Queen Sword

Queen Sword
Eps 21 Ksatria Pengawal Putri Mahkota


__ADS_3

Criiing.. tiba tiba cincin Ferderick mengeluarkan cahaya birunya, orang disana sekali lagi terpukau dengan cahaya indah itu, Ferderick segera bangun dari duduknya dan bersiap untuk berteleportasi, setelah beberapa saat ia telah menyiapkan diri namun ia tak juga berpindah, padahal orang orang di depannya sedang menantikan bagaimana sihir itu bekerja.Karena sihir hanya bisa digunakan oleh penyihir itu sendiri dan keluarga kerajaan untuk kepentingan negara, dan itu membuat mereka penasaran.


"Apa yang terjadi kak?kenapa kau tak lekas menghilang?"tanya Kaisan yang penasaran.


"Entahlah" gumam Ferderick sembari berfikir.


"Apa sihirnya bermasalah?" tanya Stev.


"Ahhh.. saya baru ingat saya sendiri yang meminta kepada Putri agar saya tidak langsung berteleportasi jika urusannya tidak mendesak, karena cincinnya hanya menyala sekali itu berarti saya yang harus menghampiri Tuan Putri"


"Jadi begitu..pergilah dengan kudaku" ucap Joseph.


"Baik, terimakasih Tuan Josep, semuanya saya pergi dulu" ia bergegas pergi.


"Hati hati kak" wajah kaisan tampak khawatir.


"Apa ini tidak apa apa Tuan Stev, Tuan Joseph?" tanya kaisan dengan wajah murungnya.


"Jangan khawatir karena keadaannya sudah seperti ini kita hanya bisa mengingatkan Ferderick untuk selalu waspada"


.


Ferderick sampai di belakang pagar istana Putri Mahkota, ia mendongakkan kepalanya diatas kuda dan melihat jendela kamar putri yang masih terbuka, itu berarti ia datang ketempat yang tepat, Ferderick mengikat kudanya di tempat yang tak terlihat, lalu ia memanjat pagar dan masuk melalui jendela.


Ferderick melihat Rubia yang sedang duduk di kursi kamarnya, rubia pun menoleh kearahnya.


"Kau sudah datang Fer?Kemarilah" Ferderick pun menghampirinya dan duduk di hadapannya.


"Ada apa anda memanggil saya Yang Mulia?" ucapnya sembari memperhatikan raut wajah Rubia yang terlihat tak senang.


"Kau mau minum teh?"


"Tidak, katakan saja kepentingan anda" ucapnya dengan wajah datar.


"Baik, hahhhh..." ia menghela nafas panjang sampai Ferderick merasa cemas dengan apa yang akan dikatakan olehnya. "ini kesalahanku, karena aku memanggilmu hingga kau dikenali oleh orang orang istana"


"Apa maksud anda Yang Mulia?"


Rubia menunjuk wajahnya "Kau! Ada yang ingin bertemu denganmu"


"Siapa?"


"Kaisar"


"Apa? Kaisar berarti Ayah anda?"


"Ya, tentu saja"


"Apa saya boleh tahu apa yang beliau inginkan dari saya?"


"Dia bilang hanya ingin memberimu imbalan karena kau sudah membantu kami kemarin"


"Jadi begitu, apa anda keberatan kalau saya menemui Kaisar?"


"Mengapa?"

__ADS_1


"Saya tidak akan menemui Beliau jika anda tak mengizinkan"


"Apah??Kau serius?"


"Ya, tentu saja, karena saya bekerja untuk anda"


Rubia tersenyum tipis karena ia telah menghawatirkan hal yang sia sia.Dan rubia baru menyadari ternyata anak ini sangat peka.


"Aku yakin Kaisar ingin menarikmu kesisinya karena kau anak yang berbakat, bukankah kau bisa meminta imbalan yang kau harapkan dariku lebih cepat jika bekerja dibawah Kaisar?"


"Anda sudah mengikat saya dengan kesepakatan" ia mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincinnya.


Rubia tersenyum "Bagus Fer, kau tak akan menyesal, temuilah Kaisar besok siang, kau bisa pergi.." Ferderick bangun dari duduknya.


"Tunggu Fer" Rubia bangun dan mengambil sebuah kotak dari lemarinya lalu menyerahkannya kepada Ferderick "Pakailah itu saat kau menemui Kaisar, jangan pakai baju prajurit bayaran, apa kau mengerti?"


Ferderick mengambil kotak itu "Baik Yang Mulia" ia berjalan ke arah jendela dan pergi dari sana.


*****


Keesokan harinya, Ferderick telah bersiap dengan pakaian yang diberikan oleh Rubia, ia berjalan menghampiri Kaisan dan Stev. Mata Stev membelalak kaget melihat penampilan Ferderick dengan pakaian seorang bangsawan berwarna hitam.


"Aku akan mengantarmu kembali keasrama nanti malam, tunggu aku pulang" ucap Ferderick kepada Kaisan.


"Iya..wah, kakak sangat keren, apa yang akan kakak lakukan?" tanya Kaisan penasaran.


"Kai, Tuan Stev saya harus pergi menemui Baginda Kaisar"


"Apahh??" kedua orang itu kaget bukan main.


Setelah itu Ferderick menjelaskan situasinya dan mengapa kaisar memanggilnya ke istana.


Stev merasa bahwa kekhawatirannya akhirnya menjadi kenyataan, karena ia sangat tahu bagaimana kaisar akan memanfaatkan anak yang mempunyai kekuatan seperti Ferderick, Stev tampak resah namun ia tak bisa mencegah kepergian Ferderick.


Saat Ferderick baru saja tiba di istana, para ksatria maupun para dayang menatapnya tanpa berkedip itu karena mereka melihat seseorang dengan penampilan yang sangat rupawan untuk pertama kalinya setelah Axel Harington.


Ferderick duduk menunggu di ruang tunggu seperti arahan dari dayang istana Kaisar, setelah beberapa saat berlalu, Axel menghampirinya.


"Kau kah Swordmaster yang membantu kami kemarin?"


"Benar"


Axel mulai memperhatikan sikapnya yang tak seperti seorang Bangsawan itu.


"Kau harus memberikan salam jika bertemu dengan seseorang yang memiliki status sosial lebih tinggi" ucap Axel menasehatinya.


"Baiklah"


Rubia datang menghampiri Ferderick begitu ia mendengar kabar bahwa dia telah sampai di istana dari dayangnya, itu karena ia menghawatirkan anak yang tak mengenal siapapun di istana itu.


"Kau sudah sampai Fer?"tanya Rubia yang merasa lega karena Ferderick terlihat sangat santai.


"Benar Yang Mulia" ucap Ferderick datar.


"Salam kepada Matahari muda kekaisaran" ucap Axel dengan menunduk.

__ADS_1


Rubia menoleh ke arah Axel "kau juga disini Sir Haringhton"


"Saya disini untuk menjemput tamu Baginda Kaisar"


"Ahh begitu" ucap Rubia canggung mengingat pertemuan mereka semalam yang tak berakhir baik.


"Baiklah kalau begitu, kalian bisa pergi, Fer datanglah ke istanaku setelah pembicaraanmu dengan Kaisar selesai"


"Baiklah"


Rubia melihat Ferderick dan Axel berjalan bersama.


"Sudah kubilang kau harus memberi salam kepada orang yang memiliki status lebih tinggi darimu, mengapa kau tak memberikan salam kepada Yang Mulia Putri Mahkota?"


"Ahh..maaf saya masih belum terbiasa" jawabnya santai.Raut wajah Axel menjadi agak kesal dengan sikap dan cara bicara Ferderick.Apalagi dengan interaksi antara Ferderik dengan Rubia yang seakan terkesan memiliki suatu hubungan dekat.


Tok tok tok "Saya Axel Harington mengantar tamu anda Yang Mulia" Setelah mengantar Axel segera keluar.


"Hohoho Kau sudah datang Swordmaster muda kekaisaran" ucap Kaisar dengan tersenyum ramah.


"Salam kepada Baginda Kaisar" ucap Ferderick menunduk.


"Angkat kepalamu, duduklah..mengapa aku merasa tak asing dengan wajahmu,apalagi warna bola matamu itu"


"Maaf?" Ferderick memperhatikan Kaisar yang tersenyum ramah kepadanya, itu adalah kesan pertama yang berbeda dengan apa yang didengarnya dari Stev dan Joseph tentang Kaisar selama ini.


"Ahh bukan apa apa, mungkin kau sudah mendengar mengapa aku memanggilmu"


"Benar"


"Hoho..aku suka dengan keberanianmu itu yang tak ragu ragu menjawab pertanyaanku"


"Terimakasih Yang Mulia"


"Jadi, aku ingin mempekerjakanmu sebagai ksatriaku sebagai rasa terimakasihku padamu, apa kau akan menerimanya?"


"Maafkan saya Baginda, apa saya bisa mengusulkan imbalan yang saya inginkan?"


Kaisar sedikit terkejut karena pemuda yang baru pertama kali dilihatnya itu membantah ucapannya "Apah? Coba kudengarkan terlebih dahulu keinginanmu"


"Saya bersedia menjadi Ksatria, tapi saya ingin menjadi ksatria pengawal Yang Mulia Putri Mahkota jika anda mengijinkan"


"Apah? Kau menolak menjadi ksatriaku dan ingin menjadi pengawal Putri? Apa kau yakin?"


"Yakin"


Kaisar terdiam sejenak dan berfikir bahwa sayang sekali jika anak berbakat sepertinya tak bisa berada disisinya, tapi meskipun ia lebih memilih Rubia dia tetaplah ksatria resmi istana, ia pikir ia akan membujuknya lain kali.


"Baiklah, lakukan apa yang kau inginkan karena memng niatku untuk memberikanmu imbalan, tapi untuk menjadi seorang ksatria pengawal pribadi kau harus diuji terlebih dahulu oleh kepala pimpinan ksatria, apa kau setuju?"


"Tentu"


"Hoho kau sangat lugas yaa, aku menyukai sikapmu itu, baiklah kau bisa pergi dan kembali lagi besok untuk pengujian sebagai ksatria resmi"


"Baik Yang Mulia, saya undur diri"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2