
"Baginda, Yang Mulia Putri menghadap" ucap lantang pengawal Kaisar di depan ruangan, Rubia segera masuk setelah mendapatkan jawaban dari Kaisar, sedangkan Ferderick dan Axel menunggu di depan Ruangan, wajah mereka berdua terlihat sangat tegang.
PLAKKK! terdengar suara keras hingga keluar ruangan sebelum pintu tertutup sepenuhnya, itu membuat kedua pria di depan ruangan mengepalkan tangannya membayangkan apa yang sedang terjadi kepada Putri yang berada di dalam ruangan itu.
Sorot mata tajam Kaisar menatapi Rubia yang berdiri di hadapannya, bahkan Rubia tak terlihat merasa kesakitan meskipun pipinya baru saja dipukul dengan keras, hal itu membuat Kaisar menjadi sangat marah.
"Tidak bisakah kau menunggu kematianku jika ingin melakukan hal hal sesuai kehendakmu sendiri?" teriak Kaisar, teriakannya pun terdengar sampai ke luar ruangan. Rubia hanya tertunduk dengan wajah yang tegas.
Kaisar menunjuk wajah Rubia "Kau! Beraninya kau membuat keributan tanpa seizinku, apa yang kau miliki hingga membuatmu seberani ini melawan otoritas Kaisar?"
"Maafkan saya"
"Hanya itu yang bisa kau katakan setelah berusaha mempermalukanku? Apa kau tak punya pikiran? Atau kau sudah tak sabar untuk memerintah kekaisaran? Alangkah lebih baik jika aku tak memiliki seorang anak sepertimu"
"Maafkan saya"
"Apa benar kau meminta maaf? Tapi wajahmu tak menunjukan sedikitpun penyesalan atas perbuatanmu, kau benar benar harus dihukum"
Tentu saja karena aku sudah melakukan hal yang benar.Hukum saja aku,aku sudah bersiap menerima konsekwensi dari tindakanku bahkan lebih dari ini.
"Penjaga yang diluar, kurung Putri di istananya dan jangan biarkan dia keluar tanpa seizinku!" ucap lantang Kaisar, kemudian para penjaga yang sedang bertugas segera mengawal Rubia menuju ke kediamannya. Ferderick mengikutinya dari belakang, begitu Axel ingin melangkah mengikuti Rubia, Kaisar memanggilnya.
"Sir harington kau disana? Masuklah"Axel pun masuk dan duduk dihadapan Kaisar.
"Karena Putri yang belum dewasa dia telah banyak menyusahkanmu, maafkan aku" ucap Kaisar dengan wajah bersalah.
"Anda tak perlu meminta maaf kepada saya Yang Mulia, sejujurnya saya bersedia menuruti perintah Yang Mulia Putri karena saya pikir Beliau melakukan hal benar meskipun caranya sedikit kurang tepat"
"Benar, sebagai tunangannya kau pasti tak memiliki pilihan selain menuruti keinginannya, tapi aku harap kau bisa lebih tegas dalam membimbing Putri ke jalan yang benar, aku berharap banyak padamu"
Rupanya Kaisar tak ingin mendengar bahwa aku memihak Putri dan membenarkan apa yang dilakukan Putri.
"Baik Yang Mulia"
"Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu dan bantu aku tetap mengawasi Putri"
"Baik Yang Mulia, saya mohon undur diri"
__ADS_1
Axel keluar dari ruangan Kaisar, kini ia mengerti mengapa saat itu Rubia sangat membencinya hanya karena ia mengaku mengalahkan putri di hadapan Kaisar, ia telah menyadari bahwa apa yang dilakukannya saat kecil sangat melukai harga diri Putri, dan berdampak hingga kini.
Axel berjalan menuju istana Putri Mahkota, sampailah ia di depan pintu istana yang dijaga dengan ketat oleh para penjaga, mereka segera memberikan jalan untuk Axel masuk, ia melihat dari kejauhan dayang Rubia yang sedang mengompres pipi Rubia yang terkena pukulan Kaisar dengan sekantong es batu.
"Salam Yang Mulia Putri" ucap axel memberi salam setelah sampai dihadapan Rubia.
"Kau disini Axel? Ada apa? duduklah" Axel pun duduk dihadapan Rubia.
"Lydia Tolong ambilkan teh untuk Sir Harington"
"Baik Yang Mulia" jawab Lydia, ia memberikan kantong es itu kepada Ferderick yang berdiri di belakang Rubia.
"Gantikan aku mengompres memar Yang Mulia Putri" bisik Lydia di telinga Ferderick.
Ferderick merasa tak enak tapi ia tak memiliki pilihan, ia melangkah maju dan berlutut di samping tempat duduk Rubia.
"Permisi Yang Mulia" ucap Ferderick sembari menempelkan kantung es di tangannya ke pipi Rubia.
"Awww.. pelan pelan Fer" Rubia merasa kesakitan dengan gerakan kasar Ferderick dilukanya.
"Berhati hatilah kau,atau biarkan saya yang mengompres Yang Mulia" ucap Axel yang telah bangun dari duduknya.
Axel kembali terduduk dengan terpaksa, namun sebenarnya ia masih tak rela pengawal itu berada sangat dekat dengan putri yang adalah tunangannya, sedangkan ia tak pernah sedekat itu dengan putri, tapi ia hanya bisa menahan kecemburuannya itu. Tak lama Lydia datang membawa teko teh beserta cangkir berukir bunga, ia pun menuangkan teh untuk mereka berdua.
"Anda tidak apa apa Yang Mulia? Itu terlihat sangat sakit" ucap Axel sembari terus memperhatikan luka di pipinya.
"Ahh..ini bukanlah apa apa"
"Apa anda sudah tahu akan seperti ini makannya anda sangat santai?"
"Tentu saja, meskipun tahu akan begini aku tetap akan mengambil keputusan yang sama"
"Sayang sekali kita tak bisa menyelidiki kasus ini sampai ke akarnya karena semua saksi telah dieksekusi tanpa sisa"
"Memang sayang membiarkan penjahat yang berkedok masih berkeliaran dengan bebas, tapi sudahlah kebebasan para orang orang yang terkurung disana lebih utama, itu sudah cukup untukku"
Axel tersenyum menatap wajahnya yang memikirkan rakyatnya dengan tulus itu "Anda akan menjadi pemimpin yang hebat Yang Mulia"
__ADS_1
"Kuharap akan seperti itu" Rubia tersenyum tipis.
"Saya tak menyangka anda akan sampai dihukum, untuk beberapa waktu anda tak bisa keluar dan berlatih pedang bersama para ksatria"
"Itu bukan masalah Sir Hari-- ahh Axel" rubia masih kaku memanggilnya dengan nama panggilan.
"Tentu saja itu masalah untuk anda yang sangat rajin berlatih"
"Sebenarnya yang benar benar menjadi masalah adalah aku tak bisa menghadiri undangan pernikahan Dame Fiona dan Sir Craney besok" sesalnya.
"Ahh benar, seluruh pasukan ksatria akan hadir dengan bergantian tugas, apa tidak apa apa anda tidak hadir?"
"Aku sangat menyesal atas itu tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, Dame Fiona pasti mengerti kan jika anda sampaikan situasi saya saat ini?"
Melihat raut wajah Rubia yang tampak kecewa Axel merasa harus melakukan sesuatu untuknya, dan ia terpikirkan satu hal "Yang Mulia, saya akan meminta izin kepada Baginda Kaisar untuk mengajak anda ke pesta sebagai partner saya, apa anda tidak keberatan?"
"Ya, tentu saja jika kau mau mengusahakan aku akan sangat berterimakasih"
"Baiklah Yang Mulia, saya pastikan akan mendapatkan izin dari Baginda"
"Aku mempercayaimu Axel" wajah Axel bersemu mendengar namanya disebut dengan lembut. Tanpa sadar ia terus memperlihatkan senyumnya hingga ia pergi dari hadapan Rubia.
"Sudah cukup Fer, kau bisa bangun" Rubia memegang lengan Ferderick dan menghentikan tangannya mengompres lukanya.
Ferderick bangun "Apa sudah tidak sakit Yang Mulia?"
"Tidak, berkatmu aku sudah baikan, kau bisa kembali ke asrama aku akan beristirahat"
"Saya akan pergi setelah anda tidur Yang Mulia"
"Baiklah, kau bisa masuk dan duduk di dalam setelah aku membersihkan diri"
"Baik"
.
.
__ADS_1
Bersambung