
Beberapa hari kemudian,dalam sekejap kematian Kaisar segera terlupakan, para menteri dan Bangsawan kelas atas mendesak penobatan Kaisar yang baru meskipun orang yang belum lama mereka dukung itu baru saja meninggal, satu persatu dari mereka mendatangi pewaris takhta dan mencoba melakukan sesuatu agar dirinya terliahat baik dan berlagak mendukungnya dengan kata kata manis dan segunung pujian,mereka berlomba lomba menjadi pendukung terkuat bagi calon Kaisar yang adalah seorang penyihir. seperti biasa mereka hanya ingin melakukan hal yang menguntungkan mereka sendiri.
Situasi yang memuakkan bagi Rubia yang biasanya hidup dengan tenang dikediamannya, namun sejak tiga hari yang lalu dayang dan pelayan kediamannya menjadi sangat sibuk berkat kehadiran satu persatu orang yang berusaha menjilatnya itu.
Sungguh kehidupan yang ironis, dulu mereka begitu meremehkan dan mencemooh Rubia karena terlahir sebagai wanita,mengkritik setiap gerak geriknya dan mencari cari kesalahannya di depan Raja, namun kini mereka seakan telah menjilat ludah mereka sendiri dengan sikap mereka,Para bangsawan yang gila kehormatan dan kekuasaan.
Tok tok "Yang Mulia" ucap Rubia memanggil Rubia dari luar kamar.
Rubia membuka pintu "Siapa lagi sekarang? Katakan aku lelah dan ingin istirahat" Rubia menutup pintunya kembali.
"Yang Mulia, Tuan Axel Harington yang datang, apa anda menyuruhnya kembali nanti saja?" ucapnya dari balik pintu yang telah tertutup.
Rubia kembali membuka pintu "Eheeemmm, aku akan menemuinya" Lydia tersenyum sipu, ia pikir Rubia menemuinya karena dia adalah tunangan yang berharga.
Rubia berjalan menghampiri Axel yang sudah duduk sendirian, ia duduk dihadapannya "Apa kau datang untuk laporan yang kuminta?"
"Benar Yang Mulia"
"Maaf karena memintamu menyelidiki masalah Ratu secara langsung padahal ini bukanlah pekerjaanmu?" ucap Rubia.
"Bukan masalah Yang Mulia, saya mengerti, saya malah bersyukur karena anda mempercayakan masalah penting seperti ini kepada saya"
"Syukurlah, jadi bagaimana hasilnya?" ucapnya seraya menyeruput teh dihadapannya.
"Ini sulit Yang Mulia, sepertinya memang ini sudah direncanakan dengan matang, berkat bantuan Nona Merge saya hanya bisa menemukan pelayan yang membeli dan menaruh racun itu dikamar Yang Mulia Ratu, pelayan itu masuk tiga bulan yang lalu melalui seleksi pekerja yang ketat seperti biasa, dia berasal dari rakyat biasa dan tak memiliki keluarga, dia bahkan tetap tenang berada dikediaman ratu setelah meracuni kaisar dan memfitnah Ratu"
"Apa kau sudah menangkapnya?'
"Ya, sekarang dia berada di penjara bawah tanah"
"Bagaimana dengan interogasinya?"
"Itu dia masalahnya, dia bilang dia tidak ingat sama sekali tentang apa yang dia lakukan beberapa hari terakhir, meskipun terkesan seperti alasan tapi saya bisa menilai bahwa sepertinya dia jujur"
__ADS_1
Rubia menyilangkan kakinya "Lagi lagi orang itu memotong ekornya ya"
"Tapi meskipun kita tak bisa menangkap pelakunya, Yang Mulia Ratu bisa dibebaskan, bukankah itu sudah cukup bagi anda?"
"Aku melakukan ini bukan karena ingin membebaskan Ratu"
Axel menatapnya dengan bingung "Apa maksud anda?"
"Aku melakukan ini untuk membebaskan orang yang tak bersalah dari tuduhan yang tidak adil" mendengarnya membuat Axel tersenyum.
"Baiklah, saya mengerti ,Yang Mulia, para bangsawan dan menteri kerajaan mendesak penobatan anda"
"Aku tahu, apa persiapannya sudah selesai?"
"Tiga hari lagi siap Yang Mulia, karena perwakilan negara negara sekutu akan hadir sehari sebelum acara"
"Baiklah"
"Ya,sesuai keinginan anda kami hanya mengundang negara tetangga yang telah lama bekerja sama dengan Kekaisaran, sekitar enam orang perwakilan negara akan hadir"
"Saya senang bisa membantu anda Yang Mulia, tolong jangan sungkan"
"Baiklah"
***
Keesokan harinya, Amelie segera bersiap setelah membaca surat undangan minum teh dari Rubia, wanita berrambut merah muda dan bola mata hijau muda yang seperti rubi itu begitu sibuk memilah gaunnya, akhirnya ia berangkat dengan kereta kuda setelah mendapatkan saran dari kedua dayangnya, baginya saat saat bertemu dengan sahabatnya itu adalah saat yang paling ia tunggu tunggu selama beberapa bulan terakhir ini.
Amelie berjalan menapaki jalan berbunga yang sepi menuju kediaman Rubia seorang diri, ia merapihkan rambutnya berkali kali karena terkena semilirnya angin, dengan gaun berwarna biru muda ia berjalan dengan anggun, ia merasa penampilannya kini sangat sempurna, ia berjalan dengan riang, menikmati kebebasan yang telah sekian lama tak ia rasakan karena berpura pura sakit, meskipun bebas ia harus tetap menunjukkan kepada orang orang bahwa dirinya memang sakit, sandiwaranya belum bisa diakhiri.
Tuk tuk tuk, terdengar suara langkah kaki seseorang dari belakangnya, ia harus bersiap memperlihatkan raut wajahnya yang sakit, ia mengambil sapu tangan dan menutupi mulutnya "Uhuk uhukk" ia berpura pura batuk sembari melirik ke arah sampingnya berulang kali, sampai ia tak sadar jalan yang berbelok, ia menabrak batu pembatas jalan.
"Gedebuukkkk!! Ah hak sepatuku patah, bagaimana ini" gumamnya seraya terduduk diatas rerumputan hijau.
__ADS_1
Tiba tiba seseorang mengulurkan tangan padanya, Amelie segera meraih tangan itu dan berdiri "Terimakasih Tuan" ucapnya, lalu ia melihat wajah pria itu, rekasinya langsung berubah kesal "Kau! si menyebalkan tidak sopan!" teriaknya di depan wajah Axel yang baru saja membantunya.Axel hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tak enak kemudian meninggalkannya.
"Hei kau tunggu!!" teriaknya, Axel menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Apa? masih belum puas memaki?"
"Tidak, biskah anda membantu saya berjalan Tuan Axel, sepatu saya patah" ucapnya ragu ragu.Axel yang pada dasarnya berhati baik itu kembali berjalan menghampirinya, lalu mengulurkan tangannya kepada Amelie.Mereka berjalan berdampingan seraya axel memegangi tangannya.
"Apa anda masih kesal dengan saya?" tanya Axel tiba tiba.
"Ahahaha, apa maksud anda?" ia tertawa hambar.
"Itu karena anda meneriaki saya si menyebalkan tidak sopan barusan, yah pokoknya saya minta maaf sudah berkata kasar pada anda saat itu"
Amelie tiba tiba merasa tak enak "Saya yang bersalah, saya juga minta maaf karena tak berfikir dewasa"
"Mari kita lupakan permasalahan yang telah lalu" ucap Axel sembari tersenyum.
Amelie melihatnya dan ikut tersenyum "Baiklah"
"Saya dengar anda bersahabat dengan Yang Mulia Putri"
"Ya, saya sangat menyukainya, dia benar benar orang yang luar biasa, anda beruntung memiliki pasangan hidup seperti Yang Mulia"
"Ya, aku sangat beruntung, lebih tepatnya calon pasangan hidup"
"Itu sama saja kan, cepat atau lambat andalah orang yang akan menjadi pendamping Yang Mulia"
"Aku harap begitu" ia tersenyum namun sorot wajahnya tak yakin.
Tiba tiba mereka menghentikan langkah mendadak, Axel melepaskan tangan Amelie sehingga membuat Amelie terhuyung karena kakinya yang tak seimbang dan ia jatuh ke tanah. "Aduuuhhhh"
.
__ADS_1
.
Bersambung.