
Ferderick meraih handle pintu rumahnya, ia mendorongnya dengan hati hati dan pintupun terbuka tanpa suara, setelah pintu terbuka ia berjalan masuk namun tiba tiba wajah Tomy muncul dibalik pintu, Ferderick sangat kaget sampai langkahnya berhenti secara otomatis, apa yang terjadi dengan situasi ini? Mengapa ia merasa seolah terpergok mencuri dirumahnya sendiri?
"Selamat pagi Tom" Ferderick mengangkat satu tangannya lalu tersenyum paksa. Tomy hanya diam saja seraya menatapnya dengan penuh kecurigaan "Kau pasti sudah sibuk, lanjutkanlah pekerjaanmu, kenapa rasanya panas sekali padahal ini masih sangat pagi" ucapnya sembari kakinya terus berjalan, sesekali ia menoleh kebelakangnya, Tomy mengikutinya sampai ia berada di depan kamarnya.
Ia berbalik badan "Haahhhh.. baiklah, kau masih sama saja seperti dulu, silahkan mulai interogasinya"
Tomy tersenyum "Apa yang anda lakukan semalam sampai tak kembali?"
"Aku memiliki urusan mendesak"
"Apa itu tentang Baginda Kaisar?"
Ferderick mengangguk "Firasatmu masih tajam ya"
"Jujurlah Tuan, apa hubungan anda dengan Baginda Kaisar muda itu? Apa diantara kalian berdua memiliki hubungan spesial?"
"Tidak ada"
"Jadi mengapa anda selalu menemuinya sampai semalaman?"
"Aku adalah abdi setianya, bukankah itu masuk akal"
"Apa seseorang memaksa anda melakukan itu?"
"Tidak, aku melakukannya atas keinginanku sendiri"
"Baiklah, berarti kesimpulannya anda menyukai Baginda Kaisar, anda menganggap Beliau adalah seorang gadis?"
"Apa kau bilang? Mana mana mungkin aku berani melakukan itu, ahhh waktu interogasimu sudah habis, dilarang membahas tentang masalah ini lagi" Brakkk..Ferderick segera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya rapat rapat.
Ia terhenti dan bersandar di daun pintu, wajah dan telinganya memerah "Apa benar aku menganggap Baginda Kaisar seperti seorang gadis?" ia meraba dadanya, jantungnya terasa berdebar debar dan merasa panas dibagian wajah. ia mulai mengibas ngibaskan telapak tangannya "Ahhh panas sekali, aku harus mandi dengan air dingin" gumamnya seraya berjalan ke kamar mandi.
.
***
Tiga hari kemudian.
Sinar matahari mulai menyorot ke wajah Rubia yang masih memejamkan mata setelah Lydia membuka tirai dan jendela untuk pertukaran udara agar Rubia yang masih tertidur panjang merasa sedikit lebih nyaman, setelah Lydia menyelesaikan pekerjaannya dia keluar dari ruangan.
__ADS_1
Perlahan Rubia membuka matanya, sinar matahari yang menyilaukan membuat matanya mengernyit, ia mengangkat tangannya menutupi matanya yang silau. Setelah beberapa saat ia duduk membuka selimut tebal yang menempel di tubuhnya, tubuhnya terasa berat dan kaku,berapa lama ia tertidur?
Rubia melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, belum beranjak bangun Lydia muncul membuka pintu kamarnya dengan membawa air dalam wadah untuk mengelap tubuh Rubia,"Baginda" Lydia segera berjalan dengan cepat lalu menaruh wadah air diatas meja, ia mendekat ke hadapan Rubia lalu bersandar di pangkuan Rubia.
"Baginda, apa anda sudah baik baik saja?" mata Lydia berkaca kaca.
"Aku baik baik saja, maaf menghawatirkanmu, aku tidur berapa lama?" tangannya menepuk nepuk punggung Lydia pelan.
"Sudah satu minggu Baginda" ia bangun.
"Untunglah tak terlalu lama"
"Bagi saya anda sudah tidur lama sekali" ucapnya seraya terisak.
"Jangan menangis Lydia, aku benar benar baik baik saja, tubuhku hanya terasa sangat kaku, aku ingin berlatih pedang ditempat latihan ksatria"
"Bukankah anda tak perlu terburu buru Baginda? Anda masih sakit, tolong jangan memaksakan diri"
"Aku baik baik saja jadi bantu aku mengganti pakaianku"
"Anda memang keras kepala dan tak bisa dilarang, saya akan membantu anda berganti pakaian setelah anda memakan bubur" Rubia mengangguk pasrah menuruti keinginannya.
.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamarnya, ia melihat orang orang yang menunduk karena kedatangannya, dua orang penyihir yang berjaga disana bersama dua orang penjaga dan satu orang pengawal pribadi Rubia, yaitu Dame Tarina Hilis, wanita berusia dua puluh lima tahun dengan rambut merah sebahu dengan bola mata berwarna hijau, tubuhnya tinggi semampai melebihi tinggi badan Rubia.
"Nona Merge dan Nona Maria, terimakasih atas kerja keras kalian, kalian pasti lelah, saya sudah baik baik saja, kalian kembalilah dan beristirahat"
"Syukurlah jika anda sudah baik baik saja Baginda,kalau begitu kami permisi" mereka pergi setelah memberi hormat, Rubia pun mengangguk.
Rubia menoleh ke wajah Pengawal pribadinya yang masih menunduk, ia baru melihatnya setelah Tarina mulai bekerja enam hari yang lalu "Dame Tarina, mohon bantuannya"
"Baik Baginda"
"Kau harus menjadi lawan berlatihku hari ini"
"Baik Baginda"
Kemudian Rubia mulai berjalan dengan langkah cepat, Tarina yang memiliki kaki jenjang mudah mengikuti langkahnya.Awalnya Tarina merasa sedikit ngeri menjadi pengawalnya setelah mendengar rumor yang menyebar beberapa hari ini, namun kesan pertamanya kepada Rubia saat ini sangat baik, ia yakin bahwa rumor itu sungguh tak berdasar.
__ADS_1
Tarina dan Rubia mulai berhadapan, mereka mengarahkan pedang kepada satu sama lain "Baginda apa ini semacam tes pertama kelayakan seorang pengawal pribadi?"
"Tidak tuh, aku hanya butuh peregangan ringan agar tubuhku tidak kaku setelah tidur terlalu lama"
"Ahh, jadi begitu, saya mengerti, anda pasti sudah tahu meskipun belum pernah melawan saya, kekuatan saya tak ada apa apanya dibanding Baginda yang serang ksatria sekaligus penyihir kelas tinggi"
"Kau tidak boleh merendahkan dirimu sendiri, orang lain akan meremehkanmu jika kau saja meremehkan dirimu sendiri"
Tarina tersenyum tipis, seolah olah ia baru saja dinasehati oleh orang yang berusia jauh lebih tua dari dirinya. Trang trang trang.. Rubia menyerang terlebih dahulu, lalu Tarina menepis dan menahan serangannya dengan cukup baik, Rubia tersenyum tipis, kemampuannya ternyata melebihi ekspektasinya, selanjutnya gerakan mereka semakin berkembang dan terus berlanjut hingga keduanya berkeringat.
Tak lama Axel beserta pasukan ksatria datang ke tempat latihan, mereka berbaris melihat duel yang cukup seimbang antara Rubia dan Tarina, Axel tersenyum melihat akhirnya ia bisa kembali melihat Rubia yang penuh semangat. Rubia menghentikan duelnya setelah menyadari orang orang telah berkumpul di belakangnya.
"Kau hebat Dame Tarina, kau pasti giat berlatih"
"Terimakasih atas pujiannya Baginda" ia tetap merasa senang meskipun Rubia tak benar benar serius menyerangnya, seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa Rubia hanya ingin melakukan peregangan tubuh dan ia mengerti bahwa Rubia tak berbohong.
Axel mendekatinya dari belakang "Salam Baginda Kaisar"
Rubia berbalik badan "Iya, kau disini? Ah, ini saatnya kalian latihan? Berlatihlah jangan perdulikanku"
"Kalian mulailah berlatih seperti biasa" ucap Axel kepada pasukan ksatria.Para ksatria pun segera bergerak sesuai posisinya masing masing.
"Bagaimana keadaan anda?" ia mengikuti Rubia yang berjalan ke pinggir lapangan.
"Aku baik baik saja, maaf sudah menghawatirkanmu"
Axel tersenyum "Tidak apa apa Baginda, anda sudah baikkan maka saya sudah cukup merasa lega"
"Ya"
"Baginda" Panggil Irena yang tergesa gesa berlari mencari Rubia ketika mendengar ia telah bangun, Rubia menoleh ke arah Irena. Rubia melihat Irena yang dipenuhi keringat setelah tiba dihadapannya. "Hosh hosh"
"Apa ada hal mendesak sampai kau berlari lari seperti itu?"
"Anda bercanda kan Baginda?" wajahnya hampir saja menangis.
.
.
__ADS_1
Bersambung.