Queen Sword

Queen Sword
Eps 31 Tunangan yang mencintai


__ADS_3

Axel berdiri di hadapan kedua orang yang terus memandang satu sama lain dengan tatapan bengis meskipun Ketua pasukan ksatria berada tepat dihadapan mereka.


"Sir Ferderick dan Sir Frank, sir Ferderick kudengar kau yang memulai perkelahian, apa itu benar?" ucapnya tegas, matanya menatap ke arah Ferderick dengan galak.


"Benar" jawabnya dengan raut wajah yang datar.


"Minta maaflah" ujar Axel sehingga membuat Frank menyeringai sembari melirik ke arah Ferderick.


"Tidak mau!" jawab Ferderick singkat dan tegas.


Frank dan Axel menatapnya "Apa kau ingin dikeluarkan dari pasukan ksatria?" gertak Axel sembari menyilangkan tangannya di dada. Ferderick terdiam,sedangkan Frank terus saja tersenyum seolah menertawakannya.


Axel melanjutkan setelah terdiam sejenak "Kalian berdua harus dihukum"


"Apa maksud anda saya juga Ketua?Saya hanyalah korban" protes Frank tak terima.


"Kau pun sama memukulnya,jadi kalian harus dihukum bersama,kau bisa mengajukkan surat pengunduran diri jika tak terima dengan keputusanku"tegasnya, hingga membuat Frank terdiam tak berdaya.


"Larilah lima puluh kali putaran mengelilingi lapangan ini"


"Tapi Ketua" Frank masih mencoba untuk protes.


"Jika kau berbicara sekali lagi maka akan kutambah menjadi seratus putaran!"


Kedua orang itu pun lekas berlari dan menerima hukuman dengan berat hati, bahkan Axel sampai pulang terlambat karena terus mengawasi mereka secara langsung.Setelah menyelesaikan hukuman, Frank segera kembali kee asrama ksatria dengan mulutnya yang terus saja menggerutu. Ferderick berjalan dengan santai dan masih terengah engah, ia menghampiri Axel yang baru saja keluar dari lapangan pelatihan.


"Ketua, bisa kita bicara sebentar?"


Axel menoleh kebelakang setelah menghentikan langkahnya "Ada apa? Yang Mulia Putri pasti akan sangat kecewa kepadamu jika dia mengetahui sikapmu dengan sesama rekan ksatria hari ini"


"Ketua, salahkah saya jika saya menghajar seserang yang mencoba menghina Tuan saya?Jika tidak dihentikan pasti saya sudah berhasil membunuhnya"


"Kau! Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Tidak penting, sebagai tunangan Yang Mulia seharusnya anda sedang mencoba menghiburnya dan malah bukan disini menghukum bawahan anda" sorot wajah Ferderick terlihat sangat kesal.


"Apa ada sesuatu yang terjadi kepada Yang Mulia Putri?"


"Anda bisa mencari tahu dari orang lain, saya tidak berniat mengatakannya" jawabnya sebelum pergi begitu saja.


Axel merasa khawatir, ia berjalan menuju ke istana Putri Mahkota, setelah sampai disana Axel hanya bisa bertemu dengan salah satu dayang Rubia, dayang itu menyampaikan bahwa Putri Rubia telah berpesan bahwa ia sedang tak bisa menerima kunjungan dari siapapun. Mendengar hal itu Axel merasa bahwa kali ini permasalahannya cukup serius, ia pun mencoba mengorek informasi dari dayang Rubia, Dayang itu hanya menyebutkan bahwa hari ini Rubia kedatangan tamu dan tamu itu meminta bantuan kepada Rubia untuk berbicara kepada Kaisar agar rencana pertunangannya dibatalkan.Sampai disitu kira kira Axel bisa mengerti dengan permasalah yang sedang Rubia hadapi.


************


Amelie pergi bersama dayang pribadinya setelah menerima sebuah surat, mereka berjalan dengan mengendarai kereta kuda dan berhenti didepan sebuah toko dessert terkenal di pusat kota, Amelie turun seorang diri dibantu oleh kusirnya sedangkan dayangnya tetap berada dikereta kuda menunggunya kembali sesuai keinginan Amelie.


Amelie masuk ke ke dalam toko,matanya menelusuri ke dalam ruangan yang saat itu tengah ramai pengunjung yang kebanyakan pengunjungny adalah seorang wanita, dilihat dari kejauhan saja pria yang telah membuat janji dengannya sudah terlihat sangat menonjol hingga beberapa pengunjung lain beberapa kali meliriknya.


Yang benar saja dia minta bertemu ditempat seperti ini, apa dia sengaja ingin menyebarkan sebuah rumor denganku?


Amelie mengurungkan niatnya menghampiri pria itu demi kebaikan dirinya sendiri,ia pun kembali ke kereta kudanya, tak lama dayang Amelie menghampiri pria itu dan menyampaikan pesan dari Nonanya.


Mereka turun secara bergantian di depan sebuah kedai teh yang memiliki ruangan privasi di lantai duanya.


"Hei Tuan Harington, apa anda sengaja ingin membuat saya terlibat rumor hubungan rahasia dengan tunangan Putri Mahkota??" celoteh ameli begitu mereka duduk berhadapan.


"Maafkan saya Nona, saya tidak berfikir panjang" wajahnya terlihat penuh sesal.


Amelie mengangkat cangkir teh di hadapannya dan menyeruputnya perlahan, kemudian menaruhnya kembali di tatakannya "Sudahlah,apa yang ingin anda katakan dengan saya?"


"Sebelumnya, salam kenal Nona, saya Axel Harington, ngomong ngomong ini pertama kalinya saya menyapa anda"


"Ya meskipun salamnya sedikit terlambat, salam kenal juga saya Amelie Johnston"


"Saya akan langsung sampaikan urusan saya ke intinya" raut wajahnya yang ramah berubah menjadi lebih tegas.


"Katakanlah. sudah cukup basa basinya" jawabnya acuh.

__ADS_1


"Tolong jangan pernah libatkan Yang Mulia Putri dalam urusan keluarga anda dan Baginda Raja"


Ameli kaget, dia menemuinya hanya untuk mengatakan hal itu? "Mengapa anda tak mengatakannya lewat surat yang anda kirim saja jika hanya mau membicarakan ini?"


"Maaf, jika saya menyita waktu anda tetapi menyampaikan urusan hanya melalui surat saya pikir itu tindakan kurang sopan"


Bukannya tidak sopan itu jika sampai bertemu denganmu membuatku terlibat skandal?


Amelie berdecak "Apa anda sedekat itu dengan Yang Mulia Putri?" entah mengapa Amelie malah ingin sengaja menyinggungnya.


"Apa maksud anda? Saya Tunangannya yang sah"ia tampak percaya diri.


"Apa Tuan Putri menganggap hal yang sama dengan anda? Tolong jangan ikut campur dengan urusan saya dengan Yang Mulia"


Axel terdiam sejenak, apa mungkin Putri akan marah jika ia ikut campur urusannya? begitu pikirnya dalam diam. Meski begitu ia tak begitu peduli, karena yang terpenting wanita dihadapannya itu tak menimbulkan masalah untuk Putri.


Raut wajahnya semakin tegas menatap wanita dihadapannya itu "Terserah apa yang akan anda pikirkan, intinya saya tidak ingin anda menyebabkan masalah untuk Tuan Putri, tolong jangan membuatnya semakin menderita"


Mata Amelie membelalak, ia merasa tersinggung"anda mengatakan itu seolah olah Yang Mulia akan benar benar kesulitan hanya karena saya meminta tolong membicarakan persoalan saya dengan Baginda Kaisar"


"Hanya??" gumamnya sembari menatap amelie dengan mengernyitkan matanya, wanita itu benar benar menganggap semua hal mudah.


"Apa? mengapa anda memelototi saya?" amelie tak mau kalah memelottinya balik.


"Nona, maaf jika saya harus mengatakannnya dengan sedikit kasar, tapi gara gara anda Putri menjadi sangat kesulitan, sesuatu yang anda bilang 'hanya' itu sangat mempengaruhi hidup orang lain, mulailah menilai sesuatu dengan melihat dari sudut pandang orang lain, karena setiap orang memiliki posisi dan kehidupannya masing masing serta kesulitannya masing masing, saya permisi, terimakasih atas waktunya" Axel bangun dari duduknya dan pergi.


Amelie menjadi sangat kesal karena pria yang baru ditemuinya itu malah mengguruinya, padahal orang tuanya sendiri tak pernah melakukan hal seperti itu kepadanya, namun di sisi lain jauh didalam lubuk hatinya pria itu telah menusuk kelemahannya di tempat yang sangat tepat, mau tidak mau akhirnya ia mulai berintrospeksi diri.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2