Queen Sword

Queen Sword
Eps 35 Tanah Monster


__ADS_3

Begitu tercium bau manusia yang bagaikan makanan mereka, para monster mulai bergerak mendekati pasukan ksatria, satu persatu mulai bermunculan,beberapa monster besar bermata merah dan berkaki empat serta bertanduk hitam dan beberapa jenis yang lainnya itu menghadang pasukan, tiga orang penyihir dengan kemampuan terbaik di kekaisaran maju di barisan terdepan untuk menghalau monster yang semakin mendekat, sedangkan Rubia dan seluruh pasukan berada dibelakangnya dengan senjata ditangan mereka.


Sejauh ini ketiga penyihir mampu melawan dan menghancurkan monster yang terus berdatangan dengan kekuatan sihir mereka, namun tiba tiba terdengar teriakan dari barisan belakang, Axel segera berlari ke barisan belakang,  rupanya monster monster mulai mencari celah dan ternyata monster monster telah mengepung mereka.


"Satu penyihir kebarisan belakang!" ucap Rubia sembari berlari ke arah belakang pasukan, para ksatria telah berusaha keras melawan monster,beberapa ksatria telah cukup terluka parah, Rubia segera mengangkat pedangnya menebas monster monster besar yang semakin menggila.


Ferderick bertarung di samping Rubia, memperhatikan monster dengan seksama seraya mencari kelemahannya "Semuanya, serang mata merahnya" teriaknya sembari menyerang mata monster itu, Rubia dan yang lainnya melihat apa yang dilakukan Ferderick, dengan mengincar bola matanya dan menusuknya dengan pedang monster langsung jatuh terkapar.


Berkat informasi itu semakin sedikit orang orang yang terluka parah, setelah segerombolan monster berhasil di kalahkan, sebelum monster yang lain kembali menyerang,Rubia memerintahkan untuk kembali ke barak yang telah lebih dulu di dirikan di wilayah yang tak bertanah salju meskipun tingkat kedinginan cuacanya hampir sama.


Para ksatria yang terluka dibawa ke balai pengobatan dan diobati oleh pendeta penyembuh yang ikut dalam pembasmian monster. Rubia turun dari kudanya, ia berjalan dan masuk ke tenda pengobatan setelah melepaskan baju zirahnya dan memakai jubah tebal yang menyelimuti tubuhnya, Disana ia melihat cukup banyak ksatrianya yang terluka dan mengerang kesakitan karena cabikan monster, sedangkan pendeta penyembuh hanya dua orang, ia menghampiri pendeta penyembuh yang sedang mengobati, kedua orang itu terlihat kelelahan karena terus menerus mengeluarkan kekuatan sucinya.


"Salam Yang Mulia putri" ucap pendeta dengan raut wajah yang pucat sembari tetap fokus mengeluarkan kekuatan sucinya.


"Kalian baik baik saja? Apa butuh tambahan penyembuh?" tanya Rubia.


"Tidak bisa Yang Mulia, pendeta penyembuh dikuil hanya tersisa beberapa orang dan mereka sudah cukup renta sehingga kekuatan mereka berkurang, semakin bertambah tahun semakin jarang pula seseorang yang memiliki bakat bawaan lahir seperti kami ini, jika adapun mereka yang berkecukupan secara materi sengaja menyembunyikan bakat itu" ucap salah satu pendeta.


"Kerajaan harus segera mencari solusi terkait permasalahan ini" gumam Rubia.


"Yang Mulia, kekuatan kami hanya bisa meringankan rasa sakit sementara dan menghentikan pendarahan pada luka luar yang cukup besar, bekas lukanya tetap harus diobati dengan obat agar tak terinfeksi" ucap pendeta yang satu lagi.


"Ya, aku tahu itu, mintalah bantuan dari para pelayan untuk memberikan obatnya secara berkala"


"Baik Yang Mulia"


Rubia keluar dari ruangan itu, ia menoleh ke arah para ksatria yang sedang berjongkok di hadapan api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya cuaca di wilayah itu. Dan disisi lain ia melihat Ferderick yang sedang menyalakan api, Rubia menghampirinya dan duduk di batang pohon disamping Ferderick.


"Yang Mulia, saya menyalakan api untuk anda" ucapnya ketika melihat Rubia telah duduk disampingnya.


"Fer, bagaimana kau bisa tahu jika kelemahan monster terletak di matanya?"

__ADS_1


Ferderick terdiam sejenak sebelum menjawab "Entahlah, hanya menerka nerka"


"Benarkah?Kau terlihat luwes melawan para monster yang mengerikan itu,apa sebelumnya kau pernah melawan monster?"


"Anda benar, saya melawan monster di mimpi saya" jawabnya dengan wajah yang datar.


"Apa kau sedang bercanda?"


Ferderick tersenyum tipis "Anggap saja begitu,karena saya sendiri pun tak memahaminya" gumamnya. ia sendiri pun tak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya sendiri yang seolah telah merasa familier berhadapan dengan monster monster ganas yang baru dilihatnya hari ini dikenyataan.


Axel datang menghampiri mereka, "Yang Mulia" ucapnya memberi salam.


"Saya mau memberikan laporan" wajahnya terlihat sangat serius.


Rubia pun bangun dari duduknya "Katakan"


"Ketiga penyihir mengalami muntah darah"


"Apa?? Dimana mereka berada?"


"Aku harus melihat mereka"


"Saya akan antar" mereka berdua berjalan bersama dan masuk ke ruangan para penyihir.


Rubia dan Axel menghampiri mereka "Apa yang terjadi dengan kalian?"


"Yang Mulia, kondisi kami seperti ini karena kami menggunakan kekuatan kami secara berlebihan hingga kehabisan mana uhuukkkk" ucap seorang penyihir.


"Yang Mulia, para monster yang menyerang diliputi dengan energi kegelapan yang membara, seolah mereka sengaja diciptakan untuk membalas dendam kepada seseorang"  ucap penyihir lainnya.


"Saya juga merasakannya Yang Mulia, energi gelap itu menimbulkan efek mematikan kepada penyihir"

__ADS_1


Rubia tersentak "Apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkan kalian? pendeta penyembuh apa bisa mengobati kalian?"


Para penyihir menggeleng "Kekuatan suci dan kekuatan magis bertolak belakang Yang Mulia, itu tidak memungkinkan" Rubia semakin bimbang mendengar kata kata yang asing ditelinganya.


Salah satu penyihir terduduk "Uhuukk uhuukkk, Yang Mulia, cincin permata biru itu, saya merasakan energi kekuatan seorang penyihir agung darinya" ia menunjuk cincin dijari Rubia.


Rubia mengangkat tangannya melihat cincin "Benarkah?"


"Benar Yang Mulia, dari siapa anda mendapatkan itu? Mana dalam cincin itu bukanlah milik penyihir kekaisaran"


"Saya mendapatkannya dari seorang penyihir tua yang tak sengaja saya temui saat perjalanan ke medan perang dua tahun lalu diwilayah perbatasan"


"Jika sudah lama menggunakan cincin itu pasti kami yang penyihir kekaisaran akan mengenali energi benda berkekuatan magis yang misterius itu"


"Ah, aku baru baru ini memakainya" Ketiga penyihir itu saling memandang satu sama lain lalu terdiam.


Gruduuukkkkkkk!!! Terdengar sura gemuruh yang kian mendekat membuat Rubia dan Axel saling memandang.


"Yang Mulia, Monster kembali menyerang dan sedang mendekat ke benteng pertahanan kita" ucap seorang penyihir.


"Kita harus segera menghadang!" ucap Rubia kepada Axel, dan Axel pun mengangguk.


"Yang Mulia, keadaan para penyihir sedang tidak baik, mohon semuanya jangan keluar dari wilayah barak, kita akan aman jika berdiam disini karena kami sebelumnya telah membuat pertahanan sehingga monster tak dapat menemukan tempat ini" ucap seorang penyihir menasehati.


"Katakanlah kita berdiam disini sementara para monster mencari keberadaan kita, bagaimana jika akhirnya para monster keluar dari wilayah utara ini dan masuk ke pemukiman rakyat, apa yang akan terjadi?" jawab Rubia dengan tegas. Ketiga penyihir itu hanya terdiam tak bisa berkata kata.


"Yang Mulia, saran saya anda harus menemui penyihir tua yang memberikan cincin itu terlebih dahulu, saya yakin penyihir itu ada kaitan dengan ramalan yang telah lama beredar di keluarga kerajaan"


"Kita akan bicarakan itu lagi nanti, sekarang kita harus memikirkan cara menghadang monster itu agar tidak masuk ke pemukiman rakyat!" Rubia keluar dari ruangan itu dan Axel pun mengikutinya.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2