Queen Sword

Queen Sword
Eps 24 Surat pengunduran diri Fiona


__ADS_3

Setelah melakukan upacara sumpah setia ksatria dengan Rubia yang disaksikan oleh Kaisar,Ratu dan seluruh anggota ksatria Ferderick kini telah resmi menjadi ksatria pengawal Rubia.


Rubia keluar dari tempat upacara setelah Raja dan Ratu meninggalkan tempat mereka terlebih dahulu, rubia diikuti oleh Dame Fiona dan Ferderick dibelakangnya.


"Karena sekarang aku memiliki dua ksatria pengawal maka aku akan membagi tugas kalian, Dame Fiona Pagi sampai sore dan Fer sore samai pagi,kalian juga bisa bertukar waktu jika memang diperlukan" ucap Rubia sembari berjalan menuju kediamannya.


"Baik" jawab serentak Fiona dan Ferderick, namun wajah Fiona terlihat sedikit gugup.


"Yang Mulia ada yang ingin saya bicarakan" ucap Fiona ragu ragu.


"Katakanlah"


"Sa saya berencana menikah" Rubia menghentikan langkahnya dan berbalik badan menoleh ke arah Fiona.


"Apa itu Sir Craney?"


Mata Fiona membelalak, bagaimana Putri bisa tahu bahwa dirinya berhubungan dengan Craney, padahal mereka merahasiakan hubungan serapat mungkin.


"Bagaimana anda bisa tahu?"


"Entahlah" Rubia tersenyum. Rubia mengetahui hubungan pengawalnya dengan salah seorang ksatria bernama Sir Craney karena beberapa hari yang lalu ia melihat Fiona berpegangan tangan di bawah pohon di belakang tempat latihan pedang, saat itu Rubia sedang mencari Fiona yang menghilang setelah ia berlatih pedang.


Rubia melanjutkan jalannya sampailah mereka di istana Rubia, Rubia duduk dan meminum secangkir teh hangat.


"Kalian duduklah, bukankah masih ada yang ingin kau katakan Dame Fiona?"


Fiona dan Ferderick duduk, Fiona mengambil sebuah amplop dari kantung celananya dan menaruhnya di hadapan Rubia.


"Apa ini?" Rubia memiringkan kepalanya sembari mengambil amplop itu.


"Maafkan saya Yang Mulia, itu adalah surat pengunduran diri saya"


Mata Rubia membelalak menatap wajah Fiona "Kau bisa mengajukan cuti, kenapa harus keluar?"


"Maaf Yang Mulia, itu karena saya ingin menikah dan segera memiliki anak selayaknya seorang wanita, sebenarnya saya tidak begitu menikmati pekerjaan sebagai ksatria, saya pikir berpedang hanya sekedar hobi saya Yang Mulia" Fiona tertunduk.


"Apa kau yakin?Padahal kau sangat berbakat"


"Maafkan saya Yang Mulia"

__ADS_1


"Yah, mau bagaimana lagi, aku tak bisa menghalangi keinginanmu"


"Sejujurnya kami sudah berencana menikah jauh jauh hari,tapi saya tak tenang meninggalkan Yang Mulia seorang diri, karena sekarang ada Ferderick jadi saya sudah merasa tenang"


"Hmmm.. Baiklah, undanglah aku saat kalian mengadakan resepsi pernikahan"


"Tentu saja Yang Mulia, terimakasih karena selama ini anda telah memperlakukan saya dengan baik"


"Jangan berlebihan, aku tak sebaik itu"


Setelah hari itu Fiona tak kembali menginjakkan kakinya di istana.


.


Rubia dan Ferderick keluar diam diam dari istana pada malam hari, mereka berdua berjalan dengan menggunakan jubah hitam yang menutupi wajah, setelah berjalan sejenak mereka menaiki kuda yang telah disiapkan di tempat yang tak jauh dari istana, mereka menaiki kuda dan mengendarainya dengan cepat, setelah beberapa saat mereka menarik pelana kuda dan menghentikannya kemudian mengikatnya di pinggir hutan, Ferderick memimpin jalan menuju lokasi penjara para budak, mereka melihat tempat kumuh itu dari kejauhan.


"Fer, aku akan masuk kesana sebagai pembeli budak, kau tunggulah disini"


"Apa maksud anda, saya akan ikut masuk dan melindungi anda" ucapnya tegas.


"Bukankah mereka akan mengenalimu?"


"Baiklah,berhati hatilah"


Mereka berjalan dengan tegap, Rubia menggunakan topeng yang menutupi sebagian wajahnya, begitu mereka berdua muncul para penjaga segera bersikap waspada.


"Siapa kalian??" seru salah satu penjaga pintu sembari menodongkan tombak yang di pegangnya.


Ferderick melangkah ke depan Rubia untuk melindunginya "Nona saya berniat mencari seorang budak " ucap Ferderick menjelaskan.


"Siapa identitas anda Nona?" penjaga itu masih menatapnya curiga.


"Nona saya berasal dari keluarga Bangsawan kelas atas jadi beliau ingin merahasiakan identitasnya"


"Tapi" penjaga itu ragu.


Ferderick melemparkan kepadanya sekantong koin emas, dan pria itu menangkapnya dengan sigap lalu membuka isinya, matanya langsung berbinar ketika melihat isi dari kantong yang dipegangnya.


"Itu adalah uang untukmu dan itu diluar biaya transaksi, Nona ingin memilih sendiri budak yang gagah dan berkualitas untuk ditempatkan disisinya, apa kau mengerti?"

__ADS_1


Kedua orang penjaga itu saling memandang kemudian saling tersenyum menandakan mereka saling setuju, mereka menurunkan tombak dan memberikan jalan kepada mereka, kemudian satu orang membimbing langkah mereka memasuki penjara budak.


Suasana yang masih sama dengan saat Ferderick berada disana tujuh tahun yang lalu, semakin mereka masuk semakin Rubia mencium bau sesuatu yang tak sedap, ia mulai melihat orang orang yang terkurung disana dengan penampilan mengenaskan, raut wajah mereka raut wajah yang telah kehilangan harapan untuk hidup.Sisa sisa penyiksaan jelas terlihat dari alat alat tajam dan alat pemukul berat yang masih terlihat sisa sisa bekas darah, di lantai yang kini sedang ia injak juga terdapat sisa sisa darah yang memang sengaja tak dibersihkan.


Setelah Rubia muncul, mata orang orang yang berada didalam penjara segera melirik ke arahnya.


Rubia mengepalkan kedua tangannya, semua yang ia lihat persis seperti yang Ferderick ceritakan kepadanya, itu membuat pikirannya kalut, tapi ia harus memfokuskan dirinya demi tujuannya datang ke tempat itu.


Tiba tiba penjaga itu terhenti "Silahkan melihat lihat dan pilihlah seorang yang sesuai kebutuhan anda" ucap orang itu.


"Apa hanya ini saja? Apa masih ada tempat lain?" tanga Rubia mencari tahu.


"Hanya ini Nona"


"Hahhh..sayang sekali, mereka terlalu kurus, aku membutuhkan seseorang dengan penampilan yang gagah"


"Benarkah? Coba anda perhatikan sekali lagi pelan pelan,mungkin ada yang sesuai selera anda"


Mata Rubia sekali lagi mengitari tempat itu "Ahh..maafkan saya, saya adalah tipe wanita yang sangat pemilih, itu dia,yang diujung sana,aku memilihnya" ia menunjuk seorang pria yang paling lumayan dari semuanya.


"Pilihan yang tepat Nona. Banyak yang menginginkan anak itu,tapi karena harganya yang mahal mereka kemudian menyerah" anak itu terlihat ketakutan ketika Rubia menatapnya.


"Saya akan membayarnya semahal apaun harganya"


Pria itu tersenyum puas, sepertinyaa rencana Rubia berjalan dengan mulus "Kapan anda akan membawanya Nona? Tapi tidak bisa sekarang karena semua transaksi harus melalui atasan kami, Beliau sedang tak ada ditempat,kembalilah besok siang Nona"


"Ahh..begitu? Ngomong ngomong Beliau itu sedang pergi kemana?"


"Biasalah, dia sedang mengurus transaksi di perbatasan, tunggu..kenapa anda bertanya?"


Laki laki itu menatapnya tajam dan mulai terlihat kecurigaan dari sorot matanya "Ahh tentu saja karena hanya ingin tahu seberapa hebat koneksi kalian dan apakah aku datang ke tempat yang tepat atau tidak" untunglah ia segera mencari alasan sehingga orang itu lekas menghilangkan kewaspadaannya.


Pria itu tersenyum bisnis "Tentu saja anda sudah datang ke tempat yang tepat Nona, anda akan mendapatkan layanan VIP"


"Baiklah, saya akan kembali besok siang,kuharap aku bisa segera membawa barang saya itu" jari Rubia menunjuk pria yang diujung ruangan itu.


"Tentu, tentu saja Nona"


Setelah merasa cukup melihat lihat suasana dan kondisi orang orang yang berada di dalam penjara budak Rubia ingin segera keluar dari tempat yang tak ada bedanya dengan neraka itu, mereka keluar dengan mudah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2