Queen Sword

Queen Sword
104 Malam pertama setelah pernikahan


__ADS_3

Rubia dan Ferderick saling memandang dengan saling melemparkan senyuman ke arah satu sama lain di ruang tunggu kedua mempelai, Rubia yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan lambbang kaisar yang melingkar di bahunya berwarna merah bercrak emas itu tampak amat sangat mempesona, mahkota Kaisar yang terpasang dikepalanya membuatnya penuh dengan pesona keagungan, bagi Ferderick saat ini tak ada hal yang lebih indah dari pada wanita di depannya di dunia ini.


Sedangkan Ferderick memakai pakaian yang senada dengan rubia, Rubia pun tak bisa mengalihkan pandangan darinya,elegan, cerah,indah dan bersinar, itulah yang Rubia lihat dari calon suaminya itu, kini auranya telah memancarkan aura seorang Raja.


Ketika pintu terbuka kedua mempelai masuk dengan bergandengan, satu tangan Rubia memegang buket bunga berwarna merah muda, mereka berjalan dengan penuh senyuman dan kepercayaan diri di sepanjang karpet merah yang menuju ke altar pernikahan, sesekali keduanya saling memandang ke arah satu sama lain dengan senyuman, tepukan tangan yang meriah dan senyuman orang orang mengiringi langkah keduanya, sempurna, itulah kesan semua orang kepada pasangan yang menjadi pusat perhatian dan tokoh utama hari ini.


Tak lama kedua mempelai saling mengucap janji suci lalu mengesahkan dengan sebuah ciuman sakral yang romantis, pernikahan berjalan dengan lancar tanpa satu halangan pun, raut wajah bahagia jelas terlihat di wajah mereka berdua dan keluarga beserta para tamu undangan yang hadir di aula pernikahan.


Setelah resmi dinyatakan sebagai pasangan suami istri yang sah keduanya mulai berjalan keluar istana dengan menggunakan kereta kuda khusus dengan atap yang terbuka dengan dihiasi bunga bunga yang indah, kereta kuda berjalan perlahan diantara kerumunan rakyat yang telah menunggu nunggu kedatangan Ibu dan Ayah kekaisaran mereka, sorakan tepukan tangan dari orang orang yang tak ada hentinya membuat kedua mempelai terharu, betapa orang orang sangat mengharapkan dan menantikan hari kebahagiaan mereka berdua.Disepanjang perjalanan keduanya terus memegang erat tangan satu sama lain.Kelopak bunga telah bertebaran,Suasana di awal musim semi menambah kesempurnaan pada hari ini.


Setelah mengitari jalan Ibu kota dan menyapa para rakyatnya akhirnya kini pasangan pengantin baru itu bisa kembali ke Istana dan beristirahat dengan tenang..


Ferderick membuka pintu kamar pengantin lebih dahulu setelah membersihkan diri, matanya mengitari seluruh ruangan yang telah dihias sedemikian rupa oleh para dayang istana, kelopak bunga mawar merah yang bertaburan diatas tempat tidur berwarna putih itu membuat jantungnya berdegup kencang, ia benar benar tak menyangka beginilah akhirnya, kini ia telah menyandang status sebagai pasangan Kaisar dan seorang Raja kekaisaran ini, pundaknya telah terasa berat dengan semua tugas dan tanggung jawabnya yang harus dilakukannya seumur hidupnya, tapi itu bukan masalah, asalkan ia bisa terus berada di sisi orang yang dicintainya itu semua sudah cukup, ia telah bertekad akan selalu ada untuknya dan melindunginya dari bahaya apapun yang akan datang di masa depan.


Jantungnya yang berdebar belum juga merasa tenang,jendela yang terbuka, angin semilir membuat tirai putih terus menerus bergerak mencuri perhatiannya,ia mulai berjalan ke arah balkon, tempat favorite dirinya dan Rubia, bibirnya tersenyum mengingat semua momen mereka berdua di awal pertemuan, kemudian ia melihat sebotol wine dengan dua gelas yang diletakkan di atas meja, sepertinya ia harus minum alkohol agar perasan gugupnya membaik.


Ferderick pun menarik salah satu kursi lalu duduk disana, ia membuka tutup botol wine lalu menuangkannya ke dalam gelas kaca, ia minum sedikit demi sedikit seraya matanya mencari cari keberadaan bulan di langit, "Hampir sempurna" gumamnya.


Tiba tiba Rubia memeluknya bahunya dari belakang, langkah kakinya sama sekali tak terdengar "Apa yang hampir sempurna?" ucapnya sembari mendongakkan wajah Ferderick.


"Bulannya hampir sempurna Baginda, lihatlah" ia menunjuk ke arah langit.

__ADS_1


"Benar, mulai sekarang kau bisa memanggil namaku, Yang Mulia Ferderick El Grosjean"


Ferderick bangun dari duduknya lalu meraih kedua tangan Rubia "Saya mengerti Rubia" keduanya saling menatap lalu tersenyum.


Rubia mengalihkan pandangannya ke arah bulan, bulan yang tadinya sebagian tertutup awan hitam kini awan hitam itu mulai bergerak dan cahaya bulan semakin terang "Fer, bulannya sedikit lagi sempurna" ia berjalan ke pinggiran balkon.


Ferderick menuangkan wine ke dalam dua gelas, lalu ia membawanya dan memberikan kepada Rubia, mereka bersulang sebelum meneguk wine di tangan mereka sembari menghadap ke langit, Ferderick kembali mengambil gelas kosong ditangan rubia dan menaruhnya kembali di meja, ia berjalan masuk ke dalam kamar.


Kemudian Ferderick kembali dengan membawa sebuah selimut lalu ia menutupi tubuh Rubia agar tak kedinginan, (seperti dejavu, tapi yasudahlah) karena Rubia hanya memakai gaun tidur dengan bahu yang transparan.


"Aku tidak kedinginan Fer"


"Angin malam masih dingin Bagi-- ahh Rubia" wajahnya mulai memerah.


"Rubia, saya masih tak menyangka kita akan berakhir seperti ini, apa anda ingat pertemuan pertama kita?"


"Tentu saja aku tak mungkin melupakannya, kita saling menodongkan pedang kearah satu sama lain"


"Bukannya menghukum anda malah menawarkan kerja sama, apa saat itu anda benar benar tak membenci saya?"


"Tidak"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena tampan dan hebat"


"Pfffttt.. anda serius?"


"Sungguh, berterimakasihlah pada wajahmu itu, berkat itu nyawamu tak melayang, hehehe Aku tahu kau ragu ragu karena tak benar benar ingin membunuhku padahal saat itu pasti kau bisa membunuhku dengan mudah dengan kemampuanmu"


Ferderick memeluknya dari belakang "Rubia, terimakasih karena sejak awal anda sudah mengulurkan tangan anda terlebih dulu, saya mencintai anda dengan segenap nyawa" bisiknya di telinga Rubia.


Kemudian Rubia berbalik badan "Aku lebih mencintaimua" jawabnya dengan bibir tersenyum.


Mereka pun perlahan menutup mata lalu berciuman di bawah bulan yang telah bulat sempurna, cahaya bulan yang redup membuat suasa semakin romantis, perlahan,semakin dalam, semakin lama ciuman keduanya semakin agresif dan Ferderick semakin dominan, keduanya begitu menggebu gebu meluapkan semua hasrat yang telah tertahan, selimut yang menutupi tubuh Rubia pun terjatuh, Ferderick mulai mengangkat tubuh Rubia dengan perlahan di atas dada bidangnya namun tak melepaskan ciumannya.


Ferderick berjalan masuk ke dalam kamar, perlahan ia merebahkan tubuh Istrinya di atas tempat tidur, ia melepaskan ciuman mereka, kemudian saling menatap dengan intens, raut wajah keduanya sudah sangat memerah dan tubuh mereka semakin terasa panas, tanpa kata kata, hanya pandangan mata pun sudah cukup mewakili perasaan keduanya.


Rubia mulai membuka kancing kemeja putih Ferderick satu persatu, tak lama ia membuka dengan tangannya sendiri sehingga membuatnya bertelanjang dada, Ferderick kembali mencium bibirnya dengan lembut, Rubia pun membalasnya dengan cukup agresif...Malam yang panjang dan menggairahkan baru saja dimulai...


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2