
Rubia dan Axel muncul di hadapan rakyat dengan bergandengan tangan, mereka muncul dari balkon istana lantai tiga, pasangan rupawan yang terlihat sangat serasi,mereka berdua tersenyum melambaikan tangannya melihat rakyat yang antusias dan bersorak sorak memanggil "Baginda..Tuan Axel Harington" mereka terus menerus bersorak memanggil kedua orang itu dengan semangat, Rubia dan Axel mengangguk dan tersenyum, malam itu langit terlihat dipenuhi oleh bintang yang berkelipan, seolah alam ikut merayakan hariĀ pembukaan festival.
Kaisan bersama Tomy saat ini sedang menatap kedua penguasa kekaisaran itu dari bawah ditengah tengah kerumunan masa yang semakin memadati jalan "Baginda Kaisar masih sangat muda" gumamnya. "Cantik sekali, tunangannya pun sangat keren"
Tomy menatap Tuan mudanya yang baru saja bergumam disampingnya seraya matanya masih menatap Kaisar diatas sana "Anda bilang apa Tuan muda?"
Kaisan melirik Tomy dan ia hanya tersenyum "Kaisar dan tunangannya sudah selesai menyapa rakyat, ayo kita berjalan jalan Tom" ia mulai berjalan keluar dari kerumunan orang orang.
"Baiklah, pelan pelan saja Tuan muda"
"Iya iya hehe"
Kaisan dan Tomy terus berjalan melihat lihat kemeriahan dekorasi festival di sepanjang jalan, Bruuuukkkkk.. Kaisan terjatuh setelah seseorang menabraknya dengan kuat, Tomy segera menghampiri Kaisan dan membantunya berdiri, "Anda baik baik saja Tuan Muda?" Kaisan mengangguk, Tomy menatap seorang anak yang terlihat seumuran dengan Kaisan itu "Tuan muda, anda harus berhati hati saat berjalan dikeramaian, minta maaflah kepada Tuan muda saya"
Anak laki laki berrambut coklat itu hanya terdiam, wajahnya terlihat sangat marah menatap Kaisan dengan tajam, sedangkan Kaisan terus mengalihkan pandangan dari anak itu "Tomy ayo kita pergi saja" Kaisan menarik lengan baju Tomy.
"Tapi Tuan muda"
"Maafkan aku" ucap anak itu tiba tiba sehingga membuat langkah kaki Kaisan terhenti.
Anak itu berjalan ke hadapan Kaisan yang masih terlihat khawatir "Anda kenal dengannya Tuan muda?" ucap Tomy yang khawatir melihat reaksi Kaisan. Kaisan mengangguk, ia mulai mengepalkan tangannya.
"Kenapa kau minta maaf, apa yang kau harapkan dari permintaan maafmu itu?" ucap Kaisan dengan suara dingin.
"Aku minta maaf, dan tolonglah ayahku, ayahku dimasukkan ke dalam penjara bawah tanah istana hanya karena melakukan penyuapan untuk menutupi kesalahanku kepadamu"
Wajah Kaisan mulai mengernyit "Hanya ya" gumamnya "Sepertinya tak ada yang bisa kulakukan untuk anak yang menganggap kekerasan bukanlah apa apa" Kaisan beranjak pergi dari hadapannya namun anak itu menghadangnya.
"Tolonglah, apa kau tahu ibuku sakit keras karena kejadian ini dan aku dikeluarkan dari akademi, apa masih belum cukup buatmu?" ia terus saja memaksa.
__ADS_1
"Hahhh, aku tak peduli dengan urusanmu" Kaisan kembali berjalan mengabaikan anak itu.
Anak itu mulai mengernyitkan wajahnya, tangannya mengepal menatap Kaisan yang semakin menjauh, ia merasa tak terima lalu ia berlari menyusul Kaisan,Bruuukkkkk..ia menarik Kaisan lalu membantingnya ke tanah,setelah Kaisan terjatuh telentang anak itu duduk diatas tubuh Kaisan lalu memukul dan mencengkeram kerah bajunya.
"Hei hentikan, apa yang kau lakukan kepada Tuan muda" Tomy berusaha menyingkirkan anak itu namun tubuh tomy yang kurus berhasil didorong oleh anak itu.
"Sudah kubilang baik baik tapi kau masih tetap sombong, apa karena Kaisar berada dipihak keluargamu sampai kau mengacuhkan orang yang kesusahan?" ucapnya seraya terus memukul wajah Kaisan.
Tak ingin tinggal diam Kaisan membalas pukulannya, membalikkan tubuhnya diatas anak itu lalu memukulnya, selama ini ia tak pernah melawan meskipun sering diganggu olehnya, namun kini ia tak bisa lagi bersabar. Seketika orang orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan berhenti dan mengerumuni kedua pemuda yang sedang beradu kekuatan itu. "Sudah cukup hentikan Tuan muda" teriak Tomy yang masih berusaha melerai karena ia melihat semakin banyak orang berkumpul dan mereka menjadi pusat perhatian.
Tak lama lima orang pasukan ksatria yang berpatroli menghentikan dan melerai mereka berdua kemudian menyeret keduanya untuk dibawa ke istana ke ruangan interogasi penyelidikan kejahatan, keduanya berdiri berdampingan dengan kepala tertunduk wajah yang memar kebiruan dan penampilan yang acak acakan "Apa yang kalian lakukan, apa kalian sengaja ingin mengacaukan festival yang baru dibuka? Dasar anak anak muda tidak tahu diri" ucap seseorang ksatria yang menginterogasi keduanya. Keduanya tetap diam seraya melemparkan tatapan dengan sinis. "Kalian akan dihukum setelah Baginda Kaisar membuat keputusan, diam disini dan tunggu hukuman kalian berdua"
Seorang ksatria melaporkan situasinya kepada Rubia di ruang kerjanya, Rubia pun murka karena ia dengar bahwa dua orang pemuda bangsawan membuat keributan di awal pembukaan festival nya, Rubia segera keluar dari ruang kerjanya untuk menemui kedua pembuat onar di ruangan interogasi.
"Baginda Kaisar memasuki ruangan"
"Apa yang membawa anda kesini Baginda?" ucap seorang ksatria sembari menundukkan wajah.
"Aku sedang senggang lalu ingin melihat wajah kedua pembuat onar, bangsawan dari keluarga mana?"
"Yang satu dari keluarga Baron Zackari, satu lagi Count Stewart"
"Count Stewart? Apa kau Kaisan Stewart?"
"Benar Baginda, maafkan saya" ucap Kaisan ragu ragu.
Tak lama Ferderick tiba setelah dijemput oleh Tomy, ia masuk lalu ia sangat terkejut karena melihat Rubia yang sudah berada didalam sana.
"Baginda" ucapnya sembari menunduk.
__ADS_1
"Tuan Count, bagaimana ini adikmu membuat keributan di hari pertama pembukaan festival"
"Maafkan kami Baginda, saya akan mendidik adik saya dengan lebih keras, saya pastikan kejadian ini tak akan terulang kembali" ucap Ferderick menunduk.
"Apa masalahnya?" Rubia bertanya kepada ksatria yang menangkap keduanya dilokasi perkelahian, kemudian ksatria itu menjelaskan dari sudut pandang keduanya lalu beberapa saksi di tempat kejadian sampai akhirnya Rubia mendaparkan kesimpulan.
"Keduanya akan di skors selama sebulan dilarang menampakkan diri di tempat umum, lalu kau Putra Baron Zackari ayahmu harus menerima hukuman atas perbuatannya,kau harus menerimanya, jika aku menemukan kau memukul temanmu lagi maka kau akan menyusul ayahmu dan tak akan pernah kembali ke rumahmu lagi, apa kau mengerti?" anak itu mengangguk. "Kalian bisa pergi"
Rubia bangun dari duduknya,"Tuan Count temuilah aku di ruang kerjaku"
"Baik Baginda" kemudian Rubia keluar dari ruangan itu bersama dengan pengawal pribadinya.
Ferderick melirik ke anak itu "Jadi kau selama ini yang mengganggu adikku?" ucapnya dengan sorot mata tajam, kemudian anak itu segera melarikan diri.
"Maafkan aku kak" ucap Kaisan tertunduk.
"Sudahlah, kita bicarakan dirumah saja,Tom kembalilah bersama Kai sekarang juga, aku harus menemui Baginda"
"Baik Tuan Count" Ferderick keluar dari ruangan terlebih dahulu.
Kaisan dan Tomy pun berjalan keluar menuju tempat kereta kudanya berada "Tom, apa kakak akan mendapat masalah karena perbuatanku?"
"Jangan kawatir Tuan Muda"
.
.
Bersambung.
__ADS_1