
Rubia membuka matanya yang terasa amat berat itu perlahan, ia menemukan Ferderick yang sedang tertidur di sampingnya seraya duduk di kursi dengan tangan yang menggenggam erat telapak tangannya. Ia mengusap perlahan rambut Ferderick untuk membangunkannya.
"Baginda, syukurlah anda sudah bangun" ucapnya setelah mengusap matanya beberapa kali.
"Iya, kau bisa kembali dan tidur di kamarmu" Rubia bangun dan terduduk.
"Apa anda baik baik saja?"
"Tentu saja"
"Baginda"
"Apa?"
Ferderick berdiri "Tolong pertimbangkan nasip kekaisaran, anda harus disembuhkan secepat mungkin"
Rubia mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terlihat langit malam gelap "Bukankah aku sudah bilang kalau aku tak mau dengar dan membahas masalah ini? Apa kau sekarang sedang menentangku?"
"Saya berjanji saya tidak akan mati Baginda, bisakah anda mempercayai saya untuk sekali ini saja?"ia sangat bersikeras mengabaikan ucapan Rubia untuk menyampaikan apa yang ia ingin katakan.
Rubia kembali menoleh ke arah Ferderick "Apa yang membuatmu seyakin itu? Apa kau tak bisa sedikitpun membayangkan bagaimana jika kau mati setelah melepas kutukanku? Bukankah aku akan merasa ingin menyusulmu juga? Apa kau meremehkan ucapanku? Apa kau pikir aku melakukan ini tanpa alasan? Katakan! Apa kau pikir nyawamu hanya hal remeh buatku? Bagaimana aku bisa terus hidup setelah merenggut nyawa orangku sendiri? Kau tak tahu betapa berharganya dirimu bagiku!" teriaknya dengan mata membelalak dan berkaca kaca.
Ferderick terdiam, entah apa yang baru saja didengar olehnya tapi baginya kata kata Rubia itu adalah sebuah pengakuan, pengakuan bahwa dirinya begitu amat berharga di matanya, bolehkah ia merasa senang dalam situasi saat ini? Tolong sadarilah posisimu Ferderick, tiba tiba ia kembali tersadar setelah sedikit bermimpi. Tapi tetap saja dilubuk hati terdalamnya ingin memastikan sesuatu "Apa saya sangat berharga bagi anda?"
"Tentu saja, apa kau tak menyadarinya selama ini?" wajahnya menjadi sangat kesal.
Ferderick tersenyum tipis "Ahh, tolong jangan membuat saya berharap lebih Baginda"
"Kenapa? Apa kau tak mau sedikit lebih serakah?"
Tiba tiba Ferderick tertegun "Apa maksud anda?"
__ADS_1
"Bodoh, lupakan dan pergilah!"
"Ahh?" Ferderick semakin bingung dengan apa yang harus ia lakukan, haruskah ia memastikan sekali lagi atau ia menuruti perintahnya dan pergi dari sana. "Apa saya boleh sedikit lebih serakah Baginda?"
"Kenapa tidak?"
Ferderick mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Rubia "Apa anda tak akan menyesal? Saat diberi kesempatan saya bisa berubah menjadi lebih tamak dan menginginkan hal yang bukan milik saya, apa anda bisa menangani ketamakan saya itu?"
Rubia menatap aneh ucapannya yang terdengar memang berasal dari perasaannya yang sebenarnya, tapi ia kemudian tersadar, tak seharusnya ia memancing perasaan seseorang, karena pada akhirnya dirinya sendiri yang akan semakin kesulitan, jika ia meneruskannya pria dihadapannya akan mendapatkan banyak sekali kerugian. Lagi lagi Rubia mengalihkan pandangannya "Sudah cukup bercandanya, pergilah Fer"
Deg, Ferderick merasa tertohok Lagi lagi Rubia kembali menarik garis batas tentang hubungan mereka, namun apalah dayanya ia hanya bisa mengikuti kemauan wanita itu yang mungkin masih ragu dengan masa depan bersama dirinya yang bukanlah apa apa "Baiklah, saya sangat menikmati bercandanya hari ini Baginda, kalau begitu saya permisi" Rubia mengangguk, Ferderick melangkah pergi dengan perasaan yang berat, nyut.. Rasanya dadanya terasa amat sesak, tak seharusnya ia menilai perkataan Rubia sesui keinginannya sendiri.
.
Keesokan harinya, mulai tersebar rumor yang berasal dari mulut ke mulut diantara para Bangsawan lalu merambah ke telinga para Rakyat yang mengatakan bahwa Kaisar muda saat ini telah mulai menderita kutukan keturunan keluarga Kaisar.
Ferderick berjalan keluar istana untuk memenuhi permintaan Rubia yang ingin segera mengetahui hasil dari tugas yang ia serahkan pada Guild informasi Bayangan Hitam, namun disepanjang perjalanannya beberapa kali ia mendengar seseorang yang sedang berbisik membicarakan penyakit kutukan keturunan Kaisar saat ini.Siapa orang yang berani beraninya menyebarkan rumor sesensitif itu tentang Kaisar? Memang kutukan yang terus menerus mengelilingi penerus tahkta itu bukanlah lagi rahasia, semua orang di Kekaisaran telah mengetahuinya sejak lama karena informasi itu memang sudah ada sejak pendirian kekaisaran, namun tentang Rubia yang telah merasakan gejala kutukan lebih awal dari keturunan biasanya tak banyak orang yang bisa mengetahuinya.
Ferderick masuk ke tempat yang saat ini sedang dalam tahap renovasi di bagian depannya itu, ia masuk dan seseorang menyambutnya dengan antusias.
"Apa itu?"
Ia menengok ke kanan dan ke kiri terlehih dahulu "Ini tentang rumor Baginda Kaisar, apa itu benar?" bisiknya dengan hati hati.
"Apa memang rumornya sudah menyebar seluas ini? Darimana kau mendengarnya?"
"Tentu saja kami bisa mendengar tentang rumor rumor yang beredah lebih dulu dari kebanyakan orang, jadi apa itu benar bahwa Kaisar akan segera meninggal?"
Dukkk!! "Awwwhhh sakit" pria itu mengerang kesakitan karena Ferderick menendang tulang keringnya dengan cukup kuat.
"Jangan bicara sembarangan, Baginda Kaisar masih sangat muda, itu rumor yang tak berdasar, kau tahu Kaisar terdahulu meninggal saat berusia empat puluhan kan? Dan itu karena beliau dibunuh dan bukan karena penyakit kutukannya" jelasnya dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Wah, semakin kau terlihat menyangkal dan banyak bicara aku semakin mencurigaimu, katakan apa ada rahasia yang kami tidak tahu?" ia kembali mendekat lalu Ferderick kembali berpura pura ingin menendangnya di bagian yang sama , pria itu ciut dan mengurungkan rasa penasarannya.
"Dimana Tuan Stev dan Tuan Joseph?"
"Tuan Stev bilang sedang tidak enak badan di kamarnya, lalu Tuan Joseph belum juga kembali"
"Apa yang sedang dikerjakannya?"
"Entahlah, setelah Tuan Stev pulang dengan keadaan linglung dan menderita sakit kepala dua hari yang lalu Tuan Joseph menggantikan tugas rahasia yang sedang mereka kerjakan"
"Apah? Tuan Stev linglung dan sakit kepala?"
"Benar"
"Aku harus menemuinya"
"Ya, lakukan sesukamu"
Ferderick berjalan pergi, ia terhenti di depan kamar Stev dan ilona.
Tok tok, Tuan Nyonya ini saya Ferderick, ucapnya dari luar pintu.
Kemudian ilona membuka pintunya "Ferderick, kau datang? Masuklah" ucapnya.
"Baik saya permisi, apa keadaan Tuan Stev baik baik saja?" ia berjalan mendekat ke arah Stev yang sedang tertidur, wajahnya terlihat pucat.
"Ya, dia hanya merasa pusing karena ia bilang menemukan hal yang penting namun ia tidak ingat apa itu, katanya ia seperti kehilangan ingatannya di bagian penting yang ia sendiri tak ingat, dia terus memaksakan kepalanya untuk mengingat sampai sampai kondisinya jadi seperti ini" ucapnya seraya menatap wajah pucat suaminya.
Ferderick merasa aneh, ia yakin apa yang terjadi dengan Stev ada hubungannya dengan tugas yang diberikan oleh Rubia.
.
__ADS_1
.
Bersambung.