Queen Sword

Queen Sword
Eps 40 Tak tahu cara melirik wanita lain


__ADS_3

Rubia mengulurkan tangannya, sehingga membuat Ferderick kebingungan sekaligus cemas jika ternyata Rubia benar benar mengetahui apa yang ingin disembunyikannya.


Rubia melirik ke tangannya"Kau tak mau meminjamkan tanganmu?"


"Ahhh, tangan" ia segera mengulurkan tangannya dan tangan Rubia segera menggenggamnya, Ferderick sangat malu, wajahnya kembali memerah karena mereka kembali berpegangan tangan. "Mengapa akhir akhir ini anda sering menggenggam tangan saya Yang Mulia" Ferderick segera menutup mulutnya, tanpa sadar ia mengatakan isi dalam pikirannya.


"Itu karena dengan bersentuhan denganmu rasa sakit di dadaku semakin membaik, ini tidak masuk akal tapi aku sendiri yang merasakannya"


Ferderick terkejut, apa yang baru saja didengarnya?  "Ha??"


Rubia kembali menoleh ke wajah Ferderick yang seolah tak mempercayai ucapannya "Wajar saja jika kau tak percaya, tapi itu hakmu mau percaya atau tidak"


"Ya, ba baiklah"


"Fer, maafkan aku"


"Kenapa anda meminta maaf lagi?"


"Aku belum mengatakannya tapi kau menjadi terlibat dengan urusan keluarga kerajaan karena aku"


"Ahhh..apa anda menyesal sudah melibatkan saya dalam urusan anda itu?"


"Aku sangat egois karena aku tak merasa menyesal sedikitpun, tapi terimakasih karena kau tak pernah mengeluh dan selalu tulus membantuku, aku hanya bisa mempercayaimu"


"Syukurlah karena anda menganggap saya seperti itu"


"Tetaplah disampingku sampai aku menyelesaikan tugasku Fer"


"Apa itu berarti seumur hidup anda?"


"Bisa iya dan bisa juga tidak, saat waktunya tiba bukankah kau akan pergi dariku dan menjalani hidupmu sendiri sebagai Count Stewart?"


Entah mengapa Ferderick menjadi merasa hampa saat membayangkan apa yang dikatakan Rubia "Anda bisa memanggil saya kapanpun Yang Mulia, saya akan langsung menghampiri anda jika anda menginginkan kehadiran saya, anda tinggal buat saya berteleportasi seperti biasanya kan"


"Bagaimana jika istrimu nanti tak mengijinkanmu dan mengajukan keluhan kepadaku?"


"Apa sebaiknya saya tidak usah menikah saja Yang Mulia? Saya tidak akan menikah jika anda tak mengijinkan" ucapnya dengan raut wajah yang bersungguh sungguh.

__ADS_1


"Memangnya aku akan sekejam itu kepada orang yang setia kepadaku?"


"Karena saya sangat setia kepada anda, saya tidak yakin bisa melihat wanita lain"


Tiba tiba Rubia merasa panas,ia mengibas ngibaskan tangannya lalu ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain "Apa maksudmu?" Ferderick pun kembali tersadar, lagi lagi ia mengatakan begitu saja apa yang sedang ada di pikirannya.Itu seperti bukan dirinya yang bisa menyembunyikan perasaannya rapat rapat.


"Ti tidak Yang Mulia, bagaimana keadaan anda apa masih sakit?" ia cepat cepat mengganti topik obrolannya.


Rubia melepaskan tangan Ferderick lalu meraba dadanya "Ini benar benar sudah jauh lebih baik"


"Benarkah?"


"Ya,mari kita lanjutkan perjalanan sebelum gelap" Rubia bangun, dan Ferderick pun mengikutinya.


"Apa anda yakin?"


"Tentu"


Mereka segera kembali naik ke atas kuda masing masing dan melanjutkan kembali perjalanan, kuda melaju dengan kecepatan penuh, langit sudah mulai gelap, mereka telah berada di sekitar desa pemukiman rakyat dan tak lama lagi mereka akan sampai di istana, namun tiba tiba dari arah samping anak panah melesat mengenai kaki kuda Rubia,kuda yang tersentak membuat Rubia jatuh ke tanah.


"Arrggghhh" Rubia mengerang sakit.


Ferderick segera turun dari kudanya dan menghampri Rubia seraya mengeluarkan pedangnya, tiba tiba saja sepuluh orang berbaju serba hitam mengepung mereka berdua, orang orang itu sepertinya telah menantikan dan menunggu kedatangan mereka di tempat itu.Rubia bangun dan mengeluarkan pedangnya, kakinya yang sakit tak menghalanginya untuk bangkit dan bertarung.


"Apa mau kalian?" tanya Ferderick dengan lantang.


"Nyawa kalian!" jawab salah satu orang yang diduga adalah prajurit bayaran itu.


"Menyerahlah, kalian tak akan menang melawan kami, katakan siapa yang mengirim kalian" ujar Rubia seraya menodongkan pedangnya.


"Tidak usah banyak omong, hiyaaaa" mereka menyerang secara bersamaan, tak butuh waktu lama sampai akhirnya mereka tumbang dan berjatuhan, setelah merasa mereka tidak akan mungkin mengalahkan targetnya itu mereka serentak kabur, Rubia membiarkannya karena memang ia tak ingin membunuh orang orang itu, namun Ferderick berhasil menangkap seseorang yang mengalami patah tulang yang bergerak dengan lambat. Ferderick mengikatnya dan menyeretnya dibawa ke istana untuk diinterogasi.


Sampailah mereka di depan istana, mereka berdua segera membawa orang yang telah menyerang mereka itu secara langsung ke penjara istana dan menginterogasinya.Ketika mereka sampai dipenjara mereka berpapasan dengan pengawal pribadi Kaisar.


"Yang Mulia Putri, anda sudah kembali? Apa yang sedang anda lakukan disini begitu anda sampai diistana?" tanya pengawal Raja.


"Seseorang menyerang kami di perjalanan, orang itu adalah salah satunya, kami ingin menginterogasinya" ucap Rubia seraya menunjuk orang yang dijaga oleh Ferderick.

__ADS_1


"Jadi begitu, saya akan ikut dalam interogasinya dan menyampaikan tentang asasin ini kepada baginda Kaisar" Pengawal bernama Vernand itu tersenyum smirk setelah menyelesaikan ucapannya.


Rubia heran apa yang membuatnya sampai tersenyum disituasi ini, namun ia tak peduli dan hanya mengangguk setuju "Baiklah, itu lebih bagus" Ferderick melemparkan orang itu ke dalam penjara.


"Katakan siapa yang menyuruh kau menyerang Yang Mulia Putri" ucap Ferderick tegas.


Orang itu langsung menjawab tanpa ragu ragu "Saya disuruh oleh Tuan Stev dan Tuan Joseph dari Bayangan Hitam untuk menghabisi Yang Mulia Putri Rubia El Grosjean"


Deg deg. Jantung Ferderick berdebar hebar mendengar nama keluarganya disebut disitu, Ferderick terdiam seraya tubuhnya gemetar.


"Siapa itu Tuan Stev dan Josep? Bayangan Hitam? bukankah itu nama serikat prajurit bayangan yang terkenal itu? apa alasan orang itu ingin membunuhku?" tanya Rubia dengan raut wajah tak mengerti.


"Saya hanya disuruh Yang Mulia, tolong ampuni saya" pria itu bersujud seraya tangannya memohon.


"Yang Mulia, karena interogasi berjalan lancar saya akan segera melaporkan kepada Baginda Kaisar" ucap Vernand seraya melirik Ferderick yang terdiam.


"Baiklah" Vernand segera pergi dari tempat itu.


Ferderick menghampiri pria itu dan mencengkeram bajunya "Mengapa kau berbohong?Siap yang menyuruhmu mengatakan nama itu?!" bentak Ferderick.


Rubia bingung dengan sikap emosional yang ditunjukkan oleh Ferderick yang biasanya selalu tenang itu "Katakan!!" Ferderick masih berteriak kepada pria itu, namun pria itu hanya terdiam seraya tubuhnya gemetar.


"Fer" Rubia menyentuh pundak Ferderick.


Ferderick melepaskan cengkeramannya dan berbalik badan menoleh kearah Rubia "Yang Mulia, orang ini sudah berbohong, Bayangan Hitam sudah menghentikan pekerjaan mereka sebagai prajurit bayaran" teriak Ferderick.


"Apa kau mengenal orang orang dari Bayangan Hitam?" tanya Rubia kemudian Ferderick mengangguk.


"Mereka adalah keluarga saya" ucapnya lirih.


Rubia kaget, sesuai dugaan awal, lagi lagi ini semua adalah ulah Duke Verano, dia sengaja memfitnah keluarga Ferderick untuk mengusiknya, kira kira Rubia mengerti tujuan Duke sebenarnya "Tenanglah Fer, mari kita keluar dahulu dari sini baru bicara" Rubia melirik para penjaga penjara yang memperhatikan mereka.


"Yang Mulia, keluarga saya tak mungkin melakukan itu"


"Iya iya, aku percaya kepadamu" ucapnya sembari menarik tangan Ferderick keluar dari tempat itu.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2