Queen Sword

Queen Sword
Eps 14 Pengakuan Cinta Klise


__ADS_3

Ferderick sampai di markas Bayangan Hitam dan disana Stev dan Josep telah menunggunya dengan gusar, mereka segera menghampiri Ferderick yang baru saja membuka pintu.


"Syukurlah kau terlihat baik baik saja" ucap Stev.


"Apa kau telah berhasil membunuh Putri Mahkota?" tanya Joseph dengan ragu ragu.


"Apa yang kau kawatirkan, tentu saja Ferderick berhasil membunuhnya karena dia berhasil keluar dengan sehat" timpal Stev menduga duga karena Ferderick tak mengatakan apapun.


"Apa yang akan terjadi pada kita semua jika saya gagal membunuh Putri Mahkota?"


Kedua Pria itu diam sejenak setelah mendengar ucapan Ferderick.


"Apa sekarang Putri masih hidup?" tanya Joseph.


"Benar, leher saya hampir ditebas olehnya"


"Apa? Kau serius? Apa Putri Mahkota sekuat itu?"


"Itu karena saya yang tidak fokus, maafkan saya" Ferderick tertunduk lesu.


"Eyyy.. sudahlah jangan minta maaf,kau sudah berusaha keras, tapi bagaimana caranya kau bisa melarikan diri? Kau bilang Putri hampir menebas lehermu?"


"Beliau membiarkan saya pergi"


"Bagaimana bisa?" Joseph dan Stev tampak tak percaya Putri Mahkota membiarkan hidup seorang yang hendak membunuhnya.


"Ya, begitulah, jadi apa yang akan Duke Verano lakukan jika kita gagal?"


"Etahlah, sepertinya dia akan terus meminta kita menyerang Putri Mahkota, tapi karena kita sudah tidak akan mengambil pekerjaan pembunuh bayaran maka seharusnya itu akan baik baik saja kan?" ucap Stev dengan ragu ragu.


**************


Di kastel Duke, Duke Verano baru saja mendapatkan kabar dari mata matanya bahwa pembunuh bayaran yang seorang Sword master itu gagal membunuh keponakannya.


"Dasar kurang ajar, tidak berguna, benar benar payah, apa mereka benar benar mengirimkan seorang sword master?" ucap Duke dengan nada suara tinggi, sembari menggertakan giginya.

__ADS_1


"Benar Tuan, mereka benar benar mengirimnya tapi saya melihat dia keluar dengan tubuh yang bai baik saja dan Putri Mahkota pun terlihat tak terluka" jawab Pria berjubah hitam.


"Apa kau yakin?"


"Yakin Tuan"


"Baiklah, bocah itu ternyata sangat kuat, dia benar benar menghalangiku, ayo kita pikirkan cara yang lain untuk menyingkirkannya lain kali" Duke tersenyum licik.


"Apa yang terjadi Ayah?" ucap Jasson Verano sembari menghampiri Ayahnya dan duduk di hadapannya.


"Kau sudah pulang?"


"Ya Ayah, aku baru saja menghadiri pesta di kediaman Marques Johnston seperti yang ayah inginkan"


"Bagus Jasson, kau harus bisa mengambil hati Putrinya dan Marquees akan menjadi pendukung kita karena Pria tua itu memiliki koneksi dan kekayaan berlimpah yang akan mempermudah langkah kita merebut takhta raja"


"Aku paham Ayah"


"Dan, satu lagi tugasmu, dekatilah Rubia dan carilah kesempatan untuk mengajaknya keluar dari istana agar kita lebih mudah melenyapkannya"


"Ide bagus Jasson" Duke tersenyum sumringah dengan ide putranya.


.


Malam berikutnya..


Di aula utama istana raja yang luas dan dipenuhi oleh dekorasi indah, para bangsawan kelas tinggi dan bangsawan biasa telah memadati aula yang beralaskan karpet merah itu dengan memakai gaun gaun terbaik mereka,para bangsawan berkumpul sesuai dengan kelas sosialnyanya masing masing. diadakannya pesta istana seolah menjadi tempat ajang memamerkan kecantikan,kemewahan dan persaingan khususnya untuk para lady dari keluarga terhormat, karena semakin terkenalnya seorang lady dengan reputasi yang baik maka orang itu akan mendapatkan banyak keuntungan di pergaulan sosial, banyak pula yang beranggapan bahwa pesta Istana sebagai tempat untuk para gadis muda memilih jodoh yang sepadan dengan dirinya, maka dari itu semua orang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menghadari setiap pesta yang diadakan oleh Istana.


"Yang Mulia Raja dan Ratu memasuki aula pesta!" ucap lantang penjaga yang berjaga di depan aula pesta. Begitu terdengan suara itu suasana yang ramai seketika berubah hening, semua orang menunduk dan memberi penghormatan kepada kedua orang dengan kedudukan paling tinggi di kekaisaran.


"Angkat kepala kalian" ucap raja, kemudian Raja dan Ratu duduk di singgasananya.


"Yang Mulia Putri Rubia El Grosjean dan Sir Axel Harington memasuki Aula" ucapnya lagi, semua mata seketika tertuju pada pasangan yang menjadi tokoh utama dalam pesta kali ini. Para pria sungguh terpesona dengan kecantikan Tuan Putri yang pertama kali mereka lihat memakai gaun indah yang memperlihatkan bahunya. Sedangkan para lady berbisik bisik menatap Pria disamping tuan putri.


Axel Harington termasuk pria muda yang sangat populer dikekaisaran dia bahkan menjadi kriteria pasangan idaman para Lady di pergaulan kelas atas karena Axel yang memiliki wajah tampan, sifat yang baik dan ramah serta asal usul keluarga yang terhormat, sayangnya Axel sejak muda telah ditetapkan sebagai pasangan dari Putri Rubia.Sehingga tidak ada lady yang terang terangan mendekatinya, Rubia dan Axel Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang sangat serasi sampai tampak tak nyata.

__ADS_1


Setelah kedatangan sang tokoh utama pesta, Raja mengumumkan tentang perayaan kemenangan perang sekaligus melaksanakan pertunangan mereka berdua yang disaksikan oleh seluruh tamu undangan. Setelah prosesi pertunangan berlangsung lancar, pesta dansa pun dibuka dengan dansa Putri Rubia Dan Sir Axel Harington yang telah resmi bertunangan. Keduanya berdansa dengan sangat baik dan serasi sampai membuat iri banyak orang.


"Anda sangat cantik hari ini Yang Mulia, ini pertama kalinya saya melihat anda memakai gaun" ucap Axel disela sela tarian mereka.


"Terimakasih atas pujiannya Sir Axel, tapi aku tidak tersentuh" jawab Rubia dengan acuh.


"Yang Mulia ini hari yang bahagia, bisakah anda sedikit tersenyum?"


"Jangan banyak bicara Sir Axel, aku takut jika sepatu hak tinggiku menginjak kakimu"


"Saya tidak masalah Yang Mulia,ehemmm..Apa anda masih membenci saya?" Rubia hanya mengernyitkan matanya.


"Saya pikir kita sudah berbaikan, bahkan kita sudah berjabat tangan tempo hari,tolong jangan terlalu membenci saya Yang Mulia karena cepat atau lambat kita akan menikah"


"Menikah ya menikah saja, apa susahnya menjalankan pernikahan politik"


"Begitukah? Untunglah anda tak terlihat keberatan menikahi saya"


"Emm"


"Yang Mulia, bagaimanapun sikap anda kepada saya, setiap hari saya hanya semakin menyukai anda, bagaimana ini"


"Yah, mau bagaimana lagi"


"Pffftttttt hahaha...padahal anda baru saja mendapat pengakuan cinta tapi reaksi anda seakan mengatakan bahwa itu adalah hal yang sudah semestinya jika saya menyukai anda, mengapa anda berfikir seperti itu?"


"Tentu saja karena wajahku dan aku adalah penerus takhta, bukankah itu sudah jelas?"


"Maksud saya, saya hanya menyukai diri anda, saya mencintai anda Yang Mulia terlepas dari semua yang anda miliki, telah sangat lama saya menyukai anda"


"Cinta ya? Apa yang bisa dibanggakan dari sebuah kata cinta?" gumam Rubia.


Setelah alunan musik berganti, mereka saling memberi hormat sebagai tanda menyudahi dansa mereka, lalu para Lady mulai berdansa dengan pasangannya masing masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2