Queen Sword

Queen Sword
Eps 70 Cemburu


__ADS_3

Axel berlari kembali menuju aula istana setelah menyelesaikan pekerjannya, ketika ia baru saja memasuki pintu aula langkahnya terhenti melihat Rubia didalam pelukan Ferderick, ia mengulurkan tangannya setelah melihat tubuh Rubia yang terhuyung dan terjatuh namun tangan Ferderick segera menopangnya, sesuatu yang tak seharusnya ia lihat, ia menarik kembali tangannya yang telah mengepal, ia sadar bahwa tidak ada yang bisa ia lakukan di situasi yang menimpa Rubia meskipun dia adalah calon pasangannya, dengan wajah masam ia berbalik badan dan kembali keluar lalu menjauh dari jangkauan mereka berdua.


.


Perlahan Rubia membuka matanya, ia melihat wajah Ferderick dengan samar "Fer, apa aku membunuh seseorang?" ucapnya lirih.


Ferderick menggeleng "Tidak, anda sudah melakukan yang terbaik"


"Syukurlah, jadi mengapa wajahmu sangat sedih?" ia mengulurkan tangannya menyentuh wajah Ferderick.


Ia menggeleng lagi "Anda salah lihat, sekarang saya sangat bangga kepada anda"


"Benarkah? Syukurlah.." Rubia kembali menutup matanya dan menjatuhkan tangannya.


Ferderick sangat khawatir, ia terus menggoyang goyangkan tubuh Rubia, namun Rubia tak kunjung membuka matanya "Baginda, bangunlah.. tolong sadarlah Baginda" Ferderick segera menggendongnya dan membawanya ke kediaman Kaisar.


.


Axel tertunduk lesu duduk menyendiri di taman istana, ia merenungi dan menyalahkan dirinya sendiri karena tak mampu dan tak berdaya melakukan tugasnya sebagai pasangan Kaisar, ia merasa pilu karena dalam situasi ini ia malah iri dengan Ferderick yang sangat bisa membantu Rubia di situasinya, ia merasa amat buruk karena terganggu dengan seseorang yang bisa menolong tunangannya.Ia memukul mukul kepalanya dengan tangannya sendiri karena membenci dirinya yang seperti itu.


Tiba tiba seseorang memegang tangannya, wajahnya yang tertunduk melihat sepatu wanita yang berdiri di hadapannya, ia mendongakkan wajahnya menatap wajah seseorang "Apa yang anda lakukan Nona Amelie?" ia segera menepis tangannya.


"Justru saya yang seharusnya bertanya mengapa anda terlihat sangat kacau dan memukuli kepala anda sendiri? Anda terlihat seperti orang bodoh" Celetuknya sehingga membuat wajah Axel mengernyit.


"Terserahlah, makilah saya lagi, keluarkan semua kata kata umpatan yang anda kuasai kepada saya"


"Aishh dasar bodoh dasar manusia tak bip, dasar orang bip, bip bip bip bip " ia menghela nafas panjang setelah mengucapkan banyak kata umpatan kepada pria di depannya "Apa anda puas? Duh hausnya" ia menelan ludahnya.


"Haahhh, benar benar sudah gila, Pfftttt" ia tertawa pelan dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Amelie melirik ke wajahnya yang ditutupi "Baguslah, akhirnya anda tertawa, tak sia sia tenggorokanku kering rupanya"


"Siapa? Siapa yang tertawa? Aku?" ia menunjuk wajahnya sendiri.

__ADS_1


"Ck ck" Amelie berdecak melihat wajah Axel yang mengelak.


Amelie duduk di samping Axel, kemudian Axel segera menggeser duduknya menjauhi Amelie "Anda mau apa?" Axel menatapnya waspada.


"Cih, saya hanya lelah biarkan saya duduk tempat duduk lain masih jauh"


"Apa sekarang anda meminta persetujuan atau memerintah saya?"


"Sudah cukup jika anda tak ingin ribut, mari beristirahat dengan tenang"


"Lakukan saja sesuai keinginan anda, hahhh...ngomong ngomong apa yang anda lakukan disini?"


"Saya dengar dari Ayah saya yang menghadiri acara di aula istana tadi siang telah terjadi keribuatan dan keadaan Baginda Kaisar tidak baik, jadi saya berniat menjenguk beliau tapi para penjaga menghalangi siapapun masuk ke istananya, bahkan ada dua orang penyihir yang terlihat menakutkan berjaga di depan kamar Baginda"


"Itu berarti anda sudah berusaha menerobos pintu masuk?"


Amelie meringis seraya mengangguk "Apa yang salah jika seseorang menghawatirkan sahabatnya?"


Axel menggeleng tak percaya "Dasar!! Apa para penjaga akan peduli dengan sahabat Kaisar yang ceroboh seperti anda? Untunglah setidaknya mereka mengenal anda sebagai seorang Putri Marquees Johnston jika tidak anda pasti sudah kehilangan kepala"


"Entahlah, sepertinya memang begitu Haahhhhhh..mengesalkan sekali, anda terus saja melihat saya yang sedang kacau seperti ini" ia menghela nafas panjang lalu bergumam.


"Apa anda sedang Frustasi? Penampilan anda terlihat kacau, dimana kesan tampan, ramah dan baik hati seperti kata orang orang?" Amelie menatap Axel lekat lekat kesana dan kesini seolah mencari sesuatu.


Axel menatap wajah Amelie yang sedang fokus menilai penampilannya "Jangan menatap seorang pria seperti itu! Itu tindakan yang tidak sesuai dengan tatakrama seoraang Lady Bangsawan!" Axel bangun dari duduknya.


"Kenapa? Apa anda jadi salah tingkah?" Amelie meringis meledeknya.


"Dasar gadis aneh!" ucapnya sebelum ia pergi meninggalkannya. Namun setelah menjauh beberapa langkah Axel berbalik badan dan kembali menghampiri Amelie.


"Ada apa lagi?" ucap Amelie acuh.


"Sudah hampir gelap, sebaiknya anda kembali ke kediaman anda, saya akan mengantarkan anda sampai ke kereta kuda anda"

__ADS_1


"Kenapa? Apa anda menghawatirkan nona cantik ini?" Amelie menatapnya seraya meringis meledeknya.


Ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain "Anda akan dicurigai oleh penjaga jika berkeliaran sendirian disituasi istana yang sedang genting, saya takut dimarahi oleh Baginda Kaisar jika membiarkan temannya berada dalam bahaya, itu jika anda tak menolak"


Amelie bangun "Baiklah, terimakasih tunangannya Baginda Kaisar"


Mereka berjalan keluar dari taman, cahaya matahari mulai meredup, senja telah menghilang, suasana hening mengiringi langkah keduanya, namun tiba tiba langkah keduanya terhenti karena mendengar suara bisikan seseorang yang mengganggu.


Segerombolan pelayan sedang berkumpul di sekitar taman, mereka membicarakan kejadian dan rumor yang telah menyebar karena kejadian tadi siang di aula istana, mereka membicarakan Rubia yang berubah menjadi iblis dan hendak menghunuskan pedang kepada sembarang orang yang berada di tempat itu, semakin di dengarkan mereka semakin menebar fitnah kepada Kaisar.


Amelie segera berlari ke arah para pelayan yang mengenakan seragam hitam putih, "Hei, nona mau kemana?" bisik Axel yang melihat Amelie pergi dengan terburu buru.


Amelie langsung menjambak rambut seorang pelayan yang telah menyebarkan rumor tentang Kaisar "Dasar pelayan tak tahu diri, bisa bisanya kalian membicarakan Kaisar kalian sendiri, mana buktinya Kaisar menjadi iblis?? hahh!"


"Hahh, Lady Johnston" ucap beberapa pelayan lain yang terkejut dengan kemunculannya yang tiba tiba, lalu kerumunan pelayan segera menghindar meninggalkan satu pelayan di tangan Amelie sendirian.


"Tolong lepaskan saya Nona, saya minta maaf" pelayan itu kesakitan dan memohon ampun.


"Siapa namamu?Katakan siapa namamu!" Amelie tak memperdulikan kesakitan pelayan itu.


"Lady, apa apaan ini, lepaskan dia, anda bisa menyelesaikannya baik baik seperti orang terdidik"  ucap Axel yang baru saja menyusulnya dan mencoba melerainya. Ia pun melepaskan pelayan itu, lalu pelayan itu kabur sementara Amelie berdebat dengan Axel.


"Lihat pelayan itu kabur kan, anda siihh! Apa anda tidak merasa kesal mendengar tunangan anda di jelek jelekkan seperti itu? Berani beraninya pelayan rendahan seperti itu mengatakan hal kotor di lingkungan istana!!" teriaknya yang semakin kesal.


"Bukannya tak kesal, tapi semuanya tak harus diselesaikan dengan kekerasan kan?"


"Ahhh, tau lah.. saya kesal sampai ingin mencakar wajah anda, jadi jangan ikuti saya, orang tak terdidik ini akan enyah!!" ucapnya dengan mata yang membelalak sebelum pergi dengan langkah kaki yang cepat, Axel pun hanya terdiam melihatnya yang semakin menjauh.


"Hahhhhhh, bagaimana bisa sifatnya sangat sembarangan.." gumamnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2