
Pangeran Altez mengikuti Irena menuju Istana bintang, istana yang memang biasa dihuni oleh tamu agung dari negara lain saat berkunjung secara resmi di kekaisaran, Mereka berdua berjalan sudah cukup lama, karena memang Istana bintangĀ terletak di bagian ujung, bukan tanpa alasan Rubia ingin jarak kediaman mereka selama sebulan ini sejauh mungkin, setelah mereka berdua berjalan cukup jauh pun Pangeran Altez menyadarinya, ia paham apa maksud Rubia yang sesungguhnya, tapi itu bukanlah masalah baginya.
Altez hanya terus tersenyum di sepanjang jalannya seraya menikmati perjalanan dengan melihat lihat istana, sampai Irena pun heran dengan sikap santai dan kelewat ceria itu, Iren mulai menduga duga apa tujuannya kini seraya menatap punggungnya dengan tajam.
Iren pun menghentikan langkahnya "Pangeran, disini kediaman sementara anda, saya akan memanggilkan dayang dan pengawal yang akan mengawal anda, jika anda membutuhkan sesuatu silahkan beritahu dayang, mohon jangan sungkan"
"Baiklah" Setelah menyelesaikan tugasnya Iren berbalik badan "Tunggu" Altez menghentikannya sehingga Iren kembali menoleh padanya.
"Ada apa Pangeran?"
"Jam berapa biasanya Baginda Kaisar makan malam?"
"Sekitar jam 8 malam, apa anda ingin mengajukan makan malam bersama?"
"Tentu saja, seterusnya kami akan sarapan, makan siang dan makan malam bersama, bukankah itu sudah jelas?"
Iren merasa heran dengan sikap percaya dirinya itu "Ahh saya akan memberitahu Baginda, Kalau begitu saya permisi Pangeran"
"Ya baiklah"
Iren pun kembali menghampiri Rubia di ruang kerjanya, namun langkahnya terhenti ketika melihat dari kejauhan Rubia masuk bersama Axel Harington dan Amelie Johnston ke ruang tamu, iren pun segera beralih kemudian ia menuju ke meja kerjanya, ia menghela nafas panjang, segudang pekerjaan telah menantinya.
Diruang tamu Axel dan Amelie duduk berdampingan berhadapan dengan Rubia "Apa yang membawa kalian kesini?" tanya Rubia setelah menyeruput pelan tehnya.
"Bukan hal penting, Istri saya ini hanya ingin menyapa anda Baginda karena katanya kemarin di pesta kami tidak menyapa anda dengan benar" ucap Axel seraya merangkul pundak Amelie, Amelie pun menatapnya dengan reaksi terkejut dengan wajah yang memerah.
Rubia tersenyum melihat kedekatan mereka "Jangan sungkan, itu adalah hal yang wajar, Kalian kan pasangan pengantin baru, alangkah lebih baik jika pergi berbulan madu bukan?"
"Saya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan saya sebagai Perdana Menteri Baginda"
"Kau bisa mengambil cuti, bukankah kau juga ingin berlibur Amelie?"
__ADS_1
"Saya menikmati kehidupan baru saya sebagai anggota keluarga Duke Harington Baginda,mertua saya pun sangat baik dengan saya, saya bisa belajar banyak hal dari beliau itu cukup menyenangkan untuk mengisi hari hari saya, saya tidak ingin berpergian karena itu melelahkan"
"Ya kau memang benar, lakukan apapun seperti keinginan kalian saja"
"Baginda, saya dengar Pangeran Altez menetap di istana selama sebulan? Mengapa anda menuruti keinginannya? Bukankah sudah jelas dia memiliki niat yang tak baik?" Wajah Axel mengernyit ketika membicarakan Altez, Amelie terus menatap wajah suaminya itu, menilai reaksinya.
"Kau sudah dengar? Waw beritanya cepat sekali menyebar"
"Kebetulan saya dengar dari pelayan yang sedang bergosip tadi dan karena penasaran saya pun bertanya dengan jelas"
"Itu bukan sesuatu yang perlu kau kawatirkan, aku sudah menempatkan penjaga yang akan mengawasinya selama seharian"
"Bagaimana saya tidak kawatir Baginda, Anda bahkan belum memilih Pengawal pribadi anda, jika tiba tiba orang itu menyerang anda saat anda lengah bagaimana?"
"Pokoknya kau tidak perlu kawatir, kau hanya perlu fokus pada pekerjaanmu dan istrimu saja, ingatlah kau tidak boleh mengecewakan atau melukai hati istrimu dengan atau tanpa alasan" Rubia melirik wajah Amelie yang terlihat tak nyaman.
"Baiklah jika itu keinginan anda, kalau begitu kami permisi Baginda?" Axel danAmelie bangun dari duduk.
Setelah keluar dari Istana Amelie hanya terdiam meskipun mereka berada di dalam kereta kuda yang sama, Axel pun segera menyadarinya "Apa saya melakukan kesalahan?"
"Tidak" jawabnya dengan singkat dan acuh seraya terus mengalihkan wajahnya.
"Yasudah" Axel pun tak begitu memperdulikannya karena ia pikir mereka telah melakukan kesepakatan yang saling menguntungkan sebelum akhirnya Amelie setuju untuk menikah kontrak dengannya, dan semua yang mereka lakukan tak ada hubungannya dengan perasaan satu sama lain.Jadi Axel merasa mereka berdua tak perlu terlalu mengurusi suasana hati satu sama lain
.
Waktu makan malam pun tiba, Rubia masuk ke dalam ruang makannya, lagi lagi Pangeran Altez telah berada disana seperti makan siang hari ini, Rubia pun tak bisa berkata apa apa apalagi menolaknya karena itu pun sudah menjadi konsekwensi atas keputusannya menerima permintaannya yang terkesan lancang, apalagi melihat wajahnya yang selalu tersenyum ceria menyambut kedatangannya itu membuat Rubia tak enak hati jika ingin mengusir dari hadapannya.
"Anda sudah datang Baginda?" ucapnya seraya tersenyum.
"Ya, mari makan saja" Rubia mulai mengambil sendok dan pisau lalu memotong steak yang sudah disediakan di meja, Altez pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Baginda" panggilnya lagi sembari tangannya memotong makanannya.
Apa orang ini tak mengerti kata kata mari makan saja?
Rubia menatapnya dengan wajah datar "Apa?"
"Apa yang anda lakukan saat pagi?"
"Apa yang kulakukan apakah penting anda ketahui Pangeran?"
"Tentu saja, itu karena anda sudah mengizinkan saya untuk berada disamping anda"
"Ughh, makan saja dulu, aku tak terbiasa makan sambil berbicara"
"Ahh, baiklah" Karena sudah berjanji tak akan melakukan hal yang tak disukai olehnya maka Altez hanya bisa tersenyum saat menerima penolakan dari Rubia
Akhirnya Rubia bisa menikmati makanannya dengan tenang, namun ketika ia sudah menyeka mulutnya Altez kembali menanyakan rentetan pertanyaan tentang kebiasannya atau apa yang dilakukannya sehari hari, Rubia hanya menjawab seperlunya dengan ya atau tidak, boleh atau tidak, reaksi Rubia yang terkesan tak perduli dengannya tak membuat semangat pria itu padam, tembok, muka tembok dan tebal muka, dia lebih dari itu. saat inilah Rubia mulai merasa menyesal telah menerimanya.
Sebulan? Oh tidak, belum sehari rasanya aku sudah tak tahan, adakah seseorang yang bisa membawa pria ini pergi dari hadapanku sekarang juga? Ohh hari hari damaiku, aku merindukanmu...
.
Rubia pun kembali ke kamarnya dengan diantar oleh Pangeran Altez, sebenarnya ia ingin melanjutkan pekerjaannya tapi karena sepertinya orang itu akan terus menempel padanya akhirnya Rubia berdalih ia lelah dan ingin beristirahat, untungnya orang itu terlihat tak mencurigainya, meskipun Rubia tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
Akhirnya ia merasa tenang, tapi ia sama sekali belum merasa mengantuk "Haruskah aku menemui Ferderick lebih awal?" Rubia tersenyum tipis sembari mengangguk angguk.
.
.
Bersambung.
__ADS_1