
Lima bulan kemudian.
Druduuuuukkkkk...Tiba tiba para monster menyerang barak pertahanan para ksatria,mereka telah berhasil menembus perisai perlindungan yang dibuat oleh para penyihir, semakin bertambahnya hari kekuatan monster semakin ganas dan pergerakannya lebih hati hati, mereka menyerang tanpa aba aba sama sekali membuat para penyihir dan ksatria yang baru saja beristirahat menjadi sangat kewalahan, mereka segera mengangkat pedang tanpa memakai pakaian pelindung karena situasi benar benar sangat terdesak.
Kuuurrrrrrr...suara monster semakin keras dan terasa mendengung ditelinga hingga para penduduk yang berada di wilayah utara merasa gemetar ketakutan sampai menganggu aktifitas keseharian mereka.
Berkat aba aba dari Axel yang memimpin pertarungan, para ksatria berlari kewilayah tandus yang luas agar kerusakan barak tak semakin parah meskipun kelihatannya sudah tak tertolong lagi, Arggghhhh.. beberapa orang menjerit kesakitan karena terkena serangan monster ganas, Axel sangat kewalahan dan panik, begitu juga dengan para penyihir yang sedang kelelahan karena dalam satu hari ini segerombolan demi segerombolan telah menyerang beberapa kali.
Meskipun dalam kondisi terdesak,kelelahan dan tanpa mengenakan pakaian pelindung yang terbaut dari baja akhirnya monster berhasil dimusnahkan karena kemampuan para ksatria yang terus meningkat dari hari kehari, meskipun saat ini masih semakin banyak orang orang yang terluka,tak terkecuali Axel, ia sibuk melindungi para penyihir yang kewalahan karena monster semakin mengetahui insting untuk menyerbu lawan yang paling berbahaya terlebih dahulu,monster terus mengepung dan semakin menyudutkan para penyihir,hingga Axel lalai dan mengabaikan keselamatannya sendiri, kini Axel mengalami cedera yang cukup serius di bagian punggungnya hingga ia kesulitan berjalan.
Beberapa ksatria menopang Axel berjalan kembali ke barak yang telah hancur lebur, pekerjaan mereka bertambah, mau tidak mau mereka harus bekerja dan membangun ulang barak untuk tempat mereka beristirahat.
Raut wajah ksatria begitu pilu dan lesu, beberapa orang diantara mereka ingin mengakhiri pekerjaan berat yang telah berlangsung cukup lama itu, mereka pikir mereka telah benar benar lelah dan telah mencapai batasnya,bertarung dengan monster lebih melelahkan dari pada bertahun tahun hidup dimedan perang, melihat Ketua mereka yang telah terbaring sakit karena monster membuat mental mereka menurun sejadi jadinya, mereka telah lelah dan putus asa, mereka ingin hidup sebagai rakyat biasa yang hidup tenang tanpa harus melawan monster terus menerus.Pikiran pikiran seperti itu terus membelenggu para ksatria.
"Hei kalian bangunlah kita harus cepat mendirikan barak dan beristirahat sebelum langit menjadi gelap" ucap salah satu ksatria senior kepada beberapa orang yang sedang duduk lesu dipinggiran perapian.
"Bisakah kami beristirahat terlebih dahulu Tuan??" keluh seorang ksatria yang disambut setuju oleh rekan lain disampingnya.
Orang itu menunjuk para ksatria yang telah mulai mendirikan tenda "Kau tidak lihat orang orang yang sedang bekerja? apa pantas kau mengeluh disituasi ini?" tiba tiba emosinya meledak.
"Apa seharusnya kami terluka dan membiarkan monster mencabik tubuh kita saja supaya kita bisa diizinkan beristirahat?" ucap ksatria lainnya dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Kau yaa, apa maumu? apa kalian pikir orang orang yang sekarang ini sedang bekerja tidak lelah? kalian pikir hanya kalian yang berjuang dan kelelahan??" bentak ksatria senior, pada akhirnya kedua orang itu saling berdiri berhadapan dengan sengit.
Mendengar keributan yang terjadi orang orang berkumpul dan beberapa memisahkan mereka yang nyaris beradu tinju, Axel mendengar keributan itu di tenda pengobatan, ia duduk terdiam dan berfikir, alangkah lebih baik jika Putri Rubia berada disini saat ini, Axel merasa tak becus mengatur para bawahannya sehingga ia sampai mendengar keributan seperti itu, ia yang sedang terluka hanya bisa berdiam diri seraya pendeta penyembuh memperban lukanya, menurutnya lebih terasa sakit ketika para ksatria saling bertengkar dan menyalahkan daripada luka ditubuhnya saat ini.
Seorang penyihir datang menghampiri para ksatria yang berkumpul sembari sedang beradu argumen itu, ia melihat bahwa situasi saat ini benar benar kacau, dari para monster yang semakin ganas sampai membuat semua orang putus asa dan saling menyalahkan sampai ketua pasukan yang menderita cidera terkena serangan monster karena melindungi para penyihir yang dikepung oleh monster, situasi yang mudah membuat semua orang frustasi, wajar mereka seperti itu karena mereka hanyalah seorang manusia biasa yang hanya diberikan kekuatan yang lebih kuat dari pada orang lain.
.
Tak terasa sudah hampir dua bulan musim telah berganti, udara semakin hangat dan bunga bunga telah bermekaran,di dalam hutan yang tak jauh dari istana Ferderick tengah melihat Rubia yang sedang fokus melatih ilmu sihirnya, kini Rubia telah mampu mengeluarkan kekuatan sihir dan mampu menggunakannya untuk menghancur batu batu besar menjadi kepingan yang berhamburan, perkembangan yang cukup pesat karena setiap hari Rubia tak pernah melewatkan pelatihannya,sering kali ia melupakan makan dan minum bahkan waktu tidurnya terus berkurang dari hari ke hari, seolah ia sedang dikejar oleh sesuatu yang sangat berbahaya.
Tiba tiba Tuan Penyihir Agung muncul dihadapan mereka dengan berteleportasi, Tuan Vallan sempat menyaksikan sesi sesi latihan Rubia yang semakin berkembang, kini tiada hari tanpa senyuman diwajah Vallan ketika melihat sesi latihan Rubia, ia merasa bangga sebagau Gurunya,saking terpananya sampai ia melupakan sesuatu yang membuatnya datang ke tempat latihan itu.
"Putri Rubia, sudah cukup latihannya,kita harus pergi ke suatu tempat, ini sangat mendesak" ucapnya dengan tergesa gesa.
"Mendesak apa mengapa anda baru mengatakannya sekarang Pak tua?" jawab Ferderick ketus.Ferderick masih tetap merasa kesal padanya yang terlalu keras dalam mendidik Rubia.
Vallan melirik ke arah Ferderick dengan tatapan yang tak kalah sinis "Diam kau bocah, kau juga harus ikut"
"Apa yang terjadi Guru?" Rubia mendekat.
"Situasi di utara semakin kacau, monster berubah menjadi sangat ganas dan mampu menembus pertahanan perisai penyihir di barak, dan juga Tuan Axel Harington mengalami cedera yang cukup serius karena melindungi penyihir yang kekuatannya menjadi pusat kemarahan monster"
__ADS_1
Mata Rubia dan Ferderick membelalak, Ferderick yang berada sedikit jauh pun mendekat "Saya akan segera kesana, saya akan berlatih membuat perisai di sela sela pertempuran" ucap tegas Rubia.
"Benar, kita harus kesana sebelum situasi semakin sulit ditangani" sahut Ferderick.
"Saya pun akan ikut dan mengantarkan kalian agar lebih cepat kita akan berteleportasi" ucap Vallan dengan wajah yang serius.
"Terimakasih banyak Guru"
"Yah, itu bukan apa apa" ucapnya yang sedikit malu.Padahal ia memiliki maksud lain.
"Mari kita kembali ke istana terlebih dahulu untuk menyiapkan barang yang sekiranya akan berguna" ucap Rubia kepada Ferderick, Ferderick mengangguk.
"Jika sudah selesai bergegaslah ke kastel penyihir" ujar Vallan.
"Baik Guru"
.
.
Bersambung.
__ADS_1