Queen Sword

Queen Sword
Eps 66 Terkena Sihir Hitam


__ADS_3

Ferderick kembali kepada Rubia dan mulai melaporkan situasinya. "Hentikan penyelidikannya! Perintahkan kepada Tuhan Joseph untuk kembali dan menghindar, ini berhubungan dengan sihir hitam, mereka sangat berbahaya,bilanglah ini adalah perintah" ucap Rubia seraya bangun dari kursi kerjanya.


"Baik Baginda, saya akan segera mengirim elang pengantar pesan"


"Ya!" Ferderick pun langsung menulis dan mengirimkan surat saat itu juga dihadapan Rubia. Ia menerbangkan burung elang dari jendela ruang kerja Rubia.


Rubia mengambil beberapa berkas dimejanya lalu kembali berjalan menghampiri Ferderick yang masih berada di samping jendela yang terbuka seraya menatap kepergian burung yang telah terbang semakin menjauh.


Rubia mengulurkan benda di tangannya "Terimalah Fer"


Ferderick merasa ragu ragu, tapi ia segera menerimanya "Apa ini Baginda?" Ia membolak balik map hitam ditangannya.


"Janjiku, kesepakatan kita" Rubia melepaskan cincin bermata biru dari jarinya.


"Apa maksud anda Baginda?" ia ragu ragu sekaligus merasa bingung, ia paham namun ingin berusaha mengulur waktu sebisa mungkin.


"Aku berbohong ketika berkata bahwa cincin dijarimu itu tak bisa dilepaskan, sekarang kau bisa melepaskannya, dan mulailah menjalani kehidupanmu dengan identitas aslimu" Rubia berjalan menjauh dan duduk kembali di kursi dengan setumpuk dokumen di atas meja.


"Mengapa tiba tiba?"


"Ini bukan tiba tiba, aku sudah menyiapkannya sejak aku menduduki takhta,aku tahu betapa berartinya nama itu buatmu, kau tak perlu merasa khawatir atau terbebani karena aku sudah melakukan rapat tentang mengembalikan hak dan wilayah Count Stewart kepada penerusnya"


Padahal keinginan terbesarnya selama menjalani pertumbuhan usianya sudah berada di dalam genggamannya, ia menjalani hari hari yang berat dan sulit hanya demi tujuan itu, namun mengapa perasaannya tak bahagia atau merasa sedikit puas? Ia malah merasa berat meninggalkan Rubia di situasi ini, kondisi kesehatan Rubia yang perlahan memburuk itu menjadi salah satu penyebabnya, namun penyebab utamanya adalah perasaannya sendiri yang tak bisa menjauh darinya.


Rubia menatap Ferderick yang terdiam dengan wajah masam "Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau tak puas dengan perjanjian kesepakatan kita? Kau sudah banyak membantuku selama ini, katakan saja apa yang kau inginkan" ucapnya seraya memainkan pena di jarinya.


"Benar, saya masih merasa tak puas" jawabnya lirih namun Rubia bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa kau ingin mengatakannya? Aku akan mengabulkan jika kau meminta imbalan yang lebih" ia mulai fokus membaca berkas laporan di hadapannya.


"Benarkah?"


"Tentu, berapa yang kau inginkan?"


"Anda!" seketika Rubia menutup kembali berkasnya dan menoleh kembali ke arah Ferderick "Tolong ijinkan saya tetap berada di sisi anda"


"Apa sih yang kau pikirkan? Tentu saja kau harus terus berada di sisiku meskipun kau tak bisa lagi menjadi pengawal pribadiku, kau harus datang saat aku memanggilmu, bukan sebagai pengawal tapi sebagai Count Stewart"


"Apa anda akan memanggil saya sampai seterusanya?"

__ADS_1


"Tentu aku akan memanggilmu saat aku memerlukan bantuanmu asalkan satu syarat bisa kau penuhi"


"Syarat apa itu Baginda?"


"Jangan pernah peduli lagi dengan apa yang kau dengar dan lihat jika itu menyangkut dengan kutukan dalam diriku"


"Apa?Mana mungkin saya bisa melakukan itu Baginda?" ia terkekeh dan merasa keberatan.


"Jika tak bisa aku takkan memanggilmu"


"Tapi Baginda--" ucapnya terhenti.


Tok tok tok," Baginda ini saya Axel Harington ingin menghadap anda"


Rubia berjalan ke arah pintu "Masuklah" ucapnya lalu ia duduk di sofa tamu.


"Salam Baginda"


"Ya, duduklah apa yang membawamu datang kemari?"


"Saya datang untuk merekomendasikan seseorang yang cocok sebagai pengawal pribadi anda Baginda, ini sudah menjadi tugas saya" Deg, seketika wajah Ferderick mengernyit.


"Dame Tarina Wilis, bagaimana menurut anda dengan kemampuannya?"


"Menurutku dia cukup kompeten, bukankah dia mirip dengan Dame Fiona?"


"Ahh, ternyata anda cukup jeli menilai para ksatria, padahal akhir akhir ini anda jarang sekali muncul di tempat latihan para ksatria" sesekali ia melirik dan memperhatikan reaksi Ferderick yang berdiri tepat di belakang Rubia.


"Ya, itu karena aku sibuk,kedepannya aku akan sering berlatih, Dame Tarina memiliki kemampuan yang cukup menonjol dari antara ksatria wanita di istana"


"Ya, anda benar, dia adalah orang yang tepat"


"Baiklah, lakukan saja seperti itu"


"Kapan Dame Tarina bisa mulai bekerja disamping anda?"


"Besok, hari ini hari terakhir Ferderick bekerja sebagai pengawal pribadi"


Axel tersenyum tipis "Ahh, jadi begitu.. Akhirnya kau bisa kembali ke identitas aslimu Count Stewart, kau pasti senang kan?" ucapnya seraya menatapnya.

__ADS_1


"Ya, tentu" jawab Ferderick singkat sekaligus melayangkan tatapan dingin.


"Benar, kau harus pulang lebih awal hari ini Fer, karena besok statusmu akan disahkan sebagai Count, kau akan sibuk menyapa para bangsawan yang akan hadir di aula istana"


"Baik"


"Baginda, bukankah lebih baik anda memanggilnya Count mulai sekarang dan bukan nama panggilannya sehari hari sebagai pengawal anda?" ucap Axel tersenyum, Ferderick merasa semakin kesal.


"Baginda, kalau begitu saya akan pulang sekarang, pasti banyak yang harus dibereskan mengingat kastel kami sudah lama tak dihuni"


"Ya, kau harus melakukan itu"


"Baiklah" Ferderik berlutut dan menundukkan kepalanya dihadapan Rubia. "Terimakasih untuk setiap waktu yang anda habiskan bersama dengan saya, saya selalu menanti panggilan dari anda Baginda, saya akan selalu setia di belakang anda"


"Yaa, aku juga berterimakasih, kau harus berhasil meneruskan apa yang telah dimulai oleh mendiang orang tuamu" Ferderick mengangguk, ia bangun dan berjalan keluar ruangan.


Tiba tiba suasana menjadi hening ketika diruangan itu hanya tinggal dua orang itu, Axel yang masih merasa canggung karena ini adalah pertama kalinya ia berada sedekat itu lagi dengan Rubia setelah ia membuat keributan dengan tiba tiba membahas pernikahan. Rubia yang memiliki kepekaan yang tajam pun menyadari perubahan suasana saat ada Ferderick dan saat ini.


"Ehemmm" Axel berdehem canggung. "Kalau begitu--" ucapnya terhenti ketika ia ingin pergi.


"Kau terlihat baik, apa kau sudah cukup menenangkan dirimu selama kita tak bertemu?" tanya Rubia terang terangan.


"Haha, saya tidak mengerti apa yang anda maksudkan" ia tertawa dengan hambar, jujur saja ia masih tak tahu sikap apa yang seharusnya ia tunjukan sekarang di hadapan Rubia setelah saat itu ia sempat melepaskan topengnya.


"Apa masih ingin menikah secepatnya?"


Wajah Axel seketika memerah, ia benar benar merasa malu sekaligus buruk karena telah melakukan hal memalukan hanya karena terbakar cemburu dan merasa diperlakukan tidak adil. Axel menundukkan wajahnya "Saya minta maaf Baginda karena telah menunjukan sisi diri saya yang memalukan"


"Kenapa kau minta maaf? Aku mengatakan itu bukan untuk mendapatkan kata maaf"


Axel melirik ke wajah Rubia dengan hati hati "Apa anda sekarang menganggap saya tidak layak menjadi pasangan anda?"


"Bukan itu, maksudku aku justru merasa lebih nyaman jika kau bersikap lebih jujur dengan dirimu sendiri, marahlah jika memang sedang kesal,tersenyumlah jika kau bahagia, yah semacam itulah, intinya tidak ada rang yang memaksamu melakukan hal yang tidak kau inginkan hanya karena kau adalah calon pendamping Kaisar" Rubia sesekali menyeruput tehnya dengan santai.


Axel terdiam sejenak berfikir, ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri mengapa selama ini ia selalu menahan diri? Apa karena ia menghawatirkan reputasi atau memang pada dasarnya ia memiliki sifat seperti itu? Ternyata ia baru menyadari bahwa ia belum mengenal dirinya sendiri.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2