
Rubia merasa sangat kecewa karena pada akhirnya ia harus kembali dengan tangan kosong, bahkan ia tak berhasil menemui Kaisar yang sudah masuk ke dalam kamar pribadinya meskipun ia telah menunggu di depan pintu cukup lama tapi Kaisar tetap tak mau menemuinya dengan alasan Kaisar sudah tidur dan tak ingin diganggu, padahal Rubia lebih tahu dari siapapun apa yang sedang dilakukan oleh Kaisar di dalam kamar itu.
Rubia berjalan dengan lemas, sesekali ia memegangi dadanya dan menunjukkan raut wajah yang kesakitan, tapi itu bukanlah apa apa jika memikirkan nasip orang orang yang tak bersalah itu di dalam penjara, apa saja bisa terjadi kepada mereka sampai kemungkinan terburuknya.Mereka yang mempercayai dirinya sepenuh hati.Rubia benar benar merasa frustasi dengan situasinya yang tak berdaya.
Apa kemampuanku hanya segini saja?
Kini ia mulai mengerti mengapa seseorang harus memiliki kekuasaan dan pendukung yang kuat untuk mengukuhkan posisinya,Rubia mengepalkan kedua tangannya.
Pendukung terkuat, benar aku harus menarik pendukung terkuat untuk berada di belakangku.
Setelah sampai diistananya Rubia duduk di ruang tamu, pikirannya terus saja dipenuhi oleh hal hal lain sampai ia lupa bahwa kini Ferderick sedang mengikuti dibelakangnya dalam diam, Rubia melirik ke wajah Ferderick, dia terlihat lebih frustasi dari padanya.
"Fer, maafkan aku, sepertinya malam ini mereka harus tidur di dalam sel tahanan"
"Situasi ini bukanlah kesalahan anda Yang Mulia, jangan menyalahkan diri anda sendiri" Ucapannya yang terdengar tenang berbanding terbalik dengan raut wajahnya sekarang, itu membuat Rubia semakin pilu.Jelas itu semua terjadi karena ia menyeret Ferderick dalam urusannya, mengapa Ferderick tak bisa menyalahkannya? Itu membuat Rubia semakin merasa berdosa.
Rubia mengulurkan tangannya seraya menyenderkan kepalanya di sofa "Fer, duduklah disampingku, jantungku sangat sakit"Ferderick segera menuruti permintaan Rubia. Rubia melirik ke wajah Ferderick yang terus mengeras dan tatapan matanya semakin menajam.
"Jangan berpikir untuk melakukan hal hal berbahaya sendirian" celetuk Rubia. Ferderick melirik ke wajah Rubia.
"Memangnya anda tahu apa yang sedang saya pikirkan?"
Rubia mengangguk "kau sedang berpikir untuk menghajar penjaga tahanan kemudian kau melepaskan mereka"
Ferderick langsung mengalihkan pandangannya "Apa anda benar benar bisa membaca pikiran Yang Mulia?"
"Itu pikiran yang wajar, aku pun sempat ingin melakukan hal seperti itu tapi mereka akan hidup dalam pelarian karena mereka menjadi buronan, aku ingin membebaskan mereka dengan cara terhormat dan membebaskan mereka dari tuduhan, tapi jika keadaannya nanti terdesak itu bisa menjadi solusi cadangan" Rubia mengangguk angguk setuju dengan ucapannya sendiri.
"Saya akan mengikuti pilihan anda Yang Mulia, apapun itu saya percaya kepada anda sepenuhnya"
"Aku berjanji tidak akan mengecewakanmu, ahhhhh jantungku membaik, kau sudah seperti obat yang paling mujarab" tiba tiba saja pandangan mata mereka bertemu, mereka saling memandang seraya berpegangan tangan.
Mata Rubia berkedip menatap Ferderick yang memandangnya dengan tatapan yang dalam "Kenapa melihatku seperti itu?" Ferderick segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak"
"Beristirahatlah karena kita akan pergi ke suatu tempat pagi pagi sekali"
"Baik" Ferderick melepaskan tangan Rubia dan bangun dari duduknya.
Lydia menghampiri Rubia yang sedang duduk sendirian, ia duduk di sampingnya "Yang Mulia" ucapnya dengan suara yang lembut.
__ADS_1
"Lydia, apa kabarmu baik?"
"Ya, saya baik tapi anda terlihat pucat, apa anda sakit?"
Rubia mengangguk "sedikit"
"Bukankah setelah kembali seharusnya anda langsung beristirahat? Saya malah mendengar anda kembali dari orang lain dan baru tengah malam anda kesini"
"Sesuatu terjadi begitu aku sampai disini jadi aku tak bisa beristirahat sementara ada orang lain yang membutuhkan bantuanku"
"Apa orang itu penting bagi anda?"
"Ya, dia orang yang sangat penting bagiku, posisinya dibawah Lydia"
"Benarkah? Saya merasa terhormat menjadi yang lebih tinggi darinya hehe, beristirahatlah terlebih dahulu Yang Mulia"
"Ya" Lydia menggandeng tangan Rubia dan mengantarnya ke kamar.
******
Keesokan harinya, Rubia dan Ferderick berjalan keluar istana begitu matahari terbit, mereka terus berjalan dan berhenti di depan sebuah kastel megah dengan nuansa warna putih lembut, bangunan itu terletak tepat di sebelah istana Kekaisaran.
Mata Ferderick mengelilingi tempat itu "Ini tempat apa Yang Mulia?"
Mereka berdua masuk dengan mudah menembus perisai sihir yang ada di depan pagar kastel, mereka melihat sekeliling, tempat yang luas namun sangat sepi, kemudian mereka melanjutkan berjalan memasuki pintu utama kastel tersebut, didalam sana seseorang yang memakai jubah penyihir telah menunggu "Salam Yang Mulia Putri" ucapnya dengan sopan.
"Ya"
"Tuan penyihir agung sudah menunggu anda diruangannya" ucap Penyihir wanita yang terlihat muda itu.
"Baiklah" Rubia merasa ragu karena sebelumnya Rubia tak membuat janji bertemu dengan penyihir agung terlebih dahulu tapi Tuan Penyihir agung mengetahui kedatangannya?
"Tolong ikuti saya Yang Mulia dan Tuan Ksatria"
"Baik"
Mereka berjalan dengan cepat dan berhenti di depan sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam, mereka masuk dan seketika terlihat jelas lingkaran sihir berwarna kekuningan diatas tempat mereka berpijak, dalam sekejap mereka telah berada di depan ruangan yang terletak di lantai puncak kastel. Rubia sedikit kaget karena pertama kalinya ia berteleportasi, meskipun ia sering membuat Ferderick berteleportasi. Ia berdecak setelah melihat wajah Ferderick yang tenang.
"Silahkan masuk Yang Mulia" ucap penyihir itu setelah membukakan pintu.
"Baik"
__ADS_1
Setelah memasuki ruangan tampak seorang pria berambut putih panjang sepunggung diikat yang sedang duduk menghadap ke jendela luas di samping meja kerjanya.
"Maaf, Tuan penyihir Agung, saya datang secara tiba tiba" ucap Rubia dengan hati hati.Kemudian pria tua yang telah berusia seratus tahun itu membalikan kursinya dan menghadap ke Rubia, bola matanya yang berwarna ungu itu begitu mengintimidasi orang yang menatapnya. Penampilannya yang telah berusia seratus tahun itu terbilang masih sangat bugar, pria itu seakan terlihat seperti baru berusia dibawah lima puluhan.
"Mengapa Tuan Putri yang terhormat mengunjungi pria tua ini?"
"Bukankah seharusnya anda sudah tahu mengapa saya menemui anda? karena anda juga tahu bahwa saya akan datang"
"Kombinasi yang sempurna" gumamnya pelan seraya menatap kedua orang didepannya.
"Ya??"
"Jika anda datang kesini dengan niat meminta bantuan tanpa imbalan apa apa saya harus menolak Yang Mulia"
"Katakan apa yang anda inginkan"
"Bisakah anda menebak apa yang diinginkan pria tua yang tidak kekurangan apapun ini?"
Wah,lihatlah dia mulai menyombongkan dirinya sendiri.biar kupikirkan terlebih dahulu.
Pria itu tersenyum smirk seraya menatap Rubia yang sedang berfikir "Saya akan menjadi murid anda" ucap Rubia dengan percaya diri.
Ia langsung tertawa "Hohohoho..apa anda pikir saya kekurangan murid?"
"Tentu saja, lihatlah kastel penyihir ini, sangat sepi hanya tersisa anda dan penyihir wanita yang mengantar kami sedangkan yang lainnya sedang memberantas monster di utara, saya berjanji akan memperbanyak anggota anda setelah saya naik takhta apa ini cukup menguntungkan untuk anda Tuan Penyihir Agung?"
"Hoho, anda benar benar berani sekali Yang Mulia Putri, bahkan ayah anda tak berani masuk ke sarang penyihir ini, dan sekarang anda malah ingin membuat kesepakatan dengan penyihir agung yang hebat ini??"
"Tentu"
"Wahh, bukankah sebenarnya anda yang ingin menjadi murid saya? bukankah itu bukan keuntungan untuk saya? jujur dan memohonlah Yang Mulia jika anda memang sangat membutuhkan bantuan saya" lagi lagi ia tersenyum smirk seraya menatap Rubia.
"Tidak, katakanlah jika memang anda tidak ingin membantu saya, anda menemui saya karena ada sesuatu yang ingin anda ketahui kan?" Rubia membalas senyumannya.
"Wahhh,hohohoho, anda pandai bermain tarik ulur rupanya, ahhh sudah lama saya tidak tertawa seperti ini, terimakasih karena anda sudah cukup membuat saya bahagia hari ini"
"Jika anda benar benar berterimakasih maka jawablah pertanyaan saya tanpa basa basi" seketika situasi menjadi sangat dingin selagi kedua orang itu saling menatap dengan sorot tajam.
.
.
__ADS_1
Bersambung.