Queen Sword

Queen Sword
Eps 78 Kencan Malam Festival


__ADS_3

Rubia dan Ferderick keluar diam diam dari istana setelah berganti pakaian dan mengenakan jubah hitam yang menutupi kepala, mereka berjalan di antara kerumunan orang orang yang sedang menikmati festival disepanjang jalan, suasana hiruk pikuk yang dipenuhi dengan kebahagian,berbagai pertunjukkan turut meramaikan suasana festival, malam semakin larut namun kerumunan orang yang berlalu lalang semakin padat.


"Tuan Count, peganglah tangan saya atau kau akan tertinggal" bisiknya seraya mengulurkan tangan.


"Baiklah, meskipun seharusnya saya yang berkata begitu" gumamnya, lalu ia meraih tangan Rubia.


"Kau bilang apa?"


"Tidak, disini tolong panggil saya dengan nama saja Baginda"


"Baik, kau juga panggil aku dengan nama"


"Apa? Saya tidak berani.." wajahnya mulai terasa panas.


"Kenapa? Kita kan sedang menyamar"


"Baiklah, Nona Rubia" ia mengibas ngibaskan tangannya di depan wajahnya karena menahan malu.


"Bagus"Rubia tersenyum puas.


Ferderick mulai melihat lihat pedagang makanan camilan yang berjajar di pinggiran jalan "Apa anda sudah makan malam Nona?"


"Memangnya kenapa?Kau mau membelikanku makanan?"


Wajahnya sangat malu "Ehemmm, saya tidak berani membuat anda memakan makanan yang belum jelas keamanannya"


"Memangnya kenapa, sebenarnya aku ingin mencoba itu sejak aku kecil setiap ada festival di kekaisaran " Rubia menunjuk pedagang sate daging yang diselipkan bermacam sayuran seperti bawang bombay dan paprika di sela sela daging yang dipotong dadu, pedagang itu sedang dikerumuni oleh pengunjung.


Ferderick menghentikan langkahnya "Tolong tunggu disini, saya akan segera kembali" Ferderick berjalan dengan cepat lalu kembali dengan membawa beberapa tusuk satai daging ditangannya.Ia menghampiri Rubia yang sedang duduk di bangku kayu alun alun kota seraya matanya terus saja mengitari sekitarnya.


"Saya datang Nona" Ferderick mengulurkan satu tusuk satai ditangannya, Rubia mengambilnya, mencium aroma daging yang dibakar terlebih dahulu.


"Terimakasih Fer, ini terlihat lezat" Saat Rubia hendak membuka mulutnya Ferderick menghentikannya.


"Tunggu, biar saya cek rasa terlebih dahulu Nona"


"Ya baiklah" Rubia tersenyum tipis melihat Ferderick yang sedang makan dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Pfffttt.." Rubia menutup mulutnya dengan tangan.

__ADS_1


"Kenapa anda tertawa?" ucapnya setelah menelan makanannya cepat cepat.


"Kau terlihat imut"


Ferderick mengalihkan pandangannya karena malu "Anda sudah boleh memakannya, saya yakin ini aman"


"Ya, baiklah" Rubia memakan satai dengan cepat, matanya berbinar dengan kepala mengangguk angguk.


"Anda menyukainya?"


"Ya, ini lezat" Ferderick tersenyum melihat Rubia yang makan dengan bersemangat, ngomong ngomong ini adalah kali pertamanya melihat Rubia terlihat menikmati makanan, saat ini wajahnya terlihat tanpa beban seolah kini ia benar benar hanyalah seorang gadis bangsawan biasa, siapa yang akan menyangka bahwa Kaisar sedang makan satai di pinggir jalan dengan dirinya dengan penampilan yang sangat sederhana.


Tiba tiba orang orang mulai berlari seraya melihat ke arah langit, Rubia menyeka mulutnya dengan sapu tangan lalu menarik tangan Ferderick kemudian membawanya berjalan dengan cepat, mereka berhenti di sebuah bangunan tua yang terlihat kokoh, kemudian Rubia naik perlahan hingga sampailah dia di atap,ia melambaikan tangannya meminta Ferderick mengikutinya naik, Ferderick pun mengikutinya.Mereka duduk berdampingan di atas atap itu memandang ke arah langit.


"Hari ini anda banyak mengejutkan saya Baginda"


"Benarkah? Sepertinya aku terlalu bersemangat sampai sampai aku melupakan martabatku, ehem ehemm"


"Jangan sungkan Baginda, saya senang bisa melihat sisi anda yang seperti ini" Ferderick tersenyum menatapnya, Rubia pun tersenyum kepadanya.


"Baginda--" ia tak menyelesaikan ucapannya karena suara keras menyela.


"Cantik kan?"


"Ya, sangat cantik" jawabnya bergumam.


Sampai beberapa saat akhirnya pertunjukkan kembang api telah selesai, mereka melihat orang orang mulai berjalan meninggalkan alun alun ibu kota, jalan mulai lenggang karena orang orang telah kembali ke rumah masing masing setelah seharian menikmati acara festival yang meriah.


"Baginda, maafkan kesalahan adik saya yang telah membuat kekacauan di acara festival tadi"


"Sudahlah, memang sudah seharusnya dia melawan saat sudah berkali kali ditindas, itu bukan hal yang memalukan, jangan terlalu memarahinya saat kau bertemu dirumah nanti"


"Terimakasih Baginda"


"Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau sudah meluangkan waktu berjalan jalan santai seperti ini denganku,ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, bukankah setidaknya aku harus melewati malam paling tidak satu kali saat festival sebelum aku mulai menua?"


"Benar Baginda"


"Hal sederhana seperti ini terasa sangat istimewa bagiku, terlahir sebagai seorang putri membuatku menjalani kehidupan yang menyesakkan, tidak ada yang berani mengajakku pergi saat festival, aku pun tak bisa meminta seseorang menemaniku dan menyelinap keluar istana hanya untuk menyaksikan kembang api dari jarak yang cukup dekat seperti saat ini, terkadang aku merasa sangat iri dengan kehidupan para rakyat biasa yang memiliki kebebasan, hahh tanpa sadar aku malah mengeluh padamu"

__ADS_1


"Anda sudah hidup dengan sangat baik Baginda, saya merasa bangga dengan anda" ucapnya dengan tatapan yang lurus kedepan, Rubia menatapnya lalu tersenyum.


"Terimakasih sudah datang ke kehidupanku Fer"


"Padahal saat itu saya datang untuk membunuh anda, apa anda masih merasa berterimakasih"


"Ahh benar juga, tapi jika bukan karena itu kau takkan bersamaku sekarang"


"Baginda, panggilah kapanpun saat anda membutuhkan seseorang untuk menikmati kebebasan seperti hari ini"


"Bolehkah?"


"Tentu saja, anda bisa menggunakan ini" ia mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin di jarinya.


"Kau masih memakainya?"


"Saya berencana tidak akan melepasnya"


"Kenapa begitu?Kau takkan menyesal?"


"Entahlah, saya hanya merasa akan hampa saat benda yang berkilauan ini tak lagi berada di tempat yang seharusnya, saat saya melihat permata biru ini saya seolah melihat bola mata anda dan itu terasa menenangkan"


"Ehemm..Kau mengatakan hal seperti itu seperti bukan apa apa" Rubia mengalihkan wajahnya karena merasa malu.


"Saya juga tak mengerti Baginda, akhir akhir ini saya seperti tak bisa mengontrol kata kata saya sendiri di depan anda, saya selalu saja mengatakan apa yang ada dipikiran saya tanpa saya sadari, maaf jika saya membuat anda risih"


"Bukan begitu maksudku--" Perhatian Rubia mulai teralihkan oleh sesuatu yang mencuri perhatiannya sampai ia tak menyelesaikan ucapannya.


Tiba tiba mata Rubia terperanjat karena melihat sekilas seseorang yang ia kenal bergerak muncul dan menghilang kembali dengan cepat di bawah sana, ia bangun dari duduknya dan matanya mengikuti pergerakan kedua orang itu.


"Ada apa Baginda?"


"Sepertinya aku melihat Guru sedang mengejar seseorang yang memiliki aura hitam pekat" Rubia mulai melompat turun dari atap itu lalu mengikuti kearah Penyihir Agung pergi, Ferderick pun bergegas mengikutinya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2