Queen Sword

Queen Sword
Eps 64 Penyihir Kegelapan


__ADS_3

Duke verano berjalan melawati ruangan ruangan di kastelnya, dan berhenti di depan sebuah kamar di ujung rumahnya. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar itu, tampak seorang wanita berusia tiga puluhan yang mengenakan pakaian serba hitam, bola matanya terlihat berwarna biru muda, sedangkan rambutnya berwarna putih pucat sedang menikmati wine sendirian di sana.Itu adalah ciri khas orang orang dari Kekaisaran Vlair, kerajaan yang kebanyakan dihuni oleh penyihir penyihir berbakat.


"Apa kau menyukai kamar ini?" ucap Duke Verano seraya mendekatinya.


"Tentu ini lebih baik daripada tinggal di tempat kumuh" jawabnya dengan acuh.


"Baguslah jika kau menyukainya"


"Ini transaksi yang menguntungkan buatku, aku ingin terus hidup bersembunyi ditempat ini dengan nyaman"


"Tentu saja kau bisa melakukan itu karena kau sudah melepaskanku dari pengaruh sihir hitam si penyihir itu dan membuatnya menuruti kata kataku wahai nona penyihir, tetaplah disisiku dan aku akan membuatmu hidup dengan diselimuti kenyamanan"


"Bagus, aku menyukainya"


Wanita itu bernama Atala, penyihir kelas atas yang menjadi buronan di Kekaisaran Vlair karena berusaha membunuh penyihir Agung yang adalah Pangeran kerajaan tersebut, kemampuannya yang unggul membuatnya merasa tak puas akan kedudukannya sebagai penyihir biasa di kekaisaran, ia sangat iri dengan seseorang yang ia kira memperoleh jabatan sebagai Penyihir agung hanya karena ia memuliki darah keturunan langsung Kaisar.


Atala berusaha membunuh Penyihir agung dengan sihir hitam yang diam diam ia pelajari sejak lama, namun usahanya sia sia, ia gagal dalam sekali serangan dan membuatnya menjadi buronan Kekaisaran Vlair, ia kabur dan terus menerus berpindah tempat, ia hidup dengan terus menyembunyikan dirinya, ia hidup dengan kesengsaraan dan serba kekurangan selama bertahun tahun karena sibuk melarikan diri, sampai akhirnya ia bertemu dengan Putra Duke Verano yang sedang mencari penyihir hebat secara diam diam untuk mengobati ayahnya yang seperti kerasukan iblis itu, ia mengajukan diri dan berhasil masuk ke dalam kastel mewah milik Duke.


Sampai ditempat itu ia segera menunjukan kemampuan hebatnya dan berhasil mengendalikan penyihir hitam yang level kekuatannya lebih rendah darinya, ia hanya ingin hidup bersembunyi dengan nyaman dan telah melakukan kesepakatan dengan Duke dan Jasson Verano untuk membantu mereka dari belakang.Orang itu benar benar pas dengan kebutuhan Duke Verano. Apa yang akan mereka lakukan kali ini?


.


Beberapa hari berlalu, orang orang berkumpul di sekitar gedung istana untuk menyaksikan hukuman penggal bagi para penjahat dan penghianat Kekaisaran, satu persatu memenuhi hukuman penggal mereka, suasana tampak riuh para rakyat bersuka cita menyaksikan para penjahat mendapatkan ganjarannya masing masing.Rubia pun menyaksikan hukuman itu dari tempat yang terlihat dengan jelas.


"Fer, aku memberikanmu kesempatan untuk menghukum orang yang membunuh Orang tuamu dengan tanganmu sendiri tapi kau malah menolaknya, mengapa?"

__ADS_1


"Saya hanya tidak ingin mengotori tangan saya dengan darah yang menjijikan, saya akan merasa kotor jika tangan saya menyentuh tangan Anda Baginda"


"Bagus Fer" Rubia tersenyum.


Inilah saat yang ditunggu tunggu, giliran Grand Duke Lewis yang memenuhi hukumannya, para rakyat bersorak gembira sesaat sebelum ksatria itu melayangkan pedang tajamnya di leher Grand Duke Lewis, wajah pria itu terus terlihat angkuh, sepertinya ia tak mengenal apa itu penyesalan di detik detik terakhir hidupnya.


Begitu melihat darah yang menyiprat Rubia mulai merasa pusing, ia mulai memegangi kepalanya.


"Apa anda tak enak badan Baginda?" tanya Ferderick khawatir.


Rubia bangun dari duduknya "Sepertinya aku harus beristirahat" ia mulai melangkah, tubuhnya terhuyung, namun Ferderick sigap menangkapnya.


"Anda baik baik saja?"


Tiba tiba seseorang berdiri di hadapan Rubia dengan wajah yang tersenyum, Duke Verano menatap mata Rubia yang berubah kemerahan "Baginda, bagaimana kabar anda? Maaf karena Orang tua ini baru menyetorkan wajah di depan anda, karena sakit yang saya derita beberapa hari terakhir ini" ia tersenyum smirk karena ia mengetahui dengan jelas bahwa saat mata biru seorang Kaisar berubah kemerahan samar itu tandanya kutukan sedang menunjukkan gejalanya.


"Ya, aku sedikit lelah, aku harus beristirahat" ucap Rubia, sebelum ia melanjutkan kembali jalannya Duke Verano mendekat.


"Apa kutukan di darah anda sedang bekerja Baginda?"


Deg, Rubia segera menenangkan pikirannya, ia berusaha terlihat baik baik saja meskipun ia tak bisa menutupi warna matanya, ia kembali berdiri dengan tegap "Apa kau sedang menghina Kaisar Duke?"


"Apa maksud anda menghina? Saya hanya menghawatirkan keadaan anda Baginda, entah mengapa saya merasa gejala anda dimulai jauh lebih awal dari Kaisar sebelumnya" mata Ferderick melirik tajam ke arah Duke karena ia tak mengira Duke akan mengatakan hal yang sangat mengerikan baginya.


"Aku baik baik saja, tak ada yang kau perlu khawatirkan, aku pastikan akan hidup lebih lama dari dirimu Duke" Rubia tersenyum tipis, lalu melangkah pergi, Duke merasa sangat geram karena ucapan Rubia sama saja dengan ancaman baginya.

__ADS_1


"Sombong sekali, apa hebatnya penyihir kecil itu dibandingkan dengan Atala, pion yang telah kumiliki dia bagaikan seekor semut kecil"gumanya seraya bibirnya menyeringai.


Setelah sampai dikamarnya Rubia mengunci diri, ia melarang siapapun masuk ke dalam kamarnya. Waktu terus berlalu, para dayang dan pelayan mulai resah karena Rubia telah melewatkan jam makan malamnya dan masih belum membuka pintu.


Ferderick datang lagi, ia melihat para pelayan yang gelisah.


"Anu Tuan Ferderick bisakah anda meminta Baginda membuka pintu?" ucap salah satu dayang.


"Apa Baginda belum juga membuka pintunya sejak siang tadi?"


Kedua dayang itu mengangguk, Ferderick merasa ada yang tidak beres, pasalnya ia membiarkan Rubia melakukan keinginannya karena Rubia bilang ia tak apa apa, tapi sepertinya kali ini Ferderick keliru, akhir akhir ini Rubia terus menyembunyikan gejalanya, Ferderick berusaha mengetuk pintu namun tetap tak mendapat respon, kemudian ia keluar dan memanjat jendela kamar Rubia, untunglah jendelanya tak terkunci.


Ferderick membuka jendela itu lalu masuk, ia melihat setiap sudut lantai, tak ada bekas darah, itu berarti semuanya aman.


Kemudian ia lanjut berjalan, ia sangat terkejut ketika melihat Rubia yang tergeletak di bawah tempat tidurnya dengan tangan dan kaki yang dirantai, Ferderick segera melepaskan rantai yang melilit dengan kuat dari tangan dan kaki Rubia. Setelah itu ia membaringkannya di atas tempat tidur.


Ferderick benar benar merasa terpukul, tak ada yang bisa ia lakukan saat Rubia berusaha mati matian menghalangi dirinya sendiri untuk tak melukai orang lain dan membuat keributan hingga ia kehilangan kesadarannya, Ferderick sangat memahami kondisinya, jika sampai Rubia pingsan saat menahan diri melakukan keinginannya itu berarti tubuhnya tak lagi kuat menahan hasrat yang semakin membuncah dalam dirinya, hasrat yang perlahan akan membunuhnya.


Andai dirinya bisa menyembuhkan Rubia saat Rubia tak sadarkan diri seperti saat ini itu akan jauh lebih baik, sayangnya ia tak bisa menyalurkan kekuatannya kepadanya yang tak sadarkan diri, ia telah beberapa kali mencoba cara itu namun hasilnya nihil.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2