
Rubia bergegas pergi ke ruangan kerja Kaisar setelah mendengarkan penjelasan Ferderick secara rinci tentang orang orang dari serikat Bayangan Hitam,Rubia terhenti di depan pintu ruang kerja Raja, sebelum masuk ia menatap tajam dan menghampiri pengawal pribadi raja yang bernama Vernand yang sedang berjaga di luar ruangan..
"Namamu Vernand kan?" tanya Rubia.
Dia mengangguk "Benar Yang Mulia, anda ada perlu dengan saya?" pria itu lagi lagi tersenyum smirk setelah menyelesaikan ucapannya.
"Kau pasti meremehkanku kan?Aku tidak akan melupakan perbuatanmu kali ini kepadaku Sir Vernand" bisiknya lalu tersenyum seraya menepuk pundak Vernand.
"Baginda Kaisar sedang ada tamu Yang Mulia Putri, anda tidak bisa masuk sekarang" ucap Vernand santai.
"Oh, apa itu Pamanku? Kami adalah keluarga jadi tidak masalah jika aku bergabung kan Sir Vernand? Apa anda keberatan"
"Tentu saja saya tidak berani Yang Mulia"
"Kalau begitu bukakan pintu sekarang juga, lekas!"
Raut wajah Vernand seolah mengatakan mengapa Rubia tahu jika Duke Verano yang sedang bersama Kaisar.
Rubia segera membuka pintu karena Vernand tak kunjung membukakan untuknya,ia memaksa masuk meskipun sempat dihalangi oleh pengawal Raja.
"Apa apaan ini Rubia, bukankah pengawalku sudah mengatakan bahwa aku sedang kedatangan tamu penting?" ucap Kaisar yang langsung emosi begitu melihat putrinya setelah kembali dari sarang monster.
"Maafkan saya Yang Mulia, ada hal mendesak yang harus saya katakan"
Duke Verano tersenyum menyeringai seraya menyeruput teh dihadapannya "Tidak masalah Baginda, kami kan keluarga jadi tidak apa apa Putri bersikap seperti itu dihadapan pamannya ini" sebenarnya Duke samar samar mendengar Rubia mengatakan kata keluarga di depan pintu.
"Hoho kau sungguh paman yang pengertian Duke" Kaisar tersenyum ramah kepada Duke Verano.
Kemudian Kaisar kembali menatap Rubia yang masih berdiri dihadapan mereka "Apa yang mau kau katakan?" ia sudah kehilangan senyumannya.
"Tentang kasus penyerangan saya diperjalanan hari ini, saksi yang diinterogasi ternyata sengaja berbohong untuk menyudutkan seseorang, tolong cabut perintah penangkapan kepada pengelola serikat Bayangan Hitam Baginda" ucap Rubia sembari menundukkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin hal berbahaya seperti itu bisa dibiarkan begitu saja Yang Mulia Putri, ini menyangkut nyawa anda yang berharga, tolong jangan halangi Baginda menghukum seseorang yang memang layak dihukum" ucap Duke menatap kepada Kaisar dan Rubia secara bergantian.Ucapannya membuat Rubia mengepalkan kedua tangannya, Rubia ingin sekali membungkam mulut itu dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Itu benar Rubia, jangan menghalangi prosedur resmi istana, mereka telah ditangkap dengan tuduhan penghianatan" ucap Raja dengan wajah yang tak senang.
"Apa?Penghianatan?" Rubia benar benar telah kehabisan kesabaran menghadapi Kaisar yang mudah dihasut itu.
"Benar, setelah mereka terbukti bersalah mereka akan segera dieksekusi beserta semua orang yang terlibat dengan penyerangan hari ini, kudengar anak yang menjadi pengawal pribadimu itu juga berasal dari serikat itu tapi karena sekarang dia telah menjadi pengawalmu maka aku akan berbaik hati dan membebaskannya dari tuduhan kerja sama dengan para pelaku penghianatan" ucap Raja lagi. Duke Verano kembali tersenyum seraya melirik Rubia yang terlihat semakin kesal.
"Anda sungguh ingin menghukum orang yang tidak bersalah Yang Mulia Raja?!" ucap tegas Rubia dengan tatapan yang sangat tajam kepada Kaisar.
"Mereka itu mantan ksatria istana, wajar jika mereka memiliki dendam dengan anggota keluarga kerajaan, apa kau mengerti?"
"Mereka tidak seperti itu" bantah Rubia dengan suara yang keras.
"Beraninya kau berteriak kepada Kaisar"Kaisar balik berteriak kepada Rubia.
"Dasar tidak berguna!" gumam Rubia seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangn itu.
"Anak tidak sopan itu" ujar kaisar yang melihat Rubia pergi begitu saja.
"Baiklah,aku berharap banyak banyak padamu adikku"
Duke pergi terburu buru mengejar Rubia "Yang Mulia Putri, Tolong tunggu sebentar, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda" teriak Duke sembari menghampirinya.
Rubia terhenti dan berbalik badan "Yang Mulia, bagaimana jika kita melakukan kesepakatan? Anda mau mendengarnya?"
"Katakan saja" ucap Rubia seraya mengalihkan pandangannya karena ia telah merasa sangat muak melihat wajahnya itu.
"Saya akan membebaskan orang orang yang anda bilang tidak berdosa itu jika anda memecat pengawal pribadi anda dan menyuruhnya bekerja dibawah saya, sebagai ksatria dikediaman Duke, itu saja sangat mudah bukan?"
"Duke, kau tak akan bisa menanganinya meskipun dia bekerja di bawahmu, apa kau masih tidak mengerti? kubur rapat rapat keinginanmu itu, apa kau pikir aku tak bisa berbuat apa apa untuk melindungi orangku?" ucap Rubia seraya menekankan ucapannya, kemudian ia pergi begitu saja.
"Hahaha.. lakukan saja jika anda bisa Yang Mulia Putri" ia tertawa meremehkan.
.
__ADS_1
Ferderick menatap orang orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya itu dengan raut wajah yang teramat pilu, mereka yang sedang berkumpul di dalam sel tahanan dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Hei, kenapa dengan wajah tampanmu itu? Kau terlihat sangat keren menggunakan seragam ksatria seperti ini" ucap Stev seraya memperlihatkan senyum kecutnya.
"Apa yang terjadi dengan Nyonya ilona?" tanya Ferderick.
"Dia pasti baik baik saja, kau tak perlu khawatir"
"Ya, benar Ferderick kami baik baik saja asal diberi makan yang cukup kami akan betah hidup disini" ucap salah satu teman prajurit bayarannya dulu, dia tertawa dan disambut setuju oleh yang lainnya.
"Maaf, karena saya kalian jadi terkurung disini, maafkan saya" ucap Ferderick dengan raut pilu.
Rubia menghampiri Ferderick,dan menyentuh punggungnya yang terlihat lemah dan tak berdaya untuk pertama kalinya "Fer"
Ferderick berbalik badan "Yang Mulia"
"Jangan khawatir, aku akan membebaskan mereka apapun yang terjadi, mereka tidak bersalah dan aku berjanji kepadamu, apa kau tak mempercayaiku"ucap Rubia dengan lembut. Ferderick mengangguk, semua orang didalam sel terlihat sangat tertarik melihat interaksi mereka berdua.dipenglihatan mereka Ferderick terlihat seperti kucing liar yang tunduk dengan pemiliknya.
Joseph mendekat "Yang Mulia Putri, anda tumbuh dengan sangat baik" ucapnya seraya menatap wajah Rubia dalam dalam.
"Apa anda mengenal saya?"
"Ya, saya dan dia adalah ksatria yang mengawal anda sejak anda lahir sampai anda berusia lima tahun" Joseph menunjuk Stev.
"Benarkah? Aku ingin sekali mendengar cerita kalian tapi aku harus segera mencari cara untuk mengeluarkan kalian dari sini, saya akan menemui anda setelah kalian keluar dari sini" ucap Rubia sayang.
"Baik Yang Mulia, kami percaya kepada anda" mata mereka semua terlihat berbinar, Rubia sungguh terharu dengan kepercayaan mereka kepada dirinya yang tak memiliki kekuasaan. Rubia mengangguk dan pergi dari tempat itu, Ferderick mengikutinya.
.
.
Bersambung.
__ADS_1