
Aula kerajaan terlihat sangat ramai,Dekorasi yang memperlihatkan kemewahan,keindahan,kemakmuran dan keagungan seperti sesuai dengan reputasi Kekaisaran Grosjean di mata dunia.Juga hidangan yang beraneka ragam menghiasi meja para tamu undangan yang berasal dari belahan dunia yang berbeda beda.
Mulai dari utusan Kekaisaran Deborat yang diwakili oleh Pangeran ke dua, yaitu Pangeran Altez, kekaisaran yang terletak di selatan Kekaisaran Grosjean,dia telah berada di Kekaisaran sejak pemakaman Kaisar.Lalu ada Putri Daisy yang mewakili Kekaisara Toronto yang terletak di sebelah barat , kemudian perwakilan dari Kekaisaran Xavier yaitu Duke Tereode terletak di bagian tenggara, lalu dari Kekaisaran Zenoya yang diwakili oleh perdana menteri wanita Countess Margareth yang berada di bagian utara, lalu dari Kekaisaran Brule yaitu Pangeran Kaizen yang terletak di timur, mereka semua adalah negara negara terdekat yang telah melakukan perjanjian kerjasama antar negara yang saling menguntungkan, yang kebnyakan bekerjasama dalam perdagangan, hubungan antar negara dengan kekaisaran sangat stabil dan saling menguntungkan bagi satu sama lain.
Kemudian ada satu lagi perwakilan yang tersisa, ini pertama kalinya Kekaisaran mengirimkan undangan kepada Kekaisaran Vlair, satu satunya negara yang dijuluki negara sihir, mereka melakukan bisnis dibidang sihir mulai dari alat sihir,kristal dan lain sebagainya, Yang diwakili langsung oleh Pangeran ke tiga, yaitu Pangeran Robero, yang adalah seorang penyihir agung di kekaisaran Vlair.
Acara penobatan pun dimulai setelah Rubia menyapa seluruh perwakilan negara yang jauh jauh hadir demi menyaksikan penobatan dirinya,kini Rubia telah mengenakan mahkota Kaisar dikepalanya dan memegang sebuah tongkat emas yang menyimbolkan lambang kekuasaan tertinggi di kekaisaran.Rubia berhasil naik ke posisi Kaisar saat berusia tujuh belas tahun,usia yang baru saja menginjak dewasa.Dia terlihat amat cantik dan bersinar dengan rambut yang digerai mengenakan mahkota besar berwarna emas dan Jubah Kaisar yang panjang berwarna merah yang dihiasi oleh batu permata kecil yang berkilauan.
Satu persatu tamu undangan mengucapkan ucapan selamat kepada Rubia yang saat ini duduk di kursi Kaisar yang megah,tak terkecuali Vallan dan keempat muridnya yang pertama kali hadir dalam pesta di istana, namun raut wajahnya sangat datar seperti biasa, ia tak menunjukan perasaan bahagia atau bangga sama sekali dengan posisi yang baru saja ia raih.
Tiba tiba saja seseorang muncul dari atas dihadapan Rubia, wanita dengan aura kegelapan yang amat pekat mengenakan jubah yang menutupi wajahnya, wanita yang diduga penyihir kegelapan itu langsung menyerang Rubia dengan sihir hitamnya, seketika Ferderick yang berdiri dibelakang Rubia segera maju kedepan dan mengangkat pedangnya, namun Rubia menghalanginya mendekat karena sihir hitam amat berbahaya.
Tak bisa tinggal diam Rubia segera melindungi dirinya dengan melawan kekuatan itu dengan kekuatan sihir yang dimilikinya, semua orang yang berada disana amat sangat terkejut dan suasana menjadi sangat riuh, Axel datang membawa pasukan ksatrianya, namun dalam sekejap Rubia bisa mengalahkan penyihir itu, namun begitu tergeletak tubuhnya menghilang dengan asap hitamnya.
Orang orang terus terkejut melihat kekuatan Rubia yang belum banyak orang lain tahu, Rubia turun dari singgasananya dan membisikkan sesuatu di telinga Axel "Mohon maaf atas kekacauan yang terjadi, ini tak akan terulang kembali, silahkan nikmati waktu kalian dengan nyaman, saya akan membuka pesta dansa dengan menarikan satu buah lagu" ucap Rubia yang telah menggandeng Axel, kemudian lantunan musik mulai terdengar.
Rubia dan Axel mulai berdansa dengan ringan "Suatu kehormatan karena anda mengajak saya berdansa untuk pertama kalinya setelah anda menjadi Kaisar, anda terlihat sangat luar biasa" ucap Axel tersenyum.
"Ya terimakasih,hari ini pun kau terlihat luar biasa"
"Benarkah?" Wajahnya memerah, ia tak bisa menahan kebahagiaannya setelah dipuji olehnya.
"Aku harus menenangkan tamu undangan yang terkejut kan" jawabnya di sela sela gerakan.
"Anda tidak terkejut?"
"Apa aku harus terkejut?"
__ADS_1
"Bukan anda namanya jika terkejut" Rubia hanya tersenyum tipis.
Orang orang yang barusaja terkejut kini terfokuskan oleh kedua orang yang sedang berdansa, pasangan yang rupawan, mata mereka berbinar binar. Setelah suasana kembali ceria Rubia menyudahi tariannya,lalu orang orang pun mulai berdansa dengan partner masing masing. Ferderick mengikuti Rubia keluar dari aula pesta setelah ia menghampiri Gurunya.
"Guru, apa anda mengenali aura gelap itu?" tanya Rubia.
Raut wajah Vallan terlihat ragu ragu "Saya belum yakin Baginda"
"Benarkah? Baiklah" Mereka terdiam, Rubia melihat gurunya yang bersikap tak biasa, dia terlihat gelisah saat ini. "Guru, saya serahkan kerjasama dengan Pangeran Vlair kepada para penyihir, gunakanlah kesempatan ini untuk mendapatkan apapun yang sekuranya akan diperlukan oleh para penyihir"
"Ya, baiklah" Rubia meninggalkan Gurunya yang sepertinya sedang butuh waktu untuk berfikir sendirian.
Rubia berjalan ke arah taman bersama Ferderick setelah melepas mahkota yang berat itu dari kepalanya, angin bertiup sepoi sepoi di malam yang sedikit dingin, Rubia duduk di bangku taman yang berisikan berbagai macam bunga yang mekar, ia memandang ke arah langit malam yang memiliki beberapa bintang dengan seksama.
"Fer" panggilnya, kemudian Ferderick datang ke hadapannya.
"Ada apa Baginda?"
"Beristirahatlah sebelum kembali ke aula pesta Baginda"
Buk buk, Rubia menepuk kursi panjang di sampingnya meminta Ferderick duduk disampingnya, Ferderick melihat ke sekitar terlebih dahulu untuk memastikan tak ada yang melihat mereka sebelum akhirnya duduk disamping Rubia.
Kepala Rubia bersandar di pundak Ferderick membuatnya semakin berdebar.
"Tinggal menghitung hari kau akan segera meninggalkanku kan?"
Ferderick terdiam sejenak "Haruskah saya tetap menjadi pengawal anda dan memberikan posisi Count untuk adik saya?" ucapnya dengan sungguh sungguh.
__ADS_1
"Mengapa?"
"Apa?"
"Jangan lakukan itu, adikmu belum dewasa, kau bilang adikmu pandai di bidang administrasi, dia tak akan cocok menjadi kepala keluarga Count"
"Anda benar, anak itu akan melakukan segala cara agar saya menerima posisi itu"
"Kau harus melakukan tugasmu dengan baik menggantikan orang tuamu, setelah kau berhasil menguasai kehidupan sosialmu dan membuktikan kekuatanmu barulah aku akan dengan senang hati meminjam kekuatanmu saat dibutuhkan, bolehkah aku melakukan itu kelak?"
"Dengan senang hati Baginda, saya akan sangat menantikan saat itu"
"Semoga aku tak membebanimu"
"Sama sekali tidak" tepisnya langsung.
"Sayang sekali" ucapnya setelah menghela nafas panjang.
"Apa yang sayang?"
"Kau, andai kau bukan penerus Count aku ingin memintamu menjadi selirku"
Deg, jantung Ferderick kembali berdebar "Apa maksud anda?"
"Tidak, lupakan saja aku hanya bercanda" Rubia kembali tersadar, apa yang barusan ia katakan? Sungguh hal yang memalukan baginya terbesit fikiran seperti itu pada hari pertamanya menjadi Kaisar. Rubia bangun dan berjalan menuju jalan keluar dari taman, Ferderick menatap punggunya dan berjalan dalam diam.Namun tiba tiba langkah Rubia terhenti.
.
__ADS_1
.
Bersambung.