Queen Sword

Queen Sword
Eps 38 Menerima Permata Sihir


__ADS_3

"Maaf yang mulia putri, saya terlalu banyak bicara" ucap wanita tua itu.


"Tidak, jadi sekarang apa yang harus saya lakukan untuk menyegel dan melenyapkan kutukan itu?"


"Bersiaplah menerima kekuatan sihir saya Yang Mulia, ini akan sangat terasa menyakitkan tapi anda harus menahannya" Rubia mengangguk dengan penuh keyakinan.


Penyihir tua itu menutup matanya kemudian merentangkan kedua tangannya,lalu menyatukan tangannya di atas dada, sampai muncul sebuah sinar berwarna biru terang yang menyilaukan dan tangannya membentuk sinar itu menjadi sebuah bola permata kemudian wanita tua itu mendorong bola permata itu dan menghempaskannya di dada Rubia.


"Aaarrrggggg" Rubia mengerang kesakitan setelah sedikit terpental, namun ia terus bertahan dengan segenap kekuatannya.


"Tahanlah Yang Mulia, tubuh anda akan segera beradaptasi dengan permata sihir itu, saya telah menanamkannya di jantung anda, untuk beberapa hari ke depan anda akan terus kesakitan, anda harus berusaha menahannya, jika tidak atau anda merasa tak tahan dengan rasa sakitnya dan menyerah maka permata itu akan keluar dengan sendirinya,itu artinya anda telah gagal" ucapnya dengan tubuh sedikit terhuyung.


Rubia mengangguk di tengah kesakitannya yang tak tertahankan itu.Penyihir tua itu pun terlihat kesakitan  dan mengalami muntah darah setelah permata sihir itu masuk ke tubuh Rubia.


Penyihir tua itu menyeka darah di mulutnya "Uhuuukkk, saya akan kembali menemui anda setelah saya memulihkan diri" Rubia mengangguk Kemudian wanita tua itu menghilang dari hadapan Rubia.


Axel yang terus menjaga Rubia disampingnya terbangun karena mendengar suara Rubia yang kesakitan, Axel melihat keringat dingin menetes di dahi dan seluruh tubuh Rubia, itu membuatnya sangat panik.


"Yang Mulia" Axel memanggil manggil Rubia sembari menggoyang goyangkan tubuhnya, tak lama Rubia membuka mata, ia terbangun dari mimpinya yang terasa nyata itu.


"Ugh" Rubia memegang dadanya yang kesakitan.


"Bagian mana yang Sakit Yang Mulia? Haruskah saya panggilkan pendeta penyembuh?"ucap Axel panik.


Rubia menggeleng kemudian ia mengontrol ekspresinya agar Axel tak terlalu menghawatirkannya  "Berapa lama aku tertidur?" ucapnya sembari terus memegangi dadanya.


"Tiga hari Yang Mulia"


"Apa? Apa Monster kembali menyerang selama aku tidur?"


"Ya, segerombolan demi segerombolan monster terus berdatangan, tapi kami berhasil menyingkirkannya bersama para penyihir"


"Bagaimana keadaan para penyihir?"


"Mereka baik, kini mereka sudah bisa menghalau aura kegelapan para monster"


"Syukurlah"

__ADS_1


"Anda terlihat sangat pucat Yang Mulia, saya akan memanggil pendeta penyembuh"


"Tidak tidak,aku baik baik saja, bisakah kau panggilkan Ferderick?"


Seketika Axel langsung terdiam "Baiklah" ia keluar dengan raut wajah yang muram.


Axel keluar tenda dan menemukan Ferderick yang sedang duduk di depan api unggun yang tak jauh dari tenda Rubia, dimalam yang dingin dan sunyi Ferderick duduk sendirian disana.


Axel menghampirinya "Kau,Yang Mulia mencarimu" ucapnya dengan nada suara yang sinis.


Ferderick segera bangkit dari duduknya dan menuju ke tempat Rubia berada.Axel bisa merasakan bagaimana Ferderick terlihat sangat menghawatirkan Rubia yang telah tertidur selama tiga hari itu.Tapi itu membuat perasaannya kacau dan tak tenang.


"Permisi Yang Mulia" ucap Ferderick sebelum ia masuk ke dalam tenda Rubia.


"Fer, kau baik baik saja?" ucapnya ketika melihat Ferderick masuk dan menghampirinya, raut wajah Rubia masih terlihat merasa bersalah dengan kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.


Ferderick berhenti di hadapan Rubia "Saya baik baik saja, bagaimana dengan anda?" Ferderick semakin khawatir karena melihat Rubia yang lebih pucat dari saat terakhir ia melihatnya dan nafasnya terengah engah seraya tangannya terus menyentuh dadanya.


"Tolong maafkan aku atas apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran hari itu"


"Tolong jangan terlalu merasa bersalah tentang hal itu Yang Mulia"


"Bukan saya tak merasa penasaran, tapi saya tak memiliki hak untuk menanyakan hal itu"


"Bukankah kau sudah tahu tentang kutukan yang diderita keturunan kerajaan?"


Ferderick mengangguk "Ya"


"Ini adalah gejala yang menyerang diriku, semakin lama gejalanya akan semakin parah, aku ingin membunuh siapapun yang berada didepanku, aku kesulitan mengontrol diriku sendiri, ada satu waktu saat aku terdiam dan tiba tiba saja ingin sekali rasanya melihat darah" Rubia melirik raut wajah Ferderick yang tak merasa kaget ataupun terkejut.


"Bukankah anda ingin merahasiakannya?Mengapa anda memberitahukannya padaku?"


"Karena aku membutuhkanmu"


Wajah Ferderick menjadi memerah, ia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain.


"Apa ada yang anda butuhkan Yang Mulia?"

__ADS_1


"Ya,ada"


"Apa itu? Akan saya ambilkan"


"Duduklah Fer,tolong tetaplah disini, dan peganglah tanganku"


Ferderick tersentak "Yang Mulia apa yang anda inginkan?" ucapannya sedikit tergagap karena malu, kedua orang itu memiliki pikiran yang berbeda di kepala mereka masing masing.Meskipun malu Ferderick tak bisa menolak uluran tangan Rubia, sementara Ferderick terus mengalihkan pandangannya ke arah lain karena sangat gugup dengan situasi itu, Rubia telah kembali tertidur karena ia merasa lebih nyaman setelah bersentuhan dengannya, rasa sakit didadanya terus berkurang, ia hanya mencoba coba memegangnya karena beberapa kali bersentuhan dengan Ferderick Rubia bisa terbebas dari kehampaan yang menyebabkan dirinya menjadi menggila.Begitupun saat ini,ia merasa sedikit nyaman rasanya seakan ia sedang membagi rasa sakit dengannya.


Ferderick melirik ke arah Rubia, ternyata sia sia saja ia merasa gugup sendirian setelah melihat Rubia yang kembali tertidur, ia melihat wajah Rubia yang dipenuhi keringat dingin, ia mengelap wajah Rubia dengan sapu tangan secara berkala dan terus memperhatikan Rubia yang terlihat tak nyaman sepanjang malam.


Chip chip chip.. suara burung terdengar jelas dari tempat itu menandakan pagi yang cerah telah datang, Axel berjalan membawa semangkuk bubur menuju ke tenda Rubia dengan raut wajah yang gembira, ketika ia masuk Raut wajahnya berubah masam karena melihat pemandangan dua orang yang sedang berpegangan tangan, keduanya sama sama masih terlelap.


Axel mendekat dan menggoyang goyangkan kaki ferderick dengan kakinya, Ferderick terbangun dan menatap wajah Axel yang terlihat murka, Ferderick segera melepaskan tangan Rubia dan mengusap matanya.


"Kau harus pergi,jangan membuat rumor disituasi ini" bisik Axel di telinganya.Ferderick yang merasa tidak enak atas pemandangan yang dilihat oleh Tunangan Rubia itu hanya mengangguk dan langsung beranjak pergi.


Tak lama Rubia membuka mata dan menemukan Axel yang duduk diposisi Ferderick yang sebelumnya duduk dihadapannya.


"Anda sudah bangun Yang Mulia?"Axel tersenyum setelah melihatnya membuka mata.


"Ya, kau disini Axel?" Rubia bangun dan terduduk.


"Ya, saya membawakan sarapan untuk anda, bagaimana keadaan anda?"


"Aku sudah merasa lebih baik, terimakasih kau bisa menaruh buburnya diatas meja"


"Baiklah"


"Dimana Ferderick?"


Wajah Axel seketika kembali berubah menjadi kesal "Tidak bisakah anda tak mencarinya saat saya ada dihadapan anda Yang Mulia??"


Rubia melirik ke wajahnya yang kesal kepada dirinya, ia baru melihat raut wajah Axel yang seperti itu untuk pertama kalinya, Rubia sejenak terdiam berfikir, ternyata selama ini ia terganggu dengan Ferderick meskipun ia tak begitu menunjukannya, apa Axel terpengaruh oleh rumor yang beredar dikekaisaran?. "Maafkan aku Axel"


"Sudahlah, saya yang minta maaf karena terlalu menunjukkan perasaan saya di situasi ini" ia merasa canggung setelah akhirnya mendapatkan permintaan maaf dari Rubia.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2