
Rubia masuk ke ruangan kerja Kaisar setelah penjaga memberitahukan kedatangannya, setelah Rubia membuka pintu ia melihat Kaisar yang telah memasang wajah masam sekaligus bengis dihadapan putrinya sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan Rubia? Bukankah kau seharusnya di dalam istanamu merenung dan menginstrospeksi kesalahanmu? Apa kau meremehkan perintahku? Kau meremehkan perintah Kaisar kekaisaran ini?" ocehnya begitu melihat wajah putrinya setelah beberapa hari.
"Maafkan saya Yang Mulia, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda" jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
"Kau tak memiliki banyak waktu, katakan!" Kaisar terlihat telah sangat muak melihat wajah Rubia dan merasa tak sabar untuk mengusir dari hadapannya.
"Yang Mulia, saya dengar anda menurunkan perintah kepada Putri Tuan Marquess untuk bertunangan dengan Jasson Verano?"
Sorot mata Kaisar kian menajam seolah ingin memangsa Putrinya karena telah mencoba ikut campur dengan urusannya. "Katakan apa yang kau inginkan sebelum kesabaranku habis" ucapnya dengan suara yang teramat dingin.
"Tolong tarik kembali keputusan anda Yang Mulia, karena lady Johnston sama sekali tak menginginkan perjodohan itu, bukankah pernikahan mereka tak memberikan keuntungan apa apa untuk anda dan kekaisaran ini? Saya harap anda tak menekan rakyat yang lemah dengan memanfaatkan kekuasaan yang anda miliki" ucapnya dengan cepat.
Karena terus menunduk tahu tahu Kaisar telah berada tepat dihadapannya,semakin Rubia mengeluarkan kata kata semakin bertambah pula kemurkaannya, ketika Rubia mendongakkan kepala ia telah melihat pedang runcing telah berada didepan matanya, sorot mata dan raut wajahnya benar benar ekspresi seseorang yang ingin menghabisi orang yang berada di hadapannya.
Rubia bangun dari duduknya, kembali menatap mata Kaisar tanpa sedikitpun rasa takut.Ia telah bersiap jika memang Ayahnya sendiri ingin mengambil nyawanya dengan pedang ditangan yang telah diarahkan kepadanya itu.Hatinya terasa perih karena teringat ucapan Amelie yang mengatakan bahwa seorang ayah akan mendengarkan putrinya, Rubia tahu itu hanyalah sebuah omongan dari seorang gadis yang tumbuh dengan kasih sayang berlimpah dari orang tuanya,namun karena rasa penasaran dan ingin membuktikan tentang kebenaran dari ucapan Amelie akhirnya ia mengujinya sendiri, namun kini ia mengerti dan semakin yakin bahwa tak semua ayah didunia ini sama seperti ayahnya, kadang ada juga seorang ayah yang ingin sekali mencabik putrinya, seperti yang sedang dilihatnya saat ini.
"Berani beraninya kau!" kini pedang itu telah sampai di leher Rubia dan menggores kulitnya,darahnya telah menetes membasahi kerah bajunya yang berwarna putih. Darah Kaisar seakan semakin mendidih melihat tatapanannya yang tak gentar itu, "atas dasar apa kau beraninya mengguruiku?"
__ADS_1
"Saya mohon maaf jika anda tersinggung,tapi tolong pikirkan kembali ucapan saya barusan Yang Mulia"
Kaisar menurunkan pedangnya, Kaisar mulai terlihat kesakitan, ia menjatuhkan pedangnya dan tubuhnya sedikit terhuyung, tangannya memegangi kepalanya, entah apa yang terjadi tapi Kaisar terlihat sangat kesakitan,araubia hanya melihatnya dan tak ingin mengulurkan tangannya sama sekali, tak lama pengawalnya datang setelah Kaisar terkulai dilantai, pengawal pribadinya itu memapah Kaisar keluar dari ruang kerja meninggalkan Rubia yang masih berdiri diam di posisinya.Entah apa yang akan dipikirkan oleh pengawal itu kepada Rubia, Rubia tak memedulikannya.
Ferderick kaget dengan situasi yang baru saja ia saksikan, ia melihat Kaisar yang terlihat sangat lemah keluar dari ruangan, matanya menelusuri ke dalam ruangan, ia melihat Rubia yang tengah termangu seorang diri disana, Ferderick menghampirinya "Yang Mulia Putri" panggilnya lirih dari kejauhan.
Sebelum menoleh kebelakang tangannya menyapu matanya yang terasa pedih itu, kemudian rubia menghampiri Ferderick yang berdiri di depan pintu, mata Ferderick terperanjat melihat leher Rubia yang terkena sayatan pedang dan wajah Rubia yang lebih pucat dari sebelum masuk kedalam ruangan kerja raja.Meskipun begitu tak ada yang bisa dilakukan olehnya, ia hanya bisa mengikuti Rubia yang berjalan dengan cepat dalam diam.
Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Rubia terhenti didepan pintu "Istirahatlah lebih awal Fer" ucapnya lirih sembari pandangannya tetap lurus ke arah pintu.
"Saya akan berjaga disini Yang Mulia, panggil saja jika anda membutuhkan saya" jawabnya kekeh.
Ferderick pun akhirnya pergi karena ia pikir kehadirannya disana pun tak akan mampu mengobati luka dalam hati Rubia, malah sebaliknya Rubia akan malu karena telah menunjukkan sisi lemah dirinya yang tak ingin diketahui oleh orang lain.
Ferderick kembali ke kamarnya, tangannya terhenti ketika hampir memegang gagang pintu berwarna coklat itu "Hei, bagaimana rasanya menjadi pengawal Putri Mahkota yang cantik itu? sampai mana kau bisa melihat tubuhnya?Kudengar kau sering masuk kekamarnya" bisik seorang ksatria yang baru saja keluar dari kamar yang terletak didepan kamar Ferderick.
Ferderick berbalik badan dan tangannya seketika telah mencengkeram kerah kemeja putih pria itu "Apa yang kau katakan dengan mulut kotormu itu?" jawab Ferderick dengan tatapan bengus dan wajah kesalnya.
"Hei, santailah sesama pria apa tidak bisa saling terbuka?" ucapnya lagi yang masih terus berceloteh tak bisa menyadari situasinya sendiri.
__ADS_1
Ferderick merasa tak tahan lagi, ia mulai mengayunkan kepalan tangannya untuk memukul wajah pria itu, kemudian ia membantingnya ke lantai, "Jaga ucapanmu kepada Yang Mulia, aku benar benar akan membunuhmu jika kau berkata kotor lagi tentang Yang Mulia Putri!"
"Hahhh.. apa kau sudah menjadi simpanan Putri Mahkota sekarang? Yaa..sepertinya rumor kau masuk dengan koneksi Putri demi tujuan lain memang benar" pria itu menyeringai sembari bangkit dan seketika membalas memukul wajah Ferderick.
Buk buk buk, akhirnya mereka saling memukul,tak ada satupun yang mau mengalah, tak lama beberapa ksatria lain yang sedang berada didalam kamar keluar karena menyadari suara berisik di luar ruangan adalah perkelahian.
Saat beberapa orang keluar dari kamar mereka melihat dua orang yang sedang berkelahi, wajah dan penampilan mereka berdua telah babak belur dan berantakan, bahkan Ferderick telah menodongkan pedangnya di hadapan wajah lawannya yang telah terkulai di lantai.
"Hei, berhenti! Apa yang sedang kalian lakukan" ucap beberapa ksatria lain yang baru saja keluar dari kamarnya masing masing,mereka berlari menghampiri kedua orang yang sedang beradu tinju.
Kedua orang itu terus saling mendorong hingga orang orang itu kesulitan memisahkan mereka,satu orang yang berusaha meleraipun akhirnya jatuh terpental.
Sampai pada akhirnya Axel datang karena mendapatkan laporan dari salah satu ksatrianya, tak lama ia berhasil melerai kedua orang itu dan axel menyeret mereka berdua ke pusat latihan militer istana.
.
.
Bersambung.
__ADS_1