Queen Sword

Queen Sword
Eps 20 Hubungan Politik


__ADS_3

Rubia berjalan dengan cepat ke istananya, ia melihat Axel yang duduk disana seorang diri dari kejauhan, hanya ditemani oleh secangkir teh yang telah mendingin.Rubia menoleh ke arah Fiona dan Fiona menatapnya.


"Beristirahatlah Dame Fiona"


"Baik Yang Mulia, saya undur diri"


Rubia berjalan mendekat menghampiri Axel, pria itu terlihat sedang mengganti perbannya sendiri karena darah yang keluar belum juga berhenti.


"Apa yang sedang kau lakukan?" ucap Rubia begitu menghampirinya.


"Ahhh, Yang Mulia..saya sedang mengganti perban" jawabnya dengan tersenyum.


"Bukan itu maksudku"


"Lalu?"


"Apa tidak ada pelayan yang mau membantumu mengganti perban sampai kau melakukannya sendiri meskipun sulit" Rubia berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Itu karena saya tidak ingin merepotkan pelayan anda Yang Mulia"


"Ya, terserah kau saja, aku akan membantumu"


"Benarkah? Itu sungguh suatu kehormatan untuk saya" Axel tersenyum dan wajahnya memerah.


Rubia melilitkan perban di lengannya dengan perlahan, sementara Axel terus menatap wajahnya yang bisa ia lihat dari dekat.


"Jangan menatapku seperti itu" ucap Rubia tanpa melihat ke arahnya.


"Anda bahkan tidak melihat saya, bagaimana bisa anda mengetahui bahwa saya menatap anda?"


"Yah, pokoknya aku tahu saja, dan terimakasih karena kau sudah menggantikanku terluka"


Axel tersenyum haru karena pertama kalinya Rubia berterimakasih padanya dan bersikap lembut kepadanya.


"Dan, jangan pernah melakukan hal seperti itu lagi!" ucapnya dengan tegas, ia bangun dan duduk dihadapannya setelah selesai mengikat perban.


"Maaf, tapi sepertinya saya tidak bisa melakukan itu?"


"Apah?Kau membantahku dengan terang terangan begitu?" mata Rubia membelalak.


"Saya akan tetap melakukan hal yang sama saat anda berada dalam bahaya"


"Terserah kau saja deh, aku tak mau berdebat denganmu sekarang"


Lagi lagi Axel tersenyum "Jadi, siapa swordmaster itu Yang Mulia? Ada hubungan apa anda dengan orang itu?" wajahnya berubah mengeras ketika topik pembicaraan mereka berubah.


"Apa kau sepenasaran itu sampai menunggu disini?"


"Ya" dia sama sekali tidak mengelak.


"Bukankah aku sudah mengatakan bahwa dia orang yang belum lama kutemui?"

__ADS_1


"Jadi mengapa orang itu tiba tiba muncul dari dalam kereta kuda anda?" Rubia kaget, rupanya Axel melihat Ferderick keluar dari sana, ia harus lebih hati hati.


"Mengapa aku harus menjelaskan tentang itu kepadamu?"Raut wajah Rubia berubah tegang.


Axel telah menilai reaksi dari Rubia, di hadapan kaisar dan dihadapannya reaksi Rubia berubah menjadi lebih sensitif ketika membicarakan orang itu, dan itu mengganjal perasaan Axel.


"Lupakan jika anda tak ingin memberitahu saya, saya hanya ingin tahu apakah orang itu tak berbahaya untuk berada tetap disisi anda karena anda bilang dia adalah orang anda"


"Aku bisa menilai sendiri Sir Harington, kau tak perlu ikut campur"


Axel terdiam mendengar jawaban Rubia yang seakan akan mengatakan bahwa dirinya bukanlah apa apa baginya,


"Baiklah, selamat beristirahat Yang Mulia, saya undur diri" Axel bangun dan pergi dengan raut wajah suram.


Bagaimanapun Rubia tetap merasa tidak nyaman ketika menerima perhatian berlebihan dari orang lain, karena ia biasa melakukan apapun sendirian.Dan itu membuat Axel salah paham, tapi Rubia hanya menganggap hubungannya dengan Axel hanyalah sekedar hubungan politik, ia merasa risih dengan sikap Axel yang terlalu menunjukkan perasaan kepadanya dihubungan politik mereka.


******************


Sementara Ferderick tengah berada disituasi yang sulit, ia berada ditengah tengah Stev,ilona,Joseph serta Kaisan, mereka menatapnya dengan tatapan tajam sedangkan Ferderick hanya tertunduk tak berdaya, itu karena saat mereka sedang berada diruangan yang sama siang tadi tiba tiba saja Ferderick pergi kebelakang setelah cincinnya bersinar dan dia tak kembali setelah itu, begitu Ferderick kembali semua orang segera menyeretnya untuk diinterogasi.


"Hei kalian, berhentilah menatapku seperti seorang kriminal" ucap Ferderick kesal.


"Katakan apa yang Kakak sembunyikan dari kami" ucap Kaisan tegas.


"Bukan sesuatu yang penting, kalian tak perlu kawatir"


"Siapa yang bilang kami kawatir, kami hanya curiga padamu Kak" jawab lagi kaisan dan yang lain mengangguk dengan setuju.


"Apahhhhh????" orang orang serentak kaget dengan jawaban tak terduga dari Ferderick.


"Yah, pokoknya begitu, karena kejadian waktu itu Yang Mulia mempekerjakanku"


"Putri Mahkota? Jadi tugas berbhaya itu adalah membunuh Putri Mahkota kerajaan ini??" Kaisan sangat terkejut begitu menyadari situasinya, karena diantara orang yang berada disana hanya ia sendiri yang baru tahu.


"Kamu pasti kaget kan Kai, maafkan kami" ucap Stev dengan raut wajah yang merasa bersalah.


"Ahh.. sudahlah karena itu sudah lewat, untuk apa anda meminta maaf" ucap Kaisan pasrah.


"Jadi kau bisa keluar hidup hidup karena membuat kesepakatan dengan Putri Mahkota?" Tanya Joseph.


"Benar, dan cincin ini adalah pengikatnya, aku akan langsung berteleportasi jika Putri menginginkannya"


Wajah ketiga orang dihadapannya berubah menjadi kasian dan merasa bersalah.


"Aku tidak menyangka putri mahkota mengikatmu dengan barang sihir kuno" ujar Joseph.


"Mengapa anda mengira ini barang sihir kuno?"


"Karena itu terlihat antik dan kusam"


"Benarkah?" orang orang memperhatikan cincin itu.

__ADS_1


"Jadi itu tak bisa dilepaskan kak?"


"Tidak bisa, putri bilang aku harus memotong jariku jika ingin melepaskan ikatan ini"


"Putri mengatakan hal yang mengerikan sekali" gumam Kaisan.


"Kau jangan terlalu percaya dengan keluarga kerajaan, mereka hanya akan menggunakan kekuatanmu untuk kepentingan mereka sendiri, mereka akan membuangmu saat tak lagi membutuhkanmu" ucap Joseph.


"Saya mengerti"


"Karena sudah terlanjur, kau harus waspada" ucap ilona.


"Saya mengerti nyonya"


"Jadi karena itu beberapa hari ini kau sering tiba tiba menghilang?"


"Benar"


"Apa Putri Mahkota memperlakukan kakak seperti budak?"


"Tidak seperti itu Kai, aku juga akan menerima imbalan setelah Tuan Putri naik takhta"


"Benarkah?"


"Ya"


"Sampai kapan kau berniat menyembunyikannya dari kami?" ucap Stev kesal.


"Saya hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya"


"Maafkan kami, karena kami kau menjadi terlibat dengan orang orang istana" ucap sesal Joseph.


"Sudahlah, tidak ada yang perlu disesalkan, seperti yang kubilang saya pun akan mendapatkan imbalan yang sangat besar"


"Imbalan apa itu?" tanya ilona penasaran.


"Putri menjanjikan kebangkitan keluarga Count Steward beserta wilayahnya"


"Benarkah?" kaisan terkejut.


"Ya, sepertinya Putri orang yang cukup dipercaya"


"Ada apa ini, tak biasanya kau memuji seseorang tanpa diminta?" ilona menatapnya dengan curiga.


"Bukan apa apa, kenapa juga aku mengatakannya yah" gumam Ferderick yang malah membuat semua orang semakin curiga.


"Apa Tuan Putri secantik rumornya?" tanya Stev,


"Ya" jawab Ferderik tanpa keraguan hingga membuatnya tersenyum sipu.


"Hei kenapa kalian berekspresi seperti itu, apa yang ada dipikiran kalian tidak benar, saya hanya akan menjawab iya jika iya dan tidak jika tidak" ucapnya lagi dengan wajah yang malu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2