Queen Sword

Queen Sword
Eps 39 Gelombang sihir kuat


__ADS_3

"Permisi Yang Mulia, kami para penyihir mohon izin menghadap" terdengar suara dari luar tenda Rubia.


"Masuklah"Jawab Rubia.


Para penyihir masuk dan mendekati Rubia "Salam Yang Mulia, salam juga Sir Axel Harington bagaimana keadaan anda saat ini?" tanya salah satu penyihir.Axel mengangguk.


"Saya sudah lebih baik sekarang, apa ada sesuatu yang mendesak?" Rubia memperhatikan raut wajah ketiga penyihir yang terlihat ragu ragu.


"Kami ingin memastikan sesuatu Yang Mulia" ucapnya ragu ragu.


"Katakanlah"


"Kami merasakan gelombang sihir yang sangat besar di tempat ini, lebih tepatnya ditubuh Yang Mulia,maaf jika kami lancang"


"Tidak apa, kalian benar, penyihir tua yang tempo hari kukatakan mendatangiku melalui mimpi dan menanamkan permata sihir di jantungku" Rubia memegang dadanya yang masih terasa sakit.


"Apa itu berarti sekarang Yang Mulia Putri seorang penyihir?" tanya Axel kepada para penyihir.


"Benar Tuan, tapi yang saya lihat kekuatan sihir itu belum sepenuhnya stabil berada ditubuh Yang Mulia,itu pasti sangat menyakitkan, karena tubuh Yang Mulia dipaksa menerima kekuatan asing yang sangat besar,apa masih terasa sangat sakit Yang Mulia?"


"Ya, ini sangat menyakitkan" ucapnya seraya wajahnya mengernyit.


"Apa ada cara untuk menghilangkan rasa sakit Yang Mulia?" tanya Axel kepada para penyihir.


"Setahu kami tidak ada cara yang pasti,berhubung sepertinya tubuh Yang Mulia tak menolak kekuatan itu tandanya Yang Mulia memang sudah menjadi orang pilihannya sejak lama dan ditakdirkan untuk menerima kekuatan itu, setelah tubuh Yang Mulia mulai beradaptasi dengan kekuatan sihir perlahan rasa sakitnya akan hilang" Axel mengangguk.


"Tapi bagaimana bisa seseorang penyihir memberikan inti sihir dalam dirinya kepada orang lain?" ucap penyihir lainnya seraya wajahnya bertanya tanya.


"Apa yang salah dengan itu?" Tanya Rubia.


"Inti sihir bagi seorang penyihir adalah seperti nyawanya sendiri, kenapa beliau melakukan itu?"


"Apa maksud anda penyihir itu akan mati setelah memberikan kekuatannya kepadaku?" ujar Rubia.


Ketiga penyihir itu serentak mengangguk sehingga membuat Rubia sangat khawatir kepada penyihir tua itu.

__ADS_1


"A apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini sama saja aku telah mengambil nyawanya?" tiba tiba Rubia merasa panik.


Axel menenangkannya "Bukan anda yang mengambil nyawanya Yang Mulia, tapi penyihir tua itu yang memberikan nyawanya kepada anda"


"Benar Yang Mulia" ketiga penyihir itu setuju dengan Axel.


"Yang Mulia, apa yang penyihir tua itu harapkan dari anda dengan memberikan kekuatan sebesar itu?" tanya salah satu penyihir.


"Dia bilang aku harus menyegel tanah kekaisaran karena monster akan terus berdatangan seiring bertambahnya usiaku" tatapan mata Rubia terlihat kosong.


"Membuat segel sebesar itu bukanlah hal mudah Yang Mulia, anda membutuhkan bantuan penyihir agung untuk melatih kekuatan sihir anda terlebih dahulu"


"Penyihir agung kekaisaran? Apa itu Tuan Vallan Zahart?" tanya Rubia.


"Benar Yang Mulia, anda harus segera kembali ke istana terlebih dahulu"


"Bagaimana dengan para monster disini?"


"Kami akan tetap tinggal disini, ada Tuan Harington bersama para ksatria juga, anda tak perlu menghawatirkan permasalahan disini, kembalilah bersama pengawal anda" ucap salah satu penyihir.


"Kapan anda akan kembali Yang Mulia?" tanya salah satu penyihir.


"Sebaiknya setelah kesehatan anda membaik Yang Mulia" pinta Axel.


"Saya akan kembali besok pagi"


"Tapi anda masih sakit Yang Mulia"keluh Axel.


"Ini bukan masalah Axel, aku baik baik saja"


"Baiklah"


"Kami permisi Yang Mulia" ucap para penyihir.Rubia mengangguk.


Rubia melirik ke wajah Axel yang tampak murung "Mengapa kau memasang wajah seperti itu?"

__ADS_1


Axel bangun dari duduknya dan mendekat ke hadapan Rubia "Itu karena saya akan berpisah dengan anda, apa anda sama sekali tak merasa keberatan ketika berpisah dari saya?"


Rubia tak bisa berkata kata, ia mengalihkan wajahnya ke arah lain "Axel, tolong jangan berharap banyak kepadaku,kita hanya melakukan hubungan politik,kau pun tahu itu jadi apa yang kau harapkan dariku?"


Tangan Axel meraih wajah Rubia,membuat wajahnya menatap dirinya "Saya menyukai anda sepenuh hati saya, bohong jika saya tidak mengharapkan apa apa dari anda,tapi satu hal yang harus anda tahu, saya tidak akan memaksakan perasaan saya kepada anda,saya akan menunggu sampai anda bisa sedikit saja menyukai saya"


Tangan Rubia menepis tangan Axel,Rubia kembali memalingkan wajahnya, tiba tiba Axel memeluk Rubia "Apa yang sedang kau lakukan, ini tindakan tidak sopan Axel" Rubia mencoba mendorong tubuhnya menjauh..


"Sebentar saja Yang Mulia, tolong ijinkan saya melakukan tindakan tidak sopan kali ini saja, jika saya tak melakukan ini kali ini rasanya saya akan benar benar menyesal" ucapnya lirih seraya memeluk Rubia dengan semakin erat, Rubia pun berhenti mendorongnya dan mencoba mengerti perasaannya.


****


Setelah hari itu Rubia kembali ke istana bersama dengan Ferderick mengendarai Kuda masing masing, setelah cukup lama berjalan Rubia terus menerus memegangi dadanya, bahkan itu terasa lebih sakit saat ia bergerak diatas kuda, Ferderick melirik ke arahnya, wajah Rubia terlihat semakin pucat dan langkah kaki kuda semakin lama semakin melambat.


"Anda baik baik saja Yang Mulia?" tanya Ferderick khawatir. Rubia menggeleng kesakitan, dia tak baik baik saja. Ferderick melihat sekitarnya, kini mereka tengah berada di pinggiran hutan, masih jauh dari pemukiman rakyat, tapi melihat kondisi Rubia mereka harus segera menghentikan perjalanan "Mari istirahat terlebih dahulu Yang Mulia" Rubia mengangguk.


Ferderick turun terlebih dahulu dari kudanya, kemudian ia membantu Rubia turun dengan menggendongnya "Maafkan aku Fer, aku malah merepotkanmu" ucapnya saat berada di gendongan Ferderick,ia menyandarkan kepalanya di dada Ferderick, bahkan ia bisa mendengar dengan jelas suara detak jantung Ferderick.


"Tidak perlu meminta maaf Yang Mulia, ini adalah tugas saya"


Ferderick menurunkan Rubia dan menyenderkannya di batang pohon besar dengan daun yang sangat lebat di pinggir hutan,kemudian Ferderick mengikat kuda mereka ditempat yang terdapat banyak rerumputan hijau.Ketika Ferderick kembali ke tempat Rubia berada ternyata Rubia sudah memejamkan matanya, Ferderick duduk di sampingnya, ia mencoba menggunakan kekuatan penyembuhnya kepada Rubia, tapi anehnya kekuatan sucinya seolah menolak masuk ke dalam tubuh Rubia.


Ferderick berfikir keras apa yang salah dengan tubuh Rubia sehingga menolak kekuatan sucinya?atau kekuatan sucinya sedang bermasalah? Ferderick membuka perban ditangannya, luka yang terkena pedang Rubia saat itu ia biarkan begitu saja agar tidak ada yang menyadari kekuatannya, ia mencoba menyembuhkan sendiri lukanya dan berhasil, jadi itu bukanlah masalah pada kakuatannya melainkan tubuh Rubia sendiri.


Ferderick kembali melirik wajah Rubia, ia sangat terkejut ketika melihat Rubia yang telah membuka mata dan sedang memperhatikan tangannya, apa Ferderick telah ketahuan? ia harus memastikannya.


"Anda sudah bangun Yang Mulia?' ucap Ferderick ragu ragu.


"Ya, baru saja" padahal Rubia memang sama sekali tak tidur,ia hanya memejamkan matanya saja.


Ferderick mulai menilai reaksi Rubia, sepertinya ia tak ketahuan karena Rubia tak menanyakannya, itu membuatnya merasa lega namun terasa sedikit ada yang mengganjal.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2