
Didalam kamar Rubia dan Ferderick tengah duduk berhadapan sembari menikmati teh dan beberapa camilan seperti biscuit dan cake, Ferderick tampak canggung karena Rubia memperlakukannya seperti seorang teman.
"Santai saja Fer, temani aku yang sedang bosan ini, disaat seperti ini aku merindukan Fiona" ucapnya sembari mengunyah camilan.
"Apa anda sedekat itu dengan Dame Fiona?"
"Entahlah, dekat itu seperti apa? aku tak mengerti tapi aku merasa nyaman berbicara dengan Fiona dan Lydia"
"Apa anda nyaman berbicara dengan saya?"
Rubia mengangguk "Ya, aku merasa nyaman denganmu"
Wajah Ferderick terlihat malu "Mengapa?"
"Mengapa yahh???" ia memiringkan kepalanya sembari berfikir.
Rubia yang sedang berbincang bincang santai dengan Ferderick demi mengusir rasa bosan saat hari hari menjalani hukuman dari Kaisar,tiba tiba mereka terdiam mendengar bunyi seseorang mengetuk pintu kamarnya, Tok tok tok, seorang dayang mengetuk pintu pintu kamar Rubia, dan memberitahukan bahwa kini ia kedatangan tamu seorang lady dari keluarga Marquess, awalnya Rubia ragu dengan perkataan dayangnya,karena untuk pertama kalinya dirinya kedatangan tamu seorang nona bangsawan, kemudian ia teringat dengan sosok lady yang membelanya saat lady lain membicarakannya.
Rubia berjalan keluar kamar, Ferderick pun mengikutinya. ia menghampiri nona yang telah menunggunya, Amelie segera bangun dari duduknya setelah melihat Rubia di hadapannya.
"Salam Yang Mulia Putri"
"Ya, duduklahh, ada kepentingan apa nona menemui saya?" tanya Rubia dengan mata yang meneluri penampilan anggun dan berkelas nona di depannya.
"Maaf jika saya mengganggu waktu anda yang mulia, saya datang kesini setelah mendapat panggilan dari Baginda Kaisar bersama dengan Ayah saya Marquess Johnston"
"Jadi?" Rubia sesekali menyeruput teh dihadapannya.ia menatap tajam nona yang terlihat sedikit tegang berhadapan dengannya itu.
"Saya ingin meminta tolong sesuatu kepada anda Yang Mulia, tolong bantu saya" ucapnya seraya menundukkan kepala, rubia menilai raut wajahnya seolah ia tengah terdesak, berbeda saat mereka bertemu di pesta istana tempo hari yang terlihat sangat percaya diri dan ceria.
"Kau mau minta tolong padaku? Katakanlah aku akan mendengarkan permasalahanmu terlebih dahulu, takk" ia meletakkan kembali cangkir teh di alasnya.
"Yang Mulia, Kaisar meminta saya bertunangan dan menikah dengan Jasson Verano, tapi saya amat sangat tidak menyukainya tapi kami juga tak bisa menolak perintah Baginda Kaisar, Tolong saya Yang Mulia"
"Jadi kau bermaksud memintaku berbicara kepada Kaisar untuk membatalkan pertunanganmu?"
"Ya, benar Yang Mulia" ia tersenyum karena Rubia telah memahami situasinya meskipun ia tak menjelaskan panjang lebar.
"Apa Kau pikir Kaisar akan mendengarkan ucapanku?"
Amelie terdiam sejenak sebelum menjawabnya, "bagaimana mungkin seorang ayah tidak mau mendengarkan permintaan Putrinya Yang Mulia" ucapnya dengan percaya diri.
__ADS_1
Deg, tiba tiba saja Rubia merasa jantungnya mendadak tertusuk "Tidak salah juga jika kau berfikir seperti itu, tapi maaf aku tak bisa melakukan itu untukmu"
"Mengapa Yang Mulia?"
"Kaisar tak akan mendengarkan ucapan seorang putri yang tak memiliki kekuatan,apa itu sudah cukup menjelaskan situasiku yang menyedihkan ini?" Rubia berdiri dan hendak pergi.
"Saya pikir anda berbeda dengan para lady bangsawan lain, ternyata saya salah" mata amelie berkaca kaca, dan Rubia pun menghentikan langkahnya.
"Apa maksudmu?" ia kembali menoleh ke arah Amelie.
"Saya pikir rumor buruk tentang Yang Mulia hanyalah sebatas rumor belaka, tapi kini saya mengerti mengapa rumor itu bisa timbul" ia mencoba membujuk Rubia dengan menyerangnya seperti yang biasa dilakukan lady bangsawan lain.
Ferderick mengeluarkan pedangnya "Jaga ucapan anda, anda pikir siapa yang sedang ada dihadapan anda" seru Ferderick yang tak terima dengan perkataan amelie.
Tangan Rubia menghalangi Ferderick "Tenang Fer, simpan kembali pedangmu" Ferderick pun menuruti perkataan Rubia. "Dan kau! Aku juga sudah mendengar rumor tentangmu, jadi rumor tentang itu juga benar yaa"
"Rumor yang mana maksud anda?"
"Tentang kau yang tak memiliki teman karena sikapmu yang angkuh dan tak memahami situasimu sendiri" seketika Amelie merasa tertohok, itu memang benar tapi yang barusan hanyalah usahanya untuk mendapatkan simpati Rubia, meskipun ia tahu caranya terlalu nekat.
"Ugh"
"Tolong saya Yang Mulia, maafkan perkataan saya tadi, saya tidak punya pilihan, saya lebih baik mati daripada harus bertunangan dengan Jasson Verano itu" ucapnya seraya terisak.Rubia bisa mengerti mengapa gadis itu matia matian tak ingin bertunangan dengan sepupunya itu, itu karena memang orang seperti jasson memang sangat layak ditolak.
"Tolong saya sekali ini saja Yang Mulia"
"Bangunlah, gaunmu bisa kotor" hati nurani Rubia mulai terusik.
Amelie menggeleng "Saya tidak akan bangun sebelum anda bersedia membantu saya" ucapnya tegas.
"Benar benar gadis keras kepala"
Amelie mendongakkan kepalanya menatap wajah Rubia lekat lekat "Bukankah saya lebih tua dari anda Yang Mulia? Gadis ini?"
Rubia berdecak kesal "Apa sekarang itu penting?"
"Tolonglah bantu saya Yang Mulia" ia kembali memohon dengan wajah yang kasian.
"Baiklah, aku akan mencoba membicarakan ini dengan Kaisar, tapi aku tak bisa menjanjikan yang lebih dari ini,jangan berharap banyak dariku" ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, karena dengan melihatnya yang menyedihkan ia akan semakin tak enak hati dibuatnya.
Amelie langsung bangun dan meraih tangan Rubia kemudian menggenggamnya dengan erat "Terimakasih banyak Yang Mulia, anda sangat bijak dengan rakyat anda yang lemah ini, sesuai dengan rumor baik anda yang telah tersebar luas dikalangan rakyat jelata"
__ADS_1
"Kau bilang rumorku buruk?" rubia kembali menatapnya tajam.
"Maaf Yang Mulia, memang seperti itulah rumor, akan beredar sesuai kebutuhan hehe" raut wajahnya yang tiba tiba membaik dan tersenyum hingga berubah drastis itu membuat Rubiaa menyesali perkataannya barusan yang ingin membantunya.
"Jadi kau sengaja mempermainkanku?"
"Tidak Yang Mulia, eh.. sedikit, jangan lupakan janji anda Yang Mulia, saya permisi" amelie segera pergi dari hadapan rubia karena takut jika Rubia akan kembali berubah pikiran.
Setelah mendapatkan tujuannya gadis itu pergi dengan wajah yang sangat amat ceria.
Sedangkan Rubia segera berjalan menuju ke ruang kerja Raja untuk memenuhi janjinya.
"Apa anda yakin ingin membantunya Yang Mulia?" tanya Ferderick.
"Tentu saja, aku sudah berjanji,apa kau menghawatirkanku Fer?"
"Tentu saja" jawab Ferderick sedikit gugup, Rubia tersenyum mendengar jawabannya yang canggung.
"Senangnya ada seseorang yang menghawatirkanku" gumamnya pelan.
"Anda bilang apa?"
"Tidak"
Mereka berdua berhenti di pintu keluar kediaman Rubia yang masih dijaga ketat oleh ksatria suruhan raja.
"Tolong beri jalan" ucap Rubia santai namun para penjaga tak bergeming.
"Apa kalian tak mendengar Putri Mahkota memerintah apa?" ujar Ferderick yang merasa kesal karena para penjaga itu mengabaikan Putri.
"Maafkan kami Yang Mulia, kami tak bisa membuka jalan sebelum anda mendapatkan izin dari Baginda Kaisar"
"Aku ingin menemui Kaisar dan meminta izinnya secara langsung, apa tidak boleh?"
Tiga orang penjaga itu saling memandang sebelum akhirnya setuju untuk memberikan jalan kepada Rubia.
.
.
Bersambung.
__ADS_1