
Saat matahari mulai tenggelam segerombolan monster yang jumlahnya semakin banyak kembali menyerbu untuk mencari mangsa. Tang tang tang tradakkkkk aarrggggg, terdengar suara riuh antara suara monster yang mengamuk dan juga suara para ksatria yang telah mencapai batasnya.
Sementara orang orang bertempur Axel hanya bisa duduk terdiam tanpa melakukan apa apa, sebagai ketua pasukan hal itu membuatnya malu kepada para bawahannya.
Saat keadaan peperangan semakin genting dan serbuan monster yang tiada habisnya itu melemahkan pertahanan para ksatria dan penyihir tiba tiba tiga orang datang dan segera mengerahkan pedang dan kekuatannya.
Berkat mereka bertiga dalam waktu singkat tiba tiba saja para ksatria dan penyihir yang sedang bertempur memiliki semangat kembali, secercah harapan muncul ditengah keputus asaan.
Kemampuan berpedang Ferderick yang tak perlu diragukan lagi, kemampuan Penyihir agung yang kekuatannya begitu menggelegar,dalam satu gerakan tangan saja ia bisa langsung menghancurkan hingga segerombolan monster, sedangkan kekuatan sihir Rubia yang telah meningkat pesat itu tak kalah memukau, banyak yang tak menyangka jika Rubia memiliki kekuatan sihir yang luar biasa, peperangan pun berlangsung dengan singkat meskipun beberapa gerombolan monster terus menyusul seolah tengah menguji kekuatan para manusia.
Mereka semua kembali ke barak dengan raut wajah yang lebih hidup,kemunculan bantuan yang luar biasa dan tak disangka sangka itu begitu membuat efek yang sangat positif di pikiran para ksatria, suasana kembali hidup.
"Kalian sudah berusaha keras selama ini, maafkan aku yang datang terlambat, karena sepertinya monster telah terus berdatangan hari ini aku yakin malam ini kalian bisa istirahat dengan tenang" ucap Rubia sesampainya mereka tiba di barak.
"Baik" ucap tegas serentak para ksatria.
Rubia melihat para penyihir yang sedang memperhatikannya dari belakang seraya berbincang bincang dengan Penyihir Agung,ia mendekat "Kalian juga sudah bekerja keras, beristirahatlah nona penyihir"
"Baik Yang Mulia" jawabnya serentak.
Kemudian Rubia mendekati Vallan yang sedang melihat sekeliling barak dengan seksama "Ada apa Guru?"
"Karena aku sudah merasa cukup dengan tujuanku Aku akan pergi setelah memasangkan perisai agar monster tak bisa mendekat ke sekitar sini"
"Terimakasih banyak Guru, tapi apa maksud tujuan itu?"
"Hehehe, kau tak perlu tahu"
"Ya, baiklah"
Kemudian Rubia dan Ferderick mengikuti Vallan, mereka menyaksikan secara langsung bagaimana dia membuat perisai pertahanan di sekitar barak.Dalam sekejap ia telah menyelesaikan pekerjaannya, "memang ada alasan mengapa pak tua itu di panggil Penyihir Agung" gumam Ferderick di belakang Rubia.Rubia yang mendengar gumaman Ferderick hanya tersenyum tipis, ada kalanya Ferderick sangat membenci Vallan dan ada pula kalanya ia begitu mengagumi kekuatannya.
Ketiga penyihir kembali menghampiri setelah merasakan energi Gurunya yang telah memasang perisai pertahanan ditempat itu.
"Seharusnya itu tugas kami Guru, maafkan kami yang masih payah ini" ujar salah satu penyihir dengan menundukkan wajahnya malu.Mereka bertiga memperlihatkan ekspresi yang sama.
"Energi para monster disini sangat gelap, kalian sudah berusaha keras, aku akan kembali sekarang"
"Baik Guru, berhati hatilah"
Vallan mengangguk dan segera menghilang dari hadapan mereka.
Salah satu penyihir menghampiri Rubia "Yang Mulia, anda telah menguasai kekuatan sihirnya dengan sangat baik, anda begitu luar biasa"pujinya yang disambut setuju oleh rekannya yang lain.
"Terimakasih pujiannya, saya masih terus belajar menciptakan segel, mohon bantuannya Nona nona penyihir"
"Baik Yang Mulia, anda bisa bertanya dengan kami jika ada yang anda ingin ketahui"
__ADS_1
"Baik, kalian bisa istirahat"
"Baik Yang Mulia"
Rubia berjalan ke tenda pengobatan dan Ferderick mengikutinya, disana ia melihat Axel yang sedang duduk menyender seraya memejamkan mata,ia bertelanjang dada namun bagian punggung dan perutnya dipenuhi oleh perban, sepertinya lukanya membuatnya kesulitan berbaring, itu sebabnya ia tidur dengan terduduk.
Axel menyadari pergerakan seseorang yang mendekat padanya, ia membuka matanya, terlihat Rubia yang sedang berdiri dihadapannya seraya memperhatikan dirinya.
Axel tersenyum dan menggeser duduknya semakin mendekati Rubia "Yang Mulia, apa ini mimpi?" pria itu mengulurkan kedua tangannya menggenggam kedua tangan Rubia,menekan nekan tangannya yang tak lembut seperti kebanyakan wanita bangsawan, ia sedang memastikan situasinya.
"Kau bisa berhenti karena kau sedang tidak bermimpi!"celetuk Rubia.
"Benarkah? Ahh benar anda nyata" ia memeluk tubuh Rubia dan menyandarkan kepala di perutnya "saya sangat merindukan anda Yang Mulia, maaf karena saya menunjukkan sisi saya yang lemah seperti ini" dari suaranya yang bergetar ia terlihat sedih, pasti sangat berat menjadi dirinya di situasi ini.
Rubia mengangkat tangannya, mengelus rambut berwarna perak yang lembut itu dengan perlahan, itu adalah bentuk penghiburan dari Rubia kepada tunangan yang mencintai dirinya sekaligus seseorang yang sedang terluka karena menganggap dirinya gagal "Kau sudah berusaha sebaik mungkin, aku bangga padamu" ucap Rubia lirih.
"Benarkah anda berfikir seperti itu?"
"Tentu"
"Saya bilang saya merindukan anda, apa anda merindukan saya?"
Rubia terdiam sejenak "Aku--"
Axel memotong "Jangan dijawab"
"Saya takut kecewa dan menyia nyiakan momen ini" Rubia tak bisa lagi berkata kata.
Ferderick lantas berbalik badan melihat pemandangan yang terasa menyesakkan dadanya itu, kemudian ia keluar dari tenda dan duduk di depan perapian seorang diri.
Ia bertanya tanya kepada dirinya sendiri, mengapa perasaannya sesak, mengapa ia tak tahan melihat kedekatan Rubia dengan tunangannya yang seharusnya itu memang seharusnya, dan hal hal semacam itu, ia tak mengerti dengan dirinya sendiri yang semakin lama tak bisa mengendalikan diri dan perasaannya yang seolah telah melewati garis batas.
.
"Kau bisa melepaskanku?"tanya Rubia.
"Tidak mau"
"Kau mau dimarahi?"
"Mau"
Rubia berdecak karena Axel bersikap tak biasa kepadanya.
"Apa lukamu cukup parah?"
Axel mulai melepaskan pelukannya dan meminta Rubia duduk di sampingnya "Tidak separah itu, apa anda datang kesini karena mendengar saya yang terluka? Apa anda menghawatirkan saya?"
__ADS_1
"Yah, berfikirlah sesukamu"
"Baiklah" ia tersenyum. "Bagaimana dengan perkembangan kekuatan sihir anda? Apa jantung anda masih sakit?"
"Tidak, tubuhku sudah beradaptasi sepenuhnya"
"Syukurlah, apa sebentar lagi kita bisa meninggalkan wilayah utara?"
"Maaf tapi sepertinya itu masih butuh waktu, aku masih berusaha membuat segel, aku akan berusaha secepatnya"
"Bukan masalah Yang Mulia, apa anda akan meninggalkan wilayah ini lagi?"
"Tidak, aku akan tetap disini sampai bisa menyelesaikan tugasku"
Axel tersenyum lagi "Baguslah"
"Ini sudah larut malam, kau beristirahatlah" rubia bangkit dari duduknya.
"Baik, tidak bisakah anda tetap disini?"
"Aku akan kembali besok pagi"
"Yah, mau bagaimana lagi" wajahnya pasrah melihat Rubia keluar dari tenda.
Rubia berjalan keluar dari barak, Ferderick yang melihatnya lantas mengikuti "Yang Mulia, anda mau kemana?"
Rubia menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang"Aku akan keluar sana dan berlatih membuat segel"
"Anda bisa melakukannya besok"
"Tidak Fer, lebih cepat lebih baik bukan"
"Baiklah, saya akan mengikuti anda"
"Kau bisa beristirahat"
"Tidak" Ferderick bersikeras mengikuti Rubia.
"Yasudah lakukan sesukamu"
"Baik"
.
.
Bersambung.
__ADS_1