
"Hai Fer, hari ini aku datang lebih awal,apa kau senang? bagaimana keadaanmu hari ini? apa kau tahu hari ini aku merasa sangat tak nyaman berada di istanaku sendiri, aku memutuskan menuruti keinginan Pangeran Altez yang ingin tinggal disampingku untuk membuatku goyah katanya, hah... siapa sangka orang seperti itu bersikap sangat konyol, tapi sekarang aku menyesal menuruti keinginannya, orang itu sangat mengganggu, rasanya aku kesulitan menjaga jarak, Fer, bagaimana ini? Kau tak bangun bangun, apa kau tak kawatir aku akan benar benar dibuat goyah olehnya? Dia adalah perayu handal, benar benar meresahkan"
Setelah selesai mengatakan hal hal yang ingin dikatakannya Rubia termenung menatap wajah Ferderick sembari tangannya terus menggenggam tangan Ferderick, Rubia hanya melakukan hal itu selama dua jam.
Tiba tiba seseorang membuka pintu kamar Ferderick, Kaisan muncul dari sana "Baginda, anda disini? Salam Baginda"
"Iya, apa sudah waktunya kau mengobatinya??"
"Benar Baginda, saya permisi sebentar"
"Ya, lakukan senyamanmu saja"
"Sudah selesai, Baginda saya dengar akhir akhir ini anda menerima banyak sekali surat lamaran pernikahan dari negara negara tetangga yang melakukan kerjasama dengan kekaisaran?"
"Apa begitu kabar yang beredar?"
"Benar Baginda, tidak ada orang yang tak mendengarnya di kekaisaran ini"
"Benarkah?Tentu saja itu karena sekarang aku sudah melewati batas usia menikah"
"Apa anda akan tetap menunggu Kakakku?"
Rubia kembali menatap wajah Ferderick "Tentu saja aku harus melakukan itu kan?Jika suatu saat Ferderick akhirnya bangun dan ternyata aku sudah memiliki serang suami dan anak pasti Ferderick akan sangat kecewa padaku"
"Tentu saja itu benar Baginda,tapi saya yakin Kakak akan segera mengerti posisi anda, anda boleh memilih pasangan anda sesuai keinginan dan kebutuhan anda, saya takut kekaisaran tak akan memiliki penerus karena anda tak akan menikah jika Kakak saya tak bangun lagi"
"Bagaimana ya, yang kuinginkan dan kubutuhkan hanyalah Ferderick,aku sudah memutuskan sejak Ferderick merelakan nyawanya untukku, aku akan terus menunggunya, entah itu setahun dua tahun bahkan sepuluh atau malah lima puluh tahun, aku akan mengurus semuanya agar kau tak perlu menghawatirkan masa depan kekaisaran"
"Anda tahu maksud saya bukan itu kan?"
"Ya, aku mengerti Kai aku hanya minta kau terus berusaha mengobatinya saja itu sudah cukup"
"Baiklah Baginda, tanpa anda minta pun saya akan terus melakukan itu"
"Sekarang kau sudah sangat dewasa ya, kapan kau akan menikah?"
Seketika wajah Kaisan memerah "Aapa tiba tiba?Menikah?"
__ADS_1
"Jangan malu malu aku tahu hubunganmu dengan Nona Katie"
"Apa yang anda tahu?" ucapnya dengan wajah malu malu.
"Tidak banyak, hanya saja aku tahu kalian saling menyukai satu sama lain, dia berasal dari keluarga terhormat, banyak sekali pria yang menginginkannya, kau harus bergegas agar tidak ada satu pria pun yang mendahuluimu, kau mengerti maksudku kan? Aku mengatakan ini untuk mewakili Kakakmu, pasti kakakmu akan berkata seperti itu, kau tak ada niat menunggu kakakmu bangun baru akan melamarnya kan?"
"Saya mengerti Baginda,saya tak ada niatan seperti itu meskipun saya memang pernah memikirkan ke arah itu"
"Baguslah, aku lega mendengarnya"
"kalau begitu saya permisi dulu Baginda"
"Ya" Rubia tersenyum melihatnya yang masih sangat polos padahal usianya sudah dewasa.
Rubia kembali duduk, ia memegang tangannya, perlahan lahan ia memejamkan matanya dengan menyenderkan kepalanya di samping Ferderick. Setelah beberapa saat ia merasakan sebuah sentuhan, sentuhan hangat tangan yang membelai rambutnya dengan lembut, Rubia membuka matanya, ia kaget karena ia tertidur di samping Ferderick, kemudian ia berfikir, siapa yang membelai rambutnya terus menerus? Ferderick?
Rubia segera membuka matanya lebar lebar kemudian memperbaiki posisi duduknya, ia tak menyangka melihat Ferderick yang sudah membuka matanya dengan wajah yang tersenyum, "Fer..akhirnyaaa.." gumamnya lirih seraya matanya berkaca kaca.
Ferderick pun bangun, ia duduk lalu memeluk Rubia dengan erat "Baginda, maafkan saya, anda pasti sangat menderita karena saya"
"Saya juga sangat merindukan anda Baginda, saya sedang berusaha tolong tunggu sebentar lagi"
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus menunggumu? Kau kan sudah bangun"
Ferderick menatap Rubia lekat lekat "Baginda..."
"Kau bicara apa Fer?Aku tak bisa mendengarmu,Fer"
"Baginda,Baginda"
Seketika Rubia terbangun dari mimpinya, ia segera melihat ke arah Ferderick, Ferderick masih memejamkan matanya, rupanya yang barusan itu benar benar hanya mimpi, ia menoleh ke sampingnya tangan yang sedang menggoyang goyangkan tubuhnya untuk membangunkannya, Rubia menatap tajam ke arah Kaisan yang membangunkannya.
"Anda baik baik saja Baginda? Saya kawatir karena anda beerbicara sambil tidur"
"Kau menggangguku, padahal aku sedang bertemu dengan Ferderick di dalam mimpi"
"Benarkah? Maafkan saya Baginda"
__ADS_1
"Yasudahlah, ahh aku sudah ketiduran berapa lama? Ini jam berapa?"
"Jam sebelas malam Baginda"
"Aku harus kembali sekarang Kai, kau juga beristirahatlah"
"Baik Baginda"
.
Rubia duduk termenung di dalam kamarnya, tadi malam ia bermimpi bertemu dengan Ferderick, setelah sampai di kamarnya ia berusaha tidur kembali agar bermimpi dengannya lagi tapi Ferderick tak muncul lagi, setelah itu Rubia merasa lebih merindukannya dari biasanya.
Kemudian ia segera menyadarkan dirinya, ia merasa harus berlatih pedang agar pikirannya kembali fokus dan lebih segar, Rubia pun bangun kemudian ia mengambil pedangnya, ia keluar dan menuju ke tempat latihan, disana ia melihat para ksatria sedang bersorak melihat duel antara Pangeran Altez dan Sir Zachary, tang tang tang keduanya terlihat imbang, tapi pergerakan Pangeran Altez semakin lama semakin gesit hingga membuat zhacary kewalahan meski dia masih mampu mengimbanginya, dia cukup ahli dalam ilmu pedang rupanya.
Ketika Rubia mendekat Semua orang memberi hormat kemudian kedua orang yang sedang bertanding pun berhenti, Sir Zhacary menghampiri Rubia dengan cepat.
"Baginda, apa anda mau berlatih dengan saya sekarang?" ucapnya dengan semangat meskipun keringatnya sudah bercucuran.
"Baginda, bagaimana jika dengan saya?Saya lebih hebat dari dia" ucap Pangeran Altez dengan wajah tersenyumnya itu sembari menunjuk wajah Zhacary. Zhacary pun menatap sinis kepada pria yang memiliki kepercayaan diri tinggi itu.
"Mengapa anda mengatakan hal seperti itu? Padahal sampai akhir pertarungan tadiĀ kita masih imbang, bagaimana bisa anda mengatakan bahwa anda lebih hebat dari saya?" Protesnya yang tak terima dengan ucapan Altez.
"Baiklah, bagaimana jika kita bertanding sekali lagi?" tantang Altez yang disambut sorot mata membara oleh Zhacary.
"Ide bagus Pangeran, siapapun yang menang maka dialah orang yang akan menjadi lawan Baginda Kaisar"
"Setuju" sahut Altez. Keduanya saling menatap dengan sengit seakan itu adalah pertandingan yang menentukan antara hidup dan mati.
"Baiklah, lakukan sesuai seperti keinginan kalian, tidak ada yang boleh sampai membuat lawannya mengeluarkan darah, apa kalian mengerti?"
"Mengerti Baginda" Ucap keduanya dengan serentak.
.
.
Bersambung.
__ADS_1