
Ferderick turun dari kudanya di depan kastel mewah kediaman Count yang telah lama terbengkalai,Kastel dengan nuansa warna platinum yang dikelilingi oleh pepohonan yang daun daunnya tengah menguning dan berguguran, pohon pohon yang ia dan adiknya tanam bersama dengan orang tuanya yang mengelilingi halaman kini sudah jauh lebih tinggi melebihi tinggi badannya, sejenak ia berdiri terdiam memandang Kastel dari kejauhan, jantungnya berdebar debar, bulu kuduknya merinding karena teringat momen momen terindah dalam hidupnya sekaligus momen pahit ketika ia mengantarkan kepergian ayah dan ibunya yang meninggal dengan tragis.
Perlahan ia menghirup udara dan menghembuskannya, ia menenangkan diri dan menguatkan kembali tekadnya untuk berjuang mengembalikan reputasi dan kejayaan keluarga Count, itu adalah tugas utamanya, ia berjalan dengan bahu yang tegap, semakin ia mendekat kastel itu terlihat masih sama, amat terawat, tak ada bekas terbengkalai sama sekali, ia menoleh ke arah taman luas di samping Kastel tempat biasa keluarga mereka menikmati tea time bersama, taman itupun terlihat rapi dan terawat, apa ada seseorang yang merawatnya? Ia menggeleng gelengkan kepalanya merasa itu tak mungkin.
Kemudian Ferderick kembali berjalan, ia terhenti di depan pintu, tak lama pintu terbuka dari dalam, Ferderick sangat kaget, ada seseorang di dalam rumahnya, setelah pintu terbuka lebar seorang pria paruh baya yang tampak famiiliar terlihat bersama barisan para pelayan menyambut kedatangannya. Semua orang tersenyum ke arahnya, mereka menundukkan kepala memberi hormat kepadanya.
"Selamat datang kembali di kastel Tuan Count" ucap mereka serentak seraya menundukkan kepala.
Ferderick tampak bingung "Ya, tapi mengapa kalian ada disini sebelum aku datang?"
Pria itu menghampiri Ferderick yang masih terpaku di depan pintu "Tuan Count, apa anda masih mengingat saya?"
Ferderick mengangguk "Kau Tomy? Bagaimana bisa kau disini?"
"Saya juga kaget karena tadi malam tiba tiba orang yang mengaku sebagai suruhan Baginda Kaisar datang ke rumah saya dan meminta saya untuk kembali bekerja di tempat ini, saya sempat ragu tapi saya memberanikan diri, saya sangat bahagia karena akhirnya anda bisa kembali ke kastel milik anda sendiri, Tuan Ferderick dan Tuan Kaisan yang malang, maafkan orang tua ini yang tak bisa menjaga kalian dengan baik, syukurlah anda terlihat tumbuh dengan sangat baik" Ucap Tomy seraya terisak.
"Tenanglah Tomy, ini semua bukan salahmu"
Tomy mengeluarkan sapu tangan dan menyeka air matanya "Apa anda tahu, begitu saya mendengar rumor penjahat yang menyebabkan tragedi kepada keluarga Count di seret oleh ksatria saya berdiri di barisan terdepan melempari telur busuk ke wajah keluarga penjahat itu"
"Benarkah? Aku berterimakasih untuk itu kepadamu" Ferderick menepuk bahunya dengan lembut.
"Jika saja saya tahu anda bekerja sebagai pengawal Kaisar saya pasti sudah menemui anda"
"Iya, aku tahu, sudah sudah, tapi mereka apa kau yang membawa para pelayan sebanyak itu? Mereka tampak asing" Ferderick melihat wajah mereka satu persatu, semuanya pun tersenyum ramah.
"Mereka sudah berada disini sebelum saya tiba, mereka adalah orang orang pilihan dari Baginda Kaisar, katanya anda bisa mempercayai mereka"
"Baginda?" Gumam Ferderick seraya tersenyum tipis.
Bagaimana bisa saya tidak menjadi lebih serakah jika anda terus melakukan hal hal seperti ini Baginda.Anda terus menerus membuat diri saya ingin berlari ke arah anda.
__ADS_1
"Mengapa anda diam saja Tuan Count, mari masuk semuanya telah dipersiapkan demi menunggu kedatangan anda" Ferderick mengangguk.
Baru beberapa langkah berjalan langkah Ferderick kembali terhenti karena mendengar suara kereta kuda yang berhenti tepat di depan gerbang kastel, ia berbalik badan, terlihat kereta kuda dengan lambang istana yang dimiliki oleh Kaisar, ia menatapnya lekat lekat, berfikir apa Kaisar datang untuk menemuinya, Berfikir seperti itu membuatnya kembali tersenyum, lalu ia mendekat ke kereta kuda dengan langkah cepat.
Namun sebelum ia sampai seseorang terlihat turun dari sana, dia melihat wajah adik laki lakinya setelah sekian lama, tapi senyuman dibibirnya seketika menghilang karena harapannya adalah hal yang mustahil, namun perasaannya menjadi sangat lega karena melihat adiknya didepan matanya di kastel Count tempat asal mereka.
"Kakak" Kaisan berlari seraya berteriak menghampiri Ferderick. Wajahnya terlihat segar dan ceria, seolah adiknya itu kembali menjadi adiknya tujuh tahun lalu, adiknya yang ramah dan ceria yang telah lama tak memperlihatkan ekspresi seperti itu.
"Kai, jangan berlari kau bukan lagi anak anak"
"Kakak berhasil, kakak hebat" ia tersenyum lalu segera menghampiri Tomy karena ia pun langsung mengenalinya."Tomy akhirnya aku bisa melihatmu lagi" Tomy tersenyum dan memeluk Tuan muda yang ia anggap masih kecil itu.
Ferderick tiba tiba tertegun melihat Lydia di belakang Kaisan "Nyonya Lydia, mengapa anda?" ucapnya bingung.
"Baginda Kaisar yang meminta saya menjemput Tuan muda di akademi"
"Mengapa Baginda melakukan itu? Waktu Kaisan di sekolah tak lama lagi.."
"Apa? apa anda serius?"
"Tentu saja, saya akan menjelaskan alasannya, mari kita berbincang di tempat yang nyaman"
"Baik, silahkan masuk Nyonya Lydia"
Mereka berjalan bersama "Baik, status anda sekarang lebih tinggi dari saya, anda bisa berbicara dengan lebih kasual kepada saya"
"Itu sepertinya sulit"
"Baiklah, lakukan senyaman anda saja"
.
__ADS_1
Mereka duduk di ruang tamu "Tuan Kaisan anda bisa beristirahat terlebih dahulu" ucap Lydia kepada Kaisan yang duduk di hadapannya disamping Ferderick.
"Apa boleh begitu?" ucapnya ragu ragu.
"Benar, Tomy kau antarlah Kai ke kamarnya dan minta pelayan membantu membereskan barang bawaannya"
"Baik Tuan Count, mari Tuan muda" Kaisan bangun dan mengikuti Tomy.
"Apa mereka ingin membicarakan sesuatu yang hanya boleh diketahui oleh orang yang sudah dewasa Tomy?" bisik kaisan seraya berjalan .
"Mungkin"
"Tapi Kakakku baru berusia tujuh belas,meskipun penampilannya terlihat lebih tua, apa dia sudah bisa dibilang dewasa?"
"Tentu saja karena mulai sekarang beliau menjadi seorang kepala keluarga" Kai mengangguk.
.
"Jadi apa yang ingin anda jelaskan?"
Lydia meminum teh di hadapannya sedikit demi sedikit dan meletakkannya kembali "Sekretaris Baginda yang baru melaporkan tentang perundungan beberapa siswa yang dilakukan oleh sesama murid dan kepala akademi, siswa itu termasuk Tuan Muda Stewart, tak cuma itu setelah dilakukan penyelidikan diam diam ternyata situasi akademi sangat kacau, orang rang yang berkuasa melakukan hal hal yang tercela dan merugikan beberapa siswa"
Ferderick sangat kaget, wajahnya mengernyit tak bisa berkata kata, rasanya darahnya telah mendidih, aura merah kekuningannya mulai menyeruak dari dalam tubuhnya.
"Baginda meminta anda tetap tenang saat saya mulai menjelaskan permasalah di akademi karena semua sudah dalam proses penyelidikan begitu Baginda mendapat laporan, orang orang yang melakukan kecurangan atau kekerasan akan segera dihukum, Baginda Kaisar meminta anda hanya perlu fokus melakukan tugas di depan anda, sisanya akan beliau bereskan secepat mungkin"
Ferderick tertunduk lesu menahan amarahnya, ia mengusap wajahnya "Lagi lagi Baginda.." Gumamnya pelan.
.
.
__ADS_1
Bersambung.