
Tengah malam yang gelap Duke Verano bersama ajudannya keluar dari kediamannya, ia menunggangi kuda hitam yang terlihat gagah, langkah kaki kuda semakin cepat, terus berlari lalu berhenti di sebuah hutan terpencil di wilayah kekuasaan Duke.
Pria itu turun dari kudanya, lalu berjalan kaki masuk semakin dalam ke ujung hutan dengan berbekal sebuah lampu gantung yang dipegang oleh ajudannya, kemudian ia menemukan sebuah tebing yang mengarah ke bawah, ia turun melewati bebatuan yang curam lalu berhenti di depan sebuah gua besar yang tampak seperti hanya batu besar dari bagian luar.
Matanya menengok ke kanan dan kiri sebelum akhirnya masuk ke dalam gua itu. Setelah masuk ia disambut oleh barisan orang orang yang mirip dengan tentara yang sangat banyak, lebih dari seratus orang, orang orang itu terlihat sangat patuh kepada Duke.
Berbeda dengan penampilan luar gua yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau merambat dan rumput liar, bagian dalam gua itu terlihat layak huni, seperti sebuah rumah yang sengaja dibangun untuk menyembunyikan sesuatu dari dunia luar.
Setelah berbincang bincang dengan seseorang yang menjadi tangan kanannya di tempat itu,Duke bergegas melangkah keluar dari gua tersebut, ia keluar setelah ajudannya memeriksa keadaan disekitarnya.
Setelah sampai di kediamannya rupanya Putranya baru saja kembali dari luar dengan keadaan terhuyung karena mabuk mabukan.
"Ayah, darimana anda dengan penampilan seperti itu?" ucapnya dengan mata yang tak fokus melihat ujung kepala sampai kaki penampilan Duke yang mengenakan jubah hitam.
"Kau pergilah tidur, jangan mabuk mabukan, kau bahkan belum memasuki usia dewasa"
"Mengapa ayah tak menjawabku? Apa ada yang ayah rahasiakan dariku? Apa ayah tahu aku terlihat sangat bodoh karena kau tak pernah melibatkanku dalam urusan di kediaman, orang orang selalu saja mengejekku"
"Vernand, bawalah anak itu kekamarnya"
"Baik Tuan Duke"
"Ayo Tuan muda"
"Tidak mau, aku masih ingin mendengar jawaban ayah" ia memberontak namun tubuhnya yang terhuyung tak berdaya.
Vernand adalah ajudan setia Duke Verano, bahkan ia biasa dijadikan mata mata di istana, terakhir ia menjadi pengawal pribadi Kaisar Ailen, namun karena pada akhirnya Rubia naik takhta dan melakukan perombakan besar para pekerja di istana, Vernand dipecat dan akhirnya kembali ke kediaman Duke Verano.
.
Rubia berdiri diam menghadap ke arah langit, menatap bulan sabit di balkon samping kamarnya, malam yang sunyi hanya terdengar suara serangga yang menemani, akhir akhir ini ia kesulitan memejamkan mata karena gejala kutukan yang semakin hari semakin menggerogotinya.
Perasaannya terasa hampa, ia merasakan kesepian yang dalam, ia menatap cincin di jari tangannya, debu menempel disana membuatnya mengusap cincin itu untuk membersihkan.
Sampai bebera saat berlalu, Rubia masih berada diposisinya, tiba tiba seseorang muncul dengan menaiki kudanya menatap ke arah dirinya, pandangan mereka bertemu, dia adalah Ferderick.
"Apa yang membawanya datang selarut ini?" gumam Rubia.
__ADS_1
Ferderick naik ke balkon menghampiri Rubia "Baginda" tak lupa ia memberi salam.
"Ya, kenapa kau datang selarut ini? Apa ada sesuatu yang mendesak?"
Ferderick tertegun "Bukannya anda memanggil saya?"
"Aku?" ia menunjuk dirinya sendiri, Ferderick mengangguk. "Kenapa aku memanggilmu?"
"Jadi anda tak memanggil saya? Saya pikir saat cincin saya menyala anda memanggil saya, apa sekarang tidak begitu?"
Rubia mulai mengerti"Ahhh, aku mengusapnya karena tadi ada debu yang menempel, maafkan aku"
"Ahh, haruskah saya kembali saja?"
"Kalau kau tak sibuk bisakah kau tinggal sebentar disini?"
"Tentu jika anda menginginkan" ia menyembunyikan senyumannya.
Mereka berdiri berdampingan menatap hal yang sama, angin semilir membuat rambut rubia berkibar, tanpa sadar Ferderick menjadi memperhatikannya.
Ferderick masuk ke kamar Rubia kemudian ia keluar dengan membawa selimut, ia memakaikannya di pundak Rubia, membungkus tubuhnya rapat "Apa anda selalu tak menjaga kesehatan anda Baginda?"
"Apa anda kesulitan tidur?"
"Tidak, aku hanya sedang tak mengantuk karena sudah terlalu banyak tidur"
"Ahh jadi begitu" padahal Ferderick bisa melihat mata panda di wajahnya dengan jelas.
"Bagaimana pekerjaanmu, semua lancar?"
"Ya"
Rubia mulai menguap, kelihatannya sekarang dia sangat mengantuk karena setelah itu mereka tak mengobrol, perlahan mata Rubia tertutup, Ferderick telah mendekatkan dirinya membuat Rubia bersandar di bahunya, semakin lama tubuhnya semakin bertumpu padanya, Ferderick mengulurkan tangannya memegangi tubuh Rubia, kemudian ia menggendongnya masuk kedalam kamar.
Rubia kembali membuka mata, ia menemukan dirinya berada di gendongan Ferderick, ia benar benar malu karena tanpa sadar ia bertingkah seperti itu di hadapan Ferderick.
Ferderick menurunkannya di tempat tidur secara perlahan, kemudian ia melihat mata Rubia yang telah terbuka "Ahh, maaf Baginda saya pasti membangunkan anda kan"
__ADS_1
Rubia masih mengalihkan pandangannya "Tidak, aku yang minta maaf karena merepotkanmu, tapi bisakah kau mundur dulu" posisi wajah mereka benar benar dekat.
Ferderick langsung menarik dirinya "Maaf Baginda, apa sekarang anda mau tidur? Saya akan kembali" ia bangun namun Rubia menarik tangannya, membuatnya terduduk kembali.
"Aku ingin kau tetap disisiku"
"Apa ada yang sedang mengganggu pikiran anda Baginda?"
"Ya, aku barusaja dari kuil, lalu saintes memberitahukan sebuah ramalan masa depan, dia bilang suatu saat aku akan sangat menderita sampai rasanya tak ingin hidup, kenapa aku begitu?"
Ferderick tertegun "Jangan dipikirkan Baginda, ramalan belum tentu benar, lalu anda hanya perlu menghindari hal hal yang akan membuat anda kesulitan di masa depan"
"Yang membuatku kesulitan?" Ferderick mengangguk "Sepertinya aku akan kesulitan saat kau meninggalkanku, benar pasti itu"
Ferderick merasa tertohok "Apa anda serius Baginda?"
"Aku yakin tidak ada hal lain yang membuatku kesulitan selain itu, jadi berjanjilah kau tak akan meninggalkanku"
"Maafkan saya Baginda, tapi apa hubungan kita sebenarnya bagi anda? Mengapa anda mengatakan hal yang bisa membuat salah paham" nada suaranya menjadi dingin.
Rubia terdiam sejenak berfikir, benar apa yang dikatakannya, mengapa dirinya bersikap seperti itu?
"Apa kau tersinggung atau merasa terbebani?"
Ferderick bangun "Tolong jangan begini Baginda, saya hanyalah bawahan anda, saat waktunya tiba pun saya harus meninggalkan anda dan menikahi seseorang"
Nyut..rasanya jantungnya dipukul dengan benda tajam, menyadarkannya akan kenyataan. "Maafkan aku, anggap aku tak mengatakan apapun, kau bisa pergi, kembalikanlah cincinku karena sepertinya kau tak membutuhkannya lagi" Rubia melepas cincin dijarinya, lalu Ferderick melepasnya tanpa ragu dan menyerahkannya kepada Rubia.
"Saya permisi" ucapnya kemudian ia pergi melewati balkon.
"Benar, aku tak bisa mengikat seseorang yang telah menemukan tujuan hidupnya sendiri, tapi mengapa rasanya sangat sesak" Ia memukul mukul dadanya sendiri namun tiba tiba ia menjadi marah "Sialan, apa harus berbicara dengan nada sedingin itu?"
Buukk bukkk bukkk Rubia memukul mukul bantalnya sendiri melampiaskan kekesalannya.
Sementara setelah Ferderick sampai di kamarnya ia mulai merenung, ia harus melakukan ini meskipun tak ingin agar ramalan itu tak menjadi kenyataan.Ramalan yang akan menggoyahkan niatnya..
.
__ADS_1
.
Bersambung.