Queen Sword

Queen Sword
Eps 22 Fer..


__ADS_3

Setelah Ferderick selesai menghadap Kaisar ia menemui Rubia di istananya tapi dayang Rubia mengatakan bahwa Putri sedang tak ada di tempatnya, setelah meninggalkan pesan kepada dayang Ferderick kembali ke markasnya.


Disana Kaisan telah menunggunya seorang diri di depan Rumah.Begitu Ferderick turun dari kuda Kaisan segera berlari menghampirinya.


"Kakak baik baik saja?"


"Sudah kakak bilang tak ada yang perlu kau khawatirkan"


"Tapi benar kakak baik baik saja?"


"Iya"


"Apa yang Kaisar katakan?"


"Menyuruhku menjadi ksatria istana"


"Apa kakak menyetujuinya?"


"Tentu, pekerjaan menjadi ksatria istana lebih baik daripada menjadi prajurit bayaran kan?"


"Itu benar, tapi..kata Tuan Stev"


"Aku memilih menjadi pengawal Tuan Putri,Sudah waktunya kau kembali ke akademi, ayo aku antar setelah aku berganti pakaian"


"Baiklah, aku akan menunggu disini"


Ferderick berjalan seorang diri setelah mengantarkan Kaisan kembali ke akademi.Ia kembali teringat raut wajah adiknya begitu ia melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam gerbang itu.


Dukkk..Ferderick menabrak seseorang karena ia berjalan dengan lamunan.


"Maafkan saya" ucap Ferderick kemudian ia melanjutkan jalannya namun seseorang menarik tangannya.


"Kau kan?" ucap seorang wanita sembari menarik tangan Ferderick.


Ferderick menoleh, matanya terperanjat begitu melihat sosok wanita yang telah lama terlupakan dari fikirannya.


Wanita itu masih sama,menutup sebagian wajahnya dengan kipas tangan, namun sorot matanya yang seolah melihat mangsa empuk itu sangat menjijihkan bagi Ferderick.


"Kau sudah besar rupanya,apa kau tahu berapa lama aku mencarimu Ferderick, sekarang ikutlah denganku" ucap wanita itu sembari terus menarik tangan Ferderick.


Ferderick hanya ingin menghindarinya "Anda salah orang" ia menepis tangan wanita itu kemudian ia segera pergi dari sana.Wanita itu menatap Ferderick dengan bibir tersenyum.


"Dia telah menjadi pria yang melebihi ekspektasiku, Ferderick kau tak akan bisa lagi lolos dariku" gumam wanita itu seraya menatapi punggung Ferderick.


Saat Ferderick sampai di gang sempit tiba tiba sekawanan pria berbaju maroon kusam mengepungnya dengan serentak menodongkan pedang kearahnya, tak salah lagi itu adalah seragam yang dipakai oleh penjaga penjara budak.


Mata Ferderick mengernyit, ia segera mengangkat pedangnya, pertarungan pun dimulai, terdengar suara berisik dari senjata yang saling menyerang, satu lawan sepuluh orang, seketika orang orang itu tumbang dengan cepat.

__ADS_1


Ferderick berlari menjauh dari orang orang itu,kini dikepalanya penuh dengan memori memori ingatan buruk di penjara budak yang telah lama ia lupakan.


Langkahnya terhenti ketika ia mulai mengingat seorang gadis yang pernah ia janjikan kebebasan olehnya, ia merasa bersalah karena sampai sekarang ia tak memiliki cukup kekuatan untuk membebaskan orang orang yang terkurung dipenjara budak.


Ia terus berjalan dengan perasaan gundah sampai ia menyadari langkahnya telah sangat jauh dan ia telah sampai dihadapan sebuah pagar belakang istana Putri Mahkota, ia mendongakkan kepalanya mengarah ke jendela dan di sana ia melihat Putri yang sedang termenung di balkon.


Putri Rubia menoleh kearahnya dan tatapan mereka bertemu, tangan Rubia melambai mengisyaratkan Ferderick untuk menghampirinya.


Ferderick pun naik dan berdiri di hadapannya.


"Apa yang membawamu kesini?" tanya Rubia.


Wajah Ferderick terlihat bingung "Entahlah, saya hanya berjalan saja"


"Ha??? Karena kau sudah disini masuklah"


"Tidak Yang Mulia"


"Ahh?? Baiklah..apa tadi pembicaraanmu dengan Kaisar lancar?"


"Ya"


Rubia mendekat ke telinga Ferderick "Fer, selidikilah tentang perdagangan budak ilegal, aku sudah mengumpulkan informasi tapi lokasinya masih sulit dilacak"


Ferderick terdiam, ia tak bisa berkata kata karena tiba tiba rubia membahas tentang hal yang ada di dalam pikirannya.


Rubia pun kembali masuk ke kamarnya meninggalkan Ferderick yang masih termenung.


...****************...


Keesokan harinya Rubia tengah berlatih pedang di tempat latihan ksatria, Para ksatria berlatih dengan penuh semangat, begitu juga dengan Rubia, ia tengah melakukan sparing bersama dengan Pengawalnya yaitu Dame Fiona.


Axel Harington datang dengan seseorang di belakangnya, namun orang orang justru terfokuskan dengan raut wajah Axel yang tak seperti biasanya, wajah yang selalu tersenyum ramah itu kini tampak suram, hingga membuat beberapa para bawahannya berbisik bisik.


Axel menghampiri Rubia "Salam Yang Mulia Putri"


Rubia menghentikan latihannya "Ya"


"Yang Mulia saya membawa seseorang yang mendaftarkan diri menjadi pengawal anda, saya mohon izin untuk mengetes seberapa kemampuannya"


Rubia menoleh ke arah Ferderick yang telah memakai baju ksatria istana "Fer, apa orang itu dia ?" rubia menunjuk Ferderick.


"Benar Yang Mulia" jawab Axel.


"Kau kemarilah,beri salam kepada Yang Mulia Putri" ucap tegas Axel.


Ferderick menghampirinya dan memberikan salam seperti yang disuruh oleh Axel.

__ADS_1


"Baiklah, Yang Mulia saya sendiri yang akan mengetesnya"


"Ya, lakukanlah tugasmu" ucap rubia ragu ragu.


Axel dan Ferderick berdiri berhadapan sembari mengangkat pedang masing masing, tak tak tak, mereka mulai bertarung dengan disaksikan oleh Rubia dan seluruh ksatria yang berada di tempat itu.Mata Axel terfokuskan oleh cincin yang dipakai oleh Ferderick,cincin yang sama dengan yang dikenakan oleh Rubia, seketika mata Axel dipenuhi dengan kemarahan.


Tak tak tak, situasinya semakin memanas karena mereka berdua terlihat imbang, namun begitu Ferderick mengalirkan mana kepedangnya dan menyerang Axel, pedang Axel terpental jauh, para ksatria merasa takjub dengan kemampuan pendatang baru itu yang mampu mengalahkan ketua pasukan mereka yang paling kuat diantara ksatria yang lainnya.


Axel mengambil pedangnya yang terpental dan kembali ke hadapan Ferderick "Kau lulus, kau bisa mulai pekerjaanmu besok, dan tinggallah di asrama ksatria, lindungilah Yang Mulia Putri Mahkota dengan segenap jiwa dan ragamu"


"Baik" jawab Ferderick.


Setelah itu Ferderick menghampiri Rubia dan Axel pergi dari tempat latihan.


"Apa yang terjadi dengan ketua?Baru kali ini aku melihatnya sangat marah" bisik seorang ksatria.


"Benar, mungkin karena pemuda itu mengalahkannya?"


"Eyy..jika saja anak itu tak menggunakan kekuatannya pasti Ketua yang akan menang"


"Heii, bagaimana mungkin serang Swordmaster tak menggunakan kekuatannya saat bertarung??"


"Ahhh benar juga"


Ferderick mendengarkan bisikkan para ksatria yang membicarakannya.


"Fer, ikutlah denganku" ucap Rubia, ia berjalan keluar dari tempat latihan,Fiona dan Ferderick mengikutinya dari belakang.


Sampailah mereka di istana Putri Mahkota, mereka bertiga duduk berhadapan.


"Bukankah kau harus menjelaskan situasi ini Fer?"


"Benar Yang Mulia" jawab tegas Ferderick.


"Lekas,kau tahu kan Yang Mulia menunggu penjelasanmu?" ucap Fiona berdecak kepada Ferderick.


Setelah itu Ferderick menjelaskan tentang percakapannya dengan Kaisar, Rubia sedikit lega karena ia tak perlu lagi menyembunyikan Ferderick, tapi ia bertanya tanya mengapa Kaisar mengijinkan dengan mudahnya.


"Tentang yang kubicarakan kemarin apa kau sudah menyelidikinya?" bisik Rubia.


Ferderick tertegun "Saya tahu lokasi tepatnya Yang Mulia"


"Bagus Ferderick, hebat juga kau menemukannya dalam waktu singkat" pujinya.


"Itu bukan karena saya mencari tahu, tapi karena saya pernah hidup di sana" ucapnya dengan sorot mata dingin, Rubia dan Fiona pun tertegun mendengarnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2