
Rubia dan pasukan ksatria baru saja tiba di istana, tak ada penyambutan sama sekali, justru para pekerja istana dan dayang sibuk dengan hal lain di dalam istana, seorang penjaga menghampiri Rubia yang baru saja memijakkan kaki di halaman istana, wajahnya sayu dan tubuhnya gemetar, ia menunduk memberi hormat kepada Rubia.
"Yang Mulia, Baginda Kaisar baru saja berpulang" ucapnya seraya terisak.
Seketika suasana menjadi hening, banyak sekali pasang mata yang terperanjat dan terlihat kaget. Rubia menoleh ke arah Axel yang berada disebelahnya "Kau tahu apa yang harus dilakukan kan?" ucap Rubia yang dijawab dengan anggukkan oleh Axel, Rubia berjalan ke kediamannya dengan santai seolah tak ada apa pun yang terjadi, orang orang pun dibuat bingung dengan situasi dan reaksi yang diperlihatkan oleh Rubia sebagai Putri yang baru saja kehilangan Ayahnya jangankan kaget bahkan dia terlihat tak peduli dan bersikap sangat tenang.
Ferderick mengikuti Rubia dari belakang, ia memperhatikan suasana hati Rubia, ia percaya bahwa seburuk buruknya orang tuanya, pasti dalam hati Rubia tetap merasa sedih meskipun ia tak memperlihatkannya sama sekali.
Kabar tentang kematian Kaisar seketika menyebar keseluruh penjuru benua, keesokan harinya dilakukan upacara pemakaman besar besaran diistana yang dihadiri oleh bangsawan kelas atas dan relasi keluarga kerajaan, beberapa perwakilan dari negara tetanggapun turut hadir memberikan penghormatan terakhirnya, Rubia, Ratu dan seluruh pelayat serentak mengenakan pakaian berwarna hitam, Rubia dan Ratu mendapat seluruh sorotan dari berbagai pihak yang hadir, satu persatu menyampaikan rasa belasungkawa yang dalam.
Rubia menatap ke arah ibunya yang saat itu tengah berada di samping batu nisan Kaisar, Ratu tampak amat sedih, air matanya terus membanjiri pipi, ia terus menerus mengusap pipinya dengan sapu tangan hhitam yang dipegang oleh dayangnya, melihat reaksi Ratu yang perasaannya seolah hancur karena ditinggal oleh suaminya yang telah menyakitinya membuat orang orang bersimpati kepadanya, dukungan demi dukungan terus berdatangan kepada Ratu yang sedang berduka. Namun Rubia tak bergeming sama sekali melihat Ratu yang terlihat lemah seperti saat ini, karena ia tahu bahwa hari ini adalah hari yang telah lama Ratu tunggu.
Berbanding terbalik dengan Ratu, setetes pun Rubia tak mengeluarkan air mata, ia hanya berdiam diri di samping Ratu yang sedang berakting dengan sempurna, Axel datang menghampiri Rubia, ia berbisik ditelinga Rubia, Rubia mengangguk "Bilanglah pada mereka, lakukanlah tugas kalian" jawab Rubia dengan raut wajah dingin. setelah itu Axel kembali pergi dari tempat itu, Tak lama beberapa pasukan ksatria khusus datang, mereka menghampiri Ratu yang sedang terduduk di tanah "Yang Mulia Ratu, anda ditangkap atas tuduhan membunuh Baginda Kaisar, sebotol racun ditemukan di bawab tempat tidur anda" ucap kapten ksatria kusus bernama Vincent itu.
Seketika situasi menjadi riuh, para pelayat berbisik bisik membicarakan Ratu, seperti bagaimana bisa dia membunuh suaminya sendiri, ternyata semua kesedihannya hanyalah akting? Berbagai cemoohan terus dilayangkan oleh orang orang yang berada di tempat itu kepada Ratu isabella.
Ratu Issabella bangkit, ia mengelak telah membunuh suaminya, matanya membelalak merah, amarahnya memuncak ketika para ksatria memegangi tangannya. "Aku tak membunuhnya, bukan aku yang membunuhnya, lepaskan aku, kalian pikir bisa selamat setelah melakukan hal seperti ini padaku, lepas!" teriaknya memberontak ketika para ksatria menyeretnya.
__ADS_1
Ratu issabella menoleh ke belakang ke arah Rubia "Rubia,Putriku, tolong Ibu, bukan aku yang membunuhnya, Rubia" teriaknya terus menerus, namun Rubia sama sekali tak bergeming.
Dalam sekejap Rubia mendapat sorotan simpati orang orang yang baru saja tertuju kepada Ratu Issabella, mereka yang awalnya mencemooh Rubia yang tak meneteskan air mata atau menunjukkan kesedihan yang normal sebagai manusia kini mulai mengerti mengapa Rubia bersikap seperti itu, begitulah orang orang menerkanya, mereka hanya ingin melakukan apapun yang sekiranya akan menguntungkan diri mereka sendiri.
Seorang Pria dengan tubuh kekar tinggi dengan kulit sedikit gelap berambut merah darah dan bola mata berwarna emas datang menghampiri Rubia. "Yang Mulia Putri, saya mewakili Kekaisaran Deborat turut berduka cita yang sedalam dalamnya" Pria itu menundukkan kepalanya di hadapan Rubia.
"Terimakasih karena sudah datang Pangeran ke dua, silahkan nikmati waktu anda di kekaisaran"
"Baik, terimakasih Yang Mulia, anda pasti merasa sangat sedih dengan kepergian ayah anda"
Seseorang menghentikan langkah Rubia "Yang Mulia, saya turut berbelasungkawa" ucap Duke Verano seraya menundukkan kepalanya, matanya yang biasanya terlihat licik kini terlihat kosong namun dipenuhi ambisi yang besar, Rubia terus melihat Duke yang menjauh,ia bisa melihat aura gelap dari tubuh Duke Verano.
"Ada apa Yang Mulia?" tanya Ferderick yang merasa Rubia sedang teralihkan.
"Sesuatu yang gelap menyelimuti tubuh Duke verano" gumamnya, lalu ia melanjutkan kembali perjalanannya.
.
__ADS_1
Di dalam penjara bawah tanah yang gelap dan lembab Ratu Isabella duduk tertunduk melipat kakinya di lantai yang dingin, matanya tampak tak fokus, rambutnya berantakan, berkali kali ia terus bergumam bahwa bukan dia pelakunya, dia tak bersalah. Pikirannya kacau dipenuhi oleh bayang bayang kehidupannya yang berat, seharusnya setelah kaisar meninggal ia bisa hidup dengan lebih leluasa dan nyaman menikmati kemewahan yang tiada habisnya, tapi mengapa sekarang dia berada ditempat kotor seperti itu, mental Ratu terus bergejolak, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah jatuh ke jurang terdalam, semuanya sangat tak adil baginya, sejak lama ia ingin membunuh suaminya namun ia masih menahannya namun kini ia menyesal tak bisa membunuhnya dengan tangannya sendiri dan ia harus menerima hukuman yang tak adil baginya.
Tuk tuk tuk, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat ke arahnya, matanya terperanjat melihat seseorang yang menemuinya, ia bangun dan mendekatinya "Adikku tolong bantu keluarkan aku dari sini"
"Ini hukuman karena kau telah menghianatiku kakak, seharusnya kau berterimakasih karena aku tak membunuhmu meskipun kau sudah tak lagi berguna, tapi apa yang kakak lakukan? kakak hanya mencari keuntungan sendiri,menghindariku dengan angkuh, aku ingin melihatmu mati dengan disaksikan oleh seluruh rakyat kekaisaran ini sampai harga dirimu yang tinggi itu tak tersisa lagi fufufu" Duke verano tampak tersenyum menyeringai.
"Apa? Apa kau yang membuatku berada dalam situasi ini? Kau yang membunuh Kaisar! Pasti kau" teriaknya dengan histeris.
"Hehehe, cepat atau lambat kau akan segera dipenggal oleh putrimu sendiri kakakku sayang, aku datang untuk memberikan salam terakhirku, nikmatilah sisa hari anda dengan damai Yang Mulia Ratu" ia tersenyum smirk sebelum pergi.
"Tunggu, Tidak, Hill, tidak, jangan seperti ini, jangan lakukan ini hill aku adalah kakakmu Hill" ia terus berteriak memanggil manggil nama adiknya namun ia sendiri pun paling tahu dengan sikap adiknya itu, tapi ia terus memanggilnya meskipun ia tahu bahwa adiknya tak akan menoleh padanya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1