
"Terimakasih Yang Mulia Putri" ucap Ferderick seraya menundukkan kepalanya dengan hormat.
"Tidak, aku yang berterimakasih padamu Fer karena kau sudah mempercayaiku" Ferderick mengangguk.
"Saya akan selalu setia dan mempercayai anda Yang Mulia"
Rubia tersenyum, ia menepuk bahu Ferderick dengan lembut "Baiklah, kau bisa mengambil cuti dan pulang ke keluargamu"
"Kenapa tiba tiba?"
"Hanya saja jika kau ingin, kau tidak mau?"
"Saya mau" jawabnya lugas seraya bibirnya tersenyum tipis.
"Pergilah" Rubia kembali berjalan.
"Terimakasih Yang Mulia, langsung panggil saya jika anda membutuhkan saya"
"Ya" Rubia terus berjalan kedepan seraya melambaikan tangannya.
Ferderick telah sampai didepan markas Bayangan Hitam, ia turun dari kudanya dan berjalan masuk ke dalam, rupanya orang orang sedang berkumpul merayakan kebebasan mereka, orang orang disana menyambutnya dengan hangat,dan mengajaknya untuk berkumpul bersama setelah sekian lama. Disela sela perbincangan mereka begitu memuji muji Putri Rubia yang telah membebaskannya, beberapa orang pun katanya telah dibuat jatuh cinta pada pandangan pertama oleh Rubia. Tiba tiba Ferderick tersenyum.
Stev,Joseph dan ilona yang duduk di meja terpisah pun tersenyum melihat keramaian orang orang itu.
"Apa penampilan Putri Rubia seluarbiasa seperti yang mereka katakan?" tanya ilona seraya amendengarkan celotehan para pekerjanya.
"Memang benar" ucap Joseph tersenyum.
"Aku tak menyangka seorang anak yang selalu diabaikan oleh orang tuanya itu telah tumbuh dengan sangat baik" ujar Stev, ia mengenang masa masa saat ia masih menjadi pengawal putri kecil itu.
"Tidak bisakah aku dipertemukan dengan Tuan Putri suamiku?" tanya ilona kepada Stev.
"Tanyalahh kepada Ferderick, kelihatannya hubungannya dengan Tuan Putri lebih dekat dari kelihatannya" mereka bertiga menatap ke arah Ferderick.
"Benarkah?" tanya ilona. "Lihatlah anak itu, baru kali ini aku melihatnya banyak bicara dan tersenyum seperti itu"
"Ya, kau benar tampaknya Tuan Putri memberikan dampak yang besar pada kepribadiannya" gumam Stev.
"Aku merasa bersyukur sekaligus lega melihatnya"
"Putri Rubia berbeda dengan Orang Tuanya" ucap Joseph, Stev pun mengangguk setuju.
"Ferderick, kemarilah" panggil ilona, Ferderick pun segera menghampirinya dan duduk di depannya disamping Joseph.
__ADS_1
ilona mendekatkan wajahnya ke hadapan Ferderick "Bisakah kau mempertemukanku dengan Tuan Putri?"
"Ahh itu saya akan coba tanyakan saat nanti saya kembali ke istana"
"Baiklah"
"Jangan terlalu kecewa jika Yang Mulia menolak, karena beliau bukan orang yang bisa kita temui meski kita ingin" jawab Stev menasehati.
"Aku tahu" raut wajah ilona menjadi murung.
"Saya akan pastikan Yang Mulia datang ke tempat ini" jawab Ferderick dengan yakin.
"Benarkah??" tatapan mata ilona yang menjadi sangat berharap.
"Apa kau sudah merasa yakin bahwa Yang Mulia akan mengabulkan permintaanmu?" tanya Joseph.
"Tentu" jawabnya dengan percaya diri.
"Sebenarnya apa hubungan kalian?" tanya ilona.
Ferderick terdiam sejenak sebelum menjawab, ia berfikir mengapa dirinya bersikap sangat percaya diri jika menyangkut Rubia "Tentu saja pengawal pribadi dan atasan, apalagi?" ucap Ferderick seraya menatap ketiga orang di hadapannya secara bergiliran."Dan saya adalah obat mujarabnya" gumamnya pelan.
"Apa yang kau katakan istriku, tentu saja bukan hubungan seperti yang kau bayangkan, Yang Mulia putri sudah memiliki seorang Tunangan" Duukkkk, ilona menendang kaki Stev sehingga membuatnya menyengir kesakitan, seketika suasana menjadi hening, para orang dewasa itu menatap satu sama lain karena berfikir telah menyakiti perasaan Ferderick dengan membahas tunangan Rubia.Mereka menatap Ferderick dengan raut wajah yang tidak enak.
"Syukurlah" ilona menghembuskan nafas panjang setelah mendengar jawaban Ferderick.
Tiba tiba seseorang membuka pintu dan berteriak "Kalian, apa yang terjadi dengan kalian" teriak Kaisan yang baru saja tiba dengan nafas terengah engah dan keringat menetes diwajahnya.Seketika semua orang menatapnya.
"Wah adik bontot datang, kemarilah" seru seseorang menyuruhnya masuk dengan tangannya.
Ferderick menghampirinya "Apa yang sedang kau lakukan disini? bukankah seharusnya kau sedang dikelas?"
"Aku sangat menghawatirkan kalian semua sampai tak bisa fokus pada mata pelajaran jadi aku diam diam meninggalkan akademi" ucapnya dengan wajah muram.
Ilona menghampiri mereka "Sudah sudah, karena sudah disini kau harus bergabung dengan kami dan aku akan menceritakan apa yang sudah terjadi" Kaisan pun mengangguk dan mengikuti ilona dengan duduk di sampingnya.Ferderick masih menatap adiknya dengan galak.
"Ceritakan apa yang sudah terjadi Nyonya" ujar Kaisan yang sudah tak sabar. Ilona pun menurutinya dan menceritakan kejadian yang baru saja menimpa mereka juga bagaimana akhirnya mereka bisa dibebaskan karena terbukti tak bersalah.
"Hahhh, aku benar benar khawatir, syukurlah Tuan Putri mau membantu"
"Karena masalahnya sudah selesai kembalilah lagi ke akademi" ucap Ferderick menyela.
"Iya, aku akan kembali diam diam malam ini, berhenti menatapku dengan sinis Kak"
__ADS_1
"Apa kau bilang?"
"Sudah sudah"
*****
Di kastel Duke Verano.
"Apa kau bilang?" tanya Duke Verano yang tersentak mendengar laporan dari mata mata yang ia tempatkan disisi Raja.
"Putri Rubia akan segera menjadi penyihir dan Tuan Penyihir agung secara langsung yang akan melatihnya"
Duke menggertakkan giginya "Dasar bocah sialan,rupanya dia lah yang paling berbahaya, tahu akan begini aku akan menghabisinya saat dia masih bayi" gumamnya seraya mengepalkan tangannya di atas meja.
Duke terdiam teringat perkataan Rubia hari itu, "Ternyata dia bisa menyombongkan diri karena sekarang dia memiliki kekuatan penyihir?" "Hei, kau carilah seseorang yang ahli dalam menggunakan sihir hitam, kau harus menemukan penyihir kegelapan"
Orang itu tersentak "Apa? Tuan Duke saya tak salah dengar?"
"Apa kau tuli?" matanya membelot.
"Itu sangat terlarang dan berbahaya" jawabnya panik.
"Apa kau berniat membantahku?" tatapannya seakan ingin melahap orang yang berada didepannya.
"Tidak, baik saya akan melakukan perintah anda" ucapnya seraya terburu buru pergi.
Jasson menghampiri Ayahnya karena telah mendengar percakapan itu "Apa yang harus kita lakukan ayah? apa aku akan gagal menjadi kaisar?"
"Tenanglah Jasson, ayah akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan kita, kau tahu ayah tak pernah gagal kan?"
Jasson mengernyit seolah tak yakin dengan kemampuan ayahnya "Ayah harus menepati janji ayah, aku akan benar benar mati malu jika aku tak bisa menjadi kaisar!"
"Tenanglah, setelah ayah menemukan penyihir hitam kita akan langsung menyerang istana dan menghabisi keturunan terkutuk di kekaisaran Grosjean, persiapan tinggal sebentar lagi, bersabarlah nak" ucapnya dengan wajah menyeringai.
"Apa ayah serius?" ia menatap ayahnya dengan curiga.
"Tentu saja, jangan meragukan ayah jasson, bukankah kau lebih tahu ayah daripada siapapun?" Jasson mengangguk.
.
.
Bersambung.
__ADS_1