkuh punggung Rubia mulai beralih ke kedua tangan Rubia, menggenggamnya dengan erat, ia mulai memejamkan matanya dan bersiap menyalurkan mana dalam dirinya, Rubia yang masih terhanyut dalam buaian ciumannya mulai tersadar dengan sesuatu yang mulai mengalir dalam tubuhnya, ia membuka matanya dan melepaskan ciumannya, ia tersadar dengan apa yang sedang dilakukan oleh Ferderick, namun semuanya telah terlambat, jantungnya mulai bersinar dengan cahaya biru yang teramat terang sampai menyilaukan mata.
Mereka saling menatap, sambil menahan rasa sakitnya Ferderick tersenyum "Maafkan saya Baginda, hiduplah dengan baik, saya sangat mencintai anda Baginda, tolong hiduplah dengan baik" ia berucap lirih.
Rubia tak bisa lagi berkata kata selain menahan tekanan dalam jantungnya yang bersinar ia menyaksikan sendiri bagaimana Ferderick menekan rasa sakitnya, hanya air matanya yang menetes di pipi dalam diam, perlahan tubuh Ferderick melemah setelah cahaya yang bersinar di dadanya mulai meredup kembali, tubuhnya terhuyung dan jatuh ke lantai, kini ia telah berada di pangkuan Rubia, Rubia terus menatapnya seraya menggeleng gelengkan kepalanya "Tidak Fer, tidak boleh seperti ini, tidakkkkkk" teriak Rubia dengan histeris.
Perlahan Ferderick kehilangan senyumannya dan matanya semakin menyipit "Tidak boleh, kau tidak bisa mati begitu saja setelah melakukan semua ini padaku, kau tidak boleh mati, ini perintah Fer! Bangun, bangunlah kau tidak boleh mati, tidak boleh!!!!!!! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tak bangun, bangun ini perintah Fer!!!!" ia terus berteriak mengulang ngulang kata katanya di hadapan wajah Ferderick yang semakin kehilangan kesadarannya, perlahan matanya tertutup.
"Tidak boleh, kau tidak boleh mati Fer!!!! Bangunnnn!!!!" setelah Ferderick benar benar menutup mata Rubia benar benar terpukul dan semakin histeris, namun ia hanya bisa menangis meraung raung sampai para penjaga dan dayang menghampirinya dengan panik, mereka bingung dengan situasinya namun untuk pertama kalinya mereka melihat Kaisar yang sangat emosional dihadapan Count yang tak sadarkan diri di pangkuannya, Dirinya yang menangis seperti dunia telah runtuh dihadapannya seakan bukanlah Kaisar yang selalu tampak kuat dengan segala situasinya.
"Cepat panggil penyihir Agung sekarang juga" teriak Rubia kepada penjaganya, ia terus terisak sembari memeluk tubuh Ferderick yang semakin lama semakin mendingin.
Aku yang bodoh, bagaimana bisa aku tak menyadari keanehanya hari ini, bagaimana bisa kau meninggalkanku begitu saja setelah mengucapkan kata kata yang membuatku melayang lalu seketika kau jatuhkan aku ke dalam jurang, kau jahat Fer, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku, seharusnya aku terus menjauhimu dan tak lengah denganmu yang tiba tiba kembali mendekat padaku sampai membisikkan kata cinta yang telah tertahan cukup lama, aku yang bodoh dan menyedihkan ini harus berbuat apa jika kau meninggalkanku seperti ini..
.
Tak lama Penyihir Agung pun datang setelah Ferderick dipindahkan ke atas tempat tidur Rubia, saat itu Rubia hanya duduk terdiam di samping Ferderick dan terus menggenggam tangannya seraya tubuhnya tertunduk lesu, air matanya masih berderaian meskipun keadaannya jauh lebih tenang.
__ADS_1
Vallan segera memeriksa keadaan Ferderick "Baginda, denyut nadinya masih ada meskipun ini sangat lemah"
"Selamatkan dia Guru, kumohon" Rubia terlihat sangat tak berdaya, Vallan merasakan kehancuran yang dalam dari Rubia jika Ferderick benar benar tak tertolong.
Vallan berusaha mengeluarkan sihir penyembuh di atas kepala Ferderick, namun tubuhnya menolak kekuatan sihir "Baginda, tubuhnya menolak kekuatan sihir, dia memiliki kekuatan suci penyembuh, apa anda tahu?"
"Ya, aku tahu"
"Saya tak bisa menjanjikan apapun kepada anda meskipun saya ingin menghibur anda, tapi saya yakin kini alam bawah sadar Count sedang berjuang mati matian untuk mengembalikan kesadarannya sendiri terlebih dia memiliki kekuatan suci dalam dirinya, tapi saya harap anda tidak terlalu berharap Baginda karena kemungkinan apapun bisa saja terjadi sewaktu waktu, kalau begitu saya permisi Baginda" Rubia mengangguk pasrah karena ia telah menyadari tidak ada yang bisa ia lakukan.
"Ngomong ngomong bagaimana caranya bocah itu melakukannya padahal pasti Kaisar sangat menentangnya, dia hebat juga, hahh kasih sayang dua insan ternyata sangat mengerikan" gumamnya.
.
Sementara Rubia terus menatapnya dengan air mata yang berderaian, ia mengunci diri di kamar dan tak membiarkan siapapun masuk ke dalam sementara keadaannya saat ini sangat berantakan kecuali dayang pribadinya. Hari hari telah berlalu, ia masih berada dalam posisinya saat ini, ia tak bisa melakukan apapun dalam kondisi yang seperti ini,Rubia benar benar terpukul dengan keadaan Ferderick, istana yang masih dalam tahap perbaikan akibat serangan para pemberontak dan Rubia yang tak muncul selama tiga hari membuat para pekerjanya menjadi sangat khawatir, begitu juga para rakyatnya yang telah mendengar kabar tentang pemberontakan.Istana saat ini benar benar sangat kacau, namun tak ada yang tahu mengapa Count tak sadarkan diri di kamar Kaisar selama berhari hari hingga Kaisar tak bisa beranjak meninggalkannya.
Tok tok tok, Baginda ini Axel Harington, Rubia bangun dan membuka pintunya, "Masuklah" ucapnya dengan wajah lesu. Axel pun masuk dan seketika ia terkejut melihat Ferderick yang tak sadarkan diri berbaring di tempat tidur Rubia, sebenarnya ia datang karena ingin memastikan sendiri rumor yang beredar di antara para pelayan istana tentang Ferderick.
__ADS_1
Kini Rubia dan Axel duduk berhadapan di dalam kamar namun mata Rubia masih tertuju kepada Ferderick "Anda baik baik saja Baginda?" Axel menatap wajah Rubia yang seolah kehilangan dunianya, lingkaran bawah matanya terlihat jelas karena selama tiga hari ini ia tidak tidur sama sekali karena takut kondisi Ferderick semakin memburuk, Rubia terus menerus mengecek denyut nadi dan detak jantung Ferderick, ia akan merasa lega setelah mendengar sendiri detak jantungnya. Rubia hanya menatap Axel dengan dingin.
"Baginda, apa yang sebenarnya terjadi dengan Tuan Count? Mengapa dia ada disini dan tak sadarkan diri?"
"Dia menyembuhkan kutukan yang kuderita dengan mengorbankan nyawanya" ucapnya lirih.
Kini Axel mengerti dengan apa yang dulu pernah dikatakan oleh Ferderick kepadanya bahwa ia benar benar akan menghilang dari hadapan Rubia, namun ia melihat kondisi Rubia yang jauh lebih menghawatirkan dari pada saat ia menderita kutukan, apa yang sebenarnya dipikirkan leh Ferderick? Bahkan sekarang Rubia terlihat sangat menderita dan tak bisa melakukan apapun karena dia mengorbankan nyawanya, bagaimana bisa ini disebut menghilang dari kehidupan Rubia selamanya? Axel menggeleng tak percaya.
"Baginda, maaf karena saya baru muncul, bahkan saya tidak berada disisi anda saat terjadi pemberontakan"
"Aku mengerti' ucapnya dengan tatapan kosong.Rasanya kini Axel tak lagi memiliki setitikpun celah ruang di hati Rubia.
.
.
Bersambung.
__ADS_1