Queen Sword

Queen Sword
Eps 69 Count Ferderick Stewart


__ADS_3

Untuk pertama kalinya Ferderick mengenakan pakaian resminya sebagai seorang bangsawan kelas atas, penampilannya berbeda dari biasanya tapi sangat cocok untuknya, dia benar benar tampan dan terlihat berwibawa hanya karena penampilannya berubah,semua mata tertuju padanya, ia mendapatkan sorotan utama di tempat itu. Ia berjalan di tengah tengah aula utama istana melewati karpet merah yang terhubung dengan singgasana Kaisar, yang disaksikan oleh seluruh bangsawan bangsawan kelas atas kekaisaran, ia berhenti tepat dihadapan Rubia yang telah memegang pedangnya, kemudian Ferderick berlutut selayaknya ksatria, Rubia mengarahkan pedangnya tepat di atas bahu Ferderick, itu adalah ritual sumpah kesetiaan seseorang kepada Kaisar dan Kekaisaran setelah menerima gelar kehormatan secara resmi.


Dalam waktu singkat sumpah setia telah usai setelah Kaisar mengajukan beberapa pertanyaan tentang kesetiannya kepada kekaisaran "Aku nyatakan Ferderick Stewart telah resmi menjadi Bangsawan bergelar Count, bangunlah" ucap Rubia dengan lantang sekaligus tenang.


Setelah itu para bangsawan dan pejabat kekaisaran segera menyapa dan memperkenalkan dirinya secara resmi kepada Ferderick, tak butuh waktu lama orang orang telah mengerubunginya setelah ia beranjak pergi dari hadapan Kaisar, apalagi semua orang sudah tahu bagaimana hubungan kedekatannya dengan Kaisar, lalu rumor tentang Kaisar yang menjemput adik dari Ferderick secara langsung di akademi dan membereskan segala kekacauan diakademi karena anak itu sebelumnya telah tersebar luas, meskipun beberapa rumor memang sengaja dilebih lebihkan oleh beberapa pihak.


Sementara Semua orang sibuk menyetorkan wajahnya di hadapan Ferderick, Rubia duduk di singgasananya dengan bertopang dagu seraya matanya terus menatap Ferderick yang terlihat kewalahan dan sedikit risih meladeni para Bangsawan untuk pertama kalinya,jangankan tersenyum ramah, ia hanya menjawab seperlunya dengan ya atau tidakĀ  "Kau harus terbiasa dengan perlakuan hormat seperti itu" gumam Rubia seraya tersenyum tipis.


Disaat semua mata tertuju pada Ferderick seseorang dengan aura hitam pekat muncul tepat di hadapan Rubia, disatu sisi ada satu orang yang tersenyum dengan kemunculan penyihir hitam itu, yaitu Duke Verano. Para pengawal segera berlari ke hadapan Rubia untuk melindunginya, Suasa seketika menjadi riuh, semua orang ketakutan. Penyihir hitam itu menyerang para ksatria dengan sekali lambaian tangan yang mengeluarkan kabut hitam, penyihir itu membuat para ksatria melepaskan pedangnya lalu mencengkeram leher mereka sendiri secara bersamaan, Axel dan Ferderick segera berlari ke sisi Rubia.


Tak bisa tinggal diam, Rubia berjalan mendekat dan menyuruh semua orang menyingkir, ia mulai menyerang penyihir itu dengan kekuatan sihirnya sehingga penyihir itu melepaskan pengaruhnya kepada para ksatrianya, Penyihir itu mulai menggertakan giginya menatap Rubia dengan penuh amarah, kemudian ia menyerang Rubia, Rubia berhasil menghalau serangannya dengan kekuatan sihirnya, kedua sinar kebiruan dan hitam pekat mulai beradu kekuatan di satu gelombang garis yang sejajar.

__ADS_1


Setelah beberapa saat akhirnya kekuatan sihir hitam itu semakin menipis, Rubia mulai meneteskan keringat dingin dari dahinya, dalam waktu singkat Rubia mulai mengerti tujuannya, penyihir hitam itu ingin menguras energi Rubia melihatnya begitu lama mempertahankan serangannya meskipun penyihir itu hampir kehabisan energi.


Tiba tiba penyihir itu menghilang menjadi sebuah asap hitam tebal, semua mata mulai mengikuti pergerakan asap hitam yang semakin meninggi dan sekian lama semakin memudar hingga akhirnya lenyap tak tersisa.Suasana kembali gaduh, orang orang mulai berbisik bisik dengan hati hati, sementara Rubia dan seluruh ksatria pengawal masih bersikap waspada.


Rubia mulai melirik tajam ke arah Duke Verano yang masih tersenyum smirk seraya menatapnya, bibir Duke mulai bergerak berucap tanpa suara ke arah Rubia "Ini belum berakhir" Rubia yang mengerti ucapannya itu mulai menggertakan giginya dan mulai berjalan ke arah Duke yang berada di ujung ruangan, namun sebelum Rubia sampai tiba tiba kabut hitam kembali mengelilingi tubuh Rubia yang lengah, seketika kabut hitam itu melingkar di leher Rubia.


Dalam posisi leher yang tercengkeram dengan amat kuat itu, telinga Rubia pun mulai berdengung, sesuatu berbisik di telinganya "Bukankah kau ingin melihat darah? Darah merah segar yang mengalir di pedangmu yang tajam" suara itu terus menggema di telinga Rubia,itu adalah suaranya sendiri, suara yang berasal dari pikiran gelapnya, kedua tangannya menutup telinganya sendiri namun itu percuma, bisikan itu perlahan membuat pikirannya mulai dipenuhi oleh hasrat terdalamnya, membangkitkan kutukan dalam dirinya.


Perlahan kesadaran Rubia mulai menurun, sihir hitam itu telah sepenuhnya menguasai pikiran Rubia, ia mulai bergerak mendongakkan wajahnya, kemudian tangannya mengeluarkan pedang, betapa terkejutnya semua orang ketika melihat warna bola mata Rubia yang berubah kemerahan, perlahan Rubia mulai berjalan seraya menyeret pedang tajamnya yang menimbulkan suara gesekan dengan lantai, tatapannya kosong namun begitu mengerikan, orang orang menyebut tatapan itu tatapan seorang iblis yang haus darah, ia terus mendekat ke kerumunan orang orang yang semakin menjauhinya.


Semua orang terus menghindar dan bergidik ketakutan, Axel dan Ferderick menghadangnya secara bersamaan, Rubia segera mengarahkan pedangnya ke arah Axel. "Baginda? Apa anda baik baik saja?" ucap Axel, namun Rubia tak meresponnya dan malah mengayunkan pedangnya ke arah Axel, Ferderick berhasil menarik tubuh Axel sebelum terkena pedang itu.

__ADS_1


Tiba tiba Penyihir Agung muncul tepat dihadapan Rubia, Vallan mulai mengeluarkan sihirnya untuk menghilangkan kekuatan penyihir hitam yang menyelimuti tubuh Rubia. cahaya keemasan milik Valan itu mulai menghilangkan aura hitam di tubuh Rubia, aura hitam telah lenyap namun kesadaran Rubia belum juga kembali, matanya masih kemerahan, ia masih berusaha menyerang Vallan dengan pedangnya namun tubuhnya sulit digerakkan.


Vallan melirik ke arah Axel dan Ferderick sementara ia menahan Rubia agar tak bisa bergerak "Bawa semua orang pergi dari tempat ini! Dan kau Ferderick tetap disini " Axel dan Ferderick mengangguk bersamaan mengikuti perintahnya, lalu Axel mengerahkan pasukan ksatrianya untuk memandu semua orang keluar dari aula, orang orang pun mulai berlarian dengan ketakutan.


Setelah semua orang keluar Vallan menatap Ferderick "Sadarkanlah Baginda, hanya kau yang bisa melakukannya, salurkan sedikit energimu" Ferderick mengangguk mengerti, lalu Vallan membuat Rubia melepaskan pedangnya dengan sihirnya dan melepaskan kekuatannya dari Rubia, Rubia hendak mengambil kembali pedangnya yang jatuh namun tangannya digapai oleh tangan Ferderick, Rubia masih berusaha menepis tangan Ferderick yang menghalanginya, namun tangan Ferderick semakin kuat menggenggam tangannya, tatapan Rubia masih ingin membunuhnya, kemudian Ferderick menarik tubuh Rubia ke dalam pelukannya.Setelah Rubia mulai tenang Vallan tersenyum tipis lalu pergi dengan teleportasinya.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2