
Keesokan harinya, disela sela pekerjaannya Rubia memenuhi janjinya untuk menemui Permaisuri, ia berjalan melewati luar rumah kaca, bunga bunga disana terlilat layu dan tak terawat, daun daunnya bahkan mulai menguning.
"Baginda Kaisar Tiba" ucap pengawal yang menjaga pintu utama istana Permaisuri.Rubia masuk kedalam istana bersama Ferderick yang mengawalnya, Permaisuri segera keluar dan berjalan ke arah Rubia yang telah duduk di ruang tamu.
Plaakkkkk!!! Begitu tiba wanita itu tak segan segan menampar Putrinya hingga memecahkan cangkir teh yang sedang dipegang oleh Rubia, Ferderick segera bersiap mengangkat pedangnya namun tangan Rubia menghalanginya. "Kau Putri kurang ajar! Apa kau pikir kau sudah sangat hebat sampai berani melakukan ini kepadaku?!" teriaknya dengan histeris.
Rubia bangun dari duduknya "Apa anda menyuruh saya datang kesini untuk melakukan hal seperti ini? Apa anda lebih suka dikurung ditahanan bawah tanah?Apa anda sadar siapa yang barusan anda pukul?" Rubia tak menyangka, wanita yang biasanya terlihat sangat anggun kini menjadi sangat kacau.
Permaisuri menggigit bibirnya dengan tubuh yang gemetar, kini putrinya telah benar benar berubah, sekarang ia bisa menekan lawan bicaranya hanya dari sorot matanya, Permaisuri baru menyadari ternyata dirinya tak bisa berkutik dihadapan Putrinya itu.
"Kembalikan orang orangku!"
"Siapa yang menjadi orang anda?"
"Kembalikan semuanya dan singkirkan pengawal yang berada di depan pintu!" ia kembali berteriak.
"Apa anda pikir pelayan dan dayang anda benar benar orang anda? lalu kenapa aku harus menuruti keinginan anda?"
"Kau!" ia kembali mengangkat tangannya dan ingin menampar Rubia lagi, tapi Ferderick dengan sigap menahan tangannya. Permaisuri menatap wajah Ferderick, lalu menepis tangannya "Kau, orang rendahan sepertimu berani beraninya menyentuh tubuh seorang Ratu!
"Ratu? Apa anda lupa bahwa suami anda sudah tiada? Sadarlah sekarang ini aku adalah Ratu dan juga Kaisar negeri ini, tolong perbaiki pemikiran anda itu"
"Dasar anak kurang ajar!!"
"Aku benar benar telah menghabiskan waktu yang sia sia dengan datang kesini" Gumam Rubia. "Ayo kita kembali Fer" Rubia melangkah pergi.
"Baik Baginda"
"Tunggu!"
Rubia kembali berbalik badan "Ahh, tolong jangan ganggu aku lagi dengan hal hal seperti ini, nikmatilah waktu anda dengan berdiam diri ditempat ini, gunakanlah sisa waktu anda untuk merenungi kesalahan apa yang telah anda lakukan,mengapa hidup anda sekarang menjadi seperti ini,pikirkanlah apa yang benar dan salah lalu tolong hiduplah dengan lebih baik Ibu!" Rubia pergi setelah mengatakan apa yang diinginkannya.
"Kau! Dasar anak durhaka sialan aarrrggggghhhh"
.
__ADS_1
"Huuuuuhhhhh" Rubia menghela nafas panjang setelah keluar dari istana Permaisuri.
"Baginda, bukankah lebih baik anda mengatakan yang sejujurnya kepada Permaisuri?" ucap Ferderick yang memperhatikan Rubia dari belakang.
"Apa maksudmu?"
"Alasan anda melakukan hal seperti itu demi melindungi Beliau"
"Tidak, akan lebih baik untuknya jika hidup dengan membenciku"
"Mengapa anda memilih dibenci oleh ibu anda sendiri?"
"Bukankah itu bukan hal baru? Dia selalu tak menyukaiku sejak aku lahir, apa kau tak tahu? Aku yakin semua orang didalam istana mengetahuinya" Ferderick hanya bisa terdiam, Rubia mengatakan hal yang menyedihkan dengan biasa saja seolah memang begitulah takdirnya untuk tak menerima kasih sayang dari orang tuanya.
Rubia kembali ke ruang kerjanya, didepan sana ia berpapasan dengan Axel yang membawa seseorang disampingnya.
"Salam Baginda" ucap mereka berdua memberi salam bersamaan.
Rubia menatap wajah Axel, anehnya hari ini pria itu tak tersenyum padanya "Ya, kau sudah datang? Masuklah" Rubia masuk terlebih dahulu dan mereka bertiga mengikutinya.
"Baginda, ini adalah lady Irena Lubiz, putri sulung dari Viscount Lubiz dari Desa Borbond, Ayahnya bekerja sebagai Butler dikediaman saya, anda bisa mempercayainya, dan yang terpenting adalah dia salah satu lulusan terbaik jurusan administrasi dari akademi Emerald tahun lalu" ucap Axel.
"Salam Baginda, suatu kehormatan bagi saya dan keluarga saya bisa bekerja disamping anda sebagai sekretaris" ucap Irena dengan santun.
"Mohon bantuannya Irene"
"Saya Juga Baginda" wajahnya yang awalnya sedikit tegang kini terlihat sedikit tersenyum setelah Rubia memanggil nama panggilannya dengan akrab.
"Fer, bukankah adik laki lakimu belajar di Akademi Emerald?" Rubia menoleh kearah Ferderick, membuat Axel mengernyitkan wajahnya.
"Benar Baginda" jawab Ferderick singkat.
"Apa kau mengenalnya Irene, namanya Kaisan Steward, dia juga jurusan administrasi sepertimu" ucap Rubia seraya menatap Iren.
Irena sedikit terkejut "Ahh, maaf Baginda saya tidak terlalu mengenal siswa yang berbeda angkatan dengan saya"
__ADS_1
"Jadi begitu, baiklah apakah kau bisa mulai kerja besok pagi? Hari ini kau bisa melihat lihat istana dan kamarmu, aku akan meminta dayang memandumu"
"Baik Baginda Terimakasih banyak"
Rubia mengangguk "Bisakah Irene dan Ferderick keluar terlebih dahulu? Ada yang ingin kubicarakan dengan Tuan Axel" Mereka berdua mengangguk.
Rubia menyeruput teh dihadapannya seraya matanya melirik Axel yang terdiam tak seperti biasa, kemudian ia menaruh lagi cangkir teh di atas meja dihadapannya "Apa ada yang terjadi denganmu?"
"Tidak ada Baginda"
"Apa kau sakit?"
"Tidak Baginda" jawabnya singkat.
"Apa kau marah padaku?"
Axel menghela nafas sejenak sebelum akhirnya menjawab "Tidak ada, tidak ada yang perlu anda kawatirkan Baginda"
"Kau tampak tak seperti biasa atau itu hanya perasaanku saja? Pasti begitu kan? Lupakan saja jika memang seperti itu, kau bisa pergi"Rubia kembali menatap Axel, pria itu pun tak kunjung beranjang dari tempat duduknya, Rubia merasa yakin ada yang sedang dipikirkannya dengan serius.
"Baginda, kapan kita akan menikah? Bukankah sudah waktunya kita menikah dan anda membutuhkan penerus takhta?" ucapnya dengan serius.
"Menikah? Kenapa tiba tiba kau membahas ini? Bahkan aku belum tiga hari menjadi Kaisar, tidak perlu terburu buru kan?" Rubia tersenyum tipis, tak mengira dengan pertanyaan seperti ini yang akan dilontarkan padanya.
"Apa anda tidak mengharapkan pernikahan dengan saya? Sementara saya hidup dengan mendedikasikan diri saya sebagai pendamping anda!"
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Axel? Mengapa kau sangat marah? Tentu saja kita akan menikah saat sudah waktunya, bicaralah apa yang ingin kau bicarakan dengan jelas, jangan berputar putar karena itu akan membuat kau merasa semakin tidak tenang"
Axel terdiam sejenak, ia merasa kini dirinya benar benar terlihat kekanakan dihadapan wanita yang adalah seorangĀ Kaisar Negeri ini "Katakan anda ingin menikah dengan saya dan hanya saya yang akan menjadi pendamping anda!"
"Sepertinya kau butuh waktu menenangkan diri, pergilah dan mari kita bicarakan lagi saat perasaanmu sudah membaik" Rubia bangun dari duduknya dan berjalan kembali ke meja kerjanya.
"Bahkan anda tak bisa berpura pura mengatakan hal yang sangat ingin kudengar sekarang" gumamnya dengan lirih, ia bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan, diluar ruangan ia melirik ke wajah Ferderick dengan tatapan sinis.
.
__ADS_1
.
Bersambung.