
Keesokan harinya, di ruangan kerja Kaisar Rubia sedang di interogasi oleh Irenadalam diam karena seharian kemarin ia menghilang tanpa memberi kabar apapun kepada Irena, gadis itu menatap Rubia dengan sorot mata yang teramat tajam dari balik kacamatanya, namun Rubia hanya menanggapinya dengan senyuman terbaiknya seraya menatap Iren balik.
"Sepertinya hari ini perasaan anda sangat baik Baginda, apa karena anda sudah menghilang kemarin?"IrenĀ menekankan ucapannya.
"Ahaha, benar hari ini perasaanku sedang bagus sekali, jadi hari ini kau boleh beristirahat" ucap Rubia dengan tersenyum.
Irena melirik setumpuk dokumen di atas meja kerjanya, mustahil ia bisa beristirahat, pekerjaannya menumpuk karena kemarin ia mengerjakan pekerjaan mendesak milik Rubia "Haahhh, lupakan saja Baginda"
"Kalau kau tak mau beristirahat bagaimana kalau aku saja yang beristirahat?"
Wajah Irena seketika mengernyit "Baginda...lebih baik kita berdua sama sama bekerja agar pekerjaan menjadi lebih ringan bukan? Bukankah anda yang mengajarkan itu kepada saya?" raut wajahnya datar.
"Ahh, benar aku pernah mengatakan itu ya, yasudah ayo kita selesaikan pekerjaan secepatnya"
Setelah itu Rubia memfokuskan dirinya, ia bekerja dengan kecepatan penuh, jika tak seperti itu rasanya ia tak akan bisa menahan diri untuk tak menghampiri Ferderick.
Sedangkan di taman samping Rumah Count Ferderick sedang berusaha dengan sangat giat untuk menggerakkan kakinya dengan ditemani oleh dua orang ksatrianya,ia ingin segera bisa berjalan selayaknya orang normal, ia pun turun dari kursi roda kemudian mulai berdiri dengan menggunakan sebuah tongkat kayu, ia telah bersusah payah hanya dengan mencoba berdiri tegak meskipun bertumpu dengan tongkat, ia tetap tegas tak ingin dibantu oleh ksatrianya yang hampir frustasi karena melihatnya yang kesulitan dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Waktu terus berlalu,akhirnya Ferderick bisa berdiri dengan tegak tanpa tongkat, kemudian ia mulai melangkahkan kakinya perlahan, ia pun jatuh karena kakinya masih tak bertenaga, namun ia tak bisa menyerah begitu saja, ia segera bangkit dan terus berusaha melangkah meskipun ia kembali jatuh berkali kali.
Hari pun sudah sore, Kaisan menghampirinya karena ia tak melihat kakaknya seharian ini, disana ia melihat kakaknya masih berlatih berjalan sejak pagi tanpa istirahat sama sekali, bahkan Ferderick melewatkan jam makannya.
"Kak, kau tak bisa terburu buru seperti itu, aku yakin kakak akan bisa kembali bisa berjalan dan bertarung lagi, tapi menurutku memang butuh waktu, itu bukan sesuatu yang bisa instan"
"Aku tahu Kai, tapi aku ingin segera bisa bergerak normal, aku yakin kalau aku terus berlatih maka aku akan lebih cepat bisa berjalan"
"Kakak melewatkan jam makan juga, Kakak ingin melakukan apa sih sampai terburu buru seperti itu?"
__ADS_1
"Melakukan apa? Aku hanya ingin lebih cepat saja, Aduuh Kai kenapa sekarang kau sangat banyak bicara sih"
"Hahhh.. percuma aku bilang sama orang yang keras kepala"
"Iya, makanya kau urus dirimu dan pekerjaanmu saja Tuan Count"
"Ahh dasar, terserah kakak saja lah" Kaisan pergi dengan kesal sementara Ferderick tersenyum melihat punggung adiknya. ia masih tak menyangka adiknya sekarang sudah dewasa dan sudah menjadi seorah ayah namun sikapnya yang polos itu tak berubah sama sekali.
Matahari pun sudah mulai tenggelam, Para ksatria yang mendampingi Ferderick sudah merasa resah karena Tuannya belum juga mau istirahat, kemudian Kaisan kembali lagi, wajahnya terlihat sangat marah "Mau sampai kapan kakak berada disini?" tegasnya.
"Jangan pedulikan aku Kai, pergi sana" jawabnya tanpa menoleh ke arah Kaisan.
"Begitulah Baginda, Kakak sangat keras kepala sampai melewatkan jam makannya, dia benar benar batu" ucap Kaisan kepada Rubia yang datang bersamanya.
Ferderick segera menoleh karena mendengar ucapan Kaisan "Baginda, anda disini?" ucapnya dengan wajah tersenyum,ia segera menghampiri Rubia, sedangkan Rubia menatapnya dengan sorot wajah yang dingin.
"Baik Baginda"
Rubia pun mengajak Ferderick duduk di kersi taman, mereka duduk bersebelahan, Ferderick menatap wajah Rubia yang samar karena cahaya yang redup "Apa ada sesuatu yang membuat anda tak nyaman Baginda?"
Rubia menoleh kearahnya "Kau, kau yang membuatku kesal"
Ferderick pun kaget "Apa yang sudah saya lakukan Bagainda?"
"Ku dengar kau memaksakan dirimu dan melewatkan makan? Jika seperti itu kau benar benar akan kehilangan nyawamu"
"Hahh rupanya Kaisan mengadu"
__ADS_1
"Kalau kau seperti ini aku tak mau menemuimu lagi"
"Apa anda bilang? Itu tidak adil Baginda, saya berusaha keras agar saya bisa menemui anda kapanpun saya mau"
"Kau tak perlu melakukan itu, aku yang akan menemuimu, berlatihkah sewajarnya, mulai besok kau hanya boleh berlatih berjalan selama tiga jam sehari, tidak boleh lebih, aku akan sangat marah kalau mendapat laporan yang tak sesuai dengan keinginanku"
"Baiklah" ia pun tertunduk pasrah.
Rubia meraih kedua tangannya "Jangan berkecil hati, kau sudah bangun saja itu sudah lebih dari cukup untukku, kau mengerti kan?" Ferderick pun mengangguk dengan wajah tersenyum, rasanya sekarang ia bersikap kekanakan, ia menjadi sedikit malu.
Setelah itu mereka kembali masuk ke kediaman Count.
Waktu terus berlalu, Rubia selalu menemui Ferderick di sela sela pekerjannya, kadang ia sendiri yang menemani Ferderick terapi berjalan, sampai tiga bulan kemudian..
Perlahan Tubuh Ferderick telah kembali normal, kini ia bisa bergerak dengan bebas, bahkan sekarang ini ia telah kembali memegang pedangnya, berlatih pedang bersama para ksatrianya, semenjak tubuhnya pulih tak ada lagi kesulitan yang berarti baginya, ia masih seorang swordmaster yang handal dan tak terkalahkan.
.
Kini suasana Istana sedang sangat sibuk karena persiapan pernikahan Kaisar, kabar yang selalu ditunggu tunggu oleh para rakyatnya, semua orang sangat antusias dan bersemangat, bahkan diluar istana para rakyat ikut menyambut hari bahagia itu dengan menghiasi seluruh jalanan dengan berbagai warna dan dekorasi seperti saat festival di gelar. Sepertinya hari pernikahannya akan tercatat dalam sejarah sebagai hari paling berwarna.
Sebulan yang lalu di pesta dansa syukuran kesembuhan Ferderick yang digelar meriah di kediaman Count Rubia melamar kekasihnya di hadapan semua orang dengan sebuah cincin Rubi dengan warna yang senada dengan warna irish Ferderick, Ferderick dan semua orang yang menyaksikannya dibuat sangat terkejut, bagaimana bisa seorang wanita melamar pria? Tentu saja semua orang heran, tapi karena yang melakukannya adalah seorang Kaisar maka semua orang hanya bisa turut bahagia dan berdebar, mungkin dimasa depan nanti itu akan menjadi hal yang wajar, karena tidak ada hukum yang melarang seorang wanita menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Padahal hari itu setelah pesta berakhir Ferderick memang sudah menyiapkan surat lamaran pernikahannya dan ingin memberikan secara langsung padanya, apalah dayanya yang sudah keduluan, namun ia tak berkecil hati,ia pun tetap melakukannya sesuai rencananya, dan itu membuat Rubia terlihat semakin bahagia.
.
.
Bersambung.
__ADS_1