Queen Sword

Queen Sword
Eps 91 Bertahan


__ADS_3

Rubia yang telah mencapai batas lelahnya akhirnya tertidur di samping Ferderick, tangannya masih tetap setia merangkul tangannya, telah berhari hari ia hidup dengan segan dan baru saja menutup matanya seraya tubuhnya yang masih terduduk.


Belum lama ia mulai memejamkan mata terdengar suara seseorang mengetuk pintunya, tok tok tok, bunyi itu terus berulang meskipun tak mendapat jawaban dari penghuni kamar, sampai akhirnya suara itu begitu mengganggu Rubia, akhirnya ia membuka matanya lalu bangkit dan berjalan membuka pintu.


Setelah Rubia membuka pintu ia melihat Permaisuri dihadapannya "Apa yang sedang anda lakukan?" ucap Rubia dengan sorot mata yang kesal.


Permaisuri mengabaikan ucapannya dan malah membuka pintu kamar Rubia lebar lebar kemudian ia melangkah masuk ke dalam kamar, langkahnya terhenti ketika melihat serang pria berbaring di atas tempat tidur, "Saya bilang apa yang sedang anda lakukan menerobos masuk ke kamar seorang Kaisar?" nada suaranya meninggi.


Permaisuri menatap Rubia "Kau bilang kau seorang Kaisar? Apa tak salah? Bukankah seorang Kaisar harusnya berada di ruang kerja dan mengurus wilayah yang dipimpinnya? Jadi apa yang sekarang kau lakukan di dalam kamar berhari hari menunggu seorang pria yang tak sadarkan diri tanpa makan dan minum, harusnya kau tak menempatkan pria yang hampir mati ini di kamarmu sehingga aku tak penasaran karena mendengar rumor yang menjadi jadi di antara para pelayan dan pengawal"


"Anda bilang apa? Pria yang hampir mati?" Rubia merasa sangat murka dengan ucapan Permaisuri yang menurutnya sangat lancang itu. "Pergilah, aku tak ingin meladeni anda, dan jangan pernah mengatakan kata kata sembarangan tentang Ferderick, atau aku akan benar benar membuat anda menyesal sudah melahirkanku"


"Apa? Kau berani mengatakan hal seperti itu kepada Ibumu sendiri demi seorang pria? Memang yah hubungan kalian berdua sejak awal sudah salah, aku menyesal karena terus membiarkannya berada disampingmu, laki laki yang hanya mencari celah untuk merebut hatimu karena kau adalah seorang Kaisar, lihat kan sekarang kau menjadi seperti ini hanya karena dia"


"Saya sudah bilang cukup kan, apa anda tak mengerti bahasa manusia? Bisa bisanya anda mengatakan hal buruk tentang Ferderick padahal anda tak tahu apa apa tentangnya, anda tak tahu apa yang sudah dilakukannya untukku, apa anda tahu bagaimana bisa dia menjadi seperti ini? Biar aku beritahu agar anda tak terus salah paham dan menebar ucapan yang melukainya, dia dia sudah melepaskan kutukanku, kutukan keluarga kekaisaran, dan apa yang sudah anda anda lakukan untukku? untuk Kekaisaran? apa anda paham sekarang perbedaan antara anda dan dia!!!" teriaknya seraya menunjuk Ferderick dengan mata yang berkaca kaca.


Permaisuri tampak terdiam, ia benar benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Rubia "Itu tidak mungkin" ia terus menggeleng "Mana mungkin Pria sepertinya mampu melenyapkan sebuah kutukan"


Rubia semakin marah "Penjaga, bawa keluar Permaisuri dan jangan ijinkan kembali masuk ke kediamanku" teriak Rubia, seketika pengawal membawa Permaisuri pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Rubia kembali terduduk di samping Ferderick,air matanya terus berderai menatap wajah Ferderick "Bangunlah Fer, bangun, aku lelah, aku lelah hidup seperti ini, aku tak mau hidup huaaaaa" ucapnya seraya terisak.sudah seminggu berlalu namun Rubia tak bisa beranjak dari kamarnya.


Kemudian Rubia mulai teringat kata kata seorang saintes yang ia temui tiga tahun lalu sebelum kematiannya, dia berkata bahwa jika saatnya tiba anda tak lagi memiliki keinginan hidup maka anda hanya perlu bertahan, begitulah ucapan saintes yang meramalkan masa depannya sebelum akhirnya meninggal dunia.


Rubia mulai menegakkan punggungnya "Benarkah aku hanya perlu bertahan?" gumamnya "Fer,jika aku bertahan apa kau akan bangun kembali?" ia bertanya tanya kepada Ferderick yang tak sadarkan diri.


Tok tok, Baginda, waktunya makan malam, ucap seorang dayang wanita yang resah karena sudah berhari hari makanannya sering ditolak, kemudian Rubia membuka pintunya, "Bawa masuk" mendengarnya membuat dayang itu tersenyum sumringah, ia pun segera membawa troli makanan ke dalam kamar dan menyiapkannya di atas meja.


Rubia duduk dihadapan bermacam makanan, ia menyuapi mulutnya dengan tatapan kosong,lidahnya tak bisa lagi merasakan apakah makanan itu enak atau tidak, ia hanya berpikir harus makan dan bertahan.


Setelah menyelesaikan makan Rubia keluar dari kamar, orang orang terkejut melihat kemunculannya, Rubia terus berjalan tanpa memperdulikan tanggapan orang lain, ia masuk ke dalam ruang kerjanya, disana ia melihat beberapa tumpuk dokumen yang memenuhi meja kerja Irena, sampai Iren tak menyadari kehadiran Rubia.Selama ini Irena tak pernah mengeluh meskipun sampai tengah malam seperti ini ia masih harus bekerja menggantikan Kaisar yang sedang terpuruk, Rubia benar benar merasa amat sangat buruk, dia merasa bukan seorang Kaisar yang baik,dia hanyalah seorang Kaisar yang tak bisa membedakan urusan pribadi dan tanggungjawabnya, Rubia mendekat ke hadapan Irena, saat Irena melihat Rubia ia segera berdiri dan memberi salam.


"Baru saja, mengapa kau masih bekerja selarut ini? Selama ini berapa jam kau tidur dalam sehari?"


"Ahh, anda tak perlu kawatir, saya tidur selama dua jam setiap hari, itu cukup Baginda"


Namun, Rubia melihat darah menetes dari hidung Irena, Irena yang menyadarinya segera mengelap darahnya dengan sapu tangan dan membuat mimisannya segera berhenti dengan menyumbat hidungnya "Pergilah istirahat, aku akan menyelesaikan pekerjaannya"


"Saya tidak apa apa Baginda"

__ADS_1


"Beristirahatlah, kau bisa libur besok, gunakan waktu untuk beristirahat penuh"


"Apa anda serius Baginda? Tapi.." Irena masih melihat wajah Rubia yang pucat.


"Ini perintah" ucapnya dengan raut wajah datar.


"Baiklah Baginda, saya akan melakukan sesuai perintah anda" Iren pun berdiri dan berjalan keluar dari mejanya.


"Maafkan aku dan terimakasih untuk selama ini"


Irena menatap wajah Rubia dalam dalam "Baginda, apa saya boleh memeluk anda?" Rubia merasa aneh, irena seperti bukan dirinya yang dikenalnya, namun Rubia mengangguk, Irena pun memeluk Rubia dengan hati hati, perlahan menepuk punggung Rubia "Anda sudah berusaha keras Baginda, semua akan baik baik saja" Rubia merasa sangat terharu, perasaannya benar benar membaik hanya dengan seseorang mengatakan kata kata yang paling ingin ia dengar dan memeluknya, benar mari bertahan dan semuanya akan baik baik saja, Rubia menguatkan kembali tekadnya.


Setelah Iren Pergi Rubia memfokuskan dirinya menyelesaikan pekerjaan dengan secepat mungkin satu persatu dengan teliti, rupanya jika seseorang memfokuskan pikirannya ditempat lain yang lebih bermanfaat seperti bekerja luka dalam hati bukanlah apa apa asalkan seseorang bertahan dan bersiap menghadapi masalahnya itu sudah lebih dari cukup.


Di sana ia melihat laporan wilayah kekuasaan Count yang ditulis oleh Ferderick , ia kembali terfikir, sudah seminggu Ferderick berada disini namun keluarganya sama sekali tak mencarinya, mengapa? Ia pun terfikirkan untuk mengantarkan Ferderick ke rumahnya karena bagaimanapun keluarganya berhak mengetahui keadaannya yang sesungguhnya.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2