Queen Sword

Queen Sword
Eps 92 Novel Romansa


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Setelah menerima surat panggilan dari Kaisar sehari yang lalu, Kaisan datang ke Istana.


Tok tok tok, "Baginda, Tuan Kaisan Stewart datang" ucap seorang penjaga yang berjaga di ruang kerja Kaisar.


"Masuklah" ucapnya sembari berjalan menuju pintu.


Kaisan pun masuk lalu seperti biasa ia memberi salam resmi kepada Kaisar "Duduklah" Rubia duduk terlebih dahulu di sofa.


"Bagaimana kabarmu selama ini? Kau sudah semakin dewasa sejak terakhir kali kita bertemu di acara festival kan?" ucap Rubia seraya menatap Kai, Kai tampak malu mengingat momen memalukan saat itu.


"Saya minta maaf atas kejadian itu Baginda"


"Sudahlah, semua itu sudah berlalu, bukan itu alasannya aku memanggilmu"


"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu Baginda?"


"Aku ingin meminta maaf yang sebesar besarnya kepadamu atas apa yang terjadi dengan Kakakmu, keluargamu satu satunya Ferderick Stewart"


Kaisan tersentak, seorang Kaisar meminta maaf kepadanya dengan raut wajah yang putus asa, apa dia tak salah dengar? "Anda tak perlu minta maaf Baginda, saya tahu bahwa Kakak saya sedang melakukan tugas rahasia ke tempat yang jauh"


Rubia tertegun, ia menatap iba kepada Kaisan yang masih saja polos "Apa itu yang Ferderick katakan kepadamu? Tugas rahasia? Haahhh.. jadi selama ini dia sudah merencanakannya sendirian" tiba tiba wajah Rubia semakin sedih.


"Saya tidak mengerti maksud anda Baginda" Kai terlihat bingung.

__ADS_1


"Meskipun Ferderick tak menginginkanmu mengetahui kebenarannya tapi aku tak bisa menyembunyikannya darimu, sebenarnya kini Ferderick berada di Istana"


Kai terkejut "Apa anda serius? Mengapa Kakak membohongi saya?"


"Itu karena baginya itu yang terbaik, maafkan aku, ini semua kesalahanku, aku pun tak menyadari dia akan benar benar mengorbankan nyawanya demi diriku"


"Apa maksud anda? Mengorbankan nyawa.." Seketika tubuh Kaisan menjadi gemetar "Itu tidak seperti yang saya bayangkan kan Baginda? Tolong katakan semuanya"


"Baiklah, jadi aku sudah menjalani hidup dengan kutukan dalam diriku, perlahan tubuhku sakit, sakit yang semakin parah dari hari ke hari, satu satunya orang yang bisa melenyapkan kutukan itu adalah Ferderick, tapi dia bisa kehilangan nyawa jika melakukan itu, selama tiga tahun ini dia menjauh dariku, kupikir dia sudah tak peduli lagi karena aku ingin dia hidup tanpa memikirkan kutukan itu, tapi baru baru ini dia kembali mendatangiku seolah tak ada yang terjadi di antara kami, tanpa sadar dia datang untuk menyerahkan nyawanya,aku yang tak tahu apa apa hanya bisa menyambutnya dengan senyuman, maafkan aku" Rubia tertunduk pilu menceritakan hal itu kepada Kaisan yang adalah keluarga Ferderick satu satunya.


Kaisan pun tertunduk lesu, ia tak bisa berkata kata, ingin sekali ia menyalahkan Kaisar atas apa yang terjadi kepada Kakaknya yang berharga, namun ia sadar saat ini Kaisar pun tak berdaya,bahkan Kaisar terlihat sangat hancur, karena ini adalah keinginan Kakaknya sendiri tanpa persetujuan atau paksaan dari siapapun.


"Bagaimana bisa Kakak melakukan ini padaku" gumamnya lirih seraya memegangi kepalanya "Saya yang bodoh, bagaimana bisa saya sedikitpun tak merasa curiga dengan apa yang kakak lakukan, mulai dari belajar menjadi seorang kepala keluarga, belajar ilmu pedang dan mempelajari semua hal yang di haruskan kemampuan seorang kepala keluarga miliki"


"Ferderick melakukan itu?"


Rubia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Jadi selama ini dia tak pernah sedikitpun meninggalkanku, semua yang dia lakukan hanya untukku dan orang orang terdekatnya, aku sangat bodoh karena tak bisa menebak jalan fikirannya, aku yang bodoh karena menganggap dia sudah hidup bahagia dengan mengabaikanku.


"Baginda, dimana kakakku sekarang? Apa dia sudah meninggal?" ucapnya dengan ragu ragu sekaligus takut.


Rubia menggeleng "Dia ada di kamarku, dia masih bernafas, namun dia tak bisa bangun, entah apa yang akan terjadi, bisa saja dia bangun dan.. bisa saja tidak"


"Bolehkah saya menemuinya Baginda? Saya akan mencoba kekuatan suci saya, ahhh.." ucapannya terhenti, ia teringat bahwa seharusnya ia menyembunyikan fakta bahwa dia memiliki kekuatan suci.

__ADS_1


"Aku kira hanya Ferderick yang memiliki kekuatan suci, ternyata kau juga?"


Kaisan menatap wajah Rubia "Anda sudah tahu?" Rubia mengangguk "Apa kakaku taku jika anda sudah tahu?"


"Entahlah, sepertinya tidak, kau tak perlu kawatir, tidak ada lagi paksaan untuk orang dengan kekuatan suci sepertimu untuk mengabdi kepada istana, bukankah kau sudah tahu itu?" Kaisan mengangguk. "Ikutilah aku, aku akan membawamu menemui Kakakmu"


.


Rubia membuka pintu kamarnya, Kaisan mengikutinya masuk, ia sangat terkejut melihat Kakaknya berbaring di tempat tidur dengan tak sadarkan diri, dia melangkah mendekat "Kak, apa kau bisa mendengar suaraku?" tentu saja tak ada jawaban, kemudian Kaisan mengeluarkan kekuatan sucinya di atas kepala Ferderick, perlahan raut wajahnya semakin segar.


Rubia mendekat "Wajahnya semakin segar, seharusnya sejak awal aku memberitahumu pasti Ferderick tak akan terlalu menderita"


"Tidak apa apa Baginda, mungkin Kakak lebih bahagia tinggal disisi anda, tapi bolehkah saya membawa Kakak pulang ke kediaman Count? Agar saya lebih mudah memberikan kekuatan suci saya secara berkala Baginda?"


Rubia tampak terdiam, sejujurnya ia tak rela jika harus berpisah dari Ferderick namun sepertinya itu adalah pilihan terbaik melihat perubahan Ferderick setelah menerima kekuatan suci dari adiknya, memang pada dasarnya ia sudah berencana memulangkanyya ke keluarganya meskipun masih ragu ragu "Baiklah, lakukan seperti itu saja" ucapnya dengan berat hati.


"Terimakasih atas pengertian anda Baginda, anda bisa datang ke kediaman Count kapanpun" Rubia mengangguk setuju.


Pada saat itu juga Kaisan membawa Ferderick pulang dengan kereta kuda dan pengawalan terbaik dari istana, Rubia ikut mengantar sampai ke kediaman Count, ia menjaga Ferderick tetap nyaman di dalam kereta kuda. Sejak hari itu kabar tentang Count Ferderick Stewart yang melenyapkan kutukan keluarga Kaisar tersebar luas, semua orang merasa berterimakasih kepada pengorbanan tulus Ferderick untuk Kaisar mereka yang adalah masa depan dari Kekaisaran yang mereka tinggali, mereka semua terus memanjatkan doa untuk kesembuhan Ferderick.


Tak lama pun tersebar sebuah novel dengan penulis yang menyembunyikan identitasnya, novel yang menceritakan kisah tentang Kaisar dan Count Ferderick Stewart sangat laris dipasaran, semua orang ingin memiliki buku itu.


Rubia pun membaca buku itu di ruang kerjanya, semuanya sangat mirip dengan kenyataannya,siapa yang menulisnya? ia tak tertarik mengetahuinya, namun seperti novel romansa pada umumnya, endingnya Ferderick kembali bangun dan mereka berdua hidup bahagia selamanya, bukankah itu sangat klise? Tapi Rubia harap ending kehidupannya sama persis dengan Novel itu, ia anggap penulis memang ingin membuat semua pembacanya mendoakan kesembuhan Ferderick. Rubia menutup Buku tebal coklat dengan gambar sampul dirinya dan Ferderick yang saling bertatapan.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2